Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya pernah mengulas kontrol geologi atas 
biogeografi. Berikut ini saya akan mengulas bagaimana Pulau Sumatra dan seluruh 
pulau  busur luarnya (Simeulue-Enggano) dan pulau-pulau di sebelah timurnya 
(Riau Kepulauan, Bangka, Belitung, Anambas-Natuna) memenuhi dengan ideal apa 
yang disebut dengan “teori biogeografi pulau” (theory of island biogeography). 
Data dan interpretasi didasarkan kepada publikasi2 di dalam bidang geologi, 
biologi, botani, zoologi, dan klimatologi.
   
  Teori Biogeografi Pulau mengatakan bahwa pulau2 kecil dan jauh mendukung 
lebih sedikit spesies (jenis) daripada pulau2 besar yang dekat dengan daratan 
utama. Penghunian pulau akan merupakan kesetimbangan dari dua hal : kolonisasi 
pulau oleh spesies imigran dan punahnya spesies di pulau itu. Tingkat 
kolonisasi akan tinggi bila pulau terletak dekat daratan utama. Sebaliknya, 
tingkat kepunahan akan lebih besar di pulau yang jauh dan kecil karena 
populasinya terbatas sehingga sekali kena penyakit yang pandemik peluang 
kepunahannya besar. Maka, pulau besar dan dekat akan semakin kaya jenis, pulau 
kecil dan jauh akan semakin miskin jenis.
   
  Yang mengontrol pulau besar-dekat atau pulau kecil-jauh adalah geologi. Yang 
mengontrol pulau terhubung dengan daratan utama atau terisolasi adalah geologi. 
Yang mengontrol perkembangan pulau-pulau dari waktu ke waktu dalam sejarah alam 
adalah geologi. Maka, memahami dengan baik evolusi geologi sebuah wilayah 
kepulauan akan memampukan kita membuat prediksi keragaman jenis wilayah itu.
   
  Hubungan antara ukuran pulau dan jumlah jenis/spesies adalah linier dan 
relatif konstan untuk sekelompok hewan dan tanaman. Whitten et al. (2000) 
membuktikan hal ini. Mereka mempublikasikan penelitian jumlah jenis burung 
darat dan air tawar 23 pulau terpilih di Indonesia dan sekitarnya, dan 
menemukan bahwa jumlah jenis terendah ada di Pulau Christmas (sekitar 10 jenis) 
dan jumlah jenis terbanyak dimiliki Papua (Indonesia dan PNG) sekitar 800 
jenis. Tiga besar pemegang jumlah jenis terbanyak adalah : Papua, Kalimantan, 
Sumatra – sesuai dengan pemegang predikat tiga ukuran pulau terbesar. Umumnya, 
bila sebuah pulau berkurang ukurannya 10 x, maka jumlah jenisnya berkurang 
setengahnya.
   
  Ukuran pulau pun berhubungan dengan ukuran jenis yang ada. Binatang besar 
yang ada di pulau kecil akan punah terlebih dahulu sebab berbagai faktor dalam 
seleksi alam. Menariknya, binatang-binatang kecil yang ada di pulau kecil bisa 
menjadi lebih besar ukurannya dibandingkan dengan saudara sejenisnya yang hidup 
di pulau besar (tentang ini pernah saya ulas mengapa Homo floresiansis menjadi 
kerdil di Flores - sementara tikus2nya menjadi berukuran raksasa –lihat 
lampiran di bawah; theory of island dwarfism). Maka, bila kita melakukan 
pekerjaan geologi lapangan ke pulau-pulau di sebelah barat Sumatra tidak perlu 
kuatir akan berjumpa dengan harimau, macan tutul, gajah, banteng, atau badak 
Sumatra.
   
  Sekarang kita lihat kasus Sumatra. Sumatra merupakan salah satu pulau terkaya 
akan jenis binatang. Jenis mamalia terbanyak di Indonesia ada di Sumatra, jenis 
burungnya terbanyak kedua setelah Papua. Kekayaan jenis ini karena ukuran 
pulaunya yang besar, variasi habitatnya, dan hubungan masa lampaunya dengan 
daratan utama Asia. Ada 23 spesies endemik (khas, hanya ada di tempat itu di 
dunia) di Sumatra, 14 di antaranya ada di Kepulauan Mentawai (Corbert dan Hill, 
1992; Ruedi dan Fumagalli, 1996). 
   
  Sementara itu, Pulau Simeulue di posisi paling utara rangkaian kepulauan 
busur luar ini, dan Pulau Enggano di posisi paling selatan; sangat miskin akan 
kekayaan spesies. Mengapa Kepulauan Mentawai memiliki kontras tersendiri ? 
Sejarah geologi perkembangan pulau-pulau ini akan menjadi kunci ke arah 
jawaban. 
   
  Sejarah geologi dan perkembangan pulau-pulau ini relatif terhadap daratan 
utama Sumatra paling tidak sejak 1 juta tahun yang lalu sampai saat ini 
menunjukkan bahwa bagian paling utara (Simeulue) dan bagian paling selatan 
(Enggano) busur luar ini tidak pernah bersatu dengan Sumatra, sementara bagian 
tengahnya (Mentawai) bersatu dari 1 – 0.5 Ma (juta tahun yang lalu) dan 
terpisah dari Sumatra sejak 500 ribu tahun yang lalu. 
   
  Antara 1-0.5 Ma, Kepulauan Mentawai mengalami kolonisasi oleh spesies2 yang 
bermigrasi dari daratan utama Sumatra, sementara Simeulue dan Enggano tidak 
karena mereka selamanya terisolasi. Kemudian, pada 0.5 Ma hubungan 
Mentawai-Sumatra terputus, sejak itu Mentawai mengalami isolasi. Bentuk-bentuk 
primitif spesies yang mengkolonisasi Mentawai berkembang sendiri melalui 
mekanisme spesiasi dalam evolusi. Spesies2 awal Indo-Malaya yang ”terperangkap” 
di Mentawai kemudian berkembang sendiri dan menjadi endemik saat ini, jauh 
lebih endemik daripada hewan2 di daratan Sumatra yang pernah menjadi sumber 
aliran gen-nya. 
   
  Pulau-pulau di sebelah timur Sumatra (Riau Kepulauan, Bangka-Belitung) hampir 
selalu bersatu secara geologi dengan Sumatra; maka dapat diprediksi bahwa 
variasi spesiesnya tak akan jauh berbeda dengan Sumatra, spesies endemiknya 
akan minimal. Benar, pulau2 Riau dan Lingga serta Anambas/Natuna tak punya 
jenis yang endemik (meskipun dalam tingkat sub-jenis ada juga yang endemik). 
Mamalianya lebih mirip Sumatra atau Kalimantan daripada Mentawai. Menurut data 
van der Zon (1979), jumlah jenis di kepulauan 
Riau-Lingga-Bangka-Belitung-Anambas-Natuna 45-58 % mirip jenis-jenis Sumatra 
dan Kalimantan; sedangkan jumlah jenis di kepulauan Mentawai hanya 26 % mirip 
jumlah jenis di Sumatra dan Kalimantan. Sebuah kontras bio/zoogeografi; tetapi 
kita bisa memahaminya sebab terdapat kontras geologi yang signifikan antara 
Mentawai dengan Sumatra-Riau-Bangka-Belitung-Natuna.
   
  Di dalam Pulau Sumatra sendiri terdapat juga kontras biogeografi yang juga 
dikendalikan oleh geologi. Barier terhadap biogeografi di daratan Sumatra 
berupa sungai-sungai yang terlalu lebar dan pegunungan yang terlalu tinggi 
untuk diseberangi. Sebuah minor boundary  zone biogeografi ditaruh para ahli 
biogeografi tepat di sepanjang Sesar Sumatra. Apakah sesar ini menjadi garis 
demarkasi yang gagal dilewati para hewan ? Tidak, garis demarkasinya adalah 
Pegunungan Bukit Barisan yang tinggi yang memang duduk di sepanjang Sesar 
Sumatra. Minor boundary ini membatasi aliran pertukaran gen dan memisahkan 
subspesies.
   
  Sebuah major boundary menarik yang memisahkan seluruh spesies ditaruh para 
ahli memanjang BD-TL dari timurlaut Pulau Nias ke arah timurlaut memotong Danau 
Toba sampai ke sekitar Medan. Garis demarkasi besar ini di sekitar Pulau Nias 
berimpit dengan barier besar geologi Sesar Batee yang memisahkan platelet Aceh 
dari sisa plate Eurasia yang diduduki Sumatra; tetapi makin ke timur laut ia 
menyimpang dari jalur Sesar Batee. Jumlah jenis di sebelah utara dan selatan 
major boundary ini lumayan kontras. Beberapa spekulasi dikemukakan, berhubungan 
dengan sebaran tuf erupsi Toba 75.000 tahun yang lalu yang lebih banyak di 
sebelah utara batas biogeografi, atau berhubungan dengan tiupan angin kering 
tipe Fohn  dari Padang Lawas-Padang Sidempuan yang akan mengeringkan cuaca dan 
menghentikan migrasi hewan dari selatan yang mencoba melalui garis demarkasi 
ini (Oldeman et al., 1970). Aliran migrasi yang berhenti akan menghentikan 
aliran gen untuk spesiasi, sehingga variasi spesies dua
 wilayah akan kontras.
   
  Demikian tinjauan sederhana bagaimana geologi mengendalikan keanekaragaman 
hayati sebuah wilayah. Di Indonesia, persada kita tercinta, sejarah alam telah 
mengawetkannya dan kini memperlihatkannya kepada kita. Semoga kita sadar dan 
menghargai kekayaan sejarah alam ini.
   
  salam,
  awang
   
  LAMPIRAN
   
  Date: Sun, 31 Oct 2004 18:13:20 -0800 (PST) 
  From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>  Add to Address Book 
  Subject: Re: [iagi-net-l] Manusia Hobbit Homo floresiensis 
  To: [email protected], [EMAIL PROTECTED] 
      
  Laporan Rowland (1992) : Timor : including islands of Roti and Ndao – World 
Bibliographical Series V. 142, Oxford Press (bisa dibaca di Kathryn Monk et 
al., 1997 : The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku – Periplus Editions, 
Singapore) ternyata sudah menyebut2 keberadaan semacam “hobbit” ini di Flores 
bahkan di beberapa pulau lainnya di Nusa Tenggara. Disebutnya bahwa di Upper 
Paleolithic (40.000-6000 BP), Nusa Tenggara dan sekitarnya dihuni oleh manusia 
moderen Homo sapiens yang merupakan golongan pemburu dan pengumpul 
(hunter-gatherers) Australoid pygmy yang bermigrasi dari barat. Mereka 
diperkirakan datang dari daratan utama Asia melalui Filipina. Kehadirannya juga 
ditandai dengan alat2 batu yang besar dan punahnya beberapa fauna (stegodon, 
kadal raksasa, dan penyu daratan) di Sulawesi, Flores, dan Timor. Orang2 kerdil 
ini kata Rowland (1992) tinggal di dalam gua2 atau rumah batu yang digali di 
bukit2 atau di dekat pantai. Penghuni2 kerdil di Timor ini bisa jadi yang
 bermigrasi ke Australia.
   
  Pendapat Rowland ini berarti tidak sejalan dengan pendapat bahwa aborigin 
Australia berasal dari manusia Ngandong yang bermigrasi dari Jawa melalui Nusa 
Tenggara. Di Nusa Tenggara banyak artefak industri Pacitanian atau Sangiranian 
yang diperkirakan pembuatnya adalah manusia Ngandong (van den Bergh et al., 
1996 : Did Homo erectus reach the island of Flores ? – BIPPA / Bull. of the 
Indo-Pacific Prehistory Association, v. 14, p. 27-36). 
   
  Jacob (1967) : “Some Problems Pertaining to the Racial History of the 
Indonesian Region“ pernah menemukan rangka manusia perempuan dewasa bersosok 
kecil di sebuah gua bernama Liang Toge di Flores dengan umur 2000 SM. Sisa 
rangka dari beberapa situs di Flores semuanya diduga bertarikh Holosen dan 
termasuk ke para leluhur populasi Australo-Melanesia yang sekarang mendiami 
pulau Flores.
   
  Saya pikir “hobbit” di Flores itu hanya menunjukkan suatu ras dalam Homo 
sapiens, bukan hominid.  Memang benar bahwa semua populasi mengalami seleksi 
alamiah dan genetic drift yang akan berakibat menimbulkan kelompok ras tertentu 
melalui polimorfisme, tetapi kurun waktu yang singkat menyulitkan untuk 
menerima bahwa suatu evolusi lokal telah terjadi di sini. Dan sangat mungkin 
pula bahwa “hobbit” di Flores itu juga merupakan sisa ras lama yang terawetkan 
saat ekspansi migrasi ras Mongoloid Selatan terjadi ke seluruh dunia. Sebagian 
besar penduduk kawasan Indo-Malaysia sekarang termasuk ke fenotipe Mongoloid 
Selatan. Tetapi di wilayah2 ini juga ada populasi2 lain yang walaupun kecil 
jumlahnya tetapi penting dalam sejarah, yaitu ras Negrito 
(Australoid/Austro-Melanesia) yang masih tinggal di Malaysia dan Filipina yang 
bertubuh kecil. Tubuh pendek ini juga memang bisa terjadi sebagai adaptasi 
terhadap lingkungan, walaupun ini tak selalu benar sebab penelitian terhadap 
orang
 pygmy di Afrika (Merimee et al., 1981) : “Dwarfism in the Pygmy” – New England 
Journal of Medicine vol.305, no. 17  menemukan bahwa mereka ternyata kekurangan 
hormon IGF-I, yaitu hormon mirip insulin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
   
   
  Salam,
  awang

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke