Jadi ingat cerita seorang bapak yang menjual solar dari dalam kilang ke
industri di Balikpapan.

Jangan tanya gimana caranya si bapak bisa mengeluarkan solar dari dalam
kilang tapi yang pasti dia bisa mensupply kebutuhan solar di beberapa
industri di Balikpapan.

Alasannya? Mungkin sama dgn email dibawah. Katanya kalo dia bisa beli
harga solar dgn harga subsidi, dan menjualnya ke industri dgn sedikit
untung, apakah salah tindakannya?

Hmmmm......Memang berbeda-beda cara orang berusaha mencari nafkah. 

Adakah upaya lain yang bisa dilakukan selain menarik subsidi?

Misalnya saja memanfaatkan gas yang ada ("lebih baik dipake di dalam
negeri daripada dijual murah ke luar negeri") dan digunakan untuk
keperluan sehari2 sehingga demand terhadap minyak bisa dikurangi.

Kan dulu ada upaya penggantian minyak tanah dgn gas? Gimana ceritanya?

Di Thailand saja yang jumlah penduduknya jauh di bawah Indonesia
disarankan memanfaatkan gas semaksimal mungkin (ini mungkin juga dipacu
oleh berubahnya Thailand menjadi importer gas dari Burma di tahun 1999).

Mulai dari tuk tuk, taxi, mobil pribadi, orang jualan pinggir jalan
semuanya memakai gas.

Indonesia dgn jumlah produksi gas alam yang hampir 4 kali lipat
dibandingkan produksi gas alam Thailand di tahun 2004 harusnya bisa
lebih memanfaatkan produksi gasnya.

Pencabutan bensin subsidi seperti Pak Kurtubi? Harusnya bisa dilakukan
dan mungkin lebih baik daripada penghematan dgn smart card dgn alasan
spt yang dijelaskan oleh Pak Kurtubi.

Harga bensin di Bangkok yang beroktan 91 saja sudah sekitar 9100 rupiah
per liter sedangkan yang oktan 95 sekitar 9500 rupiah per liter.

Dibandingkan di Indonesia yang 4500 rupiah per liter? Masih mahal
Thailand kan? Jadi apa masih perlu disubsidi?

 

-sekedar perbandingan saja-

 

 

-----Original Message-----
From: Dwiyatno Rumlan [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, 29 April, 2008 11:27 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] BPH Migas : Cabut Subsidi BBM Kendaraan
Pribadi

 

Saya seorang supir angkot, dan oleh pemerintah, diberi jatah subsidi 40

liter sehari. Harga bensin subsidi Rp 4500, sementara bensin yang

non-subsidi adalah Rp 7500, selisih marginnya Rp 3000 rupiah per-liter.

Kalau saya ambil jatah saya yang 40 liter per hari kemudian saya jual
orang

lain seharga Rp 7000 per liter (mustinya mudah, wong kalau beli di POM

Bensin harganya Rp 7500 per liter), untung saya adalah Rp 100,000 per
hari

....... Pembaca, beri alasan kepada saya kenapa saya musti repot2 narik

angkot, sementara dari margin perbedaan subsidi dan non-subsidi saja,
saya

bisa memperoleh Rp 100,000 per hari ?!! Apakah saya salah dengan
melakukan

itu semua ?????

 

Salam

Sekedar masukan saja buat pembuat kebijakan

 

 

----- Original Message ----- 

From: "Ismail Zaini" <[EMAIL PROTECTED]>

To: <[email protected]>

Sent: Tuesday, April 29, 2008 10:33 AM

Subject: [iagi-net-l] BPH Migas : Cabut Subsidi BBM Kendaraan Pribadi

 

 

> Kalau memang untuk kebaikan bersama mengapa tidak , biar tidak kaget
mulai

> sekarang sudah membiasakan beli dg harga non subsidi ( beli Petramax )
.

> masak masih mau disubsidi trus terussan..

> 

> ISM

> =========================

> BPH Migas: Cabut Subsidi BBM Mobil Pribadi

> Pembatasan konsumsi BBM akan dilakukan bertahap.

> 

> 

> JAKARTA--Badan Pengatur Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH

Migas)

> mengusulkan pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM) bagi kendaraan

> pribadi. Usulan itu merupakan salah satu dari empat skenario yang

disiapkan

> pemerintah terkait program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.

> 

> "Subsidi BBM hanya diberikan untuk kendaraan umum," kata anggota
komite

BPH

> Migas, Adi Subagyo, kepada Republika, Ahad (27/4). Pertimbangannya,
ungkap

> Adi, pengguna kendaraan umum adalah masyarakat yang berpenghasilan

> pas-pasan. Dengan alasan itu, hanya kendaraan umum yang akan ditempel

smart

> card.

> 

> Smart card akan menjadi tanda pengenal bahwa kendaraan tersebut berhak

> membeli BBM bersubsidi yang dijual di SPBU. Kendaraan pribadi, lanjut
Adi,

> masih bisa mengonsumsi premium atau solar yang dijual di SPBU dengan
harga

> nonsubsidi.

> 

> Harga premium dan solar nonsubsidi ini akan ditetapkan tersendiri oleh

> pemerintah. "Harganya mungkin dipatok lebih tinggi sedikit dari harga

> subsidi, tapi masih di bawah harga bahan bakar jenis Pertamax atau

Pertamax

> Plus."

> 

> Saat ini, premium bersubsidi dijual di SPBU pada harga Rp 4.500 per
liter,

> solar bersubsidi Rp 4.300 per liter, dan harga Pertamax serta Pertamax

Plus

> di atas Rp 8.500 per liter.

> 

> Empat skenario pembatasan konsumsi BBM bersubsidi yang tengah digodok

> pemerintah adalah pembatasan konsumsi berdasarkan kapasitas mesin
(CC),

> tahun keluaran kendaraan, berdasarkan peruntukannya (kendaraan umum
atau

> pribadi), dan kelompok kendaraan yang samar-samar.

> 

> BPH Migas mengusulkan prioritas utama pembatasan konsumsi BBM
berdasarkan

> peruntukan atau skenario ketiga. Prioritas berikutnya adalah skenario

kedua

> atau berdasarkan tahun keluaran kendaraan.

> 

> Untuk skenario ini, BPH Migas mengusulkan kendaraan pribadi roda empat

> keluaran lima tahun terakhir tak mendapat subsidi BBM. "Tapi, untuk
sepeda

> motor keluaran lima tahun terakhir, tetap memperoleh subsidi."

> 

> Di tempat terpisah, Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan,

> pemerintah belum memutuskan opsi mana yang akan dipilih. Kendati
demikian,

> pembatasan konsumsi BBM bersubsidi akan dilakukan secara bertahap.

> Pembatasan BBM menggunakan smart card itu tak bisa dilaksanakan
sekaligus

di

> seluruh wilayah Indonesia. "Kita akan cari daerah yang bisa diterapkan

smart

> card," katanya, kemarin.

> 

> Pengamat perminyakan, Kurtubi, menilai program penghematan BBM melalui

smart

> card kurang efektif. Dia lebih setuju jika pemerintah memilih
menaikkan

> harga BBM bersubsidi.

> 

> Sebabnya, harga minyak mentah dunia bakal terus naik. Dalam kondisi
ini,

> jika harga BBM bersubisidi tak dinaikkan, pemerintah akan menanggung
biaya

> subsidi BBM yang luar biasa besar. "Tidak mustahil harga minyak mentah

dunia

> pada akhir tahun mencapai 150 dolar AS per barel," katanya, akhir
pekan

> lalu.

> 

> Ekonom Indef, Aviliani, mengingatkan pemerintah agar segera memutuskan

soal

> harga BBM bersubsidi paling lambat Juni 2008. "Harus ada kesimpulan
dari

> pemerintah," katanya. Meskipun kebijakan tak populis, kenaikan harga
BBM

> dinilai berdampak positif bagi kesinambungan perekonomian nasional.

"Kisaran

> kenaikan 20-30 persen itu sudah paling maksimal."  dia/ant

> 

> 

> 

> 

> 

> 

>
------------------------------------------------------------------------
--

------

> PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)

> * acara utama: 27-28 Agustus 2008

> * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008

> * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008

> * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008

> * abstrak / makalah dikirimkan ke:

> www.grdc.esdm.go.id/aplod

> username: iagi2008

> password: masukdanaplod

> 

>
------------------------------------------------------------------------
--

------

> PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:

> * pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008

> * penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung

> AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!!

> 

>
------------------------------------------------------------------------
--

---

> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id

> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

> No. Rek: 123 0085005314

> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

> Bank BCA KCP. Manara Mulia

> No. Rekening: 255-1088580

> A/n: Shinta Damayanti

> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

> ---------------------------------------------------------------------

> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information

posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event

shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited
to

direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting

from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with
the

use of any information posted on IAGI mailing list.

> ---------------------------------------------------------------------

> 

 

 

------------------------------------------------------------------------
--------

PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)

* acara utama: 27-28 Agustus 2008

* penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008

* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008

* batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008

* abstrak / makalah dikirimkan ke:

www.grdc.esdm.go.id/aplod

username: iagi2008

password: masukdanaplod

 

------------------------------------------------------------------------
--------

PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:

* pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008

* penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung

AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!!

 

------------------------------------------------------------------------
-----

To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id

To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.

---------------------------------------------------------------------

 

Kirim email ke