Abah,
Sayang aja,,, kita baru mulai dengan industri CBM ini tapi sudah dihadapkan pada kondisi pabaliut gini! Padahal gas CBM adalah energi alternatif kita yang potensial utk bisa dikembangkan secepatnya... Tapi, saya optimis koq abah, kalo republik ini bisa ngatasin persoalan2 kita sendiri...(sabaar..sambil nunggu clean government) Salam, -abl- On Tue, Apr 29, 2008 at 2:53 PM, yanto R.Sumantri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > >Agus > > Sementara komentar saya , apa yang Anda usulkan > itu memerlukan satu syarat utama yaitu "clean government". > Semoga kita bisa mencapainya . > Anyway , yang menjadikan urusan > sederhana ini jadi pabaliut adalah OTODA yang disalahgunakan. > Memang > kita perlu mengkaji otoda ini , dan pendapat pendapat seperti ini sudah > berkumandang agak keras (al. dari Syamsul Muarif , dan banyak lagi ), > termasuk saya berpendapat bahwa ujung awal dari persoalan pabaliut > ini adalah "kesalahan" pada amandemen UUD - 1945.Saya kok ndak > yakin bisa diselesikan dalam era SBY sekarang. > Jadi harus sabar > menunggu Sidang MPR yad. > > Si Abah > > > Rekans, > > > > Saya ingin sharing untuk masalah peraturan > CBM di Indonesia, yang sudah > > sejak diterbitkannya peraturan > (Permen) No. 033 / th. 2006, koq sepertinya > > masih jauh untuk > membuahkan satupun PSC, mungkin ada sesuatu yang kurang > > dalam > peraturan perijinan dan pengelolaan yang menjadikan obstacles > > > pengembangan CBM di republik ini? Dan sampai saat ini, sepengetahuan > saya > > belum ada satu organisasi / asosiasi yang bisa membawa > suara para pelaku > > CBM > > di negeri ini, untuk itu saya > mencoba untuk menulis opini melalui forum > > IAGI, yang saya haqul > yakin bahwa wacana-wacana yang saya tulis ini sudah > > > berputar-putar dan berkembang di kalangan pemerhati atau pelaku CBM di > > Indonesia. > > > > *Pendahuluan* > > > > > Industri CBM (coal bed methane) atau Gas Metana Batubara di Indonesia > > memang > > masih sangat baru, bahkan juga di dunia yang baru > belum genap dua dekade > > umur industri ini dikelola, tetapi pada > dasa warsa terakhir menunjukkan > > bahwa industri ini cukup > berkembang dengan pesat, walau baru beberapa > > Negara > > > yang sudah mengembangkan CBM dan terbukti keberhasilannya sampai pada > > tahapan produksi. > > > > *CBM adalah berbeda dengan > lapangan gas konvensional* > > > > Sumur gas konvensional > umumnya dalam (lebih dari 1 km) dan viable untuk 5 > > sampai 20 > tahun. Sedangkan sumur CBM adalah dangkal (kurang dari 1 km) dan > > > mempunyai umur yang pendek, serta diperlukan pengeboran yang banyak > bisa > > sampai ratusan sumur untuk mendapatkan produksi yang > optimum, karena > > cebakannya berada di dalam seam batubara yang > lateral. Dan tentunya masih > > banyak parameter teknis lainnya yang > membedakan antara cadangan gas CBM > > dengan yang konvensional. Dan > lebih-lebih karakteristik gas CBM bisa > > berbeda > > dengan > basin yang berbeda, tentunya juga dengan formasi yang berbeda, di > > lapangan CBM yang berbeda, bahkan produksi gas dari sumur-sumur > dalam satu > > lapangan pun juga bisa berbeda. Yang tentunya hal > tersebut berpengaruh > > terhadap biaya pengembangan dan produksi > gas CBM. > > > > Dan tabel dibawah ini, adalah unsur-unsur > yang bisa membantu untuk > > menerangkan perbedaan tersebut: > > > > > > > > Exploration cost > > > > Well completion well > > > > Treatment cost > > > > > Well life > > > > Turn down > > > > > Conventional > > > > High > > > > High > > > > > High > > > > Long > > > > High > > > > CBM > > > > Low > > > > Low > > > > Low > > > > Short > > > > > Low > > > > *Peraturan CBM di Indonesia* > > > > > Saat ini Indonesia sudah memiliki Peraturan Menteri (Permen) No 033 / > > 2006, > > yang diterbitkan pada* *tanggal 22 Mei 2006, dimana > pengusahaan gas CBM > > sudah diputuskan untuk berlaku sesuai dengan > regim peraturan Migas. > > > > Tetapi, yang tentunya juga > sudah disadari baik oleh pemerintah (Migas) dan > > ataupun para > pengembang CBM di Indonesia bahwa peraturan tersebut masih > > > banyak kekurangan dan masih perlu disempurnakan. > > > > Dan > kita mendengar saat ini sedang berlangsung suatu inisiatif > > > penyempurnaan > > peraturan-peraturan di lingkungan Migas termasuk > juga peraturan di bidang > > pengusahaan CBM. > > > > > *Usulan-usulan untuk revisi Permen No. 033 / 2006 mengenai Pengusahaan > Gas > > Metana Batubara* > > > > *Yang berkaitan dengan > kegiatan / pelaksanaan pengembangan dan operasional > > / > > > produksi CBM:* > > > > 1. Dibutuhkan klausal (Pasal-pasal) > pemahaman tentang > > perbedaan-perbedaan > > yang > fundamental/mendasar di dalam lisensi/ijin pengusahaan (PSC) CBM > > dengan PSC Minyak dan Gas konvensional; maupun dalam kaitannya > dengan BP > > MiGas sebagai regulator dari ketentuan operasional. > > > > 2. Pengelolaan Hulu Gas Metana B (CBM) harus > ditangani oleh divisi yang > > berbeda, baik didalam organisasi > DitJen MiGas maupun BP MiGas; dan > > seyogyanya tidak bisa berada > di bawah divisi Minyak dan Gas konvensional. > > Hal > > ini > dikarenakan banyaknya poin-poin operasional dalam CBM yang harus > > > diperlakukan berbeda dengan minyak dan gas konvensional. > > > > Dengan demikian, maka akan memperjelas dalam hal menderivasi > kerangka > > legislasi berikutnya, seperti antara lain: kerangka > kontrak yang disiapkan > > secara khusus untuk CBM, term & > condition reference untuk pengembangan > > CBM, > > regime > pajak dan fiskal yang disiapkan khusus untuk CBM dsb. > > > > > *Yang berkaitan dengan wilayah kerja CBM, yaitu dengan diberinya > "first > > priority right" kepada pemilik WK Migas dan KP > Batubara / PKP2B, > > diusulkan:* > > > > 1. Adanya > klausal (Pasal) mengenai kewenangan Ditjen MIGAS untuk > > > diberikan > > hak dalam mengklarifikasi dan menelusuri lebih jauh > (*oversight right*) > > untuk memastikan bahwa semua pemegang > kontrak konsensi pertambangan > > batubara > > benar-benar > menjalankan kegiatan yang diharuskan/diwajibkan sesuai dengan > > > ketentuan-ketentuan didalam izin pemegang konsensi pertambangan untuk > > dijalankan. Oversight right Ini termasuk hak untuk memberikan > penalty atau > > bahkan menarik izin/hak konsensi pertambangan > batuabara untuk mendapatkan > > hak prioritas dalam mengembangnkan > Gas Metana – B bilamana terjadi *event > > non-performance* > (Pemegang KP Batubara tidak melaksanakan > > > kewajiban-kewajibannya). > > > > Jika terdapat potensi gas > metana batubara di dalam suatu area KP Batubara > > atau PKP2B, > kontraktor KP Batubara atau PKP2B tsb haruslah lebih dulu bisa > > > meyakinkan / menunjukkan kepada Direktorat Jenderal Pertambangan dan > > Energi > > Cq Ditjen MiGas bahwa area KP Batubara atau PKP2B > mereka telah memenuhi > > persyaratan program kerja yang diwajibkan, > menjalankan komitmen, dan bahwa > > kontraktor tsb benar-benar > menjalankan/membuat kemajuan dalam aktivitas > > eksplorasi > batubara. > > > > *(Keterangan: Hal ini terutama untuk > menghindari spekulasi kemungkinan > > bisa > > didapatkannya > hak pengembangan GMB hanya karena suatu kontraktor telah > > > mengantongi izin konsensi batubara. Prioritas pertama untuk > > > mengeksploitasi > > gas metana batubara kemudian akan bisa diberikan > kepada kontraktor KP > > Batubara dan PKP2B yang valid). Karena > sudah menjadi pengetahuan (rahasia) > > umum bahwa perijinan KP > batubara merupakan pintu belakang yang mengarah > > kepada izin > pengembangan GMB).* > > > > 2. Dibutuhkan pasal-pasal yang > menerangkan lebih rinci mengenai hak > > yang > > seimbang > (*equal right*) yg dimiliki oleh pemegang KP Batubara maupun > > > pemegang WK Minyak dan Gas konvensional, dimana hanya dan apabila > memang > > para pemegang konsensi KP Batubara dan WK MiGas sajalah > yang benar-benar > > menjalankan kagiatan eksplorasi dan/atau > mengembangkan cadangan batubara > > serta memenuhi komitmen > (kewajiban-kewajiban) pekerjaan mereka (seperti > > yang > > > ditentukan dalam pasal-pasal disebutkan dalam SK Penerbitan KP Batubara > > ataupun kontrak PSC). > > > > 3. Diperlukan pasal > yang menerangkan bahwa para pemegang konsensi KP > > Batubara > ataupun WK Migas tidak diperbolehkan untuk menjual interest > > > mereka > > kepada pihak lain, apabila pihak-pihak (lain) tersebut > tidak bermaksud > > (tidak bisa) untuk mengerjakan/mengembangkan > serta mengoperasikan sendiri > > potensi Gas Metana B di wilayah KP > Batubara atau WK Migas mereka > > tersebut. > > > > > Atau dibuat suatu pasal yang lebih tegas, bahwa: Hanya KP Batubara / > PKP2B > > yang sudah memiliki izin dan (benar-benar melakukan) > beroperasi pada > > tahapan > > Eksploitasi yang diberikan hak > pertama untuk mengembangkan CBM di lahannya > > mereka. > > > > > *Salam,* > > > > *-abl-* > > > > > -- > _______________________________________________ > Nganyerikeun hate batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate > jalma hirupna pada ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan. >

