Dalam banyak hal, alam sering menjadi perintang atau pendukung kemajuan atau 
kemunduran kerajaan-kerajaan di Indonesia. Peta politik kekuasaan kerajaan 
sedikit banyak ditentukan oleh aspek-aspek geomorfologi.
 
Hal ini juga sedikit banyak, langsung atau tak langsung diuraikan dalam 
buku-buku lama tentang sejarah Jawa (de Haan, 1912 : ”Priangan”; Fruin-Mees, 
1919 : ”Geschiedenis van Java”; Olthof, 1944 : ”Babad Tanah Djawi”; Soeroto, 
1954 : ”Indonesia di Tengah-Tengah Dunia dari Abad ke Abad”, de Graaf dan 
Pigeaud, 1974 : ”De Eerste Moslimse Vorstendoommen op Java”; Slametmuljana , 
1979 : ”Negara Krtagama”, dan Daldjoeni, 1984; 1992 : ”Geografi Kesejarahan 
Indonesia”).
 
Banyak orang ingat cerita tentang Jaka Tingkir, tokoh sakti penakluk para buaya 
(bajul) (Jaka Tingkir adalah cucu Bajul Sangara – raja Pengging, wilayah 
Boyolali sekarang, yang diyakini punya pasukan buaya, maka tak mengherankan 
bila sang cucu ditakuti para buaya).  Jaka Tingkir adalah Adiwijaya, raja 
Pajang (1546-1586). Pajang tak hanya menarik karena Jaka Tingkir. Pengging 
(pendahulu Pajang) dan Pajang juga menarik dalam hal bahwa sesungguhnya dua 
kerajaan ini sebenarnya berpeluang sesukses Majapahit. Kuncinya adalah 
penguasaan hulu-hilir Bengawan Solo – hegemoni Bengawan Solo. Sayang gagal.
 
De Graaf dan Pigeaud (1974) menulis bahwa Lembah Bengawan Solo yang diapit 
Merapi dan Lawu tak penting secara ekonomi dan politik sebelum tahun 1000. Saat 
itu dataran tinggi Kedu dan Mataram yang diapit sungai Progo dan Opak lebih 
penting. Orang2 Mataram kalau mau ke Jawa Timur, saat itu tak lewat Bengawan 
Solo, tetapi melipir melalui lereng-lereng selatan Lawu, Wilis, dan Semeru.
 
Setelah tahun 1000, baru Lembah Bengawan Solo menjadi penting. ”Negara 
Krtagama” menyebut sebuah kerajaan di bagian barat wilayah Majapahit bernama 
Pajang pada abad ke-14 dikunjungi Hayam Wuruk.  Pajang adalah sahabat Majapahit 
sekaligus bawahannya.
 
Sebelum ke Pajang mari kita ke Pengging dulu sebab Pajang berkembang dari 
Pengging. Pengging adalah kerajaan kecil di lereng tenggara Merapi, wilayahnya 
meliputi Boyolali-Klaten sekarang. Dalam Babad Tanah Jawi, diceritakan bahwa 
raja Pengging bergelar ”Bajul Sangara” sebab dimitoskan dalam babad tersebut 
bahwa ia raja bangsa buaya di Bengawan Solo. Bajul Sangara dikenal juga sebagai 
Jaka Bodo karena nama lain Pengging adalah Bobodo (de Haan,1912)  (jelas tokoh 
paranormal Ki Joko Bodo memanfaatkan nama raja buaya ini). Bajul Sangara ini 
pernah membantu Gajah Mada mahapatih Majapahit saat penaklukan Blambangan dan 
Bali.
 
Bajul Sangara punya dua anak : Kebo Kenanga dan Kebo Kanigara. Kebo Kenanga 
menggantikan ayahnya memimpin Pengging. Kebo Kenanga punya anak bernama Jaka 
Tingkir. Saat Demak menghancurkan Pengging dan Kebo Kenanga dibunuh lewat adu 
kesaktian dengan Sunan Kudus, Jaka Tingkir ditawan ke Demak. Tetapi di Demak 
Jaka Tingkir menjadi orang kepercayaan raja Demak.
 
Saat Demak mundur karena Sultan Trenggana gugur dalam peperangan, Jaka Tingkir 
kembali ke kawasan dari mana ia berasal yaitu Pengging. Di situ ia mendirikan 
Kerajaan Pajang dan Jaka Tingkir menjadi rajanya dengan gelar Adiwijaya. 
Kerajaannya tumbuh pesat, Demak dan Mataram dua pesaingnya mewaspadainya.
 
Pajang memiliki peluang untuk dapat tumbuh sebagai negeri agraris-maritim. 
Kerajaan yang sukses di Jawa adalah kerajaan yang menguasai seluruh aliran 
sungai dari hulu ke hilir –kesatuan agraris dan maritim (sebagai contoh 
Erlangga di Kahuripan, Kertanegara di Singhasari, dan Hayam Wuruk di 
Majapahit). Kekuasaan Pajang diakui oleh raja-raja kecil di pesisir Jawa Timur 
(Tuban-Surabaya). Maka, dengan pusat kerajaan di pedalaman yang agraris di 
sekitar Boyolali-Kartasura-Surakarta-Klaten dekat hulu Bengawan Solo sementara 
kekuatan maritim ada di muara Bengawan Solo di sekitar Tuban-Surabaya, idealah 
kondisi seperti itu. 
 
Pusat bentang alam Pajang yang asli adalah desa Pengging, yang sekarang 
letaknya di sekitar Boyolali. Wilayah pusat Pajang luasnya sekitar 300 km2 dan 
merupakan triple junction antara kali Pepe, kali Dengkeng, dan Bengawan Solo. 
Kali Pepe dan Kali Dengkeng datang dari Merapi, Bengawan Solo datang dari 
Gunung Lawu. Bisa dibayangkan, ini adalah wilayah yang sangat subur. Tak 
mengherankan kalau Boyolali dan Klaten sebelum Perang Dunia II pernah menjadi 
gudang beras bagi kesunanan Surakarta. Kesuburan tanahnya juga memungkinkan 
hadirnya 22 pabrik gula dan 10 pusat pertanian tembakau.
 
Andaikata Pajang dapat menjadi suatu kerajaan besar dengan urat nadi Bengawan 
Solo, maka kondisi-kondisi geomorfologinya akan mempengaruhi politiknya :
 

Kerajaan Pajang yang agraris-maritim akan memiliki front yang menghadap ke 
wilayah Indonesia Timur via pelabuhan di muara Bengawan Solo (Gresik) yang 
menjadi ajang perniagaan lautan yang kelak menjadi rebutan dunia internasional 
(Portugis dan Belanda di Maluku).
Sayap kiri dari urat nadi Bengawan Solo akan berupa daerah pesisir dengan 
deretan pelabuhan yang akan penting untuk perdagangan dari barat ke timur : 
Demak,Jepara, Juwana, Rembang, Lasem, Tuban.
Sayap kanannya berupa lembah Brantas dengan daerah-daerah penting Kediri, 
Kertosono, dan Wirosobo (Jombang-Mojokerto sekarang).
 
Semua kerajaan di Jawa berambisi menguasai sepanjang aliran sungai. Barang 
siapa yang dapat menguasai aliran sungai terpanjang di Jawa (Bengawan Solo) 
maka ia akan mendapatkan banyak hegemoni. 
 
Dalam masa jayanya, Pajang memegang hegemoni atas sepuluh daerah lain yang 
tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur : wilayah Pajang sendiri 
(Boyolali-Surakarta-Klaten-Sukoharjo), Surabaya, Tuban, Pati, Pemalang, Tegal, 
Madiun, Kediri, Banyumas, Kedu, Mataram dan Demak. Dua yang terakhir berambisi 
melawan Pajang untuk menguasai Jawa.
 
Sunan Kudus di Demak tidak pernah menyukai Pajang sebagian besar karena alasan 
pribadi yaitu sebab dari dulu Pajang dibantu Syeh Siti Jenar. Sunan Kudus 
menganggap Syeh Siti Jenar menodai ajaran Islam. Sementara Mataram berambisi 
besar ingin menguasai wilayah Jawa, cara pertamanya dengan memberontak dan 
mengalahkan Pajang.
 
Mataram mula-mula bagian Pajang. Tahun 1575 Sutawijaya diangkat jadi adipati 
Mataram bergelar Panembahan Senapati. Ini terjadi karena Senapati membantu 
Adiwijaya membunuh Arya Penangsang. Betapa saktinya Arya Penangsang maka ia 
perlu ditaklukkan oleh empat orang termasuk Senapati. Karena ingin berkuasa 
lebih, tahun 1582 Sutawijaya memberontak kepada Sultan Pajang Adiwijaya (Jaka 
Tingkir). Karena Jaka Tingkir sudah sepuh, ia terbunuh oleh Panembahan 
Senapati. Tahun 1586 kebesaran Kerajaan Pajang lenyap, dipindahkan ke Mataram 
di sekitar Yogyakarta sekarang. Sampai tahun 1601, Senapati berperang terus 
dengan semua kerajaan bawahan Pajang termasuk yang di pesisir. Ambisinya 
menguasai Jawa ia jalankan dengan menguasi dari hulu ke hilir Bengawan Solo. 
 
Riwayat Mataram adalah riwayat perang menguasai aliran Bengawan Solo dan 
wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur di sebelah kanan-kirinya. Raja-raja Mataram 
sejak Senapati, Mas Jolang, dan Sultan Agung semuanya berperang untuk menguasai 
Jawa. Kerajaan-kerajaan kecil memberontak dan bersekutu menyerang Mataram. 
Kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur bersekutu di bawah pimpinan Surabaya 
berjalan ke hulu Bengawan Solo hendak menyerang Mataram. Apa daya, 
kerajaan-kerajaan pesisir ini tak pernah punya pengalaman berperang di 
pedalaman. Di Pajang tentara sekutu kerajaan-kerajaan pesisir ini dicegat 
tentara Mataram di Pajang dan dibinasakan di situ pada tahun 1615.
 
Di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645), hegemoni Mataram bertambah 
luas. Walaupun wilayah kekuasaannya masih jauh di bawah Majapahit, sejarah 
Indonesia mencatat bahwa Mataram punya hegemoni terluas pada abad ke-17 itu. 
Wilayahnya meliputi seluruh Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Timur, Cirebon, 
Priangan, dan Kalimantan Selatan. Tetapi ada dua wilayah di Jawa yang tak 
pernah bisa dikuasasinya : Banten dan Batavia.
 
Demikian, sekedar menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, geomorfologi berperan 
penting dalam peta politik kerajaan-kerajaan di Indonesia.
 
Salam,
awang


      

Kirim email ke