Saya perlu menanggapi tulisan Sdr. Erwin.
 
Tulisannya di milis Migas Indonesia, walaupun tidak terus terang ditujukan 
kepada saya, tetapi bernada sindiran sebab nama saya tercantum di berita yang 
ditanggapinya. Tulisannya saya anggap tak berarti, tak lebih dari fitnah yang 
tak berdasar. Tetapi saya jadi tahu kalau Sdr. Erwin bila menjadi seorang ahli 
geologi kiranya akan berbuat begitu demi uang...(!).
 
Pendapat2 saya soal LUSI sejak LUSI menyembur lebih dari dua tahun yang lalu 
tak dibuat atas pesanan siapa pun. Paper2 saya soal mud volcano di Jawa, di 
mana pun diterbitkan (IPA, IAGI, AAPG) tak saya buat atas pesanan siapa pun. 
LUSI justru membuka mata saya bahwa kejadian2 semacam itu pernah juga terjadi 
di tempat yang sama dalam masa sejarah maupun pra-sejarah. Saya percaya kepada 
"the present is the key to the past", saya punya bukti-buktinya, dan saya ingin 
mengungkapkannya. Itu saja.
 
Bila ada orang mencurigai bahwa pendapat2 saya dibuat karena saya dibayar 
seseorang atau sebuah institusi, berarti orang tersebut tak mengenal saya 
dengan baik. Saya tak akan menjual diri sambil membunuh hati nurani. Justru 
pendapat2 saya soal LUSI itu adalah ungkapan hati nurani. 
 
Hati-hatilah, bila belum tahu duduk perkaranya dengan benar, janganlah 
mengeluarkan pendapat yang bisa menyudutkan seseorang.
 
Salam,
awang
 
-----Original Message-----
From: OK Taufik [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, September 01, 2008 10:29 C++
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Fwd: [Oil&Gas] (NEWS) Potensi Gunung Lumpur Membentang di 
Jaw
dari milist sebelah....
 
----- Original Message ----
From: Erwin (Jakarta) <[EMAIL PROTECTED] <Erwin%40WorleyParsons.com>>
To: [EMAIL PROTECTED] <Migas_Indonesia%40yahoogroups.com>
Sent: Monday, September 1, 2008 7:56:34 AM
Subject: RE: [Oil&Gas] (NEWS) Potensi Gunung Lumpur Membentang di Jawa
Kalo saya Ahli Geology...dan di suruh Berbohong atau apa lah nama nya untuk 
LUSI ..saya akan bilang NO...alias Tidak akan........ ..tapi kalo ada yang 
nawarin..ini loh mas..saya kasi upeti untuk buat pernyataan bahwa ini adalah 
itu..dan itu adalah ini...dengan upeti yg gak habis seumur hidup mas..ampe 
keturunan ke 2.....saya akan jawab..." Okay dech sesuai dengan permintaan anda 
"...sebab apa...karena saya orang Indonesia..yang butuh duit untuk ngidupin si 
ini dan si itu....dan saya mencari Ilmu sebagai Geology juga butuh BEP dan 
Profit...... gitu toh..
Terus bagaimana... .....ya terserah Pemerintah mau ngapain...yang penting saya 
buat pernyataan.. sesuai dengan Pesanan dan di lumuri dengan Keilmuan 
saya......dan yang jelas..untuk itu saya gak perlu Kerja jauh jauh ke Nigeria 
ataupun negeri yg tidak saya kenal manapun..... ........saya bisa duduk tenang 
ama Si ini si itu ..serta kongko kongko. Ama si ini dan si itu sampai di hari 
tua.......dan sebelum mati saya akan meminta maaf karena kekilafan saya 
dahulu...... ....Amin
____________ _________ _________ __
From: Migas_Indonesia@ yahoogroups. com
[mailto:Migas_Indonesia@ yahoogroups. com] On Behalf Of Harry Eddyarso
Sent: Monday, 1 September 2008 9:15 AM
To: Migas_Indonesia@ yahoogroups. com
Subject: RE: [Oil&Gas] (NEWS) Potensi Gunung Lumpur Membentang di Jawa
Dear all,
Komentar saya:
Para geologists ini boleh aja mengeluarkan ribuan TEORI tentang "gunung 
lumpur", dan itu sah-sah saja.
Namun, khusus untuk insiden semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, teori aja 
tidaklah cukup. Kita semua perlu bukti2 yang mendukung teori gunung lumpur tsb 
(sampai saat ini bukti2 tsb tidak pernah ada). Apalagi insiden itu sudah 
terjadi dan sudah berlangsung selama 2 tahun lebih, yang sampai hari ini masih 
menyengsarakan rakyat disana.
Di sisi lain (baca: dari kacamata "drilling engineering" ), teori maupun
bukti2 yang ada menunjukkan arah yang berbeda, yaitu insiden itu terjadi karena 
dampak dari operasi pemboran. Domain utamanya adalah dunia drilling 
engineering. Dunia geology bisa dipakai hanya sebagai supporting data, namun 
bukan domain utama. Fenomena gunung lumpur boleh aja ada dimana2, namun dengan 
penanganan drilling engineering dan operations yang benar, semua insiden - yang 
mungkin berkenaan dengan gunung lumpur - itu dapat dihindari.
Semburan lumpur di Sidoardjo itu menurut dunia drilling termasuk kategori 
"underground" formation water blow-out. Formation water yang menerobos ke 
permukaan menggerus lempung sepanjang lobang sumur sehingga di permukaan tampak 
seperti Lumpur, diselingi dengan letupan2 gas secara sporadic.
Dengan
kata lain: itu bukan fenomena gunung Lumpur seperti yang ditulis dalam artikel 
di bawah ini.
Drilling Program sumur Banjar Panji #1 YANG ASLI (yang diapproved
BPMigas)
sudah benar, namun dalam pelaksanaannya ada casing (9-5/8") yang tidak dipasang 
sesuai dengan program aslinya, sehingga menurunkan integritas sumur ybs, dan 
itu jangan dilupakan. Saya perlu mengingatkan kembali "akar permasalahan" yang 
sebenarnya agar kita semua tidak mudah "terbelokkan"
dengan opini2 yang sengaja mengarah kepada "bencana alam" seperti artikel di 
bawah ini.
Untuk mudahnya, sebagai orang drilling saya bisa bilang begini:
* Kalo sumur Banjar Panji #1 itu tidak pernah di bor, insiden semburan lumpur 
itu tidak akan pernah terjadi ., atau
* Kalo sumur Banjar Panji #1 itu dibor dengan benar sesuai prinsip2 drilling 
engineering, insiden itu tidak akan terjadi.
Dengan kata lain, semburan lumpur itu tidak akan "ujug2" terjadi disitu tanpa 
adanya sumur Banjar Panji #1 disitu. Gempa Yogya efeknya terlalu kecil untuk 
bisa dijadikan kambing hitam penyebab insiden tsb.
Jabat erat,
Harry Eddyarso - Moderator KBK "Bor"
"Jadilah saksi-saksi kebenaran, walaupun itu pahit ..", quote: unknown.
_____
From: Ahmad Mujib [mailto:ahmad.mujib@ gmail.com <mailto:ahmad. mujib%40gmail. 
com> ]
Sent: Saturday, August 30, 2008 10:18 AM
To: Migas Indonesia
Subject: [Oil&Gas] (NEWS) Potensi Gunung Lumpur Membentang di Jawa
2008-08-30 07:22:00
Potensi Gunung Lumpur Membentang di Jawa http://www.republik 
<http://www.republik a.co.id/launcher /view/mid/ 19/news_id/ 6400 
<http://www.republik a.co.id/launcher /view/mid/ 19/news_id/ 6400> > 
a.co.id/launcher/ view/mid/ 19/news_id/ 6400
[image: 20080830072008]
BANDUNG--Para ahli geologi menyatakan bahwa potensi gunung lumpur (mud
vulcano) membentang luas di daratan Pulau Jawa, sehingga di wilayah itu rentan 
terjadi semburan lumpur seperti yang terjadi di Sidoarjo, Jatim.
Staf Ahli geologi BP Migas Awang Harun Satyana mengatakan, terdapat jalur 
rentetan gunung lumpur yang terbentang luas dari Bogor hingga Sidoarjo.
"Masyarakat mungkin tidak akan pernah lupa terhadap kejadian fenomenal semburan 
lumpur yang terjadi di wilayah Jawa Timur itu, bahkan setelah dua tahun, lumpur 
Sidoarjo terus menyembur tanpa henti," ujarnya.
Bagi ahli geologi, kata dia, kejadian tersebut merupakan salah satu contoh 
tidak tepatnya perlakuan manusia terhadap alam karena kurangnya pengetahuan 
terhadap kegeologian.
"Kejadian ini sebenarnya sangat alami, bahkan beberapa pakar telah memetakan 
Indonesia sebagai wilayah yang rentan terhadap gangguan alam seperti itu,"
urainya.
Awang menjelaskan, beberapa juta tahun lalu, tepatnya di wilayah Kubah Sangiran 
terjadi hal serupa. Berdasarkan penelitian, Sangiran merupakan tempat hidup 
manusia purba pertama di Pulau Jawa dua juta tahun lalu.
"Kubah Sangiran kemudian tererosi pada bagian puncaknya, sehingga membentuk 
sebuah depresi. Pada depresi itulah, tersingkap lapisan-lapisan tanah secara 
alamiah," ujarnya.
Bahkan, kata dia, gunung lumpur ini telah menenggelamkan sebuah kerajaan di 
Jawa Timur sekitar 400 tahun silam.
Sedangkan Edi Sunardi, Ketua Pengembangan Ilmu IAGI, yang juga dosen Geologi 
Unpad, berpendapat, secara geografis, daerah Jatim memiliki peta geologi yang 
spektakuler karena memiliki kandungan minyak, gas, serta gunung lumpur.
Bahkan, terdapat satu jalur dari arah Barat ke Timur sampai dengan Selat Madura 
yang dipenuhi dengan gunung lumpur.
Hal senada dikatakan Prof Sukendar Asikin, ahli tektonik dan geologi struktur 
dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa tidak menutup kemungkinan fenomena 
Kubah Sangiran terulang kembali di beberapa wilayah di Pulau Jawa.
Menurut dia, erupsi Kubah Sangiran terjadi akibat beratnya beban gunung api 
yang menjulang di wilayah itu, yang mengakibatkan keluarnya cairan dari dalam 
perut bumi.
"Artinya, kejadian itu bisa terulang kembali jika beban di atas permukaan tanah 
di beberapa wilayah di Pulau Jawa terlalu berat, misalnya oleh kepadatan kota," 
ujarnya.
Dia mengatakan, pesatnya pembangunan tanpa diimbagi dengan kajian geologi, 
berpotensi membuat kejadian seperti lumpur Sidoarjo terulang kembali.
Kekhawatiran ini, lanjutnya, memang beralasan karena saat ini terlihat pesatnya 
pembangunan kota, dan bahkan terjadinya eksploitasi tanah secara besar-besaran 
untuk menghasilkan batu bara dan timah.
Di sisi lain, kata Asikin, kesadaran akan penghijauan lingkungan semakin 
berkurang, akibat tidak pahamnya masyarakat mengenai musibah yang mengancam.
"Kurangnya pengetahuan pemerintah dan masyarakat mengenai geologi diduga 
sebagai penyebab awal terjadinya bencana. Pemerintah memberikan izin 
eksplorasi, dan masyarakat melaksanakannya tanpa berbekal pengetahunan 
geologi," ujarnya.
Namun, kata dia, hal itu mungkin tidak menjadi masalah jika setiap lapisan 
tanah yang mengandung kekayaan alam tidak berpotensi menimbulkan bencana.
Pada kenyataannya, kekayaan bumi itu kerap berdampingan letaknya dengan potensi 
bencana, seperti kejadian lumpur Sidoarjo.
"Ini memang unik, di wilayah yang termasuk jalur gunung lumpur itu ternyata 
terkandung minyak yang cukup besar, kondisi ini mirip dengan kejadian 
pengeboran minyak di wilayah Azerbaijan dan Iran," jelasnya.
Menurut dia, pengeboran minyak di wilayah itu menghasilkan sedikitnya
1,5
juta barel per hari, namun juga menyemburkan lumpur dari perut bumi mirip 
dengan kejadian di Sidoarjo.
Pihaknya melihat, atas beberapa peristiwa alam yang terjadi, sudah selayaknya 
perhitungan geologi menjadi pertimbangan sebelum melakukan eksplorasi.
"Pada dasarnya pengebor itu tidak salah, karena wilayah itu mengandung minyak. 
Permasalahan utamanya ialah, masih rendahnya kesadaran terhadap kelestarian 
lingkungan sebagai basis pembangunan, " ujarnya.
Saat ini, kata dia, setelah terjadi bencana lumpur Sidoarjo, pengetahuan 
mengenai kegeologian menjadi penting, khususnya berkaitan dengan penemuan 
sedikitnya 20 cekungan baru di Indonesia.ant/ ya


      

Kirim email ke