Minggu lalu sebuah harian ibu kota (Bisnis Jakarta, 26 Agustus 2008) membuat 
saya termenung.
 
Dengan panjang garis pantai lebih dari dua kali keliling Bumi, Indonesia 
memiliki areal kelapa terluas di dunia, yaitu sekitar 3,9 juta hektare. 
Produksi tahunannya 3,3 juta ton setara kopra. 
 
Meskipun demikian, Indonesia bukan produsen kelapa terbesar di dunia sehingga 
Indonesia bukan pula penguasa pasar kelapa dunia. Adalah Filipina produsen 
kelapa terbesar di dunia yang menguasai 40,5 %  pangsa pasar kelapa dunia, 
sementara Indonesia hanya menguasai 19,2 %. Lalu, Indonesia baru mampu 
menghasilkan 22 jenis produk turunan kelapa, sementarta Filipina sudah mampu 
menghasilkan 100 jenis produk turunan kelapa.
 
Dengan garis pantai terpanjang di dunia, lahan kelapa terluas di dunia, mengapa 
Indonesia hanya mampu memasok tak sampai seperlima konsumsi dunia, sementara 
Filipina yang garis pantai dan lahannya lebih pendek dan lebih sempit, mampu 
mengungguli Indonesia ? Jelas produktivitas kelapa kita rendah, tak sampai 1 
ton per hektare per tahun. Apa penyebabnya ? Banyak kebun kelapa yang 
pohon-pohonnya telah tua dan sakit, tetapi tak diremajakan atau dirawat. Nah, 
terlena lagi lalu kita terkesiap saat sebuah negara kecil mengungguli kita. 
Sudah terlambat jelas, tetapi kalau tetap tak peduli ya sungguh keterlaluan. 
 
Indonesia punya 18.110 pulau (data 2003, sebelumnya 17.508, sebelumnya lagi 
13.667 pulau); Filipina punya 7107 pulau. Semakin banyak pulaunya tentu semakin 
panjang garis pantainya. Karena kelapa banyak tumbuh di pantai-pantai pulau 
tropis, maka semakin banyak pulaunya semakin banyak pohon kelapanya. Sayang, 
Indonesia kalah oleh Filipina soal produktivitas kelapa.
 
Padahal kelapa dalam kehidupan orang Indonesia punya akar yang sangat panjang 
dalam sejarah. Bahkan sesungguhnya Merah Putih kita diturunkan dari tradisi 
sejarah purba nenek moyang Indonesia yang gemar menyantap kelapa dan gula 
merah. Sang Saka Merah Putih adalah Gula Merah dan Kelapa Putih. Misalnya, pada 
zaman Kerajaan Mataram, warna merah putih dikenal sebagai Gula Kelapa 
(Gula=merah, Kelapa=putih). Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai pusaka 
dalam Keraton Surakarta, yaitu bendera Kyai Ageng Tarub, putra Raden Wijaya, 
yang dasarnya berwarna putih dengan tulisan Arab Jawa dan atasnya bergaris 
merah. Dalam babad tanah Jawa yang bernama Babad Mentawis disebutkan bahwa 
ketika Sultan Ageng berperang melawan negri Pati. Tentaranya bernaung di bawah 
bendera Merah Putih “Gula Kelapa”. Sultan Ageng memerintah tahun 1613-1645.
 
Bacalah buku Mohammad Yamin (1958 : 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih), di 
dalamnya kita akan tahu betapa kelapa telah mengurat dan mengakar di kehidupan 
orang Indonesia sejak masa purba.
 
Ismail Marzuki, mungkin akan menangis melihat kenayataan bahwa Indonesia bukan 
pulau kelapa yang jaya (lagi). Sang komponis besar kita itu menganggit  sebuah 
lagu yang selalu dinyanyikan sampai sekarang – tetapi tinggal kenangan. Inilah 
sebuah tragis Rayuan Pulau Kelapa.
 
 
”Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
yang kupuja sepanjang masa
 
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala
 
Melambai-lambai
Nyiur di pantai
Berbisik-bisik
Raja Kelana
 
Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah airku, Indonesia”
 
Kelapa, Cocos nucifera, Linn memang belum diketahui asal-muasalnya; tetapi nama 
Cocos berasal dari bahasa Arab :  “gauzoz Indi”, artinya “biji dari Indonesia”. 
Sejak dulu kala Indonesia adalah Pulau Kelapa. Mari kita jayakan lagi !
 
 
Salam,
awang


      

Kirim email ke