Orang Bogor seperti saya (he2..) mungkin boleh ikut berbangga sebab kelapa 
sawit tertua di Asia Tenggara adanya di Kebun Raya Bogor. Oleh benih dari Bogor 
lah sebagian besar perkebunan sawit di Sumatra dan Malaysia berasal. Kebun Raya 
Bogor memang tempat plasma nuftah yang baik yang membuat Indonesia pernah 
mendunia, entah itu kina atau kelapa sawit.
 
Dulu Indonesia sampai menjelang pendudukan Jepang merupakan pemasok utama 
kebutuhan minyak sawit dunia. Bagaimana tidak, kelapa sawit sudah ditanam di 
Deli sejak 1870-an, hampir 50 tahun lebih awal daripada Malaysia mulai menanam 
sawit. Karena gaya Jepang saat menjajah merusak apa pun (baik manusia apalagi 
sumberdaya), maka sehabis Jepang hengkang, pasokan minyak sawit kita turun 
sampai tinggal 1/5-nya. Akibat politik bumi hangus Jepang ini maka Indonesia 
kehilangan posisinya sebagai pemasok minyak sawit dunia, posisi itu diambil 
Malaysia yang benih perkebunan sawitnya didatangkan dari Deli dan Rantau 
Panjang. 
 
Adalah usaha Pemerintah OrBa yang membuat Indonesia kembali menjadi penting 
sebagai pemasok  minyak sawit dunia, tetapi sekarang Indonesia mesti bersaing 
berat dengan Malaysia. Dan Malaysia pun dengan mudah akan mempertahankan 
posisinya sebagai pemasok no. 1 dunia, antara lain dengan cara seperti yang Bu 
Nuning sebutkan, yaitu memiliki kebun-kebun sawit di Indonesia, tidak lagi di 
Sumatera, bahkan sampai ke Papua (selatan Papua), dan CPO (crude palm oil - 
bahan dasar minyak sawit) banyak dijual pengusaha2 kita ke Malaysia daripada 
dijadikan minyak sawit di Indonesia. Maka, minyak sawit di pasar2 
Indonesia langka, padahal kebunnya ada di Indonesia : tragis (!).
 
Kita tahu sebenarnya bagaimana agar Indonesia berdaulat lagi sebagai pemasok 
utama minyak sawit dunia karena sederhana saja. Bukan kepintaran yang 
dibutuhkan, modal finansial juga bukan; hanya dibutuhkan mental dan solidaritas 
nasional - baik sebagai pengusaha maupun pejabat pemerintah, juga masyarakat; 
itu justru kerap alpa dari kebanyakan kita...
 
salam,
awang

--- On Tue, 9/2/08, Nugrahani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Nugrahani <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [eksplorasi_BPMIGAS] RE: [Forum-HAGI] OOT : Tragis Rayuan Pulau Kelapa
To: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "Eksplorasi BPMIGAS" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, September 2, 2008, 8:54 AM








Terima kasih ya…. Awang atas kiriman tulisannya.  
Aku pernah dengar kabar dan baca di koran bahwa lahan2 sawit (penghasil kopra) 
di Sumatera dan Kalimantan “dikuasai” oleh orang2 kaya dari Malaysia dan 
Singapur (aku enggak punya angka2nya sih, berapa hektar yang dikuasai oleh 
mereka dan berapa produksinya) dan ada salah satu perusahaan migas dari 
Malaysia yang akan membuka lahan sekian ribu hektar untuk kelapa sawit di Pulau 
Papua. 
Meski gak punya angkanya, aku pernah baca bahwa Malaysia adalah penghasil kopra 
utama di dunia, padahal lahan kelapa sawitnya kan jauuhhhhh lebih sedikit 
dibandingkan lahan sawit di negara kita.  Indonesia punya lahan kelapa sawit 
yang luas tapi kenapa produksinya enggak sebanding (dengan luas areanya ?).
Berbeda dengan migas, yang enggak bisa kita hasilkan berulang kali, kelapa 
sawit kan mestinya sebanding antara luas area dan produksinya,  apalagi bila 
dilakukan intensifikasi, dll. 
Harga minyak goreng di dalam negeri cukup mahal dan beberapa waktu yang lalu 
mengalami kelangkaan di pasar.  Katanya para produsen minyak (goreng) itu 
enggak punya kewajiban DMO  - seperti di perusahaan minyak satunya lagi – 
karena lebih menguntungkan bila diekspor (CPO-nya) ??
 
Salam,
Nuning
 
 

From: forum-bounces@ hagi.or.id [mailto:forum- [EMAIL PROTECTED] or.id] On 
Behalf Of Awang Satyana
Sent: 01 September 2008 22:39
To: Geo Unpad
Cc: Eksplorasi BPMIGAS; IAGI; Forum HAGI
Subject: [Forum-HAGI] OOT : Tragis Rayuan Pulau Kelapa
 




Minggu lalu sebuah harian ibu kota (Bisnis Jakarta, 26 Agustus 2008) membuat 
saya termenung.
 
Dengan panjang garis pantai lebih dari dua kali keliling Bumi, Indonesia 
memiliki areal kelapa terluas di dunia, yaitu sekitar 3,9 juta hektare. 
Produksi tahunannya 3,3 juta ton setara kopra. 
 
Meskipun demikian, Indonesia bukan produsen kelapa terbesar di dunia sehingga 
Indonesia bukan pula penguasa pasar kelapa dunia. Adalah Filipina produsen 
kelapa terbesar di dunia yang menguasai 40,5 %  pangsa pasar kelapa dunia, 
sementara Indonesia hanya menguasai 19,2 %. Lalu, Indonesia baru mampu 
menghasilkan 22 jenis produk turunan kelapa, sementarta Filipina sudah mampu 
menghasilkan 100 jenis produk turunan kelapa.
 
Dengan garis pantai terpanjang di dunia, lahan kelapa terluas di dunia, mengapa 
Indonesia hanya mampu memasok tak sampai seperlima konsumsi dunia, sementara 
Filipina yang garis pantai dan lahannya lebih pendek dan lebih sempit, mampu 
mengungguli Indonesia ? Jelas produktivitas kelapa kita rendah, tak sampai 1 
ton per hektare per tahun. Apa penyebabnya ? Banyak kebun kelapa yang 
pohon-pohonnya telah tua dan sakit, tetapi tak diremajakan atau dirawat. Nah, 
terlena lagi lalu kita terkesiap saat sebuah negara kecil mengungguli kita. 
Sudah terlambat jelas, tetapi kalau tetap tak peduli ya sungguh keterlaluan. 
 
Indonesia punya 18.110 pulau (data 2003, sebelumnya 17.508, sebelumnya lagi 
13.667 pulau); Filipina punya 7107 pulau. Semakin banyak pulaunya tentu semakin 
panjang garis pantainya. Karena kelapa banyak tumbuh di pantai-pantai pulau 
tropis, maka semakin banyak pulaunya semakin banyak pohon kelapanya. Sayang, 
Indonesia kalah oleh Filipina soal produktivitas kelapa.
 
Padahal kelapa dalam kehidupan orang Indonesia punya akar yang sangat panjang 
dalam sejarah. Bahkan sesungguhnya Merah Putih kita diturunkan dari tradisi 
sejarah purba nenek moyang Indonesia yang gemar menyantap kelapa dan gula 
merah. Sang Saka Merah Putih adalah Gula Merah dan Kelapa Putih. Misalnya, pada 
zaman Kerajaan Mataram, warna merah putih dikenal sebagai Gula Kelapa 
(Gula=merah, Kelapa=putih) . Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai 
pusaka dalam Keraton Surakarta, yaitu bendera Kyai Ageng Tarub, putra Raden 
Wijaya, yang dasarnya berwarna putih dengan tulisan Arab Jawa dan atasnya 
bergaris merah. Dalam babad tanah Jawa yang bernama Babad Mentawis disebutkan 
bahwa ketika Sultan Ageng berperang melawan negri Pati. Tentaranya bernaung di 
bawah bendera Merah Putih “Gula Kelapa”. Sultan Ageng memerintah tahun 
1613-1645.
 
Bacalah buku Mohammad Yamin (1958 : 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih), di 
dalamnya kita akan tahu betapa kelapa telah mengurat dan mengakar di kehidupan 
orang Indonesia sejak masa purba.
 
Ismail Marzuki, mungkin akan menangis melihat kenayataan bahwa Indonesia bukan 
pulau kelapa yang jaya (lagi). Sang komponis besar kita itu menganggit  sebuah 
lagu yang selalu dinyanyikan sampai sekarang – tetapi tinggal kenangan. Inilah 
sebuah tragis Rayuan Pulau Kelapa.
 
 
”Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
yang kupuja sepanjang masa
 
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala
 
Melambai-lambai
Nyiur di pantai
Berbisik-bisik
Raja Kelana
 
Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah airku, Indonesia”
 
Kelapa, Cocos nucifera, Linn memang belum diketahui asal-muasalnya; tetapi nama 
Cocos berasal dari bahasa Arab :  “gauzoz Indi”, artinya “biji dari Indonesia”. 
Sejak dulu kala Indonesia adalah Pulau Kelapa. Mari kita jayakan lagi !
 
 
Salam,
awang
 This email was Anti Virus checked by Administrator.http://www.bpmigas. 
com__._,_.___ 
Messages in this topic (2) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 

 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 


Visit Your Group 


Yahoo! News
Odd News
You won't believe
it, but it's true

Moderator Central
An online resource
for moderators
of Yahoo! Groups.

Yahoo! Groups
Join a program
to help you find
balance in your life.
. 
__,_._,___ 














      

Kirim email ke