> Awang 

Sangat penting temuan Anda , untuk melihat
sejarah perminyakan kita dengan lebih lengkap. 
Ada sedikit 
komentar dari saya , yaitu mengenai "kimkikaze" .
Seingat
saya , serangan kimikaze ilakukan pada saat Jepang sudah terdesak , jadi
dilakukan oleh penerbang penerbang Jepang pada era akhir PD - II .
Apakah hal itu sudah dilakukan pada awal PD - II , saya kok agak
sangsi.


Si Abah

_______________________________________________________________________________


   “Edaast Indies Episode” adalah
judul sebuah buku tulisan Johan Fabricius
> tahun 1948.
“Bumi Hanguskan Minyak !” adalah instruksi resmi Pemerintah
> Hindia Belanda dari Batavia ke seluruh lapangan minyak di Borneo,
Sumatra,
> Papua dan Jawa pada 8 Desember tahun 1941 beberapa jam
setelah pecahnya
> Perang Pasifik. Ada apa ini ?
>  
> Buku berumur hampir 60 tahun ini tidak dijual untuk umum, sehingga
mungkin
> akan sulit dicari saat ini, kecuali di Shell Belanda
barangkali. Saya
> mendapatkan buku ini dari seorang kenalan
berbangsa Belanda, sesama
> penggemar buku.
>  
>
Buku sangat menarik ini bercerita tentang bagaimana situasi saat Jepang
> akan datang ke Indonesia dan selama pendudukan Jepang di Indonesia
tahun
> 1941-1945 serta hubungannya dengan perusakan banyak
lapangan minyak,
> kilang, jalur transportasi minyak, dan
pelabuhan agar tak jatuh ke tangan
> Jepang. Perusakan dilakukan
oleh karyawan-karyawan BPM (Bataafsche
> Petroleum Maatschappij)
sendiri atas perintah Pemerintah Pusat di Batavia.
>  
>
Tentu kita bisa merasakan bagaimana sakit hatinya bila rumah yang telah
> kita bangun bertahun-tahun, belasan, bahkan puluhan tahun lalu
mesti kita
> hancurkan sendiri dalam beberapa hari saja karena mau
diduduki musuh.
> Begitulah perasaan pimpinan dan karyawan BPM
saat itu. Menemukan lapangan
> minyak, mengembangkannya, membangun
fasilitasnya, dan memproduksinya kita
> tahu butuh waktu bukan
setahun atau dua tahun, tetapi lima atau sepuluh
> tahun, bahkan
lebih.
>  
> Asap hitam minyak, kebakaran dari lapangan
minyak, jalur pipa, kilang, dan
> pelabuhan membubung di seluruh
Nusantara, dari Sumatra, Kalimantan, Jawa,
> dan Papua.
> 

> Buku ini ditulis oleh Johan Fabricius, seorang penulis untuk
BPM,
> berdasarkan laporan-laporan “perusakan
lapangan” yang ditulis pimpinan dan
> karyawan BPM. Buku
diberi kata pengantar oleh van Hasselt, direktur
> pelaksana BPM
tahun 1949. Buku diterbitkan pada Januari 1949 oleh The
> Shell
Petroleum Company Ltd., dicetak oleh Bosch & Zoon di Utrecht.
>  
> Saya tak akan menceritakan seluruh episode perusakan
lapangan dan
> fasilitas minyak di Hindia Timur ini dalam sekali
tulisan sebab akan
> terlalu panjang. Saya akan memulai dengan
mengapa perusakan terjadi dan
> perusakan paling pertama yang
terjadi : lapangan-lapangan minyak di
> Northwest Borneo : Miri
dan Seria (wilayah Brunei sekarang).
>  
> Sejak Jepang
merasa bahwa bangsanya telah terpilih untuk menguasai
> sekaligus
melindungi Asia Timur, Jepang telah melihat bahwa kekayaan alam
>
Netherlands East Indies (Indonesia sekarang) akan merupakan “hidup
dan
> matinya”, terutama lapangan-lapangan minyak di
Kalimantan, Sumatra, Papua,
> dan Jawa. Minyak baginya akan
merupakan kunci ke supremasi militer yang
> telah lama
diimpikannya. Maka, dimulailah “Kobayashi Mission” baik
dengan
> jalan damai maupun perang, untuk menguasai
lapangan-lapangan minyak itu,
> menguasainya secepat mungkin
melalui “Blietzkrieg” (perang kilat) sebelum
> ia
berperang dengan Tentara Sekutu Inggris dan Amerika Serikat.
> 

> Dari buku Ricklefs (2004 : Sejarah Indonesia Moderen) ditulis
bahwa Jepang
> sudah lama mengingini sumber-sumber alam Indonesia
berupa minyak, karet,
> bauksit, timah dan bahan-bahan strategis
lainnya. Minyak dibutuhkan untuk
> bahan bakar angkatan perang
Jepang yang bersama Jerman dan Italia
> membentuk persekutuan
sejak September 1940. Ketika Jerman di Eropa
> mengalahkan
Prancis, Belgia dan Belanda; Jepang meminta agar ia diizinkan
>
masuk ke Indonesia, sebagaimana ia juga diizinkan masuk ke IndoChina
yang
> semula di bawah kekuasaan Prancis.
>  
>
Maka, datanglah utusan-utusan Kekaisaran dan Pemerintah Jepang ke
Batavia
> menemui Gubernur Jenderal van Mook. Jepang ingin membeli
sebanyak
> 3.750.000 ton minyak, sebuah jumlah yang sangat besar
sebab melebihi 6x
> lipat kapasitas kuota penjualan total yang
bisa disediakan BPM dan NKPM
> (Nederlandsche Koloniale Petroleum
Maatschappij) yaitu 600.000 ton minyak.
> Yang segera diperlukan
Jepang adalah 1.100.000 ton minyak ringan untuk
> bahan bakar
pesawat yang hanya 1/10-nya bisa dipenuhi Pemerintah Belanda.
>
Perundingan-perundingan menemui jalan buntu dan Kobayashi kembali ke
> Jepang dengan farewell notes bahwa perundingan tak ada gunanya
sebab
> terjadi perbedaan besar antara yang diminta dan yang bisa
disediakan.
>  
> Gagal membeli minyak, Jepang meminta
lahan untuk eksplorasi dan
> eksploitasi. Sebuah nota bertanggal
29 Oktober 1940 dikirimnya ke Batavia,
> mendaftarkan area-area
mana yang diminta : 1,3 juta hektare area Kariorang
> dan Kustai
di Borneo (Jepang saat itu sudah punya konsesi di Sangkulirang
>
dekat Mangkalihat), 14 juta hektare area di pantai tenggara dan pantai
> timurlaut Papua, 850 ribu hektare di Kepulauan Aru dan sekitarnya,
350
> ribu hektar di kepulauan utara Papua, dan 165 ribu hektare
di Sulawesi
> Timur. Total luas area yang diminta Jepang ini tak
kurang dari 16 juta
> hektare atau sekitar 160.000 km2 (kalau
sekarang luas WKP dibatasi
> maksimum 5000 km2, maka total area
yang diminta Jepang sama dengan 32
> WKP). Di samping lahan-lahan
“frontier” ini, Jepang pun meminta dengan
> sangat
area-area prospek di dekat wilayah produksi saat itu, mereka
>
meminta : 7000 km2 area di sebelah tenggara Medan dan 3900 km2 area di
> seberang Tarakan.
>  
> Perundingan-perundingan
dagang selama akhir tahun 1940 sampai pertengahan
> tahun 1941
gagal, minyak tak didapat, area pun tak diperoleh. Ketika pada
>
tanggal 27 Juni 1941 delegasi dagang Jepang meninggalkan Batavia dengan
> hati panas karena gagal berunding, di Eropa Adolf Hitler telah
menginvasi
> Rusia, mengepung Rusia dari tiga jalan masuk :
Leningrad, Moscw, dan
> Sungai Volga. Setahun sebelumnya, Hitler
sebenarnya telah menjatuhkan
> Belanda dan Belgia. Jepang yang
menjadi sekutu Jerman merasa mendapat
> angin untuk segera
membalas Belanda di Indonesia. Jepang seperti
> mendapatkan
momennya untuk segera menguasai Asia Timur.
>  
>
Pemerintah Belanda di Indonesia merasakan ketegangan itu pada paruh
kedua
> tahun 1941, tentara-tentara ditempatkan di area-area
minyak sebab mereka
> terancam oleh Jepang yang ingin menguasai
kekayaan alam Indonesia. Pagi
> hari 8 Desember 1941, Pearl
Harbour, pangkalan tentara sekutu Amerika
>
Serikat-Inggris-Australia di Samudra Pasifik dibom angkatan udara
Jepang.
> Pukul 7 pagi, Gubernur Jenderal mengumumkan melalui
radio di seluruh
> Hindia Belanda bahwa Jepang akan segera
menaklukkan Asia Timur dan Asia
> Tenggara. Hindia Belanda akan
berperang melawan Kekaisaran Jepang.
> Genderang perang ditabuh
!
>  
> Ketika perundingan dagang Belanda-Jepang berjalan
panas dan alot di
> Batavia, hawa panas dan kondisi terancam telah
ditularkan ke Northwest
> Borneo. Sarawak Oilfields Ltd. (S.O.L.)
di Sarawak, perumahan di Miri,
> pengilangan minyak di Lutong, dan
lapangan-lapangan minyak kepunyaan
> British Malayan Petroleum
Company Ltd. di Brunei berada di garis depan
> serangan. Satuan
garnisun tentara Belanda dan Inggris di sini hanya
> sedikit untuk
melindungi minyak. Karyawan2 perminyakan harus segera
> merusakkan
semua aset perminyakan sebelum Jepang datang dan menguasainya.
> 

> Apa yang harus dilakukan ? Pembumihangusan Kilang Lutong dan
pembakaran
> sumur-sumur minyak di lapangan-lapangan Miri dan
Seria. Menjelang pukul 10
> pagi pada 8 Desember 1941 setelah
Jepang membom Pearl Harbour, manajer
> Lappangan Seria di Kuala
Belait menerima instruksi melalui telepon dari
> Batavia agar
segera menjalankan tindakan darurat berupa penghancuran semua
>
aset perminyakan seperti telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya.
>  
> Setengah jam kemudian, ”pasukan penghancur”
(demolition squad) pun telah
> siap menjalankan aksinya yang telah
direncanakan dan dilatih
> berbulan-bulan menyusul ketegangan
Belanda-Jepang.  Semua bahan bakar di
> Kuala Belait dihabiskan
ditumpahkan ke tanah berpasir. Tangki-tangki
> penampungan minyak
dan oli dibuka dan dialirkan ke tempat-tempat yang
> mudah
terbakar. Kilang minyak Lutong dibakar !
>  
> Sumur-sumur
produksi di Lapangan Seria disumbat dengan cara memompakan
> semen
ke dasar dan puncak casing. Menjelang tengah hari, semua bahan
>
peledak yang telah siap di kepala-kepala sumur diledakkan dan semua
tubing
> heads sumur2 itu meledak. Sementara itu semua instalasi
kompresor dan
> pompa telah dirusakkan juga.
>  
>
Hari besoknya, sebanyak 20 steam boilers dan feed-pumps di Lapangan
Seria
> dihancurkan. Tangki-tangki penimbun minyak dikucurkan dan
dibakar.
> Pipa-pipa dipotong dengan api oxy-acetylene yang
berdaya besar.
>  
> Selama dua hari 48 jam semua
fasilitas pun rusak parah : kilang, jalur
> pipa, sumur-sumur
minyak. Hanya dalam dua hari semua fasilitas yang
> dibangun
bertahun-tahun itu, belum termasuk usaha eksplorasi menemukan
>
lapangan-lapangan minyak di Seria dan Miri terhapus oleh asap hitam.
> Mereka membangun, mereka pula yang menghancurkannya – suatu
hal yang
> tragis. Apa yang berdiri di atas tanah atau di dalam
tanah sebisa mungkin
> dihancurkan, kecuali pompa-pompa air agar
dapat dimanfaatkan penduduk
> setempat.
>  
> Hari
ketiga setelah Pearl Harbour dibom Jepang, terjadilah evakuasi
>
besar-besaran orang Eropa karyawan perminyakan beserta keluarganya dari
> Miri. Mereka digaji dulu sampai sebulan ke depan. Sebelum
meninggalkan
> Miri, mereka sempat membinasakan semua
laporan-laporan eksplorasi dan
> produksi yang tersisa
–punahlah sudah pekerjaan-pekerjaan geologi
>
bertahun-tahun. Dengan tiga kapal mereka meninggalkan NW Borneo, kapal
> bernama Lipis, Maimuna, dan Chinhai. Tujuan ketiga kapal adalah
Kuching
> kemudian Singapura.
>  
> Tepat seperti
dipikirkan, skuadron udara Jepang terbang di atas Miri dan
>
Lutong dan menemukan bahwa lapangan minyak dan kilang ini telah
>
dibumihanguskan. Maka, serentak mereka mengejar pelaku pembumihangusan
> itu.
>  
> Setelah kapal-kapal itu berlayar sejauh
90 mil, mulailah bom-bom angkatan
> udara Jepang yang terkenal
kejam dan berani mati itu (kamikaze) menjatuhi
> ketiga kapal yang
sedang lari terbirit-birit meninggalkan amukan Jepang.
> Perang di
atas laut pun terjadi antara angkatan laut Inggris dari mana
>
kapal berasal melawan kamikaze Jepang. Tentu saja banyak yang gugur,
> terutama karyawan perminyakan S.O.L. Saat mereka berhasil merapat
ke
> Kuching, sebagian karyawan lari ke dalam hutan dan tak pernah
kembali.
> Begitulah, cerita berakhir di sini, tak terbayangkan
tentu apa yang telah
> terjadi ini. Itu baru sebuah permulaan
episode kengerian. Kengerian
> kemudian segera menjalar ke
Sumatra, Papua, dan Jawa. Seperi di Miri dan
> Lutong,
karyawan-karyawan BPM di sini membakar dan merusak aset-aset
>
minyaknya sendiri, yang jauh dari laut bersembunyi ke dalam hutan,
sampai
> menyeberang Barisan.
>  
> Kita tahu,
tanggal 1 Maret 1942 Jepang mendarat di Jawa, dan tanggal 8
>
Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah dan mulailah pendudukan
> Jepang di Indonesia. Angkatan Perang Jepang di darat, laut, dan
udara
> menyerang tak tertahankan, merajalela di seluruh Asia
Timur dan bagian
> barat Pasifik.
>  
> Kalau saja
Indonesia tidak punya minyak, Indonesia tidak akan berada dalam
>
incaran mata asing siapa pun. Kekayaan minyak Indonesia adalah magnet
yang
> sangat kuat, itu hidup dan matinya Jepang, begitu diakui
Misi Kobayashi.
>  
> Menurut sebuah catatan, saat Jepang
datang, jumlah karyawan BPM tercatat
> 1506 orang staf Belanda.
Dari jumlah ini 317 tewas saat melakukan evakuasi
> dari serbuan
Jepang atau saat mereka ditawan di interniran (semacam kamp
>
konsentrasi), jumlah ini masih ditambah oleh korban tewas sebanyak 40
> orang anggota keluarga mereka.
>  
> “It was
the realisation of the outrage to the bounty of Nature; sorrow
>
that in Borneo, Sumatra, New Guinea, and Java, the earth with its
flowing
> riches should be torn and rent and destroyed in an
ideological struggle
> between peoples.”  (Fabricius,
1949).
>  
> Semoga sejarah kelam ini tidak terulang
lagi.
>  
> salam,
> awang
> 
>

> 


-- 
_______________________________________________
Nganyerikeun hate
batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada
ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.

Kirim email ke