Hampir dua tahun yang lalu (November, 2006) saya mengulas sebuah teori tentang 
kepunahan massal pada ujung Permian (251 Ma) – periode kepunahan massal 
terbesar dalam sejarah Bumi (lihat LAMPIRAN di bawah). Teori yang saya sebut 
sebagai “impact from the Deep” itu dikemukakan oleh Peter Ward, di dalam 
Scientific American edisi Oktober 2006.
 
Bulan ini, di dalam “GSA Today” (newsletter yang diterbitkan The Geological 
Society of America), vol.18, no. 9 (September 2008), dimuat sebuah artikel yang 
mendukung teori impact from the Deep. Artikel ini berjudul, “Understanding 
mechanisms for the end-Permian mass extinction and the protracted Early 
Triassic aftermath and recovery”, ditulis oleh Bottjer dkk dari beberapa 
perguruan tinggi di California.
 
Artikel ini mengemukakan bukti-bukti paleontologi tentang kepunahan massal pada 
zaman Permian memasuki Triassic. Kepunahan yang terjadi terutama atas fauna 
marin ini terdokumentasi dalam fossil content, sedimentology, dan 
chemostratigraphy (kondisi kimiawi lapisan-lapisan stratigrafi yang berasal 
dari ciri kimiawi lautan pada zaman lapisan dibentuk).
 
Studi dilakukan khusus pada kelompok fosil brachiopods, benthic molluscs, dan 
bryozoans. Fosil-fosil ini dapat merekam kondisi lingkungan dan ekologi pada 
saat mereka hidup dan sensitif pada periode ujung Paleozoic dan awal Mesozoic 
tersebut. Dari studi tersebut disimpulkan bahwa stressful ocean conditions 
adalah mekanisme penyebab kepunahan Permian. Saat itu telah terjadi peningkatan 
H2S (kondisi euxinia), peningkatan konsentrasi CO2, dan penurunan konsentrasi 
O2 (anoxia). Menurut studi ini, kondisi stressful ocean ini berlangsung dari 
Late Permian sampai early Triassic.
 
Environmental stress selama Late Permian mungkin telah dimulai sejak akhir 
Middle Permian. Saat itu terjadi kondisi anoxic di lautdalam yang berasosiasi 
engan Pemian-Triassic superanoxia event. Lautdalam bahkan kaya H2S (euxinic) di 
beberapa cekungan. Data sedimentologi dan geokimia endapan2 Late Permian 
menunjukkan kondisi euxinia dan kaya CO2 sampai Early Triassic. Kondisi stress 
di lautdalam ini telah bergerak ke tempat dangkal dan inilah yang menyebabkan 
end-Permian mass extinction yang menyebabkan 80 % spesies marin punah dan 63 % 
terrestrial families hilang. Kondisi ini diperparah dengan bertambahnya 
konsentrasi CO2 di atmosfer akibat massive Siberian Trap volcanism (pernah saya 
ulas juga) yang telah menyebabkan kondisi hypercapnia dan/atau pengasaman 
lautan dan krisis biokalsifikasi.
 
Pada periode (Permian-Triassic boundary)ini secara paleontologi dibuktikan oleh 
shift dalam global taxonomic richness dari rhynchonelliform brachiopods ke 
diverse molluscs. Perubahan ekologi akibat stress lingkungan ini telah 
mengurangi dengan drastis dominasi brakiopoda dan briozoa berganti dengan 
moluska. Jadi, kondisi anoxia dan euxinic lautdalam telah mempengaruhi 
brakiopoda dan briozoa, tetapi tak berpengaruh terhadap benthic molluscs.
 
Data kuantitatif fossil marine assemblages menunjukkan bahwa rhynchonelliform 
brachiopods menurun terus jumlahnya sepanjang Late Permian dan Early Triassic, 
terbalik dengan benthic molluscs (bivalves dan gastropods), tetapi kembali 
berlimpah ke tingkat semula pada Late Permian tercapai pada Middle dan Late 
Triassic. Pada Late-Permian – Early Triassic itu, bivalves mendominasi 70 % 
marine fauna, sementara brachiopods sedikit saja.
 
Berlimpahnya CO2 di atmosfer dan air laut serta pengasaman air laut yang 
diakibatkan olehnya juga menjadi penyebab mengapa pada end Permian itu 
Paleozoic tabulate and rugose corals dan coral reefs hilang. Kasus ini bisa 
terulang pada zaman kita sekarang, banyak terumbu karang yang rusak akibat CO2 
meningkat di atmosfer dan lautan (coral bleaching). Terumbu tak punya lagi 
struktur karangnya karena berubah menjadi bentuk lunak seperti anemon, bila 
kondisi asam air laut berkurang, ia akan mampu lagi membangun rangka 
mineralisasinya (karang).
 
Salam,
awang
 
LAMPIRAN
 
From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, November 17, 2006 9:06:03 AM
Subject: [iagi-net-l] "Impact from the Deep" : Pandangan Baru Kepunahan Massal 
dalam Sejarah Bumi
 
 
“Deep Impact” kita tahu adalah judul sebuah film terkenal yang menceritakan 
bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memunahkan kehidupan di Bumi. Tetapi, 
“Impact from the Deep” adalah judul sebuah teori baru yang pada intinya 
menyatakan bahwa kepunahan masal justru datang dari Bumi sendiri. 
   
  Kepunahan massal (mass extinction) selalu menarik untuk dikaji. Telah cukup 
banyak buku dan artikel ilmiah ditulis untuk menampung argumen-argumen yang 
ada. Simposium khusus pun telah beberapa kali diadakan, terutama setelah teori 
Alvarez dikemukakan pada tahun 1980. Walter dan Luis Alvarez, pasangan 
anak-bapak (anaknya ahli geologi, bapaknya ahli fisika) mengemukakan teori 
bahwa dinosaurus punah pada Kapur Akhir 65 Ma (million years ago) akibat Bumi 
dihantam sebuah komet (deep impact). Teori ini kemudian terbukti benar karena 
banyak bukti fisik di lapangan ditemukan akibat benturan itu : a.l. (1) lapisan 
iridium ditemukan di mana-mana di seluruh dunia pada lapisan berumur 65 Ma (di 
Indonesia belum ada yang menelitinya), (2) impact debris, termasuk semua batuan 
dengan ciri petrografi pressure-shocked tersebar di seputar globe (3) kawah 
benturan (impact crater) berumur 65 Ma ditemukan terkubur di Semenanjung 
Yucatan Mexico yang disebut Kawah Chicxulub.
 Unsur Iridium langka ditemukan di Bumi, tetapi berlimpah di extra-terrestrial 
bodies seperti meteor, komet, dan asteroid. Berdasarkan lebar kawah Chicxulub, 
ditaksir komet/asteroid pemusnah kaum dinosaurus itu berdiameter 10 km.
   
  Karena kepunahan di K-T (Kapur-Tersier) boundary itu terbukti benar oleh 
extra-terrestrial impact, maka setiap periode kepunahan di Bumi selalu 
dihubungkan dengan hantaman komet/asteroid. David Raup, paleontologist penulis 
buku “Extinctions : Bad Genes or Bad Luck ? “ (terbit awal 1990an) menyatakan 
begitu, memang impacts selalu disalahkan sebagai penyebab major extinctions, 
penyebab lain mungkin ada, tetapi tak dominant. Apakah benar begitu ? 
   
  Paling tidak, di dalam 500 juta tahun terakhir ini bisa kita catat telah 
terjadi lima kali kepunahan massal yang besar : (1) pada 443 Ma (ujung 
Ordovisium), (2) pada 374 Ma (ujung Devon), (3) pada 251 Ma (ujung Perem), (4) 
pada 201 Ma (ujung Trias),dan (5) pada 65 Ma (ujung Kapur).  Kepunahan pada 251 
Ma (ujung Perem atau ujung Paleozoikum) adalah kepunahan terbesar yang 
menghapus 90 % penghuni lautan dan 70 % penghuni daratan bahkan sampai sekecil 
serangga pun. Kepunahan ujung Perem adalah “great dying” atau “the mother of 
mass extinctions” tulis Douglas Erwin di majalah Scientific American edisi Juli 
1996. Apakah kepunahan Permian ini juga akibat asteroid impact ? Peter Ward, 
profesor biology-earth and space sciences dari University of Washington 
melaporkan penemuan baru tentang kepunahan masal terbesar di ujung Permian ini 
(Scientific American, Oktober 2006, p. 42-49).
   
  Lima tahun lalu, sekelompok ahli geologi dan ahli kimia organik mulai 
mempelajari kondisi-kondisi lingkungan pada masa-masa kritis dalam sejarah 
Bumi. Pekerjaan mereka meliputi mengekstraksi residu zat kimia dari 
lapisan-lapisan berumur tertentu berusaha mencari fosil molekuler kimiawi yang 
dikenal sebagai biomarker yang ditinggalkan organisme yang telah punah. Karena 
kuatnya, suatu biomarker masih terawetkan di sedimen2 meskipun jazad 
organismenya telah lenyap meluruh. Analisis biomarker telah biasa dilakukan di 
petroleum geochemistry. 
   
  Biomarker ini merupakan  kunci ke pengetahuan kondisi seperti apa yang 
terjadi di Bumi pada saat kehidupan suatu organisme  berlangsung. Sampling dan 
penelitian telah dilakukan pada periode-periode kepunahan masal. Dan para 
ilmuwan tersebut mendapatkan kejutan bahwa data dari periode2 mass extinction 
selain pada periode K-T boundary, selalu menunjukkan kondisi lingkungan yang 
menunjukkan bahwa lautan2 purba telah beberapa kali berada pada kondisi 
kandungan oksigen yang sangat rendah (anoxia). Bersamaan dengan kondisi ini 
ditemukan biomarker dalam jumlah besar berupa green sulfur bacteria yang bisa 
melakukan fotosintesis. Pada zaman sekarang, bakteri sejenis itu ditemukan 
berupa green-purple sulfur bacteria di tempat2 dalam laut stagnant seperti Laut 
Hitam yang mengoksidasi H2S sebagai sumber energinya dan mengubahnya menjadi 
belerang. Gas H2S adalah gas beracun bagi banyak makhluk hidup. Kelimpahan 
bakteri ini pada periode2 kepunahan massal yang
 seperiode dengan turunnya kandungan oksigen secara ekstrim telah membuka 
wawasan baru tentang penyebab kepunahan masal.
   
  Para ilmuwan telah tahu bahwa pada setiap periode kepunahan masal level 
oksigen selalu lebih rendah daripada biasanya. Juga, mereka tahu bahwa banyak 
volkanisme terjadi pada setiap periode kepunahan masal – volkanisme adalah 
teori tandingan asteroid impact bagi kepunahan masal. Volkanisme bisa 
meningkatkan CO2 di atmosfer, mengurangi kadar oksigen, dan menyebabkan global 
warming.  Tetapi, volkanisme dan berlimpahnya CO2 di atmosfer tak langsung 
menjelaskan punahnya banyak hewan laut pada ujung Permian juga punahnya tanaman 
darat, justru tanaman darat akan berlimpah dengan banyaknya CO2. Lalu, apa 
hubungan antara kelimpahan sulfur bacteria, depleted oxygen, volkanisme yang 
meningkat, global warming dan kepunahan masal ? Adakah kaitan satu dengan yang 
lainnya, bagaimana ?
   
  Kuncinya ternyata ada di biomarker. Biomarker dari oceanic sediments berumur 
ujung Permian dan juga dari batuan Trias akhir menghasilkan bukti kimia tentang 
adanya suatu kelimpahan yang luar biasa bakteri pengkonsumsi H2S di 
lautan-lautan Permian dan ujung Trias. Karena mikroba ini hanya dapat hidup di 
lingkungan yang bebas oksigen (an-aerob) tetapi tetap membutuhkan cahaya 
Matahari untuk melakukan fotosintesis, keberadaan bakteri ini di suatu lapisan 
batuan Permian mengindikasikan bahwa lingkungan laut pada saat itu adalah juga 
suatu marker yang menunjukkan laut tanpa oksigen tetapi kaya H2S.
   
  Di lautan-lautan sekarang, keterdapatan oksigen dan H2S terjadi dalam keadaan 
setimbang. H2S terdapat di tempat2 dalam di wilayah yang stagnan. Di kawasan 
H2S yang beracun ini hidup organisme pencinta H2S tetapi pembenci oksigen. Hal 
yang unik, karena sirkulasi air, oksigen berdifusi ke bawah, sedangkan H2S 
berdifusi ke atas, akhirnya lapisan oksigen dan lapisan H2S bertemu di tengah 
di suatu level yang disebut “chemocline” yang bisa setimbang, tetapi bisa juga 
terganggu.Gangguan atas batas chemocline ini bisa berakibat dahsyat dan inilah 
yang terjadi di ujung Permian yang menyebabkan kepunahan masal yang paling 
besar dalam episode sejarah Bumi.
   
  Perhitungan oleh dua ahli geologi dari Pennsylvania State University : Lee 
Kump dan Mike Arthur menunjukkan apabila level oksigen drop di lautan, 
kondisinya akan sangat menguntungkan bakteri an-aerob dari tempat dalam, yang 
akan menghasilkan sejumlah besar gas H2S. Dalam perhitungannya, bila 
konsentrasi H2S lautdalam ini melampaui batas kritis selama periode oceanic 
anoxia (laut miskin oksigen), maka lapisan chemocline akan mengerucut ke atas 
(seperti gejala water coning) dan akhirnya semburan gas H2S beracun dari tempat 
dalam akan masuk ke atmosfer.
   
  Studi Kump dan Arthur menujukkan bahwa pada penghujung Permian telah terjadi 
toxic H2S gas upwelling yang telah menyebabkan kepunahan di daratan dan lautan. 
Kemudian, model yang dibangun oleh Pavlov dari University of Arizona 
menunjukkan bahwa semburan H2S Permian ini telah merobek lapisan ozon Bumi pada 
Permian sehingga radiasi ultraviolet (UV) yang mematikan menerobos masuk 
membunuh setiap makhluk hidup di daratan dan lautan. Bukti terhadap model ini 
datang dari fosil spora berumur ujung Permian di Greenland, yang menunjukkan 
deformitas (perubahan bentuk) akibat exposure terhadap high level of UV.
   
  Kump dan Arthur menghitung bahwa jumlah gas H2S yang memasuki atmosfer di 
ujung Permian itu 2000 kali lebih banyak daripada yang dierupsikan oleh semua 
gunungapi2 sekarang. Efek mematikan H2S meningkat seiring naiknya temperatur, 
bila pada saat yang sama terjadi greenhouse effect dan global warming, maka 
permusnahan akan semakin efektif ! Urutan model pemusnahan dengan cara ini 
adalah sebagai berikut : (1) kegiatan volkanik yang meningkat melepaskan CO2 
dan metan ke atmosfer, (2) rapid global warming, (3) laut yang menghangat akan 
mengurangi daya serap oksigen dari atmosfer ke laut, (4) terjadi kekurangan 
oksigen – anoxia di lautan, (5) keadaan anoxia akan mengganggu kesetimbangan 
chemocline – chemocline yang semula datar menjadi mengerucut dengan kolom 
dissolved oxygen berkurang sedangkan dissolved H2S meningkat, terjadi H2S 
upwellling, (6) green & purple sulfur bacteria berlimpah sementara mahkluk 
lautan yang bernafas dengan oksigen musnah
 akibat hilangnya oksigen dan naiknya gas H2S yang beracun, (7) gas H2S yang 
menyembur membunuh makhluk daratan, (8) gas H2S naik terus ke atmosfer dan 
akhirnya merobek perisai ozon, (9) radiasi UV menerobos via celah di perisai 
ozon membunuh kehidupan di Bumi yang masih tersisa, (10) kepunahan masal.
   
  Mekanisme pemusnahan kehidupan seperti di Permian dan Triassic telah terjadi, 
apakah kelak bisa terjadi lagi ? Kepunahan hebat pada ujung Permian terjadi 
pada saat kadar CO2 di atmosfer telah mencapai sekitar 3000 ppm, kadar CO2 di 
atmosfer kita sekarang berada pada 385 ppm. Apakah kita tidak perlu takut ? 
Tunggu dulu, kepunahan pada ujung Triassic terjadi pada saat CO2 di level 1000 
ppm, dan CO2 kita sekarang meningkat 2-3 ppm setiap tahun. Bila dihitung secara 
linier peningkatan itu akan kita temukan bahwa pada tahun 2200 nanti kadar CO2 
di atmosfer kita bisa mendekati 900 ppm –suatu kondisi yang sangat bisa 
mendorong keadaan stress anoxia di lautan dan rentetan efek2 mematikan 
berikutnya seperti ditulis di atas. 
   
  The past is the key to the future. Bumi menyediakan catatan hariannya, semoga 
kita bisa arif membacanya buat kepentingan kehidupan masa mendatang.
   
  Salam,
  awang


      

Kirim email ke