Kepulauan Jepang dari selatan ke utara, yang meliputi pulau-pulau besar : Kyushu, Shikoku, Honshu, dan Hokkaido adalah sistem busur kepulauan yang ideal, yang punya polaritas busur yang normal, yaitu yang membusur mencembung ke arah samudra. Sekalipun ia bukan busur kepulauan sesungguhnya, yaitu suatu busur kepulauan yang harus dibentuk oleh sistem subduksi kerak samudra lawan kerak samudra, Jepang bukan busur kepulauan dengan polaritas terbalik seperti halnya Sulawesi dan Halmahera yang terbalik dan unik. Laut Jepang, laut tepian di belakang Kepulauan Jepang, adalah laut yang mengembang dalam proses pemekaran belakang busur. Laut ini pun, dalam konsep escape tectonics, berhubungan dengan proses ekstruksi pascabenturan India terhadap tepi selatan Eurasia di wilayah Plato Tibet. Pembentukan Laut Jepang melalui escape tectonics terjadi pada Zaman Paleogen (perhatikan bahwa “Paleogen” berhak mendapatkan sebutan “zaman”), sedangkan pemekaran selanjutnya terjadi pada Zaman Neogen melalui mekanisme pemekaran belakang busur setelah kerak samudra Pasisik menunjam di bawah busur kepulauan Jepang. Menarik untuk diperhatikan, bahwa titik singgung busur atau titik maksimum cembung busur kepulauan Jepang terjadi di tengah-tengah busur, tepat di lokasi Tokyo, Yokohama, dan Gunung Fuji berada. Lebih menarik lagi, secara tektonik wilayah titik singgung ini bertepatan dengan wilayah pertemuan tiga lempeng besar kecil (saya sebut "persendian tiga lempeng" – tripple junction) di sekitar Jepang, yaitu : Lempeng Eurasia, Lempeng Filipina, dan Lempeng Pasifik. Kita tahu Tokyo dan Yokohama pernah dilanda bencana gempa yang hebat, juga kita tahu bahwa Gunung Fuji terus-menerus dipantau aktivitasnya. Apakah susunan tektonik berupa persendian tiga lempeng dan titik maksimum cembung di bawah Tokyo dan Yokohama serta Gunung Fuji telah dan akan selalu mempengaruhi aktivitas kegempaan dan volkanisme di wilayah ini ? Jawabannya : Ya. Sekitar 100 km ke sebelah baratlaut Tokyo, di wilayah dataran bernama Dataran Kanto, geologinya sangat rumit. Di bawah Dataran Kanto ini bertemulah tiga lempeng membentuk sistem sendi tiga arah. Dan, persendian inilah sumber utama gempa di bagian tengah busur Jepang. Salah satu atau dua dari lempeng ini saling terkunci atau terjepit oleh yang lain yang menyebabkan gerak konvergensinya tak mulus. Sebagai akibatnya gaya kompresi terbangun terus di sistem persendian tiga lempeng ini dan sekali-sekali terlepaslah gayanya dalam bentuk gempa katastrofik. Para ahli gempa Jepang telah membangun analisis dan model 3D dari sekitar 300.000 gempa mikro untuk mengetahui apa yang telah terjadi dan memprediksikan apa yang akan terjadi. Dari model ini dapat ditafsirkan di mana letak titik utama sumber gempa. Mereka menemukan bahwa ada satu segmen kerak samudra (slab) Pasifik yang lepas dari induknya antara dua-tiga juta tahun yang lalu. Penyebab utamanya kelihatannya sebuah benturan antara dua rangkaian pegunungan bawahlaut ke Palung jepang yang jaraknya saat ini sekitar 200 km sebelah timur Tokyo (lihat paper terbaru Shinji Toda di Nature Geoscience, Nature). Segmen ini sekarang terjepit di antara lempeng samudera (induk) Pasifik dan lempeng samudra Filipina. Bayangkan saja seperti sebuah pil yang tak dapat ditelan. Puncak “Segmen Kanto” ini, yaitu segmen kerak samudra yang lepas tadi dan kini terjepit di antara persendian tiga lempeng, berada pada kedalaman 40 km di bawah permukaan. Wilayah Tokyo-Yokohama telah dilanda gempa hebat pada tahun 1703, 1855, dan 1923. Gempa pada 1923 itu menelan 105.000 korban tewas. Menurut perkiraan tahun 2005 yang dibuat oleh Japan’s Central Disaster Management Council, bila salah satu dari gempa-gempa besar itu terulang lagi kini, maka akan mengakibatkan kerugian yang setara dengan sekitar 100 trilyun yen, atau sekitar 100 milyar US dollar. Gempa tahun 1855 dengan magnitude 7,3 berasal dari segmen ini melalui mekanisme pematahan sesar naik yang dalam (deep-thrust). Waspadailah setiap titik cembung maksimum busur kepulauan, apalagi bersatu tempat dengan sistem persendian tiga lempeng. Di Indonesia, wilayah titik cembung busur kepulauan Sunda (Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara) terjadi di selatan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidak ada sistem persendian tiga lempeng di wilayah ini, hanya banyak sekali terdapat plato samudra di kerak samudra Hindia (contoh : plato bernama “Roo Rise” ) yang kelak akan menahan laju konvergensi kerak Hindia di bawah Jawa. Plato-plato ini akan menjadi “pil yang sulit ditelan” yang akan menyebabkan seismic gap zone beberapa lama kemudian pecah secara katastrofik. Tepi paling utara Roo Rise tak sampai 10 km jaraknya dari posisi palung sekarang. Kalau kecepatan konvergensi di wilayah ini 7 cm/tahun dan katakanlah tetap sebegitu sampai ratusan ribu tahun ke depan, maka bisa dihitung sendiri kapan “pil” itu akan sulit ditelan Palung Jawa. salam , awang

