Orang-orang Indonesia tentu lebih mengenal Charles Darwin daripada Alfred 
Wallace, itu bisa dibuktikan dengan menanyakan kepada mereka (orang tua, orang 
muda, dan anak-anak sekolah) tentang kedua tokoh ahli biologi dan penemu 
mekanisme evolusi ini. Bahkan, nama Darwin kadang-kadang dipakai orang tua 
untuk menamai anak-anaknya; nama Wallace belum pernah saya temukan digunakan 
orang Indonesia. Nama Alfred memang kadang-kadang dipakai, tetapi saya yakin 
yang dimaksud pasti bukan Alfred Wallace, tetapi mungkin Alfred Bernhard Nobel, 
penemu dinamit yang mewariskan hadiah Nobel.
 
Padahal, Charles Darwin dan Alfred Wallace sezaman,  bersahabat, sama-sama dari 
Inggris, sama-sama ahli biologi atau lebih tepat disebut naturalist alias 
penyelidik alam, sama-sama mengajukan mekanisme evolusi dengan cara yang sama 
(seleksi alam) dalam waktu yang sama (sehingga mereka sebenarnya bersaing, yang 
merasa disaingi adalah Darwin). Bedanya, Darwin terinspirasi evolusi oleh 
penyelidikannya di gugusan pulau-pulau Galapagos di lepas pantai Equador, 
Amerika Selatan; sedangkan Wallace terinspirasi evolusi oleh penyelidikannya di 
Sulawesi dan Maluku, Indonesia. Maka, sebenarnya kita orang Indonesia mesti 
mengenal Wallace lebih daripada sekedarnya meskipun bukan bangsa kita. Apalagi, 
Wallace pernah menyusuri pulau-pulau Nusantara selama delapan tahun (1854-1862) 
dan membuat perjalanan sejauh 22.000 km serta membukukan perjalanannya dalam 
sebuah buku berjudul “The Malay Archipelago” (Wallace, 1869) (yang dimaksud 
Wallace dengan Malay Archipelago
 adalah pulau-pulau Nusantara –Indonesia sekarang termasuk Malaysia di 
dalamnya). Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (Rosda Karya, 
2000) dengan judul, “Menjelajah Nusantara”.
 
Cerita tentang penyusunan teori evolusi antara Darwin dan Wallace pernah saya 
ulas di beberapa milis empat tahun yang lalu (lihat LAMPIRAN di bawah bila 
berminat). Kali ini saya ingin menceritakan Garis Wallace, garis terkenal dalam 
biogeografi sebab Wallace lebih terkenal karena garis tersebut daripada karena 
mekanisme evolusi yang sudah jadi milik Darwin. Saya kaitkan juga dengan 
geologi Sulawesi sebab justru karena geologilah garis-garis pembatas fauna 
terjadi.
 
Tahun 1858, kepada Henry Bates, seorang naturalist Inggris kawan Wallace, 
datang sepucuk surat dari Wallace di Indonesia. Wallace berpendapat bahwa 
Kepulauan Indonesia dihuni oleh dua kelompok fauna yang berbeda, satu kelompok 
di timur satunya lagi di barat. Tahun 1859, Wallace mendefinisikan garis 
pembatas dua kelompok ini menggunakan penyebaran burung. Garis pembatas 
ditariknya di antara Bali dan Lombok dan di antara Kalimantan dan Sulawesi. 
Wallace percaya bahwa Kalimantan, Jawa, dan Sumatra suatu saat pernah saling 
bersatu dengan Asia; dan Timor, Papua, Maluku, mungkin sebagian Sulawesi pernah 
bersatu dengan benua Australia-Pasifik. Tetapi fauna Sulawesi begitu ganjilnya 
sehingga surat Wallace berikutnya pada tahun 1859 kepada Bates menyebutkan 
bahwa sebagian Sulawesi kelihatannya pernah bersatu dengan Asia, dan sebagian 
lagi pernah bersatu dengan Australia. Di suratnya itu, Wallace menekankan bahwa 
mesti telah terjadi sesuatu dengan permukaan Bumi
 di tempat ini sehingga fauna-faunanya ganjil. Saat itu, penyelidikan geologi 
di Indonesia baru saja dimulai oleh Pemerintah Belanda dan tentu belum 
menyentuh sama-sekali Sulawesi. Jadi, ini pendapat menantang dari Wallace. 
Tahun 1863 dalam sebuah makalah berjudul “On the physical geography of the 
Malay Archipelago” - Journal of Royal Geographical Society no. 33, Wallace 
menarik garis pembatas fauna Indonesia Barat dan Indonesia Timur dari sebelah 
timur Filipina, masuk ke Selat Makassar lalu berakhir di sebelah selatan Selat 
Lombok. Garis itulah yang kemudian disebut para ahli “Garis Wallace”. 
 
Tahun 1910, tiga tahun sebelum Wallace meninggal, dalam bukunya “The World of 
Life” (Chapman and Hall, London), Wallace menggeser garisnya di sektor Sulawesi 
lebih ke timur lagi sebab di Sulawesi Barat masih cukup dominan ditemukan 
fauna-fauna Asia. Dari penelitian-penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh 
ahli2 fauna dan flora ditemukan bahwa Garis Wallace ini tidak pernah tegas, 
tetapi dapat bergeser-geser ke timur atau barat di Sulawesi; tetapi jelas 
meyakinkan bahwa Sulawesi adalah wilayah pertemuan sekaligus perbatasan 
zone-zone biogeografi
 
Konsep Garis Wallace ini mengesankan para ahli biogeografi sebab penyebaran 
flora pun mengikutinya. Flora-flora pegunungan di Sulawesi Barat mirip flora 
pegunungan di Kalimantan dan Jawa, sedangkan flora di tanah yang berasal dari 
lapukan batuan ultrabasik d Sulawesi bagian timur ternyata mirip flora Papua 
yang juga tumbuh di tanah hasil lapukan batuan ultrabasik. Ahli flora terkenal 
zaman Hindia Belanda, van Steenis pada tahun 1972 meneliti flora pegunungan 
Sulawesi dan membaginya sebagai flora asal lokal (autokton) dan flora asal luar 
(alokton).
 
Kita para geologist  tahu bahwa Sulawesi merupakan wilayah pertemuan sekaligus 
perbatasan antara provinsi-provinsi geologi. Seluruh Sulawesi bagian barat 
adalah milik Sundaland, bahkan sekarang di bawah Teluk Tomini pun – Cekungan 
Gorontalo- adalah berciri Sundaland. Mereka dulu bagian Sundaland yang saat ini 
berposisi di tengah Indonesia oleh pemisahan di Selat Makassar. Bagian tengah 
Sulawesi yang disusun massa batuan metamorfik dan ofiolit adalah massa asli 
Sulawesi yang terjadi atau terangkat di situ oleh proses pertemuan 
provinsi-provinsi geologi. Sedangkan, bagian paling timur Sulawesi yaitu 
Sulawesi Tenggara-Buton dan Banggai Sula adalah segmen massa benua asal 
Australia yang berpindah ke tempatnya sekarang oleh percabangan Sesar 
Sula-Sorong.  Pemisahan oleh Selat Makassar terjadi pada Paleogen, sementara 
pertemuan dengan segmen-segmen massa benua Australia terjadi pada Neogen. 
Pemisahan dan pertemuan massa-massa kerak batuan ini tentu ada
 penumpangnya, yaitu flora dan fauna yang juga telah hadir sejak lama di 
atasnya, ikut berevolusi sampai ke bentuknya sekarang. Maka, kalau di Sulawesi 
bertemu berbagai provinsi geologi, maka di Sulawesi bertemu juga berbagai zone 
biogeografi flora dan fauna.
 
Wallace sejak tahun 1858 telah menyadari perubahan-perubahan geologi yang 
terjadi di wilayah Indonesia bagian tengah ini dan implikasinya kepada 
penyebaran fauna. Ilmu biogeografi lahir di Indonesia, oleh Wallace, ketika ia 
menulis sebaris kalimat kepada Henry Bates, “I believe the western part to be a 
separaed portion of continental Asia, the eastern the fragmentay prolongation 
of a former Pacific continent.” (Alfred Russel Wallace, 1858) 
 
salam,
awang
 
LAMPIRAN
 
Date: Wed, 1 Sep 2004 19:50:36 -0700 (PDT) 
From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>  Add to Address Book 
Subject: Paper Halmahera Mendorong Lahirnya Teori Evolusi Darwin 
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED] 
 
    
Teori evolusi yang diumumkan Charles Darwin melalui bukunya yang terkenal "The 
Origin of Species..." (1859) - buku terjemahan edisi bahasa Indonesianya baru 
saja diterbitkan oleh Yayasan Obor Jakarta 2004 - ternyata bak sebuah drama dan 
tidak lepas dari iklim persaingan antar ilmuwan pada masa itu. Demikian kesan 
saya setelah membaca dua buku relatif baru : Swischer, Curtis, Lewin (2001) : 
The Java Man, dan Gribbin and Gribbin (2002) : Science - A History.
 
Dan, ternyata penelitian zoologi Alfred Russel Wallace di Kepulauan Halmahera, 
Indonesia lah (bukunya yang terkenal the Malayan Archipelago sudah pula 
diterjemahkan 2 tahun yang lalu dengan judul Menjelajah Kepulauan Nusantara) 
yang mendorong Darwin cepat2 mengumumkan teori evolusinya sebelum didahului 
Wallace. Dan, Charles Lyell, geologist Inggris terkenal saat itu dan yang 
mempopulerkan konsep uniformitarianisme, kawan akrab Darwin di the Linnaen 
Society Inggris, terlibat dalam persaingan antar naturalist kelas dunia ini.
 
Charles Darwin dan Alfred Wallace bersahabat, Wallace lebih muda 14 tahun. 
Wallace sering main2 ke rumah Darwin dan melihat-lihat koleksi Darwin hasil 
ekspedisinya ke pulau-pulau di Pasifik dengan kapal survey HMS Beagle. Saat 
itu, Darwin belum menuliskan hasil penelitiannya menjadi buku terkenal itu. 
Rupanya, Darwin agak ragu dan lama berpikir untuk mengumumkan teorinya. 
Wallace, sebagai sesama naturalist juga sering melakukan ekspedisi ke pulau2 
yang belum dikenal dengan baik saat itu. Sebelum ke Malaya dan Indonesia, dia 
pernah melakukan ekspedisi besar ke Amerika Selatan, dan Wallace menjadi 
pemasok koleksi2 binatang dan tumbuhan untuk Darwin.
 
Tahun 1854, Wallace berangkat ke Malaya dan memulai perjalanan muhibahnya 
sebagai naturalist, ini kira-kira enam bulan sebelum Darwin mulai mengumpulkan 
catatan2 perjalanannya untuk menulis buku. Sebaga naturalist yang Wallace 
hormati, Wallace tetap berhubungan dengan Darwin di Inggris untuk meminta 
pertimbangan2nya. Tahun 1855 Wallace menerbitkan sebuah paper dan mengagetkan 
Darwin sebab teori spesiasi (bagaimana spesies berubah menjadi spesies baru) 
adalah persis seperti yang sedang dipikirkan Darwin. Charles Lyell segera 
memprovokasi Darwin : "Ayo, cepat-cepatlah kamu publikasikan hasil2 
penelitianmu, sebelum Wallace atau orang lain mendahuluimu" begitu kira-kira. 
Saat itu, Darwin telah 19 tahun kembali dari perjalanannya. Ada beberapa paper 
yang telah dia tulis, tetapi belum diterbitkan karena masih ragu apakah 
teorinya benar, Darwin hanya mendiskusikannya dengan kawan2 dekatnya termasuk 
Lyell.
 
Dan, di bulan Februari 1858, saat Wallace telah sampai di Halmahera dan tengah 
terbaring sakit oleh demam, dia menulis sebuah paper penting yang diilhami oleh 
penelitiannya (terutama serangga) di gugusan Kep. Halmahera, berjudul, "On the 
Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type" Paket ini 
diterima Darwin tanggal 18 Juni 1858. Darwin shock dan segera ingat tulisannya 
di tahun 1842-1844 yang belum ia terbitkan. Kekagetan Darwin bertambah dengan 
tiba2 meninggalnya anaknya yang masih kecil Charles Waring Darwin akibat demam 
tinggi (scarlet fever). Darwin menceritakan kekagetan yang beruntun ini kepada 
Charles Lyell dengan note :
 
"Your words have come true with a vengeance - that I should be forestalled...I 
never saw a more striking coincidence; if Wallace had my MS sketch written out 
in 1842, he could not have made a better short abstract ! ... I shall, of 
course, at once and offer to send it to any journal"
 
Charles Lyell, yang lebih sering berperan sebagai tempat Darwin curhat, segera 
bertindak cepat dan sigap. "Jangan kuatir" katanya. Tentu Darwin senang sebab 
saat itu Darwin pasrah saja oleh kekagetan yang datang bertubi2. Darwin 
menyerahkan segalanya kepada Lyell dan dia pergi untuk memakamkan anaknya. 
 
Apa yang dilakukan Lyell ? Lyell menggabung paper unpublished Darwin tahun 1944 
dengan paper Wallace, dan memberi judul baru, "On the Tendency of Species to 
Form Varieties; and on the Perpetuation of Varieties and Species by Means of 
Selection" oleh Charles Darwin, Alfred Wallace; dikomunikasikan oleh Sir 
Charles Lyell dan Joseph Hooker (Hooker adalah kalangan inner circle Darwin 
lainnya). Apakah Wallace yang sedang terbaring sakit di tengah belantara 
Halmahera dikonsultasikan ? tentu tidak...
 
Dan, setahun kemudian terbitlah buku Darwin yang sangat terkenal itu "On the 
Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of 
Favoured Races in the Struggle for Life", diterbitkan oleh John Murray pada 24 
November 1859. Kalau sempat membacanya, kita akan tahu bahwa pasti banyak 
campur tangan geologist Sir Charles Lyell di dalamnya. Darwin menulisnya hanya 
butuh waktu setahun, sebab dia dikejar ketakutan didahului oleh siapa pun...
 
Apa yang terjadi dengan Alfred Wallace di Indonesia ? Dia tidak marah, tetap 
santun, dan tetap meneruskan ekspedisinya dari Halmahera ke pulau2 lain di 
Indonesia. Bahkan Wallace menyebut teori evolusi sebagai Darwinisme. Dan Darwin 
menghormati Wallace dengan menyebut cukup sering namanya di bukunya. Pulang ke 
Inggris, Wallace pun dihormati sebagai ilmuwan besar oleh pihak Kerajaan 
Inggris, tetap berkawan dengan Darwin, menerima uang pensiun setahun 200 
pundsterling dari Ratu Victoria, terpilih sebagai anggota the Royal Society 
tahun 1893, menerima Order of Merit tahun 1910, dan meninggal tahun 1913.
 
Begitulah, dari pojok timurlaut Indonesia, di gugusan Kepulauan Halmahera di 
Ternate, Tidore, Bacan, dan Morotai, sebuah paper yang dikirim Wallace membuat 
Charles Darwin segera menuliskan bukunya yang menggoncang dunia itu.
 
Mungkin, sebuah pelajaran bagi kita "Publish or Perish" 
 
Salam,
awang


      

Kirim email ke