Dikirim ulang. Tulisan ini dikirim ke IAGI-net minggu lalu (7 Oktober 2008), 
tetapi kembali ke si pengirim karena saat itu milis IAGI tak berfungsi.
 
salam,
awang

--- On Tue, 10/7/08, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Earthquakes at Syntaxes : Kyrgyzstan and Xizang
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, October 7, 2008, 10:10 AM








Dua buah gempa bermagnitude menengah terjadi pada Minggu malam dan Senin sore 
(WIB) kemarin di kedua sisi benturan anakbenua India terhadap Eurasia di sektor 
baratlaut Kashmir dan Tibet. Kedua gempa ini membuktikan kebenaran pendapat 
bahwa India masih berjalan membentur Eurasia dengan kecepatan 6,8 cm per tahun. 
Uniknya, kedua gempa tersebut masing-masing terjadi di sekitar titik belok 
jalur pegunungan benturan yang dalam peristilahan tektonik biasa disebut titik 
syntaxis. Kedua titik syntaxis ini juga merupakan batas penyebaran kerak 
anakbenua India ke sebelah barat dan timur. 
 
Gempa pertama, kita sebut saja Gempa Kyrgyzstan, terjadi pada Minggu malam 5 
Oktober 2008 pukul 21.52 waktu setempat (22.52 WIB). Episentrum gempa berlokasi 
di 39.515 deg N dan 73.768 deg E, di wilayah antara Afghanistan, Kashmir, 
Pakistan, dan Uzbekistan atau tepatnya di Kyrgyztan. Pusat gempa berada pada 
kedalaman 27,6 km, mengguncang wilayah ini dengan magnitude 6.6 Mw (moment wave 
magnitude). Gempa ini paling sedikit telah menewaskan 75 orang. 
 
Gempa kedua, kita sebut saja Gempa Xizang, terjadi pada Senin sore 6 Oktober 
2008 pukul 16.30 waktu setempat (15.30 WIB). Episentrum gempa berlokasi di 
29.759 deg N dan 90.302 deg E, di wilayah Tibet sebelah timur atau tepatnya di 
Eastern Xizang. Pusat gempa berada pada kedalaman 10 km (data sementara), 
mengguncang wilayah ini dengan magnitude 6.4 Mw (moment wave magnitude). Belum 
ada laporan korban jiwa sampai pagi ini.
 
Secara tektonik, gempa ini menarik untuk dikaji sebab seperti disebutkan di 
atas kedua gempa terjadi di kedua sisi tempat anakbenua India masuk membentur 
mengindentasi Eurasia dan membentuk Pegunungan Himalaya yang memanjang dari 
Asia Tengah tempat gempa pertama terjadi sampai ke ujung timur Plato Tibet 
tempat gempa kedua terjadi. Ke sebelah barat dari gempa pertama dan ke sebelah 
timur dari gempa kedua, jalur pegunungan benturan ini (collisional orogens, 
bisa dipelajari lebih jauh di Satyana et al., 2006, 2007, 2008 di Proceedings 
IAGI dan IPA) membelok secara tajam sekitar 90 deg menjadi jalur pegunungan 
lain (Pegunungan Hindukush-Afganistan di sebelah barat dan Pegunungan 
Arakan-Myanmar di sebelah timur). Titik belok ekstrim jalur pegunungan benturan 
dalam tektonik disebut syntaxis (Carey, 1956). Dan kedua gempa pada Minggu 
malam dan Senin sore kemarin terjadi di kedua titik syntaxis sebelah barat dan 
sebelah timur India, maka saya sebut saja :
 Earthquakes at Syntaxes – Kyrgyzstan and Xizang.
 
India membentur Eurasia sejak 50 Ma (juta tahun yang lalu). Ketika benturan 
semakin dalam menembus Eurasia, mengindentasinya, ia mengangkat jalur 
pegunungan benturan menjadi pegunungan paling tinggi di Bumi : Himalaya. 
Pengangkatan Himalaya ini juga dibantu oleh suatu mekanisme yang dalam tektonik 
disebut “exhumation”, yaitu ketika lempeng benua India yang masuk di bawah 
Eurasia terputus (break off) dengan bagian depannya yang berupa lempeng samudra 
(slab) kemudian lempeng benua ini karena kesetimbangan isostatik terangkat 
kembali menuju permukaan sebab densitas kerak benua lebih ringan dibandingkan 
densitas astenosfer di sekitarnya (2,7 g/cc berbanding dengan sekitar 3,0 
g/cc). Dalam skala kecil, gejala yang bisa diamati sebagai pegunungan benturan 
yang terangkat oleh ekshumasi adalah Pegunungan Meratus (akan saya 
presentasikan di pertemuan HAGI November 2008 – Satyana and Armandita, 2008) 
dan punggung tengah Papua (bisa dilihat lebih jauh di
  Satyana et al., 2007-Proceedings IAGI, dan Satyana et al., 2008-Proceedings 
IPA). 
 
Suatu benturan yang bersifat kompresi akan segera diikuti kompensasi tektonik 
berupa berjalannya atau runtuhnya beberapa segmen kerak bumi menjauhi pusat 
orogen benturan dan menuju free oceanic edge, inilah yang disebut tektonik 
ekstruksi (Tapponnier, 1982) atau escape tectonics (Burke and Sengor, 1986). 
Majunya Indonesia Barat atau Sundaland ke arah tenggara setelah India membentur 
Eurasia dan terjadinya beberapa sesar mendatar besar di Sundaland (Sesar 
Sumatra 300 NE, Red River fault, Three Pagoda Fault, Wang Chao Fault, 
Adang-Lupar Fault, dsb. adalah manifestasi escape tectonics). Bahkan, pembukaan 
Selat Makassar pada Paleogen juga bisa dicurigai sebagai berhubungan dengan 
escape tectonics sebab Makassar Strait adalah bagian timur Sundaland (bisa 
dilihat di Satyana, 2003 di Proceedings PIT IAGI-HAGI). Contoh ideal bagaimana 
tektonik benturan dan efeknya terhadap escape tectonics ditunjukkan oleh 
Sulawesi ketika ia dibentur Buton dan Banggai
 micro-continents (bisa dilihat di Satyana, 2006 SEG-IPA-HAGI Jakarta 
Geoscience Symposium).
 
Kembali ke kedua gempa di atas. USGS centroid moment tensor solution untuk 
gempa pertama menunjukkan bahwa pematahan batuan pada gempa itu terjadi secara 
sesar naik dengan jurus 65 deg NE dan kemiringan 45 deg. Pola ini sesuai dengan 
arah orogen kompresif di wilayah ini. Gempa-gempa susulannya di antaranya juga 
menunjukkan pola penyesaran mendatar. Ini juga mungkin berhubungan dengan 
perpanjangan sesar mendatar regional “Owen fracture zone” yang berangkat 
sebagai transform fault dari Carlsberg mid oceanic ridge di sebelah baratdaya 
lepas pantai India dan masuk sampai ke syntaxis di Kyrgyzstan sebagai 
transcurrent fault. USGS centroid moment tensor solution untuk gempa kedua 
menunjukkan bahwa pematahan batuan pada gempa ini terjadi secara sesar normal 
dan berkombinasi dengan sesar mendatar berjurus 40 deg NE dan kemiringan 50 
deg. Perlu juga diperhatikan bahwa syntaxis di sebelah timur ini (suka disebut 
Assam syntaxis) ke arah lepas pantai Samudra
 Hindia sejajar dengan Ninetyeast Ridge fracture zone di sebelah barat Sumatra– 
tentu secara tektonik ada hubungan mekanisme.
 
Demikian sekedar ulasan tektonik kedua gempa Minggu dan Senin kemarin, yang 
membuktikan suatu kebenaran bahwa meskipun India telah membentur Eurasia 50 
juta tahun yang lalu, ia masih juga saat ini terus berjalan membenturnya 
seperti ditunjukkan oleh seismotektoniknya.
 
Salam,
awang
 
 
 


      

Kirim email ke