Dikirim ulang. Tulisan ini dikirimkan ke IAGI-net tanggal 8 Oktober 2008, 
tetapi kembali ke si pengirim karena IAGI-net saat itu tak berfungsi.
 
salam,
awang

--- On Wed, 10/8/08, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Geo_unpad] Hutan Ultrabasa Indonesia
To: "IAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad" <[EMAIL PROTECTED]>, "Forum HAGI" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Eksplorasi BPMIGAS" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, October 8, 2008, 8:24 AM











Dua puluh tahun yang lalu, tahun 1988, selama beberapa minggu saya memetakan 
ofiolit dan melange di Gunung Badak, Ciletuh, sebelah selatan Pelabuhanratu, 
Jawa Barat, untuk keperluan tugas skripsi. Pemandangan yang khas muncul di 
batuan peridotit dan serpentinit yang merupakan batuan utama penyusun Gunung 
Badak : vegetasinya gundul, hanya alang-alang dengan beberapa persemakan. 
Biawak sering saya jumpai saat masuk lebih dalam ke gunung ini. Kampung 
Cikadal, kampung  nelayan terdekat ke gunung ini, 20 tahun yang lalu, tak ada 
aliran listriknya. Malam sangat gelap gulita - maka plotting data lapangan 
dilakukan di pendar cahaya pelita yang sering bergoyang ditiup angin. 
  
Tahun 2006 bersama rekan-rekan BPMIGAS dan Geologi-Unpad saya ke sini lagi, 
tentu tak masuk jauh sebab itu rombongan fieldtrip, hanya di kaki gunung yang 
banyak diseraki runtuhan bongkah peridotit dan serpentinit. Kalau 20 tahun yang 
lalu saya mengunjungi tempat ini bersama adik saya ikut perahu nelayan yang 
dimuati melebihi kapasitas –membuat saya was-was, tahun 2006 
saya mengunjunginya lagi menggunakan dua speedboat besar yang dipesan khusus 
dari Pelabuhanratu – memang perjalanan geo-wisata. Fieldtrip itu untuk memahami 
sistem Paleogen Jawa Barat selatan. Kampung Cikadal pun telah jauh lebih maju 
di mana-mana ada tambak-tambak udang moderen, bukan kepunyaan mereka, tetapi 
kepunyaan orang-orang Jakarta...(sampai sepelosok dan seterpencil Cikadal, 
Ciletuh, pengusaha-pengusaha Jakarta ini telah merambahnya) . 
  
Setelah saya bekerja, Indonesia Timur ternyata banyak menjadi wilayah penugasan 
saya. Dan, saya pun banyak berhubungan dengan ofiolit2 Indonesia Timur : Gunung 
Cycloops di utara Jayapura, Pulau Batanta dan Waigeo di utara Salawati, Pulau 
Gebe dan Gag di wilayah Halmahera, singkapan ofiolit terbesar di Indonesia di 
Sulawesi Timur, dan ofiolit di Meratus. Mengapa banyak singkapan ofiolit di 
Indonesia Timur ? Sebab, di wilayah ini banyak kejadian perbenturan antara 
terrane. Ofiolit ini semula pada umumnya berupa kerak samudra yang terletak di 
antara terranes yang siap berbenturan. Saat terranes ini berbenturan, maka 
sebagian kerak samudra tertekan, terlepas, tersugu, dan proses rumit tektonik 
lainnya hingga kini tersingkap di antara dua terrane yang berbenturan. 
  
Baik di Ciletuh, maupun di tempat-tempat ofiolit di Indonesia Timur dan 
Kalimantan itu, kondisi vegetasinya selalu sama : hanya alang-alang yang 
diselingi semak-semak atau belukar dan kadang-kadang beberapa pohon (bila curah 
hujan cukup tinggi).  Kita sebut saja vegetasi semacam macam ini : hutan 
ultrabasa sebab begitulah vegetasi karakteristik di atas ofiolit yang banyak 
disusun oleh runtunan batuan ultrabasa-basa. 
  
Pemandangan Pegunungan Cycloops di utara Jayapura sangat menakjubkan. 
Pegunungan ini membentuk plato yang datar dan hampir gundul tanpa vegetasi 
dengan deposit lateritik berkembang di mana-mana. Dari Plato ini ke selatan 
terlihat sebagian kota Jayapura, ke utara terlihat laut lepas yang biru bagian 
Samudra Pasifik. Di pantainya di beberapa tempat teronggok besi-besi tua bekas 
meriam pasukan tentara sekutu McArthur dalam Perang Pasifik (1943-1945). 
  
Mengapa di atas ofiolit yang berkomposisi ultrabasa-basa itu hanya tumbuh 
alang-alang atau semak-semak ? Kondisi vegetrasi hutan ultrabasa, rupanya, 
telah menarik perhatian orang, terbukti dari publikasi Proctor (1992 : The 
vegetation over ultramafic rocks : The Ecology of Areas with Serpentinized 
Rocks. A World View, The Netherlands : Kluwer Academic Publishers) yang saya 
peroleh ringkasannya melalui publikasi Monk et al. (1997 : The Ecology of Nusa 
Tenggara and Maluku, Periplus Editions, 966 hal.) dan saya sarikan juga dari 
buku klasik terkenal tentang hutan tropis dari Whitmore (1984 : Tropical rain 
forest of the Far East, Oxford University Press). Buku Monk et al. (1997) 
adalah salah satu dari seri buku ekologi Indonesia - bisa dicari di Amazon atau 
Periplus bila berminat. Buku Whitmore (1984)  bagus juga untuk para geologist 
sebab di dalamnya ada keterangan tentang sejarah paleovegetation berdasarkan 
geologi, penting untuk para peminat palinologi;
 bila berminat dengan buku ini bisa menghubungi perpustakaan British Council 
Jakarta di Widjojo Center, Jakarta). 
  
Batuan ultrabasa seperti kita tahu adalah batuan beku yang kaya akan besi, 
magnesium, alumunium, dan logam-logam berat. Batuan ini sedikit mengandung 
kuarsa atau felspar, sehingga kandungan silikanya kurang dari 45 % (maka 
disebut ultrabasa karena sangat alkalin). Tanah yang sangat alkalin yang 
berkembang dari lapukan batuan ini menyebabkan kondisi yang tidak subur dan tak 
cocok untuk lahan pertanian. Tanah jenis ini punya kapasitas penukaran kation 
yang rendah (yang menyebabkan proses metabolisme tanaman akan terganggu). 
Kondisi tak subur juga disebabkan kurangnya kandungan kalsium, nitrogen, 
posfor, kalium (jelas unsur-unsur NPK akibatnya menjadi kecil), kandungan 
molibdenum dan seng pun kurang. Di lain pihak, ada kandungan logam berat yang 
beracun dalam jumlah cukup seperti nikel, kobal, dan kromium. Di kondisi iklim 
tropis yang lembab, batuan ultrabasa melapuk sangat cepat dan menghasilkan 
bijih residu yang mengandung nikel, kromium, atau besi. 
  
Hutan ultrabasa cenderung miskin dalam jumlah spesies. Beberapa pohon tinggi 
bisa tumbuh, tetapi itu hanya terjadi di wilayah yang curah hujannya di atas 
2000 mm per tahun (Proctor, 1992; Whitmore 1984). Whitmore (1984) mengatakan 
bahwa hutan ultrabasa di Indonesia dicirikan oleh empat genus. Tetapi, kata 
Monk et al. (1997) dari empat genus ini, hanya satu genus yang berkembang di 
hutan ultrabasa Indonesia Timur, yaitu genus Alphitonia. Tanaman ini sangat 
aktif mengumpulkan deposit logam berat nikel dan manggan. Sebagai akumulator 
nikel, tanaman ini punya penciri yang khas yaitu bergetah hijau. Tanaman ini 
tentu bisa dimanfaatkan untuk membersihkan deposit logam berat dari 
pertambangan nikel (waste treatment). Pemanfaatan tanaman ini untuk menyerap 
racun logam berat masih dalam penelitian. 
  
Apakah penting untuk para geologist mengetahui hutan ultrabasa ketika mereka 
melakukan tugasnya di wilayah ultrabasa ? Penting. Sebab, vegetasi gundul yang 
mencolok daripada sekitarnya adalah penciri utamanya. Orang-orang setempat di 
beberapa pulau yang saya sebutkan di atas mengetahui soal ketidaksuburan tanah 
lapukan batuan ultrabasa. Mereka akan menghindari wilayah ini untuk dijadikan 
kebun atau lahan pertanian. Maka, batas kebun-kebun mereka sekaligus menjadi 
batas litologi. Unik bukan ? 
  
Salam, 
awang 
 
__._,_.___ 
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 
Please Visit Our Website @  http://geounpad.ac.id/ 
and Our Forum            @  http://forum.geounpad.ac.id/


Moderators:
Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]>
Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]>
Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]>
Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]>
Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]>
Andri'2004 <[EMAIL PROTECTED]> 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 


Visit Your Group 


Yahoo! Groups
Come check out
featured healthy living
groups on Yahoo!

Yahoo! Groups
Stay healthy
and discover other
people who can help.

Special K Group
on Yahoo! Groups
Learn how others
are losing pounds.
. 
__,_._,___ 














      

Kirim email ke