Ini janji saya menuliskan secara detail acara LUSI di AAPG Capetown.
 
Acara LUSI di Pertemuan AAPG Capetown berlangsung pada hari Selasa 28 Oktober 
2008, tepat pada hari peringatan ke-80 tahun Sumpah Pemuda di Indonesia. Acara 
dibuka pada pukul 13.45 waktu South Africa (18.15 WIB) oleh moderator dadakan 
(John Underhill) mengganti yang sudah tercantum di buku program resmi (J. 
Gluyas). Sesuai seperti yang diperkirakan, acara yang digelar khusus ini banyak 
dihadiri para pengunjung. Hitungan kasar saya, ada sekitar 150 orang yang 
menyaksikan acara yang sedianya dikemas dalam format perdebatan ini. Perdebatan 
asal LUSI di Afrika ini melengkapi perdebatan LUSI sebelumnya yang telah 
digelar di empat benua dalam dua tahun terakhir ini. 
 
Mengapa asal LUSI harus diperdebatkan ? Asal LUSI menjadi perdebatan luas baik 
di Indonesia maupun di dunia internasional, baik melalui forum diskusi informal 
melalui milis, maupun formal dalam forum seminar, publikasi di jurnal-jurnal 
ilmiah, bahkan di pengadilan. Saat ini, setelah dua tahun setengah perdebatan 
yang cukup melelahkan (paling tidak itu yang saya rasakan), asal LUSI 
mengerucut ke dua asal : (1) akibat reaktivasi tektonik Sesar Watukosek dan 
percabangannya yang berhubungan dengan gempa Yogyakarta 27 Mei 2006, dan (2) 
akibat underground blowout yang terjadi di sumur Banjarpanji-1 (Lapindo 
Brantas, 2006) yang lokasinya 200 meter dari LUSI. Dalam pengamatan saya, asal 
(2) lebih populer dan secara kasar lebih banyak pengikutnya, baik oleh kalangan 
ilmiah maupun awam. Tetapi, mengapa perdebatan tak segera mati bila ada satu 
opini yang lebih unggul ? Sebab, yang lebih populer dan lebih unggul belum 
tentu yang benar dan yang tidak populer belum
 tentu yang salah. Kalau dianggap benar sebab populer dan banyak pendukungnya, 
apa bedanya dengan “kesalahan umum” atau salah kaprah. Dalam berbahasa pun, 
kita banyak mengenal kesalahan umum, yaitu sesuatu yang seolah-olah benar 
karena banyak pengikutnya, padahal pada galibnya salah – salah kaprah. Karena 
asal LUSI terpusar kepada dua kelompok pemikiran (school of thought), maka asal 
LUSI harus diperdebatkan dengan tujuan baik : untuk mencari kebenaran yang 
sebenar-benarnya (hakiki).
 
Perdebatan ini akan sulit berakhir sebab secara ilmiah kekuatan kedua kubu 
seimbang. Di kelompok (1) ada ahli pemboran, ahli tektonik, ahli gempa, ahli 
geo-migas, ahli mud volcano. Di kelompok (2) ada ahli pemboran, ahli gempa, 
ahli geo-migas, ahli mud volcano, ahli overpressure. 
 
Apakah penting memperdebatkan asal LUSI ? Penting, sebab itu akan berimplikasi 
kepada banyak hal. Antara lain, bila asal LUSI diketahui dengan benar dan 
memang itu yang benar, maka banyak hal kompleks selama ini akan menjadi lebih 
sederhana. Pengetahuan ini akan penting baik untuk penanganan LUSI di 
permukaan, maupun di bawah permukaan (walaupun dalam kondisi saat ini hampir 
tidak mungkin ada cara untuk menghentikan amukan LUSI). Pengetahuan ini pun 
akan penting untuk pengetahuan umat manusia ke depan sebab sejarah adalah 
kumpulan pengalaman manusia masa lalu yang dapat dipelajari untuk kehidupan 
yang lebih baik pada masa depan.
 
Maka, semua usaha mencari kebenaran tentang asal LUSI, walaupun susah (susah 
karena masalahnya memang sulit dan susah karena ketertutupan pikiran), patut 
didukung meskipun melalui perdebatan. “Du chocs des opinions jaillit la verité” 
– dari benturan berbagai opini akan muncul sebuah kebenaran, kata orang 
Prancis, atau “du chocs des idees jaillit la lumiere” – dari benturan berbagai 
gagasan akan muncul sinar (kebenaran). Tujuan mulianya adalah agar sejarah 
buruk tak berulang bila kita dengan bijak dapat belajar dari sejarah kelam masa 
lalu. “Those who fail to learn the lessons of history are doomed to repeat 
them”, tulis seorang filsuf Spanyol, George Santayana (1863-1952).
 
Kelak kalau terbukti dengan benar, diputuskan oleh otoritas ilmiah, dan 
diterima semua kalangan (masyarakat ilmiah khususnya) bahwa LUSI memang akibat 
reaktivasi tektonik sebuah sesar yang dipicu gempa dan tak berhubungan dengan 
pemboran, atau bahwa LUSI memang akibat pemboran, mari kita terima dengan 
legawa untuk kepentingan kita ke depan.
 
Perdebatan yang terjadi di pertemuan AAPG Capetown, yang secara khusus saya 
hadiri untuk mengamati jalannya perdebatan, untuk mengamati strategi perdebatan 
di antara para penyaji makalah, untuk mengamati bagaimana AAPG mengemas 
perdebatan ini, dan untuk mengamati bagaimana reaksi penonton boleh dikatakan : 
MASIH JAUH DARI TERCAPAINYA SUATU KEBENARAN. Dari jauh hari, saya pun tak 
menduga akan ada kesepakatan atau rekonsilisasi di antara kedua kelompok 
pemikiran itu. 
 
Sungguh pun di akhir perdebatan, tiba-tiba moderator meminta penonton 
mengacungkan tangan untuk memilih opini yang dianggapnya benar (banyak penonton 
kaget dengan permintaan ini), itu sama sekali tak menunjukkan kebenaran suatu 
opini. Dominasi penonton adalah orang-orang yang baru untuk pertama kalinya 
melihat paparan LUSI, bagaimana mungkin mereka bisa menganalisis dengan baik 
dalam waktu dua jam padahal perdebatan LUSI telah berlangsung selama 2 ½ tahun 
? Penonton yang tak mengetahui LUSI memutuskan pendapatnya berdasarkan efek 
psikologis dan sedikit sekali analisis.
 
Baik, saya ceritakan saja ringkasan atau kesimpulan para pemapar makalah. 
Perdebatan ini diisi oleh presentasi empat makalah dari dua kubu pemikiran. Dua 
makalah pertama disebutkan mewakili kelompok penganut EQ (earthquake) trigger 
for LUSI, disampaikan oleh Adriano Mazzini (University of Oslo) dan Nurrochmat 
Sawolo (EMP Indonesia). Dua makalah berikutnya mewakili kelompok drilling 
trigger for LUSI, disampaikan oleh Mark Tingay (University of Adelaide), 
Richard Davies (University of Durham University), dan Susila Lusiaga 
(disebutkan independent ? rekan Rudi Rubiandini).
 
Mazzini, melalui presentasi berjudul, “Causes and Triggers of the Lusi Mud 
Volcano, Indonesia” mengawali uraiannnya bahwa LUSI adalah mud volcano terbaik 
di dunia untuk dipelajari sebab bila MV (mud volcano) lain dipelajari pada saat 
dormant, LUSI dipelajari sejak ia lahir. Makalah ini ditulis bersama Svensen, 
Planke, Akhmanov - dari Volcanic Basin Petroleum Research, Oslo; dan dari 
University of Moscow. LUSI pun begitu mudah dicapai lokasinya sehingga gampang 
untuk didatangi buat dipelajari. Mazzini mengatakan bahwa data seismic 
menunjukkan kehadiran subsurface piercing structure di lokasi yang kemudian 
menjadi LUSI. Struktur ini berkembang di sistem Sesar Watukosek yang merupakan 
sesar mendatar dekstral BD-TL yang juga menjadi tempat munculnya MVs lain di 
jalur itu dari Penanggungan sampai Madura. Berdasarkan penelitian lapangan yang 
didukung oleh analisis sample dan modelling, diyakini bahwa gempa Yogyakarta  
27 Mei 2006 telah mengubah  critical
 equilibrium wilayah ini yang kemudian memicu  LUSI eruption. Tak bisa 
diperdebatkan lagi bahwa Sesar Watukosek telah direaktivasi oleh gempa 
Yogyakarta, kemudian mengontrol dinamika erupsi sampai mengontrol regional 
collapse saat ini. Gradien geotermal regional yang tinggi di wilayah ini telah 
memicu transformasi mineralogy dan reaksi geokimia lainnya di kedalaman 
dangkal.  Erupsi Lumpur terjadi mengikuti gempa Yogyakarta akibat fracturing 
dan depressurization >100 °C pore fluids di kedalaman > 1700 m.  Sampai saat 
ini, LUSI flow rate masih menunjukkan korelasi positif dengan seismisitas 
regional di wilayah ini dalam radius 300 km dari titik LUSI. Collapse yang 
tengah terjadi yang berarah BD-TL mengikuti Sesar Watukosek juga menunjukkan 
bahwa sampai sekarang pun sesar ini masih kuat dipengaruhi oleh regional 
seismicity. Tak ada data yang cukup meyakinkan bahwa LUSI disebabkan pemboran 
Banjarpanji-1. Mazzini mengatakan bahwa banyak contoh gempa
 dengan episentrum berjarak beberapa ratus km dan kadang-kadang ribuan km dapat 
memicu erupsi MVs pada lokasi yang secara alamiah memang siap untuk meletus. 
Mazzini menampilkan film sandbox modelling memodelkan reaktivasi Sesar 
Watukosek dan menunjukkan bahwa semburan lumpur terjadi saat reaktivasi sesar 
berjalan. Mazzini bertanya kepada penonton, apakah mungkin reaktivasi sesar 
disebabkan pemboran ? Sementara banyak kasus menunjukkan bahwa reaktivasi sesar 
hanya terjadi oleh gempa. Benang merah analisis Mazzini : gempa-reaktivasi 
sesar-change of critical equilibrium of naturally prepared 
system-fracturing-depressurization-eruption
 
Pak Sawolo mempresentasikan makalah berjudul “East Java MV (LUSI) : Drilling 
Facts and Analysis”. Makalah ini ditulis bersama Edi Sutriono, Bambang Istadi, 
dan Agung Darmoyo dari EMP. Pak Sawolo mengemukakan bahwa bila pemboran 
Banjarpanji (BJP-1) menyebabkan LUSI, maka ada empat hal yang harus dilalui 
secara bertahap dan dipenuhi : (1) uncontrolled kick, (2) casing shoe breached, 
(3) UGB –underground blow out, (4) sustained propagation pressure. Bila salah 
satu dari empat tahapan ini tak dipenuhi maka kemungkinan bahwa pemboran BJP-1 
menyebabkan LUSI menjadi nol. Mengawali presentasinya, Pak Sawolo menunjukkan 
sequence drilling yang dihubungkan dengan rekaman seismogram gempa yang 
diperoleh dari stasiun BMG Tretes, stasiun BMG terdekat dengan LUSI. Secara 
ideal ditunjukkan oleh seismogram dan geolograph sumur BJP-1 bahwa antara Gempa 
Yogya yang tercatat di Tretes berhubungan temporal dengan kejadian partial dan 
total loss di sumur BJP-1. Lalu, Pak
 Sawolo menganalisis satu per satu data dan fakta drilling untuk memeriksa 
apakah keempat tahapan di atas memang terjadi di sumur BJP-1. Perlu diketahui 
bahwa data dan fakta drilling ini sudah dilihat dan dibagi juga kepada “pihak 
lawan” (Davies dan Tingay).  Analisis Pak Sawolo dan rekan-rekannya menunjukkan 
: well-bore fluid pressure terlalu rendah (< formation pressure) untuk 
menyebabkan wellbore fracture. Maka well tetap intact tidak mengalami casing 
shoe breached. Tidak ada sustained pressure untuk meneruskan fractures. 
Kemudian, yang paling penting wellbore telah terbuka dan mati secara total 
ketika semburan lumpur dengan flow rate  300,000 bbl/day terjadi, artinya kick 
yang sempat terjadi telah teratasi dengan baik. Tes komunikasi antara semburan 
LUSI dan sumur BJP-1 menunjukkan hasil negatif, artinya LUSI tak berhubungan 
dengan sumur. Analisis-analisis ini menunjukkan bahwa keempat syarat di atas 
tak ada satu pun yang dipenuhi. Kesimpulan :
 sumur Banjarpanji tak menyebabkan LUSI. Secara terus terang, Pak Sawolo 
menganalisis dan  mendebat semua pernyataan Richard Davies di publikasinya yang 
terbaru (Davies et al., 2008).
 
Presentasi ketiga berasal dari kubu kedua : BJP-1 drilling trigger for LUSI. 
Mark Tingay dan rekan2-nya (Heidbach, Davies, dan Swarbrick dari Karlsruhe 
University, University of Durham, dan GeoPressure Tech. Durham) 
mempresentasikan makalah berjudul, “The Lusi Mud Eruption of East Java”. Tingay 
mengawali presentasinya bahwa ada dua kubu pemikiran tentang asal LUSI. EQ 
trigger for LUSI dianalisisnya, disebutkan bahwa gempa Yogyakarta terlalu jauh 
jaraknya dan terlalu kecil magnitudenya untuk mengakibatkan LUSI. Empat 
parameter gempa meliputi : co-seismically induced stress changes, post-seismic 
static stress changes, poro-elastic rebound effects, dan dynamic stress change 
due to seismic shaking semuanya bernilai terlalu kecil dan terlalu jauh untuk 
bisa menyebabkan erupsi LUSI. Tingay pun menampilkan crossplot statistik EQ vs 
liquefaction/MV occurrence buatan Manga (2006) dan menunjukkan bahwa ploting 
antara gempa Yogyakarta dan LUSI berada di luar
 trend artinya gempa Yogyakarta dan LUSI tak berhubungan. Setelah meyakinkan 
penonton dengan hitungan-hitungan dan data statistic bahwa gempa tak mungkin 
berhubungan dengan LUSI, Tingay membahas sisi pemboran Banjarpanji-1. Walaupun 
data yang digunakan adalah data berasal dari Lapindo Brantas, analisis dan 
interpretasi yang dihasilkan berbeda yang menunjukkan bahwa di sumur 
Banjarpanji-1 telah terjadi kick dan underground blowout yang ke permukaan 
termanifestasikan sebagai erupsi lumpur.
 
Analisis pemboran Banjarpanji-1 sebagai penyebab LUSI yang dibuka oleh Mark 
Tingay diperkuat oleh presentasi Richard Davies yang dibantu presentasi sisi 
pemborannya oleh Susila Lusiaga (independent, rekan Rudi Rubiandini). Makalah 
Davies yang terdaftar di buku program tercatat sebagai “The East Java Mud 
Volcano (2006 to Present) : An Earthquake or Drilling Trigger” ditulis bersama 
Brumm, Manga, Swarbrick, Rubiandini, dan Tingay dari University of Berkeley, 
Geopressure Tech. Durham, Institut Teknologi Bandung, dan University of 
Adelaide. Dalam presentasi, judul diubah menjadi counter-attack presentasi 
Sawolo et al., dan memasukkan Susila Lusiaga di deretan penulis makalah. 
Richard langsung membahas data dan analisis yang menunjukkan bahwa pemboran 
Banjarpanji-1 adalah penyebab LUSI. Sehari sebelum erupsi terjadi, ketika 
Lapindo sedang melalukan pulling the drill bit and string out of the hole, ada 
influx formation fluid dan gas. Monitoring pressure
 setelah influx di drill string dan casing menunjukkan beberapa variasi yang 
khas menunjukkan lost circulation. Lalu perhitungan pressure di kedalaman 1091 
m di shoe casing 13 3/8”, yaitu di bagian paling atas open hole yang panjang, 
atau di titik terlemah di open hole, tekanannya melebihi critical level setelah 
influx terjadi. Maka, fractures terbentuk akibat excessive pressure, yang 
mengakibatkan fluid-gas-mud mix mengalir ke permukaan sebagai LUSI.  Ini adalah 
underground blowout di titik paling lemah open hole. Susila Lusiaga kemudian 
melanjutkan presentasi Davies, khusus membahas crossplot pressure vs time after 
BOP shut in yang telah dibahas Pak Sawolo, tetapi dengan analisis dan 
interpretasi yang bertolak belakang, menyatakan bahwa crossplot itu mendukung 
underground blow out telah terjadi. Davies kemudian menutup presentasi dengan 
menyatakan bahwa data dan analisis pemboran sangat meyakinkan bahwa LUSI 
sebagai akibat pemboran. 
 
Demikian presentasi keempat pemakalah yang diikuti dengan serius oleh semua 
penonton. Ada tiga sesi tanya-jawab dibuka. Sesi pertama dibuka setelah dua 
pemakalah pertama selesai presentasi dan ditujukan kepada Mazzini dan Sawolo. 
Sesi kedua dibuka setelah Tingay dan Davies presentasi dan ditujukan kepada 
mereka berdua. Sesi ketiga, keempat pembicara duduk di muka dengan moderator 
duduk di tengah-tengah mereka. Pertanyaan-pertanyaan diajukan penonton dan 
moderator menentukan siapa yang paling cocok untuk menjawabnya. SEBUAH ATURAN 
YANG ANEH tentang bertanya dibuat moderator : semua orang yang berhubungan 
afiliasi dengan Lapindo atau EMP dilarang bertanya. Maka, wajah-wajah Indonesia 
yang mengacungkan tangan tak dipedulikan. Padahal, ada di antara mereka yang 
datang dari perguruan tinggi di Indonesia dan tak punya hubungan afiliasi 
dengan Lapindo/EMP. Semua pertanyaan pada umumnya bersifat umum dan hanya 
konfirmasi, tidak fokus menyerang satu pemikiran.
 Ini menunjukkan bahwa kadar penguasaan permasalahan di antara penonton masih 
mengambang, tidak detail dan fokus, tentu saja akan begitu sebab mayoritas 
penonton adalah bukan orang-orang yang tahu banyak soal LUSI. Ada beberapa 
komentar bagus untuk menyelesaikan perbedaan pendapat ini, misalnya dengan 
duduk bersama di antara kedua kubu di bawah pengawasan otoritas ilmiah yang 
diakui. 
 
Walaupun forum ini sedianya dikemas untuk berdebat, satu pembicara bertanya 
kepada pembicara lainnya, lalu mereka berdebat, disaksikan penonton; ternyata 
tidak berjalan bahkan terkesan dilarang. Ketika Mazzini mendebat Tingay dalam 
suatu kesempatan saat duduk bersama di depan, moderator menghentikannya dengan 
mengatakan bahwa yang harus dijawab adalah pertanyaan-pertanyaan dari penonton, 
bukan dari sesama pembicara. 
 
Pukul 16.15 waktu South Africa (21.15 WIB) acara ditutup dengan voting yang 
menghebohkan itu. Tentu ini di luar agenda sebab tak tercantum di dalam buku 
program (official program) AAPG 2008 International Conference & Exhibition. 
Banyak penonton kaget dan tertegun (“gelagapan” dalam pengamatan saya) dengan 
permintaan moderator lalu mengacungkan tangan, tak sedikit yang ragu-ragu. 
Hampir setengah dari penonton mengacungkan tangan, terbagi atas empat pilihan : 
(1) EQ as the trigger, (2) drilling as the trigger, (3) combination EQ-drilling 
as the trigger, dan (4) EQ and drilling are both inconclusive. Rupanya 
pengacung tangan untuk drilling as the trigger paling banyak, diikuti oleh 
inconclusive, lalu combination, dan paling sedikit EQ as the trigger. Karena 
saya duduk paling depan di ruangan itu dan ikut berdiri menghadap ke penonton 
saat voting dilakukan, maka saya melihat bahwa hitungan moderator untuk 
pengacung tangan dijamin benar untuk yang paling
 sedikit pengacungnya (EQ) (3) dan besar salahnya saat moderator menghitung 
pengacung tangan untuk pendukung terbanyak (drilling). Mengapa saya 
berkesimpulan begitu, sebab hitungan saya menunjukkan sekitar 30 orang saja 
untuk pengacung drilling, bukan tepat 42 seperti yang dikatakan moderator. 
Moderator menghitung dengan kecepatan yang sama baik untuk 13 (combination), 16 
(inconclusive), maupun 42 (drilling), bagaimana bisa (?). 
 
Saya tak mengacungkan tangan untuk pilihan mana pun sebab saya tak setuju 
voting dalam hal ini dilakukan. Maka apabila hasil voting yang tak berdasar, 
tak etis dalam dunia perdebatan ilmiah, dan tak diagendakan ini dijadikan 
laporan resmi AAPG, saya akan menulis surat protes kepada AAPG sebab voting itu 
mencederai kredibilitas ilmiah organisasi seterhormat AAPG.
 
Jelas sekali bahwa ada perbedaan tajam antara kedua kubu pemikiran. Maka, tak 
ada keputusan apa pun dihasilkan dari perdebatan LUSI di Afrika ini. Saya pun 
berangkat ke sini tak pernah berharap akan ada keputusan. Perbedaannya terlalu 
tajam dan jauh, akan sukar direkonsiliasi. Tetapi, saya tidak percuma datang ke 
sini, paling tidak saya dapat belajar bagaimana menyusun strategi untuk 
berdebat. “Dengan siapa kamu berdebat, di mana kamu berdebat, dalam bahasa apa 
kamu berdebat, siapa yang menonton kamu berdebat, bagaimana kamu mengeluarkan 
informasi kepada lawan berdebatmu,” antara lain adalah suara2 yang muncul dari 
endapan pikiran saya ke dalam renungan saya beberapa jam setelah acara LUSI 
usai.
 
The debate continues…
 
salam,
awang - Capetown


      

Kirim email ke