Kasus LUSI atau Lumpur Sidoarjo memanas lagi minggu-minggu ini karena
masalah voting yang menghebohkan di forum internasional AAPG  di Cape
Town Afrika Selatan.  Timpangnya pemilih drilling sebagai penyebab
diberitakan menjadi suatu pembenaran. Padahal dari sekitar 120 orang
yang hadir pada sesi khusus tersebut, kalau 42 orang yang memilih
drilling, sisanya lebih dari 60% yang tidak yakin drilling semata
sebagai penyebab bahkan memilih golput. Voting ini sama layaknya
pemilihan Indonesian Idol, bukan lagunya, tapi kemampuan penyanyinya
dalam memaparkan argumen2 yang mendukung hipotesa serta penampilan dan
gaya bahasa presentasi dalam waktu yang sangat terbatas.

Sebagai orang yang berafiliasi dengan Lapindo yang hadir pada acara
tersebut, rekan Amerika dari Houston  sebelah saya binggung karena saya
tidak ikut tunjuk tangan saat voting gempa sebagai penyebab. Diapun sama
dengan saya serta puluhan orang lainnya yang sama-sama tidak ikut
voting, lalu diapun berkomentar ini baru pertama kali ada voting semacam
ini diforum ilimiah.  Proses voting adalah proses demokrasi, sedangkan
ilimiah tidak mengenal voting karena mencerminkan kebenaran yang
diyakini seseorang dengan berbasis data, fakta, hasil analisa,
interpretasi dan hipotesa mengunakan dalil dan berbagai rumus yang telah
dipelajari. Sama halnya dengan agama yang tidak bisa di voting, untuk
menentukan agama mana yang paling benar untuk seseorang.

Dalam kasus LUSI, sebagai professional kita bisa menjadi bagian dari
pemecahan masalah atau sebaliknya meramaikan masalah. Proses Voting
berlangsung 2 menit berdasarkan presentasi masing-masing 20 menit tanpa
perdebatan dan diskusi yang berarti, hanya menjawab pertanyaan dari
floor yang menunjukan majoritas  baru dalam tahap mengetahui tentang
LUSI, bukan ahli yang terlibat penelitian langsung. Apa iyaa bisa
memecahkan masalah 2.5 tahun? Kejanggalanpun terjadi saat moderator
diganti dan melarang orang2 yang dianggap berafiliasi bertanya atau
memberi komentar, praktis tidak ada diskusi ataupun rangkuman dari
masing-masing presenter. 

Menarik untuk dikaji persoalan LUSI tidak pernah selesai, bahkan
terkesan sengaja dihidupkan terus.  Kalau kita mundur selangkah dan
melihat pemberitaan lumpur seperti ada "master mind" yang menggulirkan
isu-isu tertentu dimedia secara sistimatis. Hampir bisa diprediksi kapan
isu-isu tertentu akan muncul dimedia mana, bahkan banyak isu "direcycle"
dimunculkan kembali. Kasus LUSI memang menarik dijadikan kendaraan
banyak pihak baik dalam maupun luar negeri untuk berbagai kepentingan
yang tidak jauh dari kepentingan politik, bisnis, kompetisi dan
kekuasaan. Tidak bisa dipungkiri media sangat perperan, berpengaruh dan
sering memihak.  

Apakah proses pemboran telah mengakibatkan underground blowout? Ini
masih berupa hipotesa yang masih perlu dibuktikan kebenarannya dengan
TIDAK mengabaikan fakta-fakta serta data dilapangan secara menyeluruh,
dan tidak boleh menggunakan data sepotong2 yang tidak jelas sumber serta
tidak di cross check dengan data2 lainnya dan hanya pilih data yang
menguntungkan. Judul paper dan abstract baik di AAPG Cape Town maupun di
Sediment Remobilization Conference, London, dimana ada sesi khusus LUSI
juga, menyatakan LUSI sebagai mud volcano. Salah satu pendiri gerakan
GMLL dan sebagai ketua tim independen dalam laporannya mengenai pemboran
sumur Banjarpanji kepada Menteri ESDM menyatakan "Dari evaluasi
keteknikan.... Dapat disimpulkan.... kegiatan telah dilakukan dengan
BENAR, WAJAR dan DAPAT DIPERTANGGUNG JAWABKAN secara keteknikan..."
ditulis dengan huruf besar, tanpa saya tambah atau kurangi. Selanjutnya
dalam sebuah wawancara ia menyatakan "Kalau mud volcano yang terjadi,
tidak ada hubungannya dengan sumur LBI", "Jika ini yang terjadi, maka
ini bencana alam....", "Penghentian mud volcano dalam sejarah eksplorasi
dan dari sisi bisnis sangat kecil kemungkinanya untuk dimatikan" dan
"...kalau mud volcano tidak pernah dimatikan karena memang tidak ada
sumurnya" (www.suarasurabaya.net tanggal 08/08/2006).  

Rekan inipun turut menjadi penulis paper pada AAPG yang heboh ini yang
dibuat bersama Davies dkk dengan judul yang  dimulai dengan kata-kata
"The East Java Mud Volcano,..." Ironisnya rekan ini dan kelompoknya juga
yang sangat gencar "nekat" mematikan semburan tanpa berbekal pengetahuan
yang rinci mengenai kondisi geologi bawah permukaan dengan berbagai
resikonya, meskipun ia sendiri yang juga mengatakan bahwa "mud volcano
tidak pernah dimatikan karena memang tidak ada sumurnya". Rekan2 dalam
kubunya sendiri, Tingay dan Davies juga tidak percaya mud volcano ini
bisa dimatikan, bahkan Swarbrick, rekannya dalam paper yang sama
memprediksi LUSI akan berlangsung 7-140 tahun, dengan best estimate 32
tahun, tidak jauh beda dengan prediksi seorang dosen dari ITB yang juga
masuk dalam rangkuman BPPT, yaitu 31 tahun. Relief well dengan cara-cara
yang dilakukan di Champion field Brunei hanya akan mempercepat
subsidence. Sesuatu yang akan terjadi 10 tahun lagi dipangkas,
dipercepat menjadi 6-7 tahun lagi. Kejadian di Champion, Brunei (setelah
1 minggu berdiskusi dengan Tingay), Santa Barbara, California dan
Banjarpanji juga tidak sama, tidak bisa dibandingkan apple to apple.
Sesungguhnya banyak informasi dan pelajaran yang bisa dipetik dari dua
relief well yang pernah dilakukan (e.g. Eddy Sutrisna dalam milis
[TM-ITB-Bandung] CAPE TOWN tentang Semburan Lumpur di Sidoardjo).

Pada pertemuan rutin para geologist disaat-saat munculnya LUSI yang
diprakarsai rekan mantan ketua IAGI sudah menarik beberapa kesimpulan,
antara lain lumpur keluar dari sebuah bidang, bukan lubang, sehingga
kecil kemungkinan ditutup, kalaupun berhasil sangat mungkin muncul
ditempat lain disepanjang jalur lemah sesar Watukosek yang tereaktifasi.
Solusipun sudah dipaparkan pada Workshop di BPPT yaitu mengutamakan
penanganan lumpur di permukaan,  kerusakan lingkungan yang telah maupun
yang akan terjadi dan masyarakat setempat. Prioritas memindahkan
penduduk ketempat yang lebih aman karena daerah sekitar semburan yang
mengalami amblesan secara menerus dengan semburan yang akan berlangsung
dalam jangka waktu yang lama. Langkah inipun sudah diambil dengan mulai
pindahnya warga kepemukiman baru dan meminimalisir dampak susulan atau
dampak ikutan.

Tujuan keikut sertaan kami forum2 ilimiah tak lain untuk memaparkan data
dan fakta serta mengajak para ilmuwan untuk ikut membantu memecahkan
permasalahan mud volcano yang satu ini dengan melihat data secara utuh
dan menyeluruh dan fakta yang ada termasuk dengan orang-orang yang
berseberangan dengan Lapindo. Jangan percaya sama saya, apalagi media,
tapi biarkan data dan fakta yang berbicara, tidak ada yang kami
tutup-tutupi. Bukan hanya untuk menguak apa yang terjadi, penyebab dan
pemicu mud volcano LUSI, tapi berbagai kondisi yang mungkin akan terjadi
dimasa datang, sehingga bisa mengantisipasi hal-hal terburuk yang
mungkin terjadi. 

Dua minggu yang lalu terjadi pertemuan langka diantara kubu yang silang
pendapat yaitu saling berdiskusi untuk pertama kali serta sepakat untuk
melanjutkan diskusi untuk mencari kebenaran, ini merupakan suatu
kemajuan. Davies, Tingay, Swarbrick, Manga disatu sisi serta Mazzini,
Istadi dan Sawolo disisi lain. Bahkan Davies sempat mengatakan kalau
interpretasi saya salah, saya akan berbesar hati meralat pernyataan saya
drilling sebagai penyebab keluarnya lumpur. Saya pegang kata-katanya
meskipun hampir yakin bahwa mustahil orang akan menjilat ludahnya
sendiri.

Permasalahan teknis LUSI sebenarnya tidaklah rumit kalau memang punya
itikat untuk menjadi bagian dari pemecahan masalah. Diperlukan "open
mind" dalam suatu diskusi, workshop serta debat tuntas yang tertutup
agar tidak ada pihak yang merasa kehilangan muka. Para geologist sudah
sepakat bahwa LUSI adalah sebuah mud volcano, salah satu dari empat
belas yang telah teridentifikasi sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah,
hanya masalah trigger yang belum tuntas serta faktor peran pemboran. 

Bagi yang jeli melihat atau pernah mengikuti presentasi saya, jelas saya
tidak mengatakan gempa sebagai penyebab, melainkan gerakan tektonik,
meskipun ada hubungan temporal dan spasial, sehingga tidak merasa perlu
untuk ikut-ikutan angkat tangan saat voting yang menciderai nilai
pertemuan itu sendiri (berita burungnya hanya saya dan beberapa rekan
Lapindo yang ikut voting gempa). Keyakinan saya dilandasi adanya
korelasi antara naiknya erupsi gas belerang (H2S) dan metana (CH4) dari
LUSI selalu bersamaan dengan terjadinya gempabumi bermagnitude > 3.7
pada episentrum di dalam jarak 300 km dari pusat erupsi LUSI. Gempa yang
berjarak dan bermagnitude sama dengan gempa Yogya yang terekam oleh
microseismic station diseputar LUSI berakibat pada kenaikan semburan 2
kali lipat dengan diikuti kenaikan temperatur dan erupsi gas 2-3 kali
lipat. Hal ini menunjukan terjadi perubahan pressure dynamics serta
adanya perubahan kondisi bawah permukaan LUSI setiap kali ada gempa.
Paper Harris dan Ripepe juga menunjukan hal yang sama untuk Gunung
Semeru dan Merapi 2 hari setelah gempa Yogya.

Sumur yang dituding sebagai penyebab, tidak terjadi underground blowout.
Selain "Underground blowout", ada tiga faktor lain yang harus terjadi
disumur jika semburan lumpur berasal dari sumur, yaitu "uncontrolled
kick","casing shoe breached" serta "sustained propagation pressure".
Faktor pertama, "uncontrolled kick" tidak terjadi karena sumur dalam
keadaan terkendali dan mati dalam waktu 40 menit setelah terjadinya
kick. Dari keempat faktor hanya "casing shoe breached" atau pecahnya
formasi dititik terlemah dalam sumur yang dipertentangkan. Kalaupun
pecah, sebenarnya masih dibutuhkan tekanan tinggi yang menerus untuk
dapat membuat rekahan panjang dan menahan rekahan tersebut agar tetap
terbuka agar lumpur bisa keluar. 

Fakta yang tidak bisa diabaikan adalah sumur dalam keadaan mati, tidak
mengeluarkan lumpur, cairan serta gas meskipun sumur yang merupakan
jalur termudah (least resistance path) bagi keluarnya lumpur. Sejak saat
awal debit lumpur sangat tinggi sebesar 50.000m3 atau lebih dari 300.000
bbl/day, posisi BOP (blowout preventer) dalam keadaan terbuka.
Aktifitas pemboran masih dapat dilakukan seperti fishing, cementing dan
circulating yang tidak mungkin dilakukan jika telah terjadi blowout
karena BOP pasti dalam keadaan tertutup. Dengan semburan yang sangat
besar, jika melalui lubang, maka lubang akan besar sekali dan "fish"
akan jatuh kedasar sumur, faktanya pada saat melakukan operasi snubbing
dua bulan setelah munculnya semburan, "fish" tidak bergeming, tidak
jatuh dan tetap pada posisi saat pertama kali ditinggalkan. Semburan pun
tidak terdeteksi oleh beberapa survey sebagai aliran dibelakang pipa
selubung. injectivity test disumur dengan hasil tekanan tinggi untuk
mengetahui apakah semburan berhubungan dengan sumur juga membuktikan
casing shoe tidak pecah, tidak nol seperti memompakan ban yang bocor.

Dengan berbagai kepentingan yang ikut "bermain" dan memperkeruh suasana,
makin sulit untuk menjadi bagian dari pemecahan masalah, namun kebenaran
ilimiah musti terus dicari dan diperjuangkan, meskipun tidak popular.

Wass.
Bambang Istadi


-----Original Message-----
From: R.P.Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, October 31, 2008 6:53 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Bikin njenggirat kedua di hari ini --> STOP
PRESS!! Hasil Seminar AAPG di Cape Town --



Saya kagum atas keteguhan dari Sdr. Awang ini dalam mempertahankan
pendapat 
ilmiahnya. Ini mengingatkan saya pada A.A. Meyerhoff, salah seorang
editor 
AAPG tahun 70-han yang sangat terkenal sebagai geoscientist kaliber
dunia, 
yang sampai akhir hayatnya (di tahun 90-an?) tidak dapat menerima teori 
Plate-tectonics, walaupun lebih dari 90 % (bahkan mungkin lebih dari
99%) 
geoscientist di seluruh dunia telah menerima plate-tectonics sebagai
suatu 
fakta ilmiah atau kenyataan. Beliau bahkan sempat mempublikasikan suatu 
teori tandingan berjudul "Surge Tectonics" (yang dapat menerangkan 
gejala-gejala tektonik dunia yang kelihatannya hanya dapat dijelaskan
dengan 
plate-tectonics) yang setelah ditolak oleh editor2 di majalah-majalah
ilmiah 
terkemuka di dunia akhirnya diterbitkan pula oleh Journal of SE Asia 
Geosciences.



Apakah sebenarnya yang dinamakan kebenaran ilmiah? Walaupun science
berusaha 
untuk mencapai kebenaran hakiki, namun pada hakekatnya kebenaran ilmiah 
adalah sesaat tergantung pada data-data hasil pengamatan yang ada pada
waktu 
itu. Ini sudah masuk pada realm Philosophy of Science. Sebagaimana
dikatakan 
Karl Popper, seorang science philosopher/historian, semua teori ilmiah
akan 
tumbang pada sesuatu waktu dan akan digantikan oleh teori baru, karena 
science yang sehat harus selalu berusaha apa yang dia namakan sebagai 
'falsification' Pelaku science harus terus menerus selalu berusaha 
menjatuhkan/menyalahkan (falsification) teori yang berlaku.  Thomas S.
Kuhn, 
(1962) seorang ahli fisika dan history of science terkenal dengan
dengan 
bukunya "The Structure of Scientific Revolutions" dan pencetus istilah 
"paradigm" juga mengemukakan hal yang serupa, bahkan pada perioda apa
yang 
dinamakannya sebagai 'normal science' terdapat selain teori tetapi juga 
suatu paradigm suatu set cara-cara dan metoda2 yang diterima oleh
masyarakat 
ilmiah sebagai kebenaran.



Dengan demikian dalam science apa yang dianggap benar itu adalah teori 
ataupun 'fakta' yang dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah,
bukan 
absolute truth. Jadi suatu teori atau gejala yang terus menerus muncul
dan 
digunakan serta dikutip dalam publikasi ilmiah itulah yang dianggap
benar 
karena telah diterima oleh masyarakat. Banyak teori yang menarik seperti

kepunahan masal yang disebabkan benturan meteor atau juga disebut 
'neo-catastrophism' kelihatannya belum terlihat dalam majalah-majalah
ilmiah 
seperti AAPG, GSA, Geological Society, dan kelihatannya belum diterima
oleh 
masyarakat ilmiah  walaupun sudah banyak ditayangkan di National
Geographic 
dan Discovery Channel. Juga Sequence Stratigraphy yang di industri migas
ini 
sudah seolah-olah merupakan fakta yang diterima secara umum di tahun
80-an, 
namun masih banyak kalangan masyarakat akademis yang masih belum 
menerimanya, sebagaimana tercermin dalam International Stratigraphic
Guide 
yang diterbitkan oleh International Stratigraphic Commision pada tahun
94, 
di mana Sequence Stratigraphy belum dicantumkan sebagai salah satu
kategori 
satuan stratigrafi (Entah kalau  sekarang)



Jadi suatu kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang dapat diterima oleh 
majoritas masyarakat ilmiah pada suatu saat. Maka metoda jajak pendapat 
(voting) di antara para ahli adalah sah-sah saja untuk mengetahui
pendapat 
yang didukung oleh majoritas sekelompok pakar yang terkemuka. (Ini 
mengingatkan saya pada debat Obama vs McCain, moderator perdebatan ini
tidak 
memutuskan siapa yang memang, tetapi polling (jajak pendapat) dari
berbagai 
media yang  menunjukkan berapa persen dari pemirsa yang menyatakan Obama

menang dan berapa persen yang menyatakan McCain menang). Dalam hal 
perdebatan ilmiah tentu saja tidak bisa polling dilakukan terhadap
khalayak 
ramai yang awam akan ilmu yang diperdebatkan, tentu harus terhadap pakar

yang mengikutinya.  Sebaliknya saya kira suatu keputusan yang
dikeluarkan 
oleh suatu instansi atau hasil suatu seminar sekelompok pakar yang 
terpilih/pantia perumus tidak dapat serta merta dinyatakan sebagai
kebenaran 
ilmiah. Boleh jadi kesimpulan/keputusan itu sebetulnya tidak dapat
diterima 
oleh majoritas masyarakat ilmiah yang mengikuti seminar itu. Suatu teori

untuk dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah sering memerlukan 
waktu yang lama. Sebagai contoh teori plate-tectonics yang sekarang
dianggap 
bukan lagi teori tetapi sebagai fakta ilmiah, konon katanya memerlukan
waktu 
50 tahun. Mungkin saja dalam waktu yang akan datang ada metoda yang
dapat 
memperlihatkan keadaan bawah tanah Lusi sesudah ternjadi semburan lumpur

yang memperlihatkan bahwa lumpur itu naik ke atas melalui sesar dan
bukan 
melalui lubang bor, sehingga teori-nya Sdr. Awang dapat diterima oleh 
'overwhelming majority' masyarakat ilmiah dalam forum AAPG yang sama 30 
tahun mendatang. Tetapi Sdr. Awang tidak mau menunggu sampai 30 tahun
lagi, 
mungkin harus cari forum internasional lagi tahun depan, di Jepang 
barangkali?

Ada juga yang berpendapat bahwa 42 orang itu tidak dapat mewakili
majoritas 
para ahli di dunia, atau moderator-nya curang dan berat sebelah, dan
oleh 
karenanya  yang pro bencana alam memboikotnya dengan abstain.Tetapi 
kelihatannya ada juga yang tidak ikut boikot dan mengacungkan tangannya.

Adanya kreativitas secarara spontan atas response penonton itu juga 
menunjukkan tidak ada rekayasa.  Kalau begitu ya kita tunggu saja
terjadinya 
perdebatan terus menerus pada forum internasional di berbagai negara di 
tahun-tahun mendatang sehingga semua yang berkepentingan puas (yang
tidak 
mungkin tercapai). Mungkin akan memakan waktu 50 tahun juga. Sementara
itu 
kita bisa juga memperhatikan berapa paper di majalah2 geosciences yang 
terkemuka yang akan merujuk pada paper-nya Davies atau papernya Mazzini.
Di 
lain fihak saya yakin bahwa text-books yang akan datang  mengenai
drilling 
akan merujuk pada Lusi ini sebagai studi kasus apa akibatnya kalau
prosedur 
tidak diikuti. Saya ucapkan kepada Sdr. Awang selamat berjuang mencari 
kebenaran

----- Original Message ----- 
From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, October 30, 2008 2:34 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Bikin njenggirat kedua di hari ini --> STOP 
PRESS!! Hasil Seminar AAPG di Cape Town --


Wah Pak Koesoema, saya tak pernah menganggap serius hasil voting ini,
maka 
saya tak merasa kecil hati, sedih pun tidak sama sekali. Bahkan saya tak

memilih apa-apa saat voting dilakukan sebab saya tak setuju dengan
voting 
dalam hal ini. Saya hanya miris dengan dramatisasi hasil voting ini di 
Indonesia, seolah itu keputusan resmi AAPG dan seolah itu suatu
keputusan 
kebenaran. Saya tak akan menunggu 30 tahun lagi untuk mengajukan apa
yang 
saya yakini. Kemarin-kemarin pun sudah saya ajukan. Kebenaran ilmiah
bukan 
dominasi pemihaknya tentu. Telah banyak kita punya contoh tentang ini
dalam 
sains.

salam,
awang

--- On Wed, 10/29/08, R.P.Koesoemadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: R.P.Koesoemadinata <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Bikin njenggirat kedua di hari ini --> STOP 
PRESS!! Hasil Seminar AAPG di Cape Town --
To: [email protected]
Date: Wednesday, October 29, 2008, 11:38 PM

Betul sekali pendapat ini. Siapa tahu 10, 20 atau 50 tahun yang akan
datang
didapatkan data baru mengenai Lusi ini sehingga pendapat yang sekarang
didukung hanya oleh 3 orang ini ternyata mendapatkan dukungan dari lebih
dari 50 orang ahli berkaliber dunia dalam forum yang sama. Tidak ada
kebenaran absolut dalam science sebagai mana dikemukakan science
philosopher/historian Karl Popper itu. Namun itulah keadaan sekarang
berdasarkan data-data yang ada: 42 lawan 3. Jadi jangan kecil hati Sdr.
Awang, silahkan menunggu 30 tahun lagi.
Wassalam
RPK
----- Original Message ----- 
From: "Ade Kadarusman" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, October 29, 2008 6:59 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Bikin njenggirat kedua di hari ini --> STOP
PRESS!! Hasil Seminar AAPG di Cape Town --



Weleh-weleh, kebenaran ilmiah ditentukan oleh suatu voting,
jadi yang hadir disana bukan geoscientist tetapi politikus yang
memaksakan
kebenaran politik...waduh maklum mendekati suhu pemilu baik di US
maupuan di
negri kita sendiri

Saya jadi teringat kembali dogma suatu 'hakekat suatu kebenaran
ilmiah/scientifik', seorang Science Philosopher adalah Karl Popper
(Denmark), yang pengikutnya dikenal, sebagai kaum Popperian. Salah satu
hakekat sciences yang terkenal dari Popper adalah `falsification
principle`.
prinsip ini menyatakan setiap teori harus diusahakan terus untuk
disanggah
atau disalahkan. Jika teori ini lolos dari usaha-usaha research untuk
menyanggahnya, maka teori ini akan bertahan dan dianggap sudah mencapai
kebenaran mutlak. Kebenaran absolute hanya milik yang Maha Kuasa.

Namun penganut prinsip ini berpendapat bahwa semua teori bagaimana
kokohnya
pun pada suatu waktu akan tumbang pula dengan penemuan-penemuan fakta
baru.
Disini dapat dikatakan bahwa science (kebenaran ilmiah) tidak mungkin
mencapai kebenaran absolut dan kebenaran science hanya bersifat
sementara,
selama tidak ada fakta yang menyalahkannya atau menyanggahnya.

Biarkan waktu dan penemuan-penemuan baru atau fakta baru yang akan
menjawab
kebenaran ilmiah suatu lumpur Lapindo, dua tahun, sepuluh tahun atau
ratusan
tahun bukan masalah mana yang benar dan mana yang salah.
paling penting adalah menyelamapkan manusia-manusia yang terkena dampak
dari
lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo ini

Salam dari Sorowako
Ade Kadarusman



--- On Wed, 10/29/08, Surya Sudana <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

From: Surya Sudana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [iagi-net-l] Bikin njenggirat kedua di hari ini --> STOP
PRESS!! Hasil Seminar AAPG di Cape Town --
To: [email protected], "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia"
<[EMAIL PROTECTED]>, "migas indonesia"
<[EMAIL PROTECTED]>,
[EMAIL PROTECTED], "Serba_KL Serba_KL"
<[EMAIL PROTECTED]>,
[EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, October 29, 2008, 10:55 AM

Saya kira yg pinter nglawak Cuma bangsa kita saja...ternyata "LONDHO"
juga lebih pinter bikin dagelan ya....

Lha kalo dr 74 ahli itu terdiri dr 5 orang geologist & 69 drilling
engineer,
Trus diadakan voting....heee...mas Thukul kalah lucu dg lawakan
ini..Tapi yg paling aneh ya spt kata Rovicky, sebuah keputusan science
ditentukan dg voting...opo tumon ??



-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, October 29, 2008 4:05 PM
To: [email protected]; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia; migas
indonesia; [EMAIL PROTECTED]; Serba_KL Serba_KL;
[EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Bikin njenggirat kedua di hari ini --> STOP
PRESS!! Hasil Seminar AAPG di Cape Town --

2008/10/29 Mohammmad Yasin Abdulfatah <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> Harusnya gmn pakdhe..? ada 74 ahli dan semuanya berdebat.. apa yang
> menang harus yang paling sangar? ato yang dibacking aparat? atau
> diselesaikan tanpa ada kesimpulan?
>
> hmmm

Sains itu bukan sebuah keputusan.
Science itu sebuah pendapat atau opini.
Yang sifatnya dinamis bisa berubah-ubah. Ini kan mirip pertanyaan
apakah cahaya itu materi atau gelombang ? Sampai kapanpun keduanya
akan solid dan valid, karena bersifat situasional.

Ini yang saya sayangkan, sebuah organisasi ilmuwan mendunia AAPG
mengintervensi sebuah keputusan ilmiah, lak jadi aneh.
Apakah GW akibat manusia ataukah akibat proses alami. Itu saja
dibiarkan berjalan sendiri. Masing-masing secara ilmiah boleh saja
menganggap pendapatnya benar.

Kalau saja AAPG ini badan hukum dunia, okey lah.
Kalau saja AAPG ini lembaga arbritase, boleh lah.
But, AAPG ini sebuah organisasi ilmiah !

Kalau keputusan yang diambil oleh DPR ataupun oleh lembaga
pemerintahan ya silahkan pakai voting.

RDP
"AAPG active member"


>
> On 10/29/08, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> > - Yang setuju LUSI akibat bencana alam (mud volcano) --> 3
orang.
>> > - Yang setuju LUSI akibat kesalahan pemboran --> 42 orang.
>> > - Yang campuran antara 2 opini di atas --> 13 orang.
>> > - Yang masih merasa belum tuntas diskusinya --> 16 orang.
>>
>> Yang bikin aku njenggirat kedua hari ini adalah sebuah diskusi ilmiah
>> yang memutuskan fenomena alam dengan cara VOTING !!!
>> Howgh !!
>>
>> RDP
>> --
>> Dongeng hari ini :
>>
http://rovicky.wordpress.com/2008/10/29/eksekusi-dan-kontribusi-bukan-se
kedar-diskusi/
>>
>> >
>>
>
> --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
> Mohon menggunakan mailist sesuai dengan peruntukannya.
> IATMI-KL : [EMAIL PROTECTED]
> Cerita santai : [EMAIL PROTECTED]
> Postingan bebas selama tak menyerang SARA : [EMAIL PROTECTED]
> -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
>
>



-- 
Dongeng hari ini :
http://rovicky.wordpress.com/2008/10/29/eksekusi-dan-kontribusi-bukan-se
kedar-diskusi/

------------------------------------------------------------------------
--------
serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL
pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI...
------------------------------------------------------------------------
--------
ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38
dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG
* mungkin di semarang
* mungkin pula di solo
* mungkin juga join dg HAGI dll.
------------------------------------------------------------------------
-----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.
---------------------------------------------------------------------


______________________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email
______________________________________________________________________

______________________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email
______________________________________________________________________

------------------------------------------------------------------------
--------
serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL
pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI...
------------------------------------------------------------------------
--------
ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38
dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG
* mungkin di semarang
* mungkin pula di solo
* mungkin juga join dg HAGI dll.
------------------------------------------------------------------------
-----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted
on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
IAGI
and
its members be liable for any, including but not limited to direct or
indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use,
data
or
profits, arising out of or in connection with the use of any information
posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------









__________ NOD32 3244 (20080705) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com


------------------------------------------------------------------------
--------
serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL
pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI...
------------------------------------------------------------------------
--------
ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38
dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG
* mungkin di semarang
* mungkin pula di solo
* mungkin juga join dg HAGI dll.
------------------------------------------------------------------------
-----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted 
on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
IAGI 
and
its members be liable for any, including but not limited to direct or 
indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use,
data 
or
profits, arising out of or in connection with the use of any information

posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------









__________ NOD32 3244 (20080705) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com


------------------------------------------------------------------------
--------
serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL
pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI...
------------------------------------------------------------------------
--------
ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38
dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG
* mungkin di semarang
* mungkin pula di solo
* mungkin juga join dg HAGI dll.
------------------------------------------------------------------------
-----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.
---------------------------------------------------------------------


--------------------------------------------------------------------------------
serah-terima pp-iagi: senin sore, 13 oktober 2008
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL
pasukan sedang disusun, hanya satu IAGI...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo, segera pula siapkan utk PIT IAGI ke-38
dg tuan-rumah adalah PENGDA JATENG
* mungkin di semarang
* mungkin pula di solo
* mungkin juga join dg HAGI dll.
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke