Pengiriman ulang.
 
salam,
awang

--- On Fri, 11/14/08, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Capetown : Perbenturan dan Perpisahan Antarbenua
To: "IAGI" <[email protected]>, "Forum HAGI" <[EMAIL PROTECTED]>, "Geo Unpad" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Eksplorasi BPMIGAS" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, November 14, 2008, 12:39 PM







Ini cerita tersisa dari Capetown, sebuah kota nan indah yang terbuai di tiga 
bukit dan pegunungan Paleozoikum : Devil’s Peak, Table Mountain, dan Lion’s 
Head. Kota ini pun menjadi saksi di mana Samudra Atlantik bertemu dengan 
Samudra Hindia. Mungkinkah menyelam sekaligus di dua samudra ? Mungkin saja, 
salah satunya di perairan sekitar Tanjung Harapan di sebelah selatan Capetown. 
Bagaimana uniknya ikan-ikan dari dua samudra bertemu di satu tempat ditunjukkan 
oleh aquarium besar di Waterfront sea world, suatu kawasan wisata yang paling 
banyak dikunjungi turis di Capetown. Dulu (1488) Bartolomeus Dias dan para 
pelautnya dari Portugal menamai tanjung di ujung selatan Afrika dekat pertemuan 
kedua samudra itu sebagai Tanjung Badai akibat kondisi cuaca dan laut yang 
ganas,  tetapi  raja Portugal  menggantinya sebagai Tanjung Harapan (Baik) 
–Cape of Good Hope sebab justru penemuan Dias berguna untuk membuka jalan ke 
wilayah tropika. 
  
Terbang dari Jakarta via Singapura lalu melanjutkan ke Johannesburg, Afrika 
Selatan tidak terlalu melelahkan. Total di udara sekitar 13 jam, lebih 
melelahkan apabila menyeberangi Samudra Pasifik dari Singapura ke Los Angeles. 
Baru kali ini saya hendak ke Afrika. ”Ke Afrika ? Jauh sekali.”, seru orang 
yang bertanya kepada saya dua minggu lalu. Sebenarnya, pergi ke Afrika dari 
Jakarta justru lebih dekat dibandingkan dengan kalau kita pergi ke Amerika. 
Terbang dari Singapura ke Johannesburg, pesawat diatur agar terbang dengan 
azimuth yang lurus terus ke arah baratdaya, melintasi Samudra Hindia di antara 
Sumatra dan Afrika. Saya tiba-tiba ingat bahwa pada Desember 2004, gelombang 
tsunami dari utara Simeulue pernah melintasi jarak yang sama dari Sumatra ke 
Afrika dalam beberapa jam saja. 
  
Karena terbang malam dan tinggi, tentu tak terlihat apa-apa di bawah sana. 
Menjelang subuh di Afrika, yang lebih terlambat lima jam daripada waktu di 
Jakarta, saya dapat melihat Madagaskar, pulau besar di sebelah timur Afrika 
Selatan. Konon zaman dahulu para pelaut Indonesia kerap mendatangi pulau ini 
untuk berdagang, bahkan sampai masuk ke daratan Afrika bagian barat. Pesawat 
mendarat di Johannesburg pada pagi hari. Akhirnya, saya menginjak benua Afrika, 
sebuah benua dengan keunikan tersendiri. 
  
Saya beruntung memilih kursi di sebelah jendela saat melanjutkan  terbang dari 
Johannesburg ke Capetown, kebetulan juga pesawat tidak terbang terlalu tinggi. 
Tak hentinya saya terkagum-kagum melihat pemandangan di bawah : pegunungan 
lipatan dan tinggian-tinggian pegunungan masif di bagian selatan Afrika Selatan 
yang diapit Samudra Hindia di sebelah selatan dan Karoo Plato/Basin di sebelah 
utaranya.  Jalur pegunungan lipatan ini dalam peta-peta tektonik regional 
disebut Cape Fold Belt. 
  
Memasuki Capetown, pesawat menukik dan bermanuver memutar di perbatasan antara 
Samudra Atlantik dan Hindia, maka tersuguhlah pemandangan yang sangat 
spektakular. Kompleks Cape Fold Belt mencapai ujung baratnya di sini, di 
Capetown, dan terpecah terdigitasi seperti jari-jari dari sebuah lengan menjadi 
tiga puncak gunung terkenal di atas Capetown : Devil’s Peak, Table Mountain, 
dan Lion’s Head. Ketiga puncak gunung ini pula yang dijadikan AAPG sebagai logo 
pertemuan internasionalnya tahun ini. Dari udara, kota Capetown seperti 
bersimpuh dan terbuai di kaki ketiga puncak gunung Prakambrium-Paleozoikum ini. 
  
Saya akan menceritakan tentang Pegunungan Cape Fold Belt ini, jalur pegunungan 
paling selatan di benua Afrika. Pegunungan Cape Fold Belt, yang ujung baratnya 
terpecah dan masuk ke dalam kota Capetown sebagai puncak-puncak Devil’s Peak, 
Table Mountain, dan Lion’ Head merupakan pegunungan hasil benturan antarbenua. 
Secara genetik, pegunungan ini seperti Pegunungan Himalaya yang merupakan 
pegunungan benturan antara benua India dan sebagian Eurasia. Bila Pegunungan 
Himalaya terbentuk pada 55 juta tahun yang lalu, maka Pegunungan Cape Fold Belt 
terbentuk pada sekitar 250 juta tahun yang lalu. Pegunungan lipatan Cape Fold 
Belt tersusun oleh kelompok batuan bernama Cape Supergroup, suatu superkelompok 
batuan sedimen (konglomerat, tilit-endapan gletsyer, batupasir, batulanau, dan 
batulempung) yang berumur 510-340 juta tahun (Kambrium-Karbon bawah). Tiga 
pegunungan/gunung di Capetown sendiri disusun oleh batupasir Table Mountain 
Group berumur 510-390 juta
 tahun (Kambrium-Devon). Pegunungan ini duduk di atas batuan granit (Cape 
Granite Suite) berumur 540 juta tahun dan sekis dan filit (Malmesbury) berumur 
540-560 juta tahun. Bila batas bawah Kambrium adalah 542 juta tahun yang lalu 
(Gradstein et al., 2004), maka umur sekis ini adalah PraKambrium atau lebih 
tepatnya NeoProterozoikum (zaman Ediacara). Beruntung saya mendapatkan sampel 
batuan filit Malmesbury PraKambrium ini saat jalan-jalan di kaki Table 
Mountain, itulah koleksi batuan saya yang paling tua dalam bentuk gen








      

Kirim email ke