Earthquake doublet di sebelah barat Manokwari hari Minggu kemarin yang 
masing-masing bermagnitude 7,6 Mw dan 7,4 Mw dan berjarak periode 2 jam 50 
menit (yang 7,4 Mw bukan aftershock yang 7,6 Mw, tetapi triggered EQ) 
berepisentrum di daratan di wilayah Pegunungan Tamrau. 
 
Kedua gempa menunjukkan focal mechanism thrust dengan arah sejajar terhadap 
zone subduksi kerak samudra Pasifik di sebelah utara Kepala Burung, 
jurus/kemiringan  kedua thrust pada EQ doublet ini masing2 112 NE/36 deg dan 
104 NE/29 deg. Dengan kedalaman hiposentrum sekitar 35 km ini jelas gempa di 
kerak akresi overriding plate, tetapi bukan di kerak kontinen, tetapi di kerak 
akresi basic volcanics Tamrau di sebelah barat Manokwari.
 
Kalau gempa ini berepisentrum di laut, jelas merupakan tsunami-genic EQ, tetapi 
pusat gempa di darat, mengapa menimbulkan tsunami ? (kalau pengukuran survey 
ketinggian permukaan laut oleh stasiun pasang surut Bakosurtanal benar, dan 
bukan karena efek angin permukaan). Kemungkinan terbesar adalah tsunami akibat 
landslides/longsoran sebab dislokasi lapisan batuan/patahan terjadi di darat, 
tak ada kolom air di atasnya. 
 
Kedua gempa berpasangan ini (EQ doublet) mungkin terlalu kuat untuk stabilitas 
batuan di pinggir pantai yang terbuat dari basic volcanics. Kerak kontinen yang 
masif di wilayah Kepala Burung ada di selatan Sesar Sorong, sedangkan kedua 
gempa berlokasi di sebelah utara Sesar Sorong pada kerak hasil akresi yang 
pasti kalah stabil dibandingkan kerak kontinen di Kemum High Kepala Burung.
 
Longsoran batuan tak stabil dari sekitar wilayah gempa di pinggir pantai utara 
Kepala Burung masuk ke laut menggantikan kolom air yang segera bergerak ke 
tempat lain, ke sekitarnya mengikuti Hukum Archimedes, dan menyebabkan tsunami 
di area dengan dasar laut yang mendangkal. 
 
Sebuah tsunami akibat landslides kebanyakan bersifat lokal, tidak transocean 
distance. Kalau anomali ketinggian permukaan laut terukur juga di stasiun 
Chichizima Jepang setinggi 15 cm berarti itu sudah transocean. Beberapa ahli 
memikirkan bahwa landslides tsunami bisa transocean distance, hanya buktinya 
belum ada. 
 
Seperti yang ditulis Pak Rovicky, tahun 1998 Papua utara pernah mengalami 
tsunami akibat longsoran, itu dipublikasi oleh Tapin (2001) : Local tsunamis - 
Geoscientist, 11-8, 4-7. Mungkin tsunami yang terdeteksi ini sama juga 
mekanismenya, tetapi hanya survey geomarin yang akan membuktikan apakah benar 
tsunami ini disebabkan longsoran bawah laut.
 
salam,
awang

--- On Wed, 1/7/09, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:

From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Re: Tsunami di Manokwari Terdeteksi
To: "Ma'rufin Sudibyo" <[email protected]>, "[email protected]" 
<[email protected]>, "Forum HAGI" <[email protected]>
Date: Wednesday, January 7, 2009, 7:55 AM

Tsunami ini karena dislokasi patahan atau karena longsoran ya ?
Tsunami dulu tahun 1988 di utara Papua Nugini ada yang menduga akibat
longsoran.

RDP

On Wed, Jan 7, 2009 at 8:50 AM, Ma'rufin Sudibyo <[email protected]>
wrote:

> Tsunami di Manokwari Terdeteksi
> Rabu, 7 Januari 2009 | 03:00 WIB
>
> Jakarta, Kompas - Dua gempa tektonik berkekuatan di atas M 7 atau 7 skala
> Richter di utara Kepala Burung Papua, Minggu (4/1), berdasar rekaman
Stasiun
> Pasang Surut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional diketahui telah
> menimbulkan tsunami setinggi 80 sentimeter di Manokwari, 35 cm di Biak,
dan
> 20 cm di Jayapura.
>
> Parluhutan Manurung, Kepala Bidang Medan Gaya Berat dan Pasang Surut
> Bakosurtanal, Selasa (6/1), menjelaskan, gempa pertama (7,9 SR) pada pukul
> 19:43:51 UTC/GMT (04:43:51 WIT) menimbulkan tsunami dengan kecepatan
sekitar
> 500 kilometer per jam. Manokwari berjarak 140 km dari pusat gempa terkena
> terjangan gelombang pasang 17 menit setelah gempa.
>
> Gempa kedua (7,6 SR) pada 7:33:40 WIT pusat gempanya lebih dekat ke
> Manokwari, 77 km. "Gelombang kedua datang 15 menit berikutnya disusul
> gelombang ketiga sekitar interval waktu yang sama. Ini bukan gelombang
> tertinggi sepanjang periode gempa susulan," ujarnya. Setelah gempa
kedua,
> datang gelombang yang lebih besar setinggi 0,80 meter pada pukul 8:32
WIT—60
> menit setelah gempa kedua terjadi.
>
> Stasiun Pasang Surut Jayapura, ibu kota Provinsi Papua, lebih dari 800 km
> dari pusat gempa, mencatat tsunami 0,20 m. Tsunami ini pertama mencapai
> pantai Jayapura 95 menit setelah gempa pertama dengan kecepatan 500 km per
> jam.
>
> Di Pulau Biak, sekitar 300 km dari pusat gempa, tsunami tiba 42 menit
> setelah gempa pertama dengan tinggi 0,35 m. Kecepatannya sekitar 430 km
per
> jam.
>
> Tsunami, menurut pakar tsunami dari ITB, Hamzah Latief, juga dilaporkan
> PARI (Port and Airport Research Institute) Jepang. Tinggi tsunami sekitar
15
> cm dari tinggi alat pemantau pasang surut (tide gauge ) di Pulau
Chichizima,
> pulau paling selatan di Jepang yang berjarak ribuan km dari utara Papua.
>
> *Tsunami di Papua*
>
> Menurut Parluhutan, tinggi gelombang dan kecepatan penjalaran tsunami
> tergantung jarak dari pusat gempa dan kedalaman laut. Laut berkedalaman
> 4.500 m kecepatan tsunaminya bisa mencapai 700 km per jam, tetapi tinggi
> gelombangnya rendah seperti riak air. Namun ketika mencapai perairan
> dangkal, kecepatannya akan berkurang drastis dan bisa sangat membahayakan
> karena gelombang berubah seperti tembok air yang siap tumpah ke pantai.
>
> "Fenomena ini ibarat mobil kencang yang direm mendadak menjelang
gerbang
> tol," kata Parluhutan.
>
> Saat ini pemantauan tsunami di kawasan timur laut Indonesia dilakukan di
> stasiun pengamatan pasang surut di tiga pelabuhan, yaitu Manokwari, Biak,
> dan Jayapura.
>
> "Data belum real time karena masih menggunakan komunikasi data
GSM," ungkap
> Parluhutan.
>



      

Kirim email ke