Menarik membaca sebuah artikel di newsletter "AAPG Explorer" terbaru (December, 
2008) berjudul, "Mud Volcano Cause Discussed : Opposing views 'refereed' in 
Cape Town".
 
Menarik karena ditulis langsung oleh John Underhill, moderator perdebatan LUSI 
di pertemuan tahunan internasional AAPG tahun lalu bertempat di Cape Town, 
Afrika Selatan. John menceritakan alasan mengapa ia mengadakan voting. John 
juga menggunakan pengalamannya sebagai wasit sepak bola FIFA untuk menangani 
perdebatan itu. John Underhill telah menjadi wasit sepak bola sejak ia masih 
mahasiswa, 27 tahun berpengalaman sebagai wasit, dan telah sekitar 1500 
pertandingan diwasitinya. Pada "waktu senggangnya", John adalah seorang dosen 
stratigrafi di School of Geosciences, University of Edinburgh.
 
Bagaimana seorang wasit sepak bola menangani dan menengahi sebuah perdebatan 
ilmiah geologi tentang asal-muasal LUSI tentu punya cerita sendiri, silakan 
dibaca saja di AAPG Explorer edisi Desember 2008 halaman  32-33 bagi anggota 
AAPG. Kalau dalam pertandingan sepak bola, seorang wasit bisa adil, bisa berat 
sebelah, bisa mendapatkan penghargaan FIFA, tetapi bisa juga dipukuli pemain, 
tim ofisial, dan penonton; maka bagaimana performance John Underhill sebagai 
wasit perdebatan asal LUSI tentu hanya bisa disaksikan oleh yang hadir di sana 
- termasuk saya.
 
Kali ini saya hanya ingin meluruskan beberapa kalimat yang ditulis John 
Underhill yang dalam pandangan saya sebagai yang hadir di sana tidak sesuai 
dengan kenyataannya.
 
"I saw my role very much as a conductor of proceedings as anything and had a 
wish simply to keep a 'light touch on the tiller' so as to allow each of the 
speakers the best opportunity to present their cases, while also to maximize 
audience participation and discussion." - kenyataannya John Underhill melarang 
setiap peserta yang punya hubungan dengan Lapindo mengajukan pertanyaan kepada 
Richard Davies dan Mark Tingay. Maka beberapa orang Indonesia yang hadir di 
sana berkali-kali mengacungkan tangan minta kesempatan bertanya tak dilayani, 
padahal belum tentu juga orang2 Indonesia ini punya hubungan dengan Lapindo. Di 
sisi lain, kolega2 Richard Davies dari Inggris dan Mark Tingay dari 
Australia, termasuk John Kaldi, terus diizinkan bertanya kepada Adrian Mazzini 
dan Pak Rocky Sawolo dari kubu gempa.
 
"I wished to follow the old (and in my view, correct) adage that "the best 
referees are the ones that you do not notice" - kenyataannya, John Underhill 
adalah sesama orang Inggris dan teman Richard Davies serta Mark Tingay, dan di 
antara peserta pun banyak penanya dari Edinburgh University. Buat mereka, John 
bukan orang asing. 
 
"Consequently, I set about outlining the debating rules so as to avoid 
distracting interjections from protagonists in much the same way that a referee 
imposes authority on a game in the early stages." - kenyataannya, aturan 
berlaku tidak sama sebab seperti ditulis di atas kesempatan bertanya tak 
diberikan kepada orang2 yang punya hubungan dengan Lapindo, tetapi karena wasit 
berkuasa, seperti ditulisnya, aturan harus diikuti walaupun terasa tidak adil.
 
"Informed questions came from members of the audience at the end of each talk, 
each of whom, as I had requested, identified themselves and their affiliations, 
to ensure full participation beyond the main combatants to encourage and ensure 
independence" - kenyataannya partisipasi penuh dari kedua kubu tak diperoleh 
sebab ada pelarangan bertanya di satu pihak. Seharusnya para 
pembicara dibiarkan berdebat, serang-menyerang di antara mereka, disaksikan 
penonton, itu baru perdebatan, ketika Mazzini mendebat Davies, John 
menghentikannya. Di luar, Mazzini berkata, "saya bisa saja mendebat sengit 
Davies, tetapi saya tak mau terpancing menjadi emosional".
 
Satu yang harus diperhatikan dari tulisan John Underhill yang telah 
disalahtangkapi oleh media2 adalah bahwa yang hadir di ruang perdebatan itu 
bukan 74, yang hadir di ruang itu lebih dari 74, hitungan cepat saya sekitar 
125 orang. Yang ikut menunjuk tangan dalam voting ada 74 ("Of the 74 members of 
the audience that voted..."). 
 
Bagaimana sikap AAPG atas voting LUSI di pertemuannya itu ? Menarik untuk 
disikapi, dan itu tertulis dalam kotak khusus di artikel ini juga yang berjudul 
"AAPG Non-Endorsement Policy" (AAPG Explorer December 2008 p. 32)
 
"AAPG Non-Endorsement Policy. It is a stated policy that AAPG neither endorses 
nor recommends any products or services that may be available in any way cited, 
used or discussed in AAPG copyrighted publications or in presentations at 
events associated with AAPG. The voting process during a session at the AAPG 
International Conference and Exhibition held in Cape Town was a decision by the 
moderator and only reflected opinions of a group of individuals in the session 
room at that time. The action in no way should imply the endorsement of the 
Association, nor should it be considered a scientific validation of the 
comments made one way or the other during the session."
 
Tepat, maka saya dari awal pun tak pernah menganggap serius hasil voting ini. 
Kalau ada yang menganggapnya serius bahkan dibesar2kan sebagai keputusan final 
ahli2 bertaraf internasional -seperti ramai diberitakan media2 Indonesia - 
hendaknya mencermati apa yang disebutkan di dalam AAPG Non-Endorsement Policy 
tersebut.
 
Demikian, voting memang tak akan pernah memberikan keputusan final, sebab tetap 
ada pro- dan kontra- yang tertinggal. Musyawarah untuk mufakat adalah 
satu-satunya jalan, tetapi belum tentu dapat tercapai ke arah itu, apalagi 
kalau masalahnya kompleks. Kalau harus dibiarkan terbuka karena ketidakmampuan 
dan ketidakmungkinan, biarkan saja terbuka. Kita harus mengakui bahwa kita tak 
sepenuhnya memahami apa yang terjadi di bawah sana.
 
salam,
awang
 
 


      

Kirim email ke