Sebuah gempa bermagnitude besar (7,4 SR / 7,2 Mw) menggoncangkan Laut Maluku 
dan pulau2 di sekitarnya di gugusan kepulauan Sangir/Sangihe - Talaud pada 
Kamis dini hari kemarin 12 Februari 2009 pukul 01.34 WITA. 
 
Gempa yang menyerang di tengah orang2 Sangir-Talaud tertidur lelap itu 
telah merusakkan 700 bangunan, hampir setengahnya rusak berat, melukai 42 orang 
: 10 luka berat,  2 tewas. Sekitar 5000 orang terpaksa mengungsi dan tidur di 
udara terbuka. Penduduk belum mau kembali ke rumahnya masing-masing sebab 
selain rusak juga telah terjadi sekitar 40 kali gempa susulan bermagnitude di 
sekitar 4 Mw, dan kelihatannya telah terjadi pemicuan beberapa gempa baru 
bermagnitude 6 Mw.
 
Secara seimo-tektonik, wilayah ini adalah wilayah yang paling aktif di dunia, 
juga yang paling unik secara tektonik dengan terjadinya double subduction yang 
polaritasnnya saling berpunggungan dan membenturkan dua prisma akresi serta 
sistem forearc yang berlainan.
 
Data USGS menunjukkan bahwa episentrum gempa berpusat di koordinat 3.902 deg N, 
126.400 deg E. Kedalaman pusat gempa 20 km, magnitude 7.2 Mw. Lokasi ini berada 
di Laut Maluku di tengah antara Pulau Talaud dan Pulau Sangihe, 320 km UTL dari 
Manado. Berdasarkan Global CMT Moment Tensor Solution, gempa disebabkan 
pematahan naik thrust dengan jurus 181 deg NE dan kemiringan 37 deg.
 
Sebenarnya, ini berpotensi sebagai tsunamigenic earthquake. Tetapi dilaporkan 
tidak terjadi tsunami, baik oleh Pemerintah Indonesia, Jepang, maupun Amerika 
Serikat. Semua syarat tsunami terpenuhi (magnitude > 6.5 Mw, episentrum di 
laut, pematahan dip-slip, dan kedalaman dangkal 20 km). Walaupun ini thrust, 
bukanlah mega-thrust ala gempa Aceh Desember 2004 atau gempa Pangandaran Juli 
2006 yang menyebabkan tsunami.
 
Penjelasan mengapa tak terjadi tsunami barangkali bisa dijelaskan oleh asal 
gempa yang terjadi di sedimen akresi hasil benturan dua sistem subduction yang 
saling berbenturan di Laut Maluku. Dengan kedalaman gempa 20 km, diperkirakan 
sumber patahan bukan pada oceanic slab, tetapi pada sedimen akresi yang asalnya 
melange prisma akresi atau melange di bawah forearc yang saling berbenturan 
yang diendapkan di atas oceanic slab.
 
Gempa terjadi di zone benturan Laut Maluku. Zone ini secara tektonik terletak 
di complex junction antara Eurasian, Australian, Pacific, dan Philippune Sea 
plates. Di wilayah ini ada oceanic slab yang menunjam ke barat di bawah busur 
volkanik Sangihe, dan ada oceanic slab yang menunjam ke timur di bawah busur 
Halmahera. Kedua busur volkanik ini aktif dan selalu aktif seraya gempa 
menggoncangnya. Lokon, Klabat, Soputan ada di sisi barat (Sangihe), sementara 
Gamalama, Gamkonora ada di sisi timur (Halmahera). 
 
Karena di sisi luar dari palung subduksi  ada prisma akresi melange; maka di 
sistem subduksi yang saling memunggung ini kedua sistem melange dari kedua 
oceanic slab duduk di tengah punggungnya. Dengan berjalannya subduksi ala 
vonveor belt maka lama-kelamaan kedua sistem melange ini berbenturan. Pulau 
Talaud adalah salah satu punggung tertinggi zone benturan di Laut Maluku ini. 
Pulau ini seluruhnya disusun oleh melange. Di sebelah selatan ada Pulau Mayu, 
yang disusun melange juga; maka biasanya para ahli tektonik menyebutnya sebagau 
Talaud-Mayu Ridge.
 
Fokus2 gempa yang terjadi di wiayah ini bila diplot menunjukkan keberadaan dua 
zone Wadati-Benioff yang saling menjauh dari Laut Maluku, menunjukkan 
keberadaan dua oceanic slab yang bersubduksi saling berpunggungan. Gempa dini 
hari kemarin terjadi di wilayah sedimen prisma akresi di atas punggung benturan 
ini. Rigiditas batuan sedimen tentu lain daripada rigiditas oceanic slab. 
Barangkali kita bisa belajar dari kejadian gempa kemarin bahwa thrust pada 
prisma akresi walaupun dangkal dan gempanya kuat belum tentu tsunami-genic, 
bila dibandingkan dengan mega-thrust pada oceanic slab yang di atasnya ada 
kolom laut.
 
Penduduk Talaud memang hidup di atas pulau melange di atas punggung yang 
menggelincir dan menunjam ke barat dan timur, lalu merupakan wilayah yang 
paling aktif di dunia. They are living at risk on the earthquake crest !
 
Semoga korban tewas tak bertambah, dan segera datang pertolongan. 
 
salam,
awang


      

Kirim email ke