Pak Junrial, Bila rembesan di kebun saudara Pak Junrial itu masih ada, bagus bila diplot di peta geologi permukaan yang cukup detail, lalu dilihat penampang geologinya. Nanti akan diketahui dari batuan mana rembesan itu berasal. Yang penting juga adalah melakukan serangkaian analisis geokimia kepada rembesan minyak itu. Ini akan memberi tahu kita sifat batuan induk yang telah menggenerasikan minyak tersebut. Semua ini akan menjadi masukan yang baik bagi play type di Bengkulu. Sekitar akhir tahun nanti ada rencana kegiatan fieldtrip ke Bengkulu dari sebuah organisasi profesi, informasi dari Pak Junrial ini akan berharga, nanti kami akan hubungi lagi Pak Junrial. Terima kasih. salam, awang
--- On Wed, 3/18/09, Junrial Hairul Huzaen <[email protected]> wrote: From: Junrial Hairul Huzaen <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Tanya Cekungan Bengkulu To: [email protected] Date: Wednesday, March 18, 2009, 10:29 AM Pak Awang, Dulu saudara saya yang kebetulan punya kebun di Bengkulu selatan menemukan rembesan minyak di kebunnya. Mungkin salah satu reservoir Paleogen tsb yg tersingkap di permukaan. ----- Original Message ---- From: Awang Satyana <[email protected]> To: Geo Unpad <[email protected]> Cc: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]> Sent: Wednesday, March 18, 2009 5:32:14 AM Subject: [iagi-net-l] Tanya Cekungan Bengkulu Berikut diskusi saya atas pertanyaan seorang mahasiswa, barangkali ada gunanya untuk para mahasiswa lain anggota milis-milis ini. salam, awang ----------------------- Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan forearc di Indonesia. Cekungan forearc artinya cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore - arc; arc = jalur volkanik). Tetapi, kita menyebutnya demikian berdasarkan posisi geologinya saat ini. Apakah posisi tersebut sudah dari dulu begitu ? Belum tentu, dan inilah yang harus kita selidiki. Publikasi2 dari Howles (1986), Mulhadiono dan Asikin (1989), Hall et al. (1993) dan Yulihanto et al. (1995) -semuanya di proceedings IPA baik untuk dipelajari soal Bengkulu Basin. Berdasarkan berbagai kajian geologi, disepakati bahwa Pegunungan Barisan (dalam hal ini adalah volcanic arc-nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen Tengah. Pengaruhnya kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah berarti tidak ada forearc basin Bengkulu sebab pada saat itu arc-nya sendiri tidak ada. Begitulah yang selama ini diyakini, yaitu bahwa pada sebelum Miosen Tengah, atau Paleogen, Cekungan Bengkulu masih merupakan bagian paling barat Cekungan Sumatera Selatan. Lalu pada periode setelah Miosen Tengah atau Neogen, setelah Pegunungan Barisan naik, Cekungan Bengkulu dipisahkan dari Cekungan Sumatera Selatan. Mulai saat itulah, Cekungan Bengkulu menjadi cekungan forearc dan Cekungan Sumatera Selatan menjadi cekungan backarc (belakang busur). Sejarah penyatuan dan pemisahan Cekungan Bengkulu dari Cekungan Sumatera Selatan dapat dipelajari dari stratigrafi Paleogen dan Neogen kedua cekungan itu. Dapat diamati bahwa pada Paleogen stratigrafi kedua cekungan hampir sama. Keduanya mengembangkan sistem graben di beberapa tempat. Di Cekungan Bengkulu ada Graben Pagarjati, Graben Kedurang-Manna, Graben Ipuh (pada saat yang sama di Cekungan Sumatera Selatan saat itu ada graben2 Jambi, Palembang, Lematang, dan Kepahiang). Tetapi setelah Neogen, Cekungan Bengkulu masuk kepada cekungan yang lebih dalam daripada Cekungan Sumatera Selatan, dibuktikan oleh berkembangnya terumbu2 karbonat yang masif pada Miosen Atas yang hampir ekivalen secara umur dengan karbonat Parigi di Jawa Barat (para operator yang pernah bekerja di Bengkulu menyebutnya sebagai karbonat Parigi juga). Pada saat yang sama, di Cekungan Sumatera Selatan lebih banyak diendapkan sedimen-sedimen regresif (Formasi Air Benakat/Lower Palembang dan Muara Enim/Middle Palembang) karena cekungan sedang mengalami pengangkatan dan inversi. Secara tektonik, mengapa terjadi perbedaan stratigrafi pada Neogen di Cekungan Bengkulu -yaitu Cekungan Bengkulu dalam fase penenggelaman sementara Cekungan Sumatera Selatan sedang terangkat. Karena pada Neogen, Cekungan Bengkulu menjadi diapit oleh dua sistem sesar besar yang memanjang di sebelah barat Sumatera, yaitu Sesar Sumatera (Semangko) di daratan dan Sesar Mentawai di wilayah offshore sedikit di sebelah timur pulau-pulau busur luar Sumatera (Simeulue-Enggano). Kedua sesar ini bersifat dextral. Perhatikan bahwa sifat pergeseran (slip) yang sama dari dua sesar mendatar yang berpasangan (couple strike-slip atau duplex) akan bersifat trans-tension atau membuka wilayah yang diapitnya. Dengan cara itulah semua cekungan forearc di sebelah barat Sumatera yang diapit dua sesar besar ini menjadi terbuka oleh sesar mendatar (trans-tension pull-apart opening) yang mengakibatkan cekungan2 ini tenggelam sehingga punya ruang untuk mengembangkan terumbu karbonat Neogen yang masif asalkan tidak terlalu dalam. Di cekungan2 forearc utara Bengkulu (Mentawai, Sibolga, Meulaboh) pun berkembang terumbu2 Neogen yang masif akibat pembukaan dan penenggelaman cekungan-cekungan ini. Dan, dalam dunia perminyakan terumbu2 inilah yang sejak akhir 1960-an telah menjadi target2 pemboran eksplorasi. Sayang sampai saat ini belum berhasil menemukan cadangan yang komersial, hanya menemukan gas biogenik dan oil show (lihat publikasi2 Dobson et al., 1998 dan Yulihanto, 2000 - proceedings IPA untuk keterangan Mentawai dan Sibolga Basins). Cekungan Bengkulu merupakan salah satu dari dua cekungan forearc di Indonesia yang paling banyak dikerjakan operator perminyakan (satunya lagi Cekungan Sibolga-Meulaboh). Meskipun belum berhasil menemukan minyak atau gas komersial, tidak berarti cekungan-cekungan ini tidak mengandung migas komersial. Sebab, target2 pemboran di wilayah ini (total sekitar 30 sumur) tak ada satu pun yang menembus target Paleogen dengan sistem graben-nya yag telah terbukti produktif di Cekungan-Cekungan Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Cekungan Bengkulu akan merupakan harapan pertama untuk penemuan minyak di sistem Paleogennya. Sumur terdalam di cekungan ini yang dibor oleh operator Fina pada tahun 1992 (Arwana-1) menemukan oil shows dan menembus sedimen Oligo-Miosen yang berkualitas baik sebagai batuan induk minyak. Kemudian, berdasarkan data sumur ini pula, dketahui bahwa termal cekungan ini panas (4,5-5 F/100 ft) sebuah anomali bagi "cool basin" -sebutan yang terkenal untuk cekungan2 forearc. Tentu hal ini baik bagi pematangan batuan induk dan generasi hidrokarbon. Sekuen syn-rift dan post-rift di cekungan ini belum tertembus, di situlah harapan akumulasi migas berada. Diperlukan data seismik yang lebih baik untuk target dalam dan diperlukan sumur2 dalam untuk menembus target2 Paleogen. Demikian, sekilas ringkas pendapat saya, semoga cukup menjawab pertanyaan2 ---. salam, awang --- On Tue, 3/17/09, -deleted - wrote: -deleted Selamat malam Pak Awang... Maaf pak, saya email malam-malam seperti ini. Saya ingin bertanya tentang cekungan bengkulu. Cekungan bengkulu tersebut terbentuknya seperti apa ya pak? Seperti yang sudah saya baca pada paper tentang cekungan bengkulu sebelumnya, cekungan ini terbentuk pada dua fase, yaitu saat paleogen dan neogen. Tetapi, saya kurang jelas tentang keterbentukan cekungan ini. Terutama, seperti yang sudah saya baca, keterbentukan cekungan ini dipengaruhi oleh kondisi struktur sekitarnya. Penjelasan tentang struktur yang terjadi untuk membentuk cekungan ini, dari awal terbentuknya sampai seperti sekarang, seperti apa ya pak?? Terima kasih pak sebelumnya.. Best regards --deleted -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!! akan dilaksanakan di Semarang 13-14 Oktober 2009 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

