Sigit,
 
1. Bukti yang kuat bahwa cekungan2 forearc di sebelah barat Sumatra pernah 
bersatu dengan back-arc basin-nya hanya untuk Cekungan Bengkulu. Untuk 
Mentawai-Nias--Sibolga-Meulaboh-Simeulue (atau nama2 lainnya) saya 
meragukannya. Lihat saja bahwa stratigrafi Paleogen Cekungan Mentawai berbeda 
dengan Cekungan Sumatera Tengah (lihat Yulihanto, 2000, IPA untuk Mentawai), 
dan bahkan di Meulaboh Basin stratigrafi Paleogennya tidak didefisikan 
(pre-Neogene undifferentaited sediments) (lihat  Rose, 1983-IPA;  Moore et al., 
1980-AaPG Bull, Matson and Moore, 1992; Barber et al., 2005 dalam Satyana, 2008 
-HAGI-IAGI). Sementara untuk Cekungan Bengkulu di onshore, siapa pun yang 
pernah bekerja di South Sumatra Basin pasti akan tahu bahwa itu stratigrafi 
Sumatra Selatan. 
 
Teori pertumbuhan benua melalui akresi akan mengharuskan bahwa subduction zone 
semakin muda akan semakin jauh dari core benua. Subduction zone sekeliling 
Sundaland punya bukti yang kuat tentang hal ini, dan sudah diketahui sejak 
zaman Pak Katili dan Warren Hamilton menganalisis tektonik Indonesia (Barat) 
dari awal tahun 1980-an (Katili, 1973, Hamilto, 1973, Hamilton 1979-USGS 
professional paper 1078 yang terkenal itu, Katili 1980 -kumpulan paper Katili 
dari 1960an sanpai 1980).
 
Dalam teori terrane tectonics (Howell, 1982), tak ada massa lempeng benua yang 
merupakan massa kerak tunggal, ia ternyata disusun oleh berbagai mikro-kontinen 
yang saling berbeda dengan mikro-kontinen di sebelahnya (itulah terrane) dengan 
sambungannya berupa suture. Berdasarkan banyak sintesis, Sumatra memang disusun 
oleh berbagai terrane, dan itu sudah diketahui sejak awal 1980-an melalui 
penelitian Pak Pulunggono dan Cameron (dipublikasi di IPA 1984). Hanya memang 
Ian Metcalfe yang banyak meneliti dan merekonstruksi terranes di SE Asia ini 
(Metcalfe, 1996 -Geological Soc of London; dalam Hall dan Blundell, 1996). 
Amalgamasi terrane ini mempengaruhi fabric tektonik pada saat cekungan2 Tersier 
terbuka, pola dan rifting mereka mengikuti pola akresi terrane ini. Akan halnya 
petroleum potentialnya, setiap terrane akan berpengaruh kepada pola fracturing 
mereka saat terkena tektonik, yang prone to be fractured tentu lebih bagus 
untuk pengembangan porositas
 retakan daripada yang ductile. Teman2 COPI di Suban tahu dengan baik masalah 
ini. Forearc basin pada umur Mesozoik dan Paleozoik belum didefisikan, arc-nya 
sendiri di mana kita belum tahu. Disertasi Pak Katili di Lassi granite Sumatera 
Tengah bisa menjadi pembuka pertama andaikata diperlukan; tetapi saya tak yakin 
ada gunanya mencari forearc basin di Paleo-Mesozoikum.
 
2. Ada korelasi yang kuat antara Paleogen Bengkulu dan Sumatera Selatan, tetapi 
tidak dengan Cekungan Sibolga. Bagaimana pun, terdapat perbedaan. Perlu diingat 
bahwa graben-graben Paleogen Bengkulu (Kedurang, Pagarjati, Ipuh) pada saat 
dibentuk berposisi lebih ke arah marin dibandingkan graben2 di Sumatera Selatan 
yang lebih terestrial. Hal ini akan berpengaruh kepada source facies batuan 
induk Paleogen. Hal ini bisa dibuktikan dengan mengkarakterisasi geokimia 
rembesan2 minyak di sekitar Bengkulu dan membandingkannya dengan minyak2 di 
lapangan2 Formasi Talang Akar di Sumatera Selatan. Masalah kematangan pun akan 
lain, meskipun dulu graben2 ini berdampingan; heatflow dan konduktivitas termal 
kedua cekungan akan sedikit berlainan sebab stratigrafi Neogen Bengkulu berbeda 
dengan Sumatera Selatan, maka konduktivitas termalnya akan lain. Dan heatflow 
forearc basin akan berlainan dengan backarc basin, yang satu dipengaruhi oleh 
mantle plume downwelling, yang
 lain oleh mantle plume upwelling. Kuantitas volumetrik pun akan lain. 
Perhatikan bahwa geometri graben Bengkulu rata-rata berukuran 1/3 graben2 
Sumatera Selatan (Yulihanto dan Sosrowidjoyo, 1996 -IPA)
 
3. Tentu saja peristiwa tektonik akan berpengaruh kepada stratigrafi yang 
akhirnya berpengaruh kepada kualitas reservoir. Di lapangan2 di Sumatera 
Selatan, kita masih menemukan lapangan minyak di Formasi Air Benakat (ABF)dan 
Muara Enim (MEF); tetapi di karbonat2 Miosen Atas eq. Parigi di Bengkulu 
semuanya water-wet dan di sebagian struktur di Nias berisi gas biogenik. 
Sedimen silisiklastik umur ekivalen ABF dan MEF tak terdeposisi secara bagus di 
Bengkulu dan ekivalennya ke Mentawai sampai Simeulue. Cekungan forearc di sini 
pada umur tersebut terbuka terlalu luas, sedimen silisiklastik hanya sebagai 
molassic deposit di tepi timur forearc, ke sebelah baratnya sedimen habis dan 
basin starvation terjadi, hanya ada condensed strata saja terjadi, selebihnya 
reef yang masif yang terbentuk. Sayang, tidak ada konduit definitif dari source 
Paleogen kepada reefs Miosen Atas ini, sehingga thermogenic HC yang saya yakin 
telah tergenerasi di Bengkulu tak pernah
 memasuki reefs ini. Ia tetap tersimpan di sistem Paleogen yang tetap undrilled 
sampai sekarang.
 
4. High bagus untuk konsentrasi migrasi, tetapi ia negatif untuk keberadaan 
reservoir dan biodegradasi. Kedua sumur itu dibor di onshore, dan setelah itu 
tak ada lagi sumur dibor di onshore Bengkulu, sumur2 selanjutnya dibor di 
offshore mencoba mengejar sembulan karbonat yang pada tahun2 itu kesuksesannya 
telah dibuktikan oleh banyak penemuan penting lapangan2 minyak di Salawati 
Basin (Kasim, Walio, Salawati A-F, dll.). Operasi di onshore pun yang merupakan 
kaki Barisan tak semudah do onshore. Memang highs regional seperti Masbambang 
High bagus untuk konsentrasi migrasi dari graben Kedurang dan Pagarjati, atau 
Sebayur High yang diapit Graben Pagarjati dan Ipuh. Tetapi kedua high ini ada 
di lereng Barisan dan dekat Sumatra Fault - tak gampang mewujudkan operasi 
eksplorasi di situ.
 
5. Data geokimia tentang ini masih kurang, sumur Arwana-1 yang terdalam di 
forearc Sumatra tak menembus SR Paleogen yang diketahui di Sumatra Selatan (eq 
Lemat atau lahat atau paling muda TAF bagian bawah). Dari oil show tak ada 
karakterisasi geokimia, dari cutting atau SWC tak dilakukan extract analysis 
-sehingga tak ada korelasi bisa dilakukan. Dari Mentawai, tak ada bukti 
signifikan penemuan minyak di sana. Yang terbaik dilakukan tentang hal ini 
adalah melakukan karakterisasi oil geochemistry pada rembesan yang ada, dan 
source Paleogen yang tersingkap (meskipun jelas tak akan mencerminkan karakter 
source sesungguhnya karena oxidized).
 
6. Soal propektivitas termogenic gas dan oil generation di Cekungan 
Sibolga-Meulaboh-Simeulue pernah jadi diskusi saya cukup lama di milis 
IAGI-net, silakan dicek lagi di arsip. Secara ringkas, berdasarkan semua data 
dan analisis yang ada sampai saat ini : saya meragukannya. Bahan presentasi 
saya tentang Simeulue pada acara HAGI-IAGI luncheon talk pernah saya buka di 
website HAGI, di situ lengkap alasan2nya. Sampai sejauh ini di situ memang 
hanya ada biogenic gas dalam volume yang tak besar sebab kegagalan sealing dan 
volumetrik (Dobson et al., 1998). Saya baru dapat berita dari kawan Migas 
(mereka melakukan studi bersama Lemigas untuk Simeulue) minggu lalu bahwa tak 
ada rembesan minyak definitif di tepi Mentawai dan Meulaboh. Kalau ada, itu 
berita menggembirakan -yang ada hanya bubble gas biogenik. Sedimen Paleogen 
yang berkualitas source dan kematangan yang cukup adalah dua problem serius 
untuk Meulaboh dan Mentawai. Sampai ada bukti baru dan data baru
 yang definitif, baru kita bisa buka kembali prospektivitas wilayah ini. Tahun 
lalu sebuah calon investor melakukan seismik regional, batimeri, dan multibeam 
di kedua wilayah ini seizin Migas; dan mereka tak melanjutkan men-direct offer 
wilayah ini - tak prospek alasannya.
 
salam,
awang
 

--- On Thu, 3/19/09, sigit prabowo <[email protected]> wrote:

From: sigit prabowo <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Tanya Cekungan Bengkulu
To: [email protected]
Date: Thursday, March 19, 2009, 1:05 PM

Pak Awang YTH.,

Menyimak apa yang pak Awang kemukakan tentang Bengkulu Basin ini, saya ingin
mengajukan beberapa pertanyaan pak :

1. Bahwa Cekungan Bengkulu, Sibolga-Meulaboh, sekarang ini adalah fore-arc
basin, dan dulu pernah ada kemungkinan tidak di lokasi tersebut dikarenakan pada
Paleogene pernah menjadi bagian dari cekungan2 yang sekarang  berada di posisi
back-arc basin (South Sumatra Basin, dan North Sumatra Basin). Kalo melihat
subduction zone dan volcanic arc di Sumatera, rupa nya telah terjadi beberapa
pergeseran, baik dari Late Carboniferous-Early Permian, Permian-Early Triassic,
Cretaceous-Early Tertiary, Tertiary, Present (dalam Katili dan Hartono, 1983;
Hylde dan Uyeda, 1983). Kemudian kalo dikorelasikan dengan distribusi dari
continental blocks dan terranes di SE Asia, rupa nya Sumatera juga terdiri dari
Raub-Bentong terranes (from Gondwanaland, Devonian), Woyla terranes (from
Gondwanaland, Late Early Permian), Sikuleh and Natal (from Gondwanaland, Late
Triassic-Late Jurassic) (dalam Metcalfe 1998). Bagaimanakah potensi HC pada
umur2 Paleozoicum dan Mesozoicum
 tersebut ...?, mungkinkah juga ditemukan beberapa tipe basin yang mempunyai
petroleum system yang berbeda dengan fore-arc basin....?

2. Kalau melihat korelasi tectonic-stratigraphy diantara cekungan2 Bengkulu,
Sibolga, nampak nya terdapat beberapa kesamaan, misal untuk Bengkulu Basin dari
source rock nya, yang diinterpretasikan dari Oligo-Miocene Calcareous Shales
Seblat FM (TOC 0.5-2%, HI 150-380, T max 433-457) dan Middle Miocene
Carbonaceous shales-subbitumineous coal-lignite Lemau FM (TOC 0.85-75%, HI
300-400), berdasarkan sumur Arwana-1 estimasi oil window berada di 3645 m (dalam
Yulihanto et al, 1995) , ...kalau dikorelasikan dengan Paleogene source rock di
South Sumatra Basin di Early Synrift Eocene-Oligocene continental Lahat dan
Lematang FM; dan juga Late synrift Late Oligocene-Early Miocene retro-regressive
coal-coaly coals of Talang Akar FM (Noble et al), bagaimanakah korelasi
paleogeography pada umur2 tersebut, dari source sediment yang samakah sediment2
source rock tersebut berasal, apakah ada perbedaan dari segi kuantitas,
kualitas, dan maturity nya...?

3. Untuk reservoir pada umur Neogen, disebabkan ada nya penenggelaman di
Bengkulu basin, dan juga di Mentawai-Sibolga basin (?), sebaliknya di South
Sumatera basin sedang mengalami pengangkatan dan inversi, apakah berimplikasi
pada tipe dan kualitas reservoir nya, baik carbonate maupun clastic nya...?

4. Kalau melihat peta pola struktur (Yulihanto & Sosrowidjoyo, 1996) dan
Neogene paleogeography di South Sumatera Basin (Didit F., Aziz Rifai, Sinto Y.,
Asril kamal, RMI. Argakoesoemah, 2007), pola migrasi HC relative sudah bisa
diinterpretasikan dengan jelas, dimana HC dari beberapa graben naik ke high2
yang ada, misal HC dari Tabuan graben naik ke Iliran high, HC dari Jamakur
graben naik ke palembang high, dsb.; .....bagaimanakah dengan pola2 pengisian HC
di Bengkulu basin, mungkinkah misal HC dari Pagarjati graben juga mengisi ke
Masmambang high, HC dari Kedurang-Manna graben mengisi ke Tanjung sakti high,
dsb,...; kalau melihat peta konfigurasi strukktur, rupa nya pemboran sumur2 yang
ada misal Bengkulu X-1 dan X-2 (dibor tahun 1973) berada di daerah yang relatif
tidak terlalu high (?), apakah ada dasar tertentu sehingga mengebor nya di
tempat2 tersebut...?

5. Melihat hasil pemboran sumur Arwana-1X dan A-1X, dimana didapatkan oil
show, dari hasil analisa apakah tipe source rock nya bisa dikorelasikan dengan
misal dari Mentawai sub-basin ataukah berasal dari graben2 di Bengkulu basin...?

6. Untuk Sibolga-Nias Basin, hasil pemboran sumur Palambak-1 (Union Oil, 1973),
Singkel-1 (Union Oil, 1973) yang berada di utara p. Nias, dan sumur Suma-1 (di
timur P. Nias, Union Oil 1975) mendapatkan gas, dan juga di utara P. Simeulue,
didapatkan gas dari sumur2 Keudapasi-1, Meulaboh-1, Meulaboh East 1 dan 2
(Sibolga-Meulaboh Basin)..., yang mana gas didapatkan dari reservoir Middle
Miocene Sibolga carbonate, ....diinterpretasikan gas nya adalah biogenik (?),
bagaimanakah sebenarnya peluang untuk ditemukan nya gas termogenik maupun oil di
wilayah ini, yang mana diperkirakan peak oil maturation berada di umur Late
Miocene (10 Ma), ...selain itu apakah pernah ada rencana pemboran di sebelah
selatan P. Nias dimana terdapat adanya Early Miocene carbonate Olodano FM, di
timur P. Nias di daerah dimana terdapat outcrop Early Miocene-Early Pliocene
Lahomie carbonate FM dan juga terdapat oil seeps (?)...?


Mohon pencerahan nya pak...

Terimakasih


Best Regards
Sigit Ari Prabowo



________________________________
From: Awang Satyana <[email protected]>
To: Geo Unpad <[email protected]>
Cc: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>;
Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>
Sent: Wednesday, March 18, 2009 4:32:14 AM
Subject: [iagi-net-l] Tanya Cekungan Bengkulu

Berikut diskusi saya atas pertanyaan seorang mahasiswa, barangkali ada gunanya
untuk para mahasiswa lain anggota milis-milis ini.
 
salam,
awang
 
-----------------------
 
 
Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan forearc di Indonesia. Cekungan
forearc artinya cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore - arc; arc
= jalur volkanik). Tetapi, kita menyebutnya demikian berdasarkan posisi
geologinya saat ini. Apakah posisi tersebut sudah dari dulu begitu ? Belum
tentu, dan inilah yang harus kita selidiki. Publikasi2 dari Howles (1986),
Mulhadiono dan Asikin (1989), Hall et al. (1993) dan Yulihanto et al. (1995)
-semuanya di proceedings IPA baik untuk dipelajari soal Bengkulu Basin.

 
Berdasarkan berbagai kajian geologi, disepakati bahwa Pegunungan Barisan (dalam
hal ini adalah volcanic arc-nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen
Tengah. Pengaruhnya kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah
berarti tidak ada forearc basin Bengkulu sebab pada saat itu arc-nya sendiri
tidak ada.
 
Begitulah yang selama ini diyakini, yaitu bahwa pada sebelum Miosen Tengah,
atau Paleogen, Cekungan Bengkulu masih merupakan bagian paling barat Cekungan
Sumatera Selatan. Lalu pada periode setelah Miosen Tengah atau Neogen, setelah
Pegunungan Barisan naik, Cekungan Bengkulu dipisahkan dari Cekungan Sumatera
Selatan. Mulai saat itulah, Cekungan Bengkulu menjadi cekungan forearc dan
Cekungan Sumatera Selatan menjadi cekungan backarc (belakang busur).
 
Sejarah penyatuan dan pemisahan Cekungan Bengkulu dari Cekungan Sumatera
Selatan dapat dipelajari dari stratigrafi Paleogen dan Neogen kedua cekungan
itu. Dapat diamati bahwa pada Paleogen stratigrafi kedua cekungan hampir sama.
Keduanya mengembangkan sistem graben di beberapa tempat. Di Cekungan Bengkulu
ada Graben Pagarjati, Graben Kedurang-Manna, Graben Ipuh (pada saat yang sama di
Cekungan Sumatera Selatan saat itu ada graben2 Jambi, Palembang, Lematang, dan
Kepahiang). Tetapi setelah Neogen, Cekungan Bengkulu masuk kepada cekungan yang
lebih dalam daripada Cekungan Sumatera Selatan, dibuktikan oleh berkembangnya
terumbu2 karbonat yang masif pada Miosen Atas yang hampir ekivalen secara umur
dengan karbonat Parigi di Jawa Barat (para operator yang pernah bekerja di
Bengkulu menyebutnya sebagai karbonat Parigi juga). Pada saat yang sama, di
Cekungan Sumatera Selatan lebih banyak diendapkan sedimen-sedimen regresif 
(Formasi Air Benakat/Lower Palembang
dan Muara Enim/Middle Palembang) karena cekungan sedang mengalami pengangkatan
dan inversi.
 
Secara tektonik, mengapa terjadi perbedaan stratigrafi pada Neogen di Cekungan
Bengkulu -yaitu Cekungan Bengkulu dalam fase penenggelaman sementara Cekungan
Sumatera Selatan sedang terangkat. Karena pada Neogen, Cekungan Bengkulu menjadi
diapit oleh dua sistem sesar besar yang memanjang di sebelah barat Sumatera,
yaitu Sesar Sumatera (Semangko) di daratan dan Sesar Mentawai di wilayah
offshore sedikit di sebelah timur pulau-pulau busur luar Sumatera
(Simeulue-Enggano). Kedua sesar ini bersifat dextral. Perhatikan bahwa sifat
pergeseran (slip) yang sama dari dua sesar mendatar yang berpasangan (couple
strike-slip atau duplex) akan bersifat trans-tension atau membuka wilayah yang
diapitnya. Dengan cara itulah semua cekungan forearc di sebelah barat Sumatera
yang diapit dua sesar besar ini menjadi terbuka oleh sesar mendatar
(trans-tension pull-apart opening) yang mengakibatkan cekungan2 ini tenggelam
sehingga punya ruang untuk mengembangkan terumbu
karbonat Neogen yang masif asalkan tidak terlalu dalam.
 
Di cekungan2 forearc utara Bengkulu (Mentawai, Sibolga, Meulaboh) pun
berkembang terumbu2 Neogen yang masif akibat pembukaan dan penenggelaman
cekungan-cekungan ini. Dan, dalam dunia perminyakan terumbu2 inilah yang sejak
akhir 1960-an telah menjadi target2 pemboran eksplorasi. Sayang sampai saat
ini belum berhasil menemukan cadangan yang komersial, hanya menemukan gas
biogenik dan oil show (lihat publikasi2 Dobson et al., 1998 dan Yulihanto, 2000
- proceedings IPA untuk keterangan Mentawai dan Sibolga Basins).
 
Cekungan Bengkulu merupakan salah satu dari dua cekungan forearc di
Indonesia yang paling banyak dikerjakan operator perminyakan (satunya lagi
Cekungan Sibolga-Meulaboh). Meskipun belum berhasil menemukan minyak atau gas
komersial, tidak berarti cekungan-cekungan ini tidak mengandung migas komersial.
Sebab, target2 pemboran di wilayah ini (total sekitar 30 sumur) tak ada satu pun
yang menembus target Paleogen dengan sistem graben-nya yag telah terbukti
produktif di Cekungan-Cekungan Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. 
 
Cekungan Bengkulu akan merupakan harapan pertama untuk penemuan minyak di
sistem Paleogennya. Sumur terdalam di cekungan ini yang dibor oleh operator Fina
pada tahun 1992 (Arwana-1) menemukan oil shows dan menembus sedimen Oligo-Miosen
yang berkualitas baik sebagai batuan induk minyak. Kemudian, berdasarkan data
sumur ini pula, dketahui bahwa termal cekungan ini panas (4,5-5 F/100 ft) sebuah
anomali bagi "cool basin" -sebutan yang terkenal untuk cekungan2
forearc. Tentu hal ini baik bagi pematangan batuan induk dan generasi
hidrokarbon. Sekuen syn-rift dan post-rift di cekungan ini belum tertembus, di
situlah harapan akumulasi migas berada. Diperlukan data seismik yang lebih baik
untuk target dalam dan diperlukan sumur2 dalam untuk menembus target2 Paleogen.
 
Demikian, sekilas ringkas pendapat saya, semoga cukup menjawab pertanyaan2 ---.
 
salam,
awang
 

--- On Tue, 3/17/09, -deleted - wrote:


-deleted
 










Selamat malam Pak Awang...

Maaf pak, saya email malam-malam seperti ini. Saya ingin bertanya tentang
cekungan bengkulu. Cekungan bengkulu tersebut terbentuknya seperti apa ya pak?
Seperti yang sudah saya baca pada paper tentang cekungan bengkulu sebelumnya,
cekungan ini terbentuk pada dua fase, yaitu saat paleogen dan neogen. Tetapi,
saya kurang jelas tentang keterbentukan cekungan ini. Terutama, seperti yang
sudah saya baca, keterbentukan cekungan ini dipengaruhi oleh kondisi struktur
sekitarnya. Penjelasan tentang struktur yang terjadi untuk membentuk cekungan
ini, dari awal terbentuknya sampai seperti sekarang, seperti apa ya pak??
Terima kasih pak sebelumnya..

Best regards
--deleted


      


      

Kirim email ke