Sejauh data menunjukkan, lumpur disimpulkan berasal dari sekuen Pliosen. TD sumur Banjar Panji-1 tak pernah mencapai jauh ke dalam Miosen, sekitar puncaknya saja -itu pun hanya berdasarkan korelasi regional dengan sumur di dekatnya (Porong-1) yang menembus gamping berumur muda (eq. Wonosari -Miosen Atas). Tidak ada gamping Kujung I (Oligo-Miosen) yang ditembus sumur. Bahwa sumur hanya menembus lapisan-lapisan tipis gamping di dalam sekuen Pliosen masih terbuka kemungkinannya. Tidak ada sampel gamping yang naik ke permukaan di TD sumur, sehingga spekulasi terbuka. Hanya, tak mungkin Kujung I sudah ditembus, itu akan sangat tidak masuk akal berdasarkan korelasi dengan sekitarnya. Berdasarkan data, wilayah CO2 tinggi di Jawa Timur semuanya terdapat di sisi utara onshore dan batas offshore, terutama di bagian barat. Perlu mendapatkan perhatian bahwa wilayah selatan pun berpeluang punya CO2 tinggi sebab batugamping di sini, berdasarkan data sumur Banjar Panji yang diekstrapolasi, bisa masuk ke overmature window. Di samping itu, ia bersatu tempat dengan volkanisme. Dalam kasus seperti ini, CO2 bisa tinggi oleh thermal degradation karbonat di overmature window, dan volcanic degassing oleh magma volkanisme. Metana selalu berasosiasi dengan mud volcanism, suatu hal yang wajar. Dalam kondisi tertentu bila ia terkonsentrasi melebihi ambang batas terbakar, ia akan terbakar oleh gesekan udara saja. Saat ini, di banyak tempat berdasarkan data, kejenuhan konsentrasi semacam itu belum tercapai di wilayah LUSI. Belum ada penelitian rasio antara kandungan gas helium vs. metana di wilayah ini. Sebenarnya, itu perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh sistem volkanisme berpengaruh kepada LUSI. Semakin besar kandungan heliumnya (yang dikarakterisasi dengan isotop He3/He4), semakin besar ia berasosiasi dengan volkanisme. Tentang minyak yang dikabarkan keluar (secara signifikan ?) bersamaan lumpur, saya pikir akan menjadi salah satu kunci dan novum (bukti baru) untuk memahami asal-muasal LUSI. Sejak awal pun sebenarnya oil film sudah dilaporkan keluar bersama lumpur, mengambang di atasnya. Kalau di media ditulis bahwa warnya cairan hitam mengkilat keluar bersama lumpur dan itu dianggap minyak, maka secara volumetrik ia sudah signifikan dibandingkan sekedar oil film. Saya tak yakin bahwa BPMIGAS mengambil sampel ini; yang saya baca di Media Indonesia hari ini, yang mengambil sampel itu adalah Ditjen Migas, Departemen ESDM, bersama BPLS. Minyak ini, kalau benar minyak, sangat perlu dikarakterisasi secara detail. Hasil karakterisasi kemudian harus dibandingkan dengan karakter minyak lapangan-lapangan minyak di Jawa Timur, baik offshore maupun onshore. Hasil evaluasi regional saya tentang minyak2 Jawa Timur (dipubilkasi di Proceedings IPA 2003) menunjukkan bahwa minyak2 ini paraffinic waxy-moderately waxy, medium-medium high API, low sulfur content, semua data biomarker dan isotop karbon-13 menunjukkan lingkungan terrestrial-marginal marine dengan tipe kerogen dominan tipe III. Berdasarkan oil grouping, secara regional ia tipe "D" mengikuti klasifikasi (Clayton dan Fleet, 1991) - ini artinya "kerogen derived from higher landplant in marginal marine -deltaic or parallic environment". Minyak2 di onshore Jawa sedikit lebih bersifat marin daripada minyak2 offshore-nya yang lebih terrestrial, dan berdasarkan rasio oleanane : hopane -mungkin source onshore sedikit lebih muda (metode age-biomarker ini masih harus diselidiki). Berdasarkan source rock geochemistry dan korelasi, yang paling mungkin sebagai batuan induk minyak2 ini adalah middle Eocene Ngimbang Bawah dan sebagian atasnya, dan sebagian kecil Late Oligocene Kujung III. Source facies dan kekayaan organik kedua batuan induk ini memenuhi syarat dan berkorelasi positif. Ke depan, hal ini bisa dibuktikan untuk minyak2 Jawa Timur melalui kandungan biomarker bisnorlupane-nya - Eocene age-diagnostic biomarker. Sekali nanti minyak LUSI sudah ada data lengkap geokimianya, akan diketahui minyak itu asalnya dari mana. Apa pun batuan induknya, berdasarkan diskusi2 di atas dan data sejauh ini, ia tak akan keluar dari Middle Eocene Ngimbang atau Late Oligocene Kujung III. Apa implikasi ini ? Minyak yang keluar di titik sembur LUSI berasal jauh dari tempat yang lebih dalam dari TD sumur Banjar Panj-1. Mengapa ia sampai terbawa dalam semburan lumpur mud volcano LUSI ? Tentu saja karena ada konduit dari tempat dalam ke tempat dangkal. Maka sebuah zone sesar besar dan dalam harus ditempatkan dalam diskusi-diskusi LUSI. Kita tunggu saja. Semoga sampling dan analysis-nya dilakukan dengan baik dan benar. Seorang teman beberapa hari lalu mengirimkan sms : itu minyaknya milik siapa ? Saya menjawabnya : tunggu dulu, buktikan dulu itu memang minyak, kontinuitasnya, berapa volumenya, dll. Masih terlalu dini meributkan minyak itu milik siapa. Mungkin menjadi pelajaran buat kita sekalian : jangan memutuskan suatu perkara "panas" dan sulit dengan terburu2; kita mesti menunggu dulu, siapa tahu Alam memberikan novum yang menjadi kuncinya. Bagaimana kalau kita sudah memutuskan suatu perkara, padahal kemudian ternyata terbukti bahwa yang sebenarnya tidak begitu ? salam, awang
--- On Sun, 3/22/09, Franciscus B Sinartio <[email protected]> wrote: From: Franciscus B Sinartio <[email protected]> Subject: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] BP Migas Ambil SampelLumpur Lapindo : (? minyak) To: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[email protected]>, "[email protected]" <[email protected]> Date: Sunday, March 22, 2009, 4:55 PM Perlu juga ambil sample nya supaya bisa memperkirakan minyaknya berasal dari formasi mana (source dan reservoir nya). sekalian juga lumpurnya di analisa lagi. apakah lumpur ini utamanya dari Plio/Pleistocene atau dari Eocene (sampai sekarang masih banyak pendapat yang berbeda kan?) Kalau gas CO2 apa juga banyak yang keluar? daerah sana kan terkenal dengan kandungan CO2 yang tinggi. mungkin juga perlu diwaspadai H2S nya yang beracun dan CH4 yang rawan terbakar. fbs ________________________________ From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]> Sent: Sunday, March 22, 2009 4:36:59 AM Subject: [Forum-HAGI] BP Migas Ambil SampelLumpur Lapindo : (? minyak) Yang berdebat penyebab masih juga belum berakhir. Tapi si Lumpur masih menambahkan fenomena-fenomena menariknya. Bagi geologist mungkin hal aneh, apalagi dengan teori terbentuknya minyak di daerah ini memang sudah terbukti (Proven Petroleum System). Bagi orang awam nanti bumbunya bisa macam-macam. Faktor politis dan sosial akan selalu membumbui opini publik Atau barangkali dampak Ponari sudah sampai ke Sidoarjo ? RDP ======================================== 21/03/09 18:10 BP Migas Ambil Sampel Lumpur Lapindo Sidoarjo (ANTARA News) - Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), Sabtu, mengambil sampel lumpur Lapindo menyusul ditemukannya cairan pekat yang menyerupai minyak mentah yang keluar dari semburan lumpur Lapindo. Pengambilan sampel itu juga didampingi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dan ahli Geologi. "Untuk sementara kami akan mengumpulkan data terlebih dahulu untuk diteliti di dalam laboratorium," kata tim BP Migas, Yonathan, saat dikonfirmasi di Sidoarjo, Jatim. Untuk kesimpulan sementara, kandungan yang terdapat pada cairan itu adalah Hidrokarbon (gas dan minyak), namun untuk memastikan minyak atau bukan tentunya masih harus menunggu hasil laboratorium. "Untuk memastikan hasilnya, kami harus menunggu hasil laboratorium sekitar dua pekan lagi," katanya. Sementara itu, Humas BPLS, Ahmad Zulkarnain mengatakan, belum bisa melakukan langkah konkret yang akan dilakukan BPLS. "Untuk sementara ini, kami masih menunggu hasil penelitian yang dilakukan BP Migas," katanya. Bila kandungan minyak di dalam cairan itu ditemukan, katanya, pihaknya akan melaporkan kepada dewan pengarah lumpur Lapindo di Jakarta. Sebelumnya, dugaan minyak mentah berwarna hitam mengkilap keluar dari dalam perut bumi di area pusat semburan. Fenomena itu muncul sejak 19 Maret lalu dan hingga kini masih terus mengalir bersama lumpur yang menyembur/meluap. BPLS mencatat dalam tiga tahun terakhir, minyak serupa muncul sudah dua kali. Posisinya minyak mentah berada diatas lumpur panas yang mengalir keluar dari pusat semburan. "Kalau melihat dari dekat tanggul utama, akan kelihatan cairan hitam yang tidak menyatu dengan lumpur itu," kata Zulkarnain. Namun, ia mengaku tidak tahu debit minyak yang keluar mengiringi lumpur panas itu. "Jumlah debit minyak mentah yang keluar dalam setiap harinya, saya tidak tahu," katanya. (*) COPYRIGHT © 2009 -- Dongeng anget : http://rovicky.wordpress.com/2009/03/20/dunia-semakin-mbritish/ ______________________________________________ The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list. [email protected] www.hagi.or.id

