Setuju Pak, mungkin sebaiknya ada yg membahasnya dari sisi geologi. Mas Imam
sudah memberikan salah satu contoh seperti yg ditulis di harian PR.



Dan barangkali akan lebih baik lagi apabila kalau sudah diketahui penyebab
terjadinya banjir situgintung ini, kita mencoba untuk mengidentifikasi
daerah/situ2 yang mempunyai potensi bencana serupa. Faktor-faktor
penyebabnya bisa dilihat dari berbagai sisi, baik itu dari sisi proses
endogen (dilalui sesar aktif, dsb), proses eksogen (erosi, curah hujan yg
tinggi, dsb), sisi monitoring dan maintanance kerekayasaannya, hingga sisi
sosial kemasyrakatannya (tata ruang dan pemanfaatan lahannya, kebiasaaan
masyarakat yg sering buang sampah sehingga menyebabkan pendangkalan, dsb).



Jika faktor-faktor penyebab di atas sudah kita (anggap) ketahui, mungkin
alangkah baiknya jika dibuat semacam peta potensi bencana untuk situ-situ /
tanggul-tanggul yg lain lalu disosialisasikan ke badan pemerintah terkait
serta masyarakat disekitarnya sehingga peristiwa serupa mudah-mudahan tidak
terulang lagi. Sama seperti peta potensi bencana gunung api  yang sepertinya
sudah tersosialisasikan dengan baik.
Saya setuju dengan yang ibu/bapak bilang sebelumnya, jangan sampai press
release geologi  yang mengungkap kebencanaan selalu one step behind. Semestinya
”the present is the key to the past” dan juga “the present is the key to the
future”.


Salam,
Andi


2009/3/30 Iwan B <[email protected]>

> kok sampai sekarang belum ada yg membahas detail tentang hal ini dr
> sisi geologi tentang apakah dam ini harus dibangun lagi atau
> tidak....daripada mikirin ahli Jepang....saya rasa IAGI perlu
> memberikan input ini ke pemerintah....
>
> 2009/3/30 udrekh <[email protected]>:
>  > Iya nih, kalau mau introspeksi diri, kita-kita ini kurang sekali
> > kapasitas yang bisa diukur dari segi keilmuan.
> > Misal :
> > 1. Jurnal / Publikasi ilmiah tentang Indonesia dan ditulis orang orang
> > Indonesia.
> > 2. Buku tentang geologi Indonesia.
> > 3. Peta geologi yang terus diperbaharui dan makin lengkap, kayak yang
> > "orang jepang" miliki misalnya.. :-)
> >
> > Rasa-rasanya yang ketemu tetep aja orang asing. Jadi, ya sukar sekali
> > untuk bisa bilang : "Ini negeri gue, gue jelas yang paling tau tentang
> > negeri gue. Elo pan orang asing, tau ape..!?", he..he.he...
> >
> > Saya setuju dengan penedapat om Yoga, mendingan buktikan kalau kita
> > memang mampu. Peristiwa ini bisa jadi energi positif buat kita. Saya
> > juga punya angan-angan pingin sekali memiliki kemampuan memahami
> > fenomena alam kita yang unik, khususnya dari segi geologi kelautan.
> >
> > Minggu lalu, saya kembali menerima seorang bimbingan. Saya tadinya udah
> > masang batasan: asal bukan studi buat perminyakan. Bukannya anti, cuman
> > pingin punya generasi baru yang mau bercita-cita menjadi seorang
> > peneliti dan karena saya punya data yang melimpah untuk urusan non
> > migas. Tapi, ternyata yang bersangkutan juga pinginnya untuk aplikasi
> > perminyakan. Yah, daripada enggak sama sekali, toh ilmu harus
> > ditularkan, saya terima juga.
> >
> > Dari tulisan di atas ada beberapa poin yang mungkin jadi perenungan buat
> > saya:
> > 1. Menjadi seorang peneliti di dunia Geologi dan Geofisika mungkin
> > memang sangat tidak menarik. Wajar sih, karena akan ada jurang
> > pendapatan yang menganga, manakala kita mau memilih lahan kering di
> > dunia keilmuan.
> > 2. Sebaliknya, dunia perminyakan apapun bidang ilmunya, tetap menjadi
> > tempat yang sangat menarik. Kalau demikian, mungkin kita bisa membuat
> > target, negara kita sudah harus bisa mandiri di tahun 20xx untuk segala
> > urusan yang terkait dengan eksplorasi, eksploitasi maupun proses
> > produksi. Di sini, orang pintarnya buanyak, uang juga ada, subsidi buat
> > R/Dnya juga mestinya ok. Maka di tahun20xx kita sudah bisa ekspansi
> > dalam tender minyak di luar negeri sekalipun.
> > 3. Dunia Geologi / Geofisika termasuk aplikasi buat teknik sipil /
> > mitigasi juga secara ekonomi sangat penting. Karena toh bicara ekonomi
> > tidak selalu bicara pemasukan, tapi juga biaya. Bencana adalah biaya
> > besar dalam waktu seketika, sementara income jarang yang sifatnya
> > seketika. Oleh karena itu, semangat untuk mensubsidi lahan kering ini
> > agaknya perlu difikirkan, sehingga orang tetap mau tekun mempelajari
> > aspek geologi yang bukan demand driven. Kadang, pas dengar pakar anu
> > sekarang juga mroyek di dunia minyak, yah miris juga. Tapi toh orang
> > hidup juga harus realistis, mereka juga pingin sejahtera, apalagi
> > peluangnya memang ada.
> >
> > Wallahu a`lam.
>

Kirim email ke