Dibawah ini Link ke gambar proyeksi kebutuhan energi di Indonesia yg
disinggung Pak Noor Syariffudin.

[image: http://rovicky.files.wordpress.com/2008/07/ken2006-perlu-revisi.jpg]
http://rovicky.wordpress.com/2008/07/09/kebijakan-energi-nasional-pp-052006-yang-terasa-jadul-2/<http://rovicky.wordpress.com/2008/07/09/kebijakan-energi-nasional-pp-052006-yang-terasa-jadul-2/>

Sangat mengkhawatirkan tidak hanya karena produksi minyak yang merosot
tetapi konsumsi kita juga naik.
Saya ngga bisa membayangkan seperti apa dunia di tahun 2025 seperti target
KEN (pp05/2006) yang sekarang ada.
Sebagai bahan pemikiran, grafik diatas menunjukkan pertumbuhan Indonesia
yang pada 5 tahun terakhir sekitar 5 saja. Saat ini ekonomi dunia sedang
meradang, pertumbuhan ekonomi negara maju OECD minus, sedangkan Indonesia
mungkin 5-6 %. Sebagai gambaran lain Indonesia ini tidur saja pertumbuhan
akan 3% karena pendapatan Indonesia dari eksport mungkin 10% saja.

Apapun skenarionya .... Rasanya kita akan kekurangan energi buanyak sekali .

RDP
http://rovicky.wordpress.com/2008/07/09/kebijakan-energi-nasional-pp-052006-yang-terasa-jadul-2/


2009/4/13 noor syarifuddin <[email protected]>:
> "...bila jumlah konsumsi migas Indonesia semakin bertambah pada masa-masa
mendatang..."
>
> Pak Awang,
> Rasanya kalimat ini terlalu halus, karena bertambahnya konsumsi migas
Indonesia adalah suatu keniscayaan, salah satunya adalah karena konsumsi per
kapita kita masih sangat rendah (lebih rendah dari negara-negara Asean).
Oleh karenanya dengan bertambahnya "kemakmuran", maka dapat dipastikan angka
konsumsi akan terus naik.
>
> Hal yang mungkin masih menjadi pertimbangan para explorationist untuk
aktif di Indonesia salah satunya adalah soal "kepastian hukum" dalam
kontrak-kontrak kita. Adanya aturan tambahan di tengah jalannya kontrak dll
kalau bisa dihindari sebisanya. Ini tentunya menyangkut koordinasi antara
beberapa pihak: Migas, MenKeu, Pajak dll. Karena walupun mungkin nilainya
secara nominal "kecil", tapi menimbulkan faktor ketidak pastian yang
merupakan hal negatif dalam proses investasi.
>
>
> salam,
>
> NSy
>
>
> ________________________________
> From: Awang Satyana <[email protected]>
> To: Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>; IAGI <
[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>; Geo Unpad <
[email protected]>
> Sent: Monday, April 13, 2009 12:02:00 PM
> Subject: [iagi-net-l] Eksplorasi, Eksplorasi, dan Eksplorasi
>
> Idealnya, untuk setiap satu barrel minyak atau satu juta kaki kubik gas
yang kita produksikan, ada cadangan baru sejumlah itu yang kita temukan dan
kelak dapat diproduksikan. Jadi, bila di dalam satu tahun kita
memproduksikan sebanyak 384 juta barrel minyak dan 2,9 trilyun kaki kubik
gas – sebagaimana dirata-ratakan dari produksi enam tahun terakhir
(2003-2008), maka sejumlah itulah minimal kita temukan cadangan baru minyak
dan gas setahunnya yang kelak dapat driproduksikan. Mengapa begitu ? Untuk
menjaga kelestarian Indonesia sebagai negara produsen minyak dan gas.
>
> Bagaimana kenyataannya ? Menyedihkan. Cadangan baru yang kita temukan
rata-rata dalam setahunnya hanya 148 juta barrel minyak dan 0,99 trilyun
kaki kubik gas (dirata-ratakan dari data 2003-2008). Itu adalah angka
maksimal (hitungan eksplorasi) sebab akan terpotong lagi secara signifikan
saat akan diajukan dalam POD (plan of development). Maka, penggantian
produksi Indonesia oleh temuan cadangan baru selama enam tahun terakhir ini
setahunnya maksimal hanya 39 % untuk minyak dan 33 % untuk gas. Artinya,
bila jumlah konsumsi migas Indonesia semakin bertambah pada masa-masa
mendatang, maka Indonesia akan lebih banyak lagi mengimpor migas dari luar
sebab penemuan-penemuan migas Indonesia tak mampu menggantikan volume yang
diproduksikan. Ini belum membicarakan tingkat produksi Indonesia yang juga
bermasalah.. Tahun 2008, kuota produksi minyak dan gas yang ditetapkan
Pemerintah tak mampu kita capai, hanya mendekatinya, selisih 0.1-4 % dari
target, sehingga
> produksi minyak Indonesia tahun lalu 357 juta barrel (dari rata-rata 384
juta barrel dalam enam tahun terakhir)
>
> Keterangan di atas menyimpulkan bahwa eksplorasi kita saat ini terganggu.
Itu harus diakui, sebagai cermin untuk kita berbenah, bukan menjadi
terpuruk. Apa penyebab eksplorasi kita gagal menemukan cadangan-cadangan
migas signifikan yang dapat menggantikan produksi migas ? Saya melihat dua
hal utama : (1) rendahnya realisasi sumur eksplorasi, (2) rendahnya
keberanian eksplorasi di luar lahan klasik.
>
> Data lima tahun terakhir (2004-2008)  menunjukkan bahwa  tingkat realisasi
sumur-sumur eksplorasi menurun terus dari 73 % sampai 46 %. Harus diingat
bahwa hanya sumur yang nmembuktikan keberadaan cadangan migas, bukan data
seismik, apalagi studi. Maka : “no well no discovery” haruslah dipegang
teguh. Tingkat penemuan sumur-sumur eksplorasi di Indonesia sebenarnya lebih
tinggi dari rata-rata dunia, yaitu di Indonesia rata-rata 46 % (data
2003-2008). Tetapi jangan terlena dengan hal itu sebab angka ini hanyalah
keberhasilan secara teknis, dan belum tentu paralel dengan penemuan yang
ekonomis. Kemudian, yang harus menjadi perhatian adalah bahwa
cadangan-cadangan baru yang ditemukan kecil. Wajar saja sebab kebanyakan
sumur hanya dibor di wilayah-wilayah klasik yang telah memproduksikan minyak
lebih dari 100 tahun.
>
> Kondisi ini kontras sekali dengan “kekayaan” (saya beri tanda petik sebab
yang kekayaan ini harus diselidiki dengan detail) potensi migas Indonesia.
Kondisi geologi Indonesia yang rumit telah membuat negeri ini mempunyai
banyak cekungan besar maupun kecil yang tersebar di seluruh wilayahnya dari
pegunungan, dataran, laut dangkal, sampai laut dalam. Para ahli geologi
Indonesia baru-baru ini telah mengeluarkan peta cekungan sedimen baru yang
menyatakan bahwa Indonesia memiliki 86 cekungan sedimen. Peta ini merupakan
peta revisi cekungan terdahulu (IAGI, 1985) yang menerbitkan 60 cekungan
sedimen. Cekungan tentu tak pernah beranak, menjadi banyak karena dilihat
kembali secara lebih detail, atau yang dulu tak pernah berstatus cekungan,
sekarang cukup memenuhi syarat dinamai cekungan.
>
> Dalam sejarah perminyakan Indonesia, di negeri in pernah diidentifikasi 28
cekungan sedimen (Fletcher dan Soeparjadi, 1976), 40 cekungan (IAGI, 1980),
60 cekungan (IAGI, 1985), 66 cekungan (Pertamina dan Beicip, 1985). Status
60 cekungan ini bertahan cukup lama, 22 tahun. Pada tahun 2007, dimulailah
pekerjaan untuk merevisinya sesuai dengan kemajuan ilmu geologi migas dan
pertambahan data. BPMIGAS-ITB dan konsorsium perguruan tinggi bekerja selama
setahun dan akhirnya mengeluarkan peta yang memuat 86 cekungan (BPMIGAS-ITB,
2008).
>
> Lemigas, ternyata melakukan hal yang sama pula, tetapi menghasilkan produk
yang lain : peta cekungan sedimen Tersier Indonesia dengan jumlah cekungan :
63 (Lemigas, 2008).
>
> Baik Lemigas maupun BPMIGAS-ITB sebenarnya memetakan barang yang sama.
Perbedaan terjadi karena Lemigas berpatokan secara ketat kepada klasifikasi
IAGI (1985) – 60 cekungandan Pertamina-Beicip (1985) -66 cekungan; sementara
BPMIGAS-ITB dan konsorsium perguruan tinggi membuka peluang-peluang baru
cekungan-cekungan sedimen dangkal dan dalam yang sebelumnya belum pernah
dimasukkan ke dalam klasifikasi mana pun. BPMIGAS-ITB pun dalam petanya
mencantumkan cekungan2 Pra-Tersier yang tersebar di Indonesia Timur.
>
> Bulan lalu datang surat ke meja saya, bahwa Badan Geologi berminat
memetakan cekungan-cekungan sedimen di Indonesia. Nah, masalah koordinasi
kembali mencuat. Siapa yang berhak mengeluarkan peta cekungan sedimen dan
produk mana yang nantinya akan dipakai mungkin harus didiskusikan.
Klasifikasi 63 cekungan Lemigas telah diumumkan di Pertemuan IPA 2008
melalui poster (Soenarjanto dkk., 2008), klasifikasi 86 cekungan BPMIGAS-ITB
telah diumumkan di Pertemuan IAGI 2008. Peta cekungan susunan BPMIGAS-ITB
ini pun melibatkan kelompok2 keahlian di IAGI.
>
> Mana saja klasifikasi cekungan yang akan dipakai (jumlah 60, 63, 66, 86 ?)
tetap saja persoalan eksplorasi masa kini untuk mengganti produksi tidak
mendapatkan perhatian dari para operator migas di Indonesia. Sebagian besar
operator migas lama maupun baru tetap mengkonsentrasikan diri di 16 (atau 17
menurut klasifikasi cekungan baru BPMIGAS-ITB) cekungan produktif. Sedikit
sekali para operator yang bekerja di cekungan-cekungan non-produktif
(meskipun sebagian cekungan itu sudah ada penemuan migas, hanya belum
ditindaklanjuti lagi). Padahal, dalam tiga tahun terakhir ini Pemerintah
bersama beberapa perusahaan jasa seismik gencar mengumpulkan data seismik
baru dan data geologi di wilayah-wilayah frontier yang akan berguna untuk
evaluasi prospektivitas cekungan-cekungan tersebut. Bisa dilihat, bahwa pada
umumnya area-area frontier ini masih sedikit diminati, seperti ditunjukkan
oleh penambahan 29 area perminyakan baru pada tahun 2008. Saat harga minyak
di
> atas 125 USD per barrel, banyak pemain migas bersemangat mulai keluar dari
wilayah klasik, tetapi ketika harga minyak terjun ke sekitar 40 USD, mereka
mengurungkan niatnya semula.
>
> Kapankah eksplorasi akan berjaya kembali mengganti produksi migas
Indonesia melalui penemuan-penemuan migas besar ? Statistik 40 tahun sejak
sistem PSC dibuka di Indonesia menunjukkan bahwa penemuan-penemuan besar
diperoleh ketika hampir 150 sumur-sumur eksplorasi dibor setiap tahunnya
pada awal 1970-an dan pertengahan 1980-an. Gencarnya eksplorasi saat itu
telah menyumbang produksi minyak Indonesia mencapai puncaknya sekitar 1,5
juta sampai melebih 1.6 juta barrel minyak per hari pada tahun 1976-1981 dan
padal 1990-1997. Posisi lima tahun terakhir ini, jumlah sumur eksplorasi
kita paling banyak hanya mencapai 82 sumur (2006) dan produksi minyak hanya
di sekitar 1 juta barrel per hari.
>
> Sungguh, kelangsungan Indonesia sebagai produsen minyak lebih dari 10
tahun ke depan akan sangat terganggu dengan rendahnya eksplorasi pada masa
kini. Sudah saatnya kita harus mengulangi kejayaan eksplorasi pada awal
tahun 1970-an dan pertengahan 1980-an, agar produktivitas Indonesia tetap
terpelihara. Dan, beranilah keluar dari wilayah klasik bila kita ingin
menemukan cadangan yang signifikan. High risk memang, tetapi high reward.
Masih ada 69 cekungan yang bisa berpotensi mengandung migas dan menjadi
produktif. Produksi minyak di Indonesia tidak akan berakhir, tetapi ada tiga
hal yang harus kita kerjakan : eksplorasi, eksplorasi, dan eksplorasi.
>
> Eksplorasi harus ditingkatkan, sumur-sumur eksplorasi harus lebih banyak
dibor, tetapi tetap dengan mengutamakan kaidah keteknikan eksplorasi yang
baik. Meskipun kita memerlukan lebih banyak sumur eksplorasi, tidak berarti
bahwa kaidah teknis bisa diabaikan. Kita mencari minyak, bukan "memberi
makan rig-rig" pemboran atau mengebor dengan alasan2 lain yang
non-eksplorasi. (kalimat terakhir perlu saya tulis sebab terjadi indikasi
dari beberapa operator mengebor dg alasan mencari minyak ditaruh di nomor ke
sekian setelah alasan2 lain yang non-eksplorasi - jangan berharap usulan2
sumur seperti ini akan disetujui).
>
> salam,
> awang
>
>
>



-- 
Dongeng anget :
http://rovicky.wordpress.com/2009/04/11/skenario-pilpres-2009/

Kirim email ke