Pak Yudi,
 
Barangkali saya menulis kurang jelas, sehingga terjadi kesalahpahaman. Produksi 
sekitar 1 juta BOPD dalam kalimat yang Pak Yudi kutip, bukan berasal dari 82 
sumur eksplorasi yang dibor pada tahun 2006. Produksi sekitar 1 juta BOPD itu 
berasal dari lapangan2 produktif di Indonesia. 
 
Sedangkan dari 82 sumur eksplorasi tersebut, ada 32 yang berhasil menemukan 
migas -tetapi tentu saja belum berproduksi sebab masih harus dikaji dulu oleh 
pekerjaan2 dan evaluasi2 selanjutnya. Mungkin dari beberapa temuan itu, bila 
cukup ekonomis, ada beberapa yang langsung akan/telah diproduksikan melalui 
mekanisme persetujuan POP -put on production; tetapi tak akan melebihi 5 sumur.
 
salam,
awang

--- On Mon, 4/13/09, yudi purnama <[email protected]> wrote:

From: yudi purnama <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Eksplorasi, Eksplorasi, dan Eksplorasi
To: [email protected]
Cc: "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>, "Forum HAGI" 
<[email protected]>, "Geo Unpad" <[email protected]>
Date: Monday, April 13, 2009, 12:14 PM

"Posisi lima tahun terakhir ini, jumlah sumur eksplorasi kita paling
banyak hanya mencapai 82 sumur (2006) dan produksi minyak hanya di
sekitar 1 juta barrel per hari."

Produksi minyak dari jumlah sumur tersebut belum termasuk kalau kita
'menyimak kembali' bahwa yang 'dry hole' tidak sesungguhnya
'dry'....


Salam,
Yudi


2009/4/13 Awang Satyana <[email protected]>:
> Idealnya, untuk setiap satu barrel minyak atau satu juta kaki kubik gas
yang kita produksikan, ada cadangan baru sejumlah itu yang kita temukan dan
kelak dapat diproduksikan. Jadi, bila di dalam satu tahun kita memproduksikan
sebanyak 384 juta barrel minyak dan 2,9 trilyun kaki kubik gas – sebagaimana
dirata-ratakan dari produksi enam tahun terakhir (2003-2008), maka sejumlah
itulah minimal kita temukan cadangan baru minyak dan gas setahunnya yang kelak
dapat driproduksikan. Mengapa begitu ? Untuk menjaga kelestarian Indonesia
sebagai negara produsen minyak dan gas.
>
> Bagaimana kenyataannya ? Menyedihkan. Cadangan baru yang kita temukan
rata-rata dalam setahunnya hanya 148 juta barrel minyak dan 0,99 trilyun kaki
kubik gas (dirata-ratakan dari data 2003-2008). Itu adalah angka maksimal
(hitungan eksplorasi) sebab akan terpotong lagi secara signifikan saat akan
diajukan dalam POD (plan of development). Maka, penggantian produksi Indonesia
oleh temuan cadangan baru selama enam tahun terakhir ini setahunnya maksimal
hanya 39 % untuk minyak dan 33 % untuk gas. Artinya, bila jumlah konsumsi migas
Indonesia semakin bertambah pada masa-masa mendatang, maka Indonesia akan lebih
banyak lagi mengimpor migas dari luar sebab penemuan-penemuan migas Indonesia
tak mampu menggantikan volume yang diproduksikan. Ini belum membicarakan tingkat
produksi Indonesia yang juga bermasalah.. Tahun 2008, kuota produksi minyak dan
gas yang ditetapkan Pemerintah tak mampu kita capai, hanya mendekatinya, selisih
0.1-4 % dari target, sehingga
>  produksi minyak Indonesia tahun lalu 357 juta barrel (dari rata-rata 384
juta barrel dalam enam tahun terakhir)
>
> Keterangan di atas menyimpulkan bahwa eksplorasi kita saat ini terganggu.
Itu harus diakui, sebagai cermin untuk kita berbenah, bukan menjadi terpuruk.
Apa penyebab eksplorasi kita gagal menemukan cadangan-cadangan migas signifikan
yang dapat menggantikan produksi migas ? Saya melihat dua hal utama : (1)
rendahnya realisasi sumur eksplorasi, (2) rendahnya keberanian eksplorasi di
luar lahan klasik.
>
> Data lima tahun terakhir (2004-2008)  menunjukkan bahwa  tingkat realisasi
sumur-sumur eksplorasi menurun terus dari 73 % sampai 46 %. Harus diingat bahwa
hanya sumur yang nmembuktikan keberadaan cadangan migas, bukan data seismik,
apalagi studi. Maka : “no well no discovery” haruslah dipegang teguh.
Tingkat penemuan sumur-sumur eksplorasi di Indonesia sebenarnya lebih tinggi
dari rata-rata dunia, yaitu di Indonesia rata-rata 46 % (data 2003-2008). Tetapi
jangan terlena dengan hal itu sebab angka ini hanyalah keberhasilan secara
teknis, dan belum tentu paralel dengan penemuan yang ekonomis. Kemudian, yang
harus menjadi perhatian adalah bahwa cadangan-cadangan baru yang ditemukan
kecil. Wajar saja sebab kebanyakan sumur hanya dibor di wilayah-wilayah klasik
yang telah memproduksikan minyak lebih dari 100 tahun.
>
> Kondisi ini kontras sekali dengan “kekayaan” (saya beri tanda petik
sebab yang kekayaan ini harus diselidiki dengan detail) potensi migas Indonesia.
Kondisi geologi Indonesia yang rumit telah membuat negeri ini mempunyai banyak
cekungan besar maupun kecil yang tersebar di seluruh wilayahnya dari pegunungan,
dataran, laut dangkal, sampai laut dalam. Para ahli geologi Indonesia baru-baru
ini telah mengeluarkan peta cekungan sedimen baru yang menyatakan bahwa
Indonesia memiliki 86 cekungan sedimen. Peta ini merupakan peta revisi cekungan
terdahulu (IAGI, 1985) yang menerbitkan 60 cekungan sedimen. Cekungan tentu tak
pernah beranak, menjadi banyak karena dilihat kembali secara lebih detail, atau
yang dulu tak pernah berstatus cekungan, sekarang cukup memenuhi syarat dinamai
cekungan.
>
> Dalam sejarah perminyakan Indonesia, di negeri in pernah diidentifikasi 28
cekungan sedimen (Fletcher dan Soeparjadi, 1976), 40 cekungan (IAGI, 1980), 60
cekungan (IAGI, 1985), 66 cekungan (Pertamina dan Beicip, 1985). Status 60
cekungan ini bertahan cukup lama, 22 tahun. Pada tahun 2007, dimulailah
pekerjaan untuk merevisinya sesuai dengan kemajuan ilmu geologi migas dan
pertambahan data. BPMIGAS-ITB dan konsorsium perguruan tinggi bekerja selama
setahun dan akhirnya mengeluarkan peta yang memuat 86 cekungan (BPMIGAS-ITB,
2008).
>
> Lemigas, ternyata melakukan hal yang sama pula, tetapi menghasilkan produk
yang lain : peta cekungan sedimen Tersier Indonesia dengan jumlah cekungan : 63
(Lemigas, 2008).
>
> Baik Lemigas maupun BPMIGAS-ITB sebenarnya memetakan barang yang sama.
Perbedaan terjadi karena Lemigas berpatokan secara ketat kepada klasifikasi IAGI
(1985) – 60 cekungandan Pertamina-Beicip (1985) -66 cekungan; sementara
BPMIGAS-ITB dan konsorsium perguruan tinggi membuka peluang-peluang baru
cekungan-cekungan sedimen dangkal dan dalam yang sebelumnya belum pernah
dimasukkan ke dalam klasifikasi mana pun. BPMIGAS-ITB pun dalam petanya
mencantumkan cekungan2 Pra-Tersier yang tersebar di Indonesia Timur.
>
> Bulan lalu datang surat ke meja saya, bahwa Badan Geologi berminat
memetakan cekungan-cekungan sedimen di Indonesia. Nah, masalah koordinasi
kembali mencuat. Siapa yang berhak mengeluarkan peta cekungan sedimen dan produk
mana yang nantinya akan dipakai mungkin harus didiskusikan. Klasifikasi 63
cekungan Lemigas telah diumumkan di Pertemuan IPA 2008 melalui poster
(Soenarjanto dkk., 2008), klasifikasi 86 cekungan BPMIGAS-ITB telah diumumkan di
Pertemuan IAGI 2008. Peta cekungan susunan BPMIGAS-ITB ini pun melibatkan
kelompok2 keahlian di IAGI.
>
> Mana saja klasifikasi cekungan yang akan dipakai (jumlah 60, 63, 66, 86 ?)
tetap saja persoalan eksplorasi masa kini untuk mengganti produksi tidak
mendapatkan perhatian dari para operator migas di Indonesia. Sebagian besar
operator migas lama maupun baru tetap mengkonsentrasikan diri di 16 (atau 17
menurut klasifikasi cekungan baru BPMIGAS-ITB) cekungan produktif. Sedikit
sekali para operator yang bekerja di cekungan-cekungan non-produktif (meskipun
sebagian cekungan itu sudah ada penemuan migas, hanya belum ditindaklanjuti
lagi). Padahal, dalam tiga tahun terakhir ini Pemerintah bersama beberapa
perusahaan jasa seismik gencar mengumpulkan data seismik baru dan data geologi
di wilayah-wilayah frontier yang akan berguna untuk evaluasi prospektivitas
cekungan-cekungan tersebut. Bisa dilihat, bahwa pada umumnya area-area frontier
ini masih sedikit diminati, seperti ditunjukkan oleh penambahan 29 area
perminyakan baru pada tahun 2008. Saat harga minyak di
>  atas 125 USD per barrel, banyak pemain migas bersemangat mulai keluar
dari wilayah klasik, tetapi ketika harga minyak terjun ke sekitar 40 USD, mereka
mengurungkan niatnya semula.
>
> Kapankah eksplorasi akan berjaya kembali mengganti produksi migas
Indonesia melalui penemuan-penemuan migas besar ? Statistik 40 tahun sejak
sistem PSC dibuka di Indonesia menunjukkan bahwa penemuan-penemuan besar
diperoleh ketika hampir 150 sumur-sumur eksplorasi dibor setiap tahunnya pada
awal 1970-an dan pertengahan 1980-an. Gencarnya eksplorasi saat itu telah
menyumbang produksi minyak Indonesia mencapai puncaknya sekitar 1,5 juta sampai
melebih 1.6 juta barrel minyak per hari pada tahun 1976-1981 dan padal
1990-1997. Posisi lima tahun terakhir ini, jumlah sumur eksplorasi kita paling
banyak hanya mencapai 82 sumur (2006) dan produksi minyak hanya di sekitar 1
juta barrel per hari.
>
> Sungguh, kelangsungan Indonesia sebagai produsen minyak lebih dari 10
tahun ke depan akan sangat terganggu dengan rendahnya eksplorasi pada masa kini.
Sudah saatnya kita harus mengulangi kejayaan eksplorasi pada awal tahun 1970-an
dan pertengahan 1980-an, agar produktivitas Indonesia tetap terpelihara. Dan,
beranilah keluar dari wilayah klasik bila kita ingin menemukan cadangan yang
signifikan. High risk memang, tetapi high reward. Masih ada 69 cekungan yang
bisa berpotensi mengandung migas dan menjadi produktif. Produksi minyak di
Indonesia tidak akan berakhir, tetapi ada tiga hal yang harus kita kerjakan :
eksplorasi, eksplorasi, dan eksplorasi.
>
> Eksplorasi harus ditingkatkan, sumur-sumur eksplorasi harus lebih banyak
dibor, tetapi tetap dengan mengutamakan kaidah keteknikan eksplorasi yang baik.
Meskipun kita memerlukan lebih banyak sumur eksplorasi, tidak berarti bahwa
kaidah teknis bisa diabaikan. Kita mencari minyak, bukan "memberi makan
rig-rig" pemboran atau mengebor dengan alasan2 lain yang non-eksplorasi.
(kalimat terakhir perlu saya tulis sebab terjadi indikasi dari beberapa operator
mengebor dg alasan mencari minyak ditaruh di nomor ke sekian setelah alasan2
lain yang non-eksplorasi - jangan berharap usulan2 sumur seperti ini akan
disetujui).
>
> salam,
> awang
>
>
>

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------




      

Kirim email ke