Saya baru kembali dari undangan sebagai salah satu pembicara di Lokakarya Badan Geologi di Gedung Sekjen Departemen ESDM tentang Cekungan Sedimen Indonesia. Lokakarya ini tujuan utamanya adalah ingin mengumumkan hasil pekerjaan Badan Geologi selama hampir enam bulan terakhir tentang delineasi cekungan-cekungan sedimen di Indonesia berdasarkan data gayaberat.
Mengapa Badan Geologi membuat peta cekungan sedimen sendiri, bukankah Lemigas (2008) dan BPMIGAS (2008) baru saja mengeluarkan dan mengumumkan peta cekungannya ? Karena, Badan Geologi telah menyelesaikan pemetaan geologi regional dan gayaberat regional seluruh Indonesia. Data ini sayang bila dibiarkan saja; kemudian diaplikasikanlah untuk kepentingan pemetaan cekungan sedimen. Mengapa Lemigas-BPMIGAS-Badan Geologi tidak saling bekerja sama membuat peta cekungan sedimen dengan dukungan data yang kuat dan bervariasi dari berbagai instansi ? Di sini mungkin ada masalah koordinasi. Menurut seorang teman dari LAPI-ITB yang bekerja sama dengan BPMIGAS saat memetakan cekungan, LAPI-ITB telah berkoordinasi dengan Lemigas tentang pemetaan cekungan yang sedang dilakukan BPMIGAS, juga BPMIGAS-LAPI ITB telah menggunakan data gayaberat tahun 2000 dari P3G (sekarang PSG, di bawah Badan Geologi). Kalau sudah koordinasi, kok hasilnya berbeda antara Lemigas, BPMIGAS, dan Badan Geologi, dan masing2 mengeluarkan versinya sendiri ? Lemigas keluar dengan 63 cekungan, BPMIGAS keluar dengan 86 cekungan, dan kini Badan Geologi keluar dengan 128 cekungan sedimen. Meskipun tadi Pak Menteri ESDM diminta membubuhkan tanda tangan pada peta 128 cekungan sedimen hasil Badan Geologi, dan Pak Purnomo dalam sambutannya mengatakan bahwa para pejabat di lingkungan ESDM mesti mengganti kata-kata 60 cekungan menjadi 128 cekungan saat menyampaikan sambutan, mestinya itu jangan ditafsirkan menjadi semacam legalisasi atas peta cekungan sedimen Badan Geologi. Mengapa ? Sebab, pemetaan cekungan sedimen Badan Geologi baru langkah awal. Pekerjaan selanjutnya adalah berhubungan dengan PND untuk memeriksa data migas di setiap cekungan seperti ketebalan sedimen dll. Juga, peta cekungan yang berdasarkan data gayaberat ini masih banyak mendapatkan kritik dan saran. Lalu, dalam minggu-minggu ke depan ada pula rencana BPMIGAS-Badan Geologi-Lemigas akan duduk bersama tentang pemetaan cekungan ini. Pak Sukhyar, Kepala Badan Geologi, tadi ngobrol dengan saya dan mengatakan, memang ini semacam ekspose pertama, yang mungkin mengagetkan dengan 128 cekungan baru; supaya mendapat perhatian dari instansi terkait dan kalangan industri. Saya ringkaskan sedikit jalannya Lokakarya tadi. Ada lima pembicara : (1) Pak Imam Sobari (Badan Geologi), (2) Pak Syaiful Bachri (Badan Geologi), (3) Pak Nazhar Buyung (Badan Geologi), (4) Pak R.P. Koesoemadinata (Prof Em. ITB), (5) Awang Satyana (BPMIGAS). Pak Sobari mempresentasikan hal berjudul "Delineasi Cekungan Sedimen di Indonesia Berdasarkan Anomali Gaya Berat". Data anomali Bouguer di darat dan free-air di laut digunakan sebagai data dasar delineasi cekungan. Ciri cekungan berdasarkan data gayaberat : pola kontur tertutup, menurun ke arah pusat, terdapat perbedaan rapat massa antara sedimen Tersier, pra-Tersier, basement kerak atas dan basement kerak bawah. Dengan cara ini ditemukan dan didefinisi ulang menjadi total 128 cekungan. Pak Syaiful mempresentasikan hal berjudul, "Penyusunan atlas Cekungan Sedimen Indonesia Berdasarkan Data Gaya Berat dan Geologi. Peta geologi permukaan seluruh Indonesia, terutama tinggian2 basement/meta-sedimen dipakai sebagai batas cekungan. Atlas atas 128 cekungan akan dibuat menggunakan berbagai data geologi regional, gayaberat, stratigrafi, remote sensing. Juga pencarian data ke instansi lain akan dilakukan untuk menyusun atlas ini, misalnya BPMIGAS, Lemigas, PND. Jumlah cekungan 128 (darat 51, laut 77, Tersier 85, pra-Tersier 6, Tersier-pra-Tersier 37). Pak Nazhar mempresentasikan hal berjudul, "Hubungan antara Zone-Zone Gaya Berat dengan Struktur Geologi Dominan di Indonesia. Trend-trend anomali Bouguer/free air di Indonesia dibagi-bagi, kisarannya antara -150 mGal s.d. +320 mGal. Trend yang menunjukkan cekungan sedimen berada pada 0-+ 60 mGal, sedangkan cekungan yang produktif dan potensial ada pada kisaran +20 s.d. +40 mGal. Gejala-gejala tektonik regional umumnya berhubungan dengan anomali negatif antara -150 s.d 0 mGal. Pak Koesoema membahas hal tentang "Konsep Cekungan". Dibahas secara back to basic apakah yang dimaksud dengan cekungan itu. Hati-hati membedakan cekungan fisiografik, cekungan struktural, cekungan sedimen, cekungan minyak. Pak Koesoema mendefinisikan cekungan sedimen sebagai : bagian kerak Bumi tempat lapisan sedimen diendapkan lebih tebal secara signifikan dibandingkan sekelilingnya". Dibahas juga bagaimana kebingungan yang terjadi dalam delineasi cekungan sebab akan ditentukan oleh berapa cut-off kontur isopach yang dipakai. Ditampilkan beberapa kasus delineasi cekungan sedimen di Indonesia yang berbeda-beda. Terakhir dibahas klasifikasi cekungan berdasarkan tektonik. Awang membahas hal berjudul, "Pemanfaatan Informasi Cekungan Indonesia dalam Lingkup Bidang Energi". Di awal presentasi dibahas variasi klasifikasi cekungan sedimen Indonesia yang pernah terjadi, baik dari Koesoemadinata dan Pulunggono (1971) untuk Indonesia Barat, Hamilton (1974) yang tak menunjukkan batas cekungan tetapi hanya kontur isopach, Fletcher-Soeparjadi (1976) klasifikasi 28 cekungan, IAGI (1980) : 40 cekungan, IAGI (1985) 60 cekungan, Pertamina-Beicip (1992) : 66 cekungan, Lemigas (2008) : 63 cekungan dan BPMIGAS (2008) : 86 cekungan. Kemudian dibahas status eksplorasi-produksi migas cekungan-cekungan di Indonesia. Menekankan bahwa produksi migas menurun terus dalam lima tahun terakhir dan cadangan migas Indonesia tak pernah naik signifikan. Intinya karena cekungan-cekungan yang dikerjakan yang itu-itu saja (16 cekungan produksi). Terakhir disampaikan jenis-jenis informasi apa dari cekungan yang dibutuhkan kalangan industri migas untuk eksplorasi dan produksi. Sesi Tanya-Jawab yang sempat saya catat : Tohab Simandjuntak (mantan peneliti utama P3G) : tak ada yang namanya cekungan pra-Tersier itu sebab semua batuan pra-Tersier di Indonesia adalah alokton. Setiabudi-EMP : bagaimana pengusahaan CBM/GMB (gas metana batubara) di Indonesia sebab beberapa cekungan migas pun menjadi cekungan-cekungan CBM. Nachrowi-PPT Migas : dalaman Kendeng yang anomali negatifnya tinggi, mengapa jalur kaya minyak padahal jalur anomali negatif umumnya seperti palung. Wawan Gunawan-ITB : harusnya bukan anomali Bouguer yang dipakai untuk pemetaan ini, tetapi anomali sisa; juga angka rapat massa mestinya tak satu angka untuk setiap jenis batuan, tetapi bervariasi. Sigit Prabowo-Marathon : bagaimana status data 44 cekungan yang non-produktif (klasifikasi 60 cekungan). Terakhir, Pak Koesoemadinata diminta memberikan komentar tentang pemetaan cekungan ini. Menurut Pak Koesoema, boleh-boleh saja setiap institusi mengeluarkan cekungan menurut versinya masing-masing, itu lebih untuk kepentingan strategis misalnya mengundang investor; tetapi yang namanya mendelineasi cekungan itu bukan hal mudah sebab sangat relatif bergantung kepada metode yang dipakai. Biar saja data gayaberat yang lengkap ini dibuka ke publik (user) dan biar saja mereka yang mendelinesinya. Perusahaan2 minyak besar punya research center-nya sendiri yang mengeluarkan pemetaan basin menurut pendapatnya sendiri -tak akan terpengaruh oleh pemetaan cekungan-cekungan yang dilakukan akhir2 ini. Pada awal presentasi, Pak Koesoema berpendapat kok sekarang menjadi trend memetakan cekungan-cekungan itu, dan terjadi proliferasi, bertambah banyak, seperti pemekaran wilayah kabupaten saja.... Demikian sedikit laporan pengamatan saya. Untuk Pak Rovicky, sayang sekali peta 128 cekungan sedimen Badan Geologi (128) hanya ada cetakan hitam putihnya di kertas yang dibagikan. Poster besarnya ada di tempel di ruangan, sayang juga tak ada digitalnya di bahan presentasi yang saya copy, belum boleh dipublikasi barangkali....? Saya sedang mengusahakannya meminta kepada Panitia Lokakarya. salam, awang --- On Tue, 5/19/09, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote: > From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > Subject: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128 Buah > To: "Forum HAGI" <[email protected]>, "IAGI" <[email protected]> > Date: Tuesday, May 19, 2009, 1:32 PM > Dimana bisa mendapatan informasi ini > ? > > RDP > ============================== > 19/05/2009 09:35 WIB > Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128 Buah > > detikFinance > > Jakarta- Jumlah cekungan di Indonesia bertambah dua kali > lipat. > Jika di tahun 2006 hanya sebanyak 60 buah cekungan geologi > saat ini diketahui > jumlahnya sudah mencapai 128 buah. > > "Saya selalu sampaikan kalau jumlah cekungan di Indonesia > sekitar 60 buah, > tapi mulai pagi ini angka magic itu sudah berubah," kata > Menteri ESDM > Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannya pada Lokakarya > Cekungan Sendimen > Indonesia, > di Gedung ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, > Selasa (19/5/2009). > > Purnomo menjelaskan berdasarkan hasil penelitian Badan > Geologi Departemen > dilaporkan, saat ini jumlah cekungan sendimen di Indonesia > sudah > bertambah menjadi > 128 buah. > > "Jadi nanti para Dirjen ataupun menteri yang baru jangan > lupa kalau > sekarang jumlah cekungan kita bukan 60 lagi tapi sudah 128 > buah," > jelasnya. > > Menurut Purnomo, pihaknya nanti akan membuat atlas cekungan > sendimen yang bisa > digunakan untuk membantu kegiatan ekplorasi produksi dan > kegiatan perminyakan > lainnya. "Ini akan bantu untuk temukan cadangan-cadangan > migas yang > baru," ungkapnya. > > Sementara itu, Kepala Badan Geologi, R Sukyar menyatakan > penemuan tersebut > dapat menjadi target eksplorasi bagi para pelaku usaha di > bidang energi. > > "Bagi pengembang ini akan menjadi informasi baru yang akan > menjadi > target-target ekplorasi di masa yang datang,"ungkap > Sukyar. > > Sebelumnya data ditjen migas mencatat jumlah cekungan > hidrokarbon di Indonesia > sampai akhir tahun 2006 berjumlah 60 cekungan, dengan > perincian: 16 cekungan > sudah berproduksi: 8 cekungan terbukti mengandung > hidrokarbon tetapi belum > berproduksi: 14 cekungan sudah dibor tapi belum menemukan > hidrokarbon: dan > sisanya 22 cekungan masih belum dilakukan pemboran > eksplorasi. > -- > http://rovicky.wordpress.com/2009/05/15/pak-boediono-diperlukan-dimana/ > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2008-2011: > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak > biro... > -------------------------------------------------------------------------------- > ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang > 13-14 Oktober 2009 > ----------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to > information posted on its mailing lists, whether posted by > IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be > liable for any, including but not limited to direct or > indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > resulting from loss of use, data or profits, arising out of > or in connection with the use of any information posted on > IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang 13-14 Oktober 2009 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

