Wah, Mas Hery muncul lagi. Apa kabar Mas ?
Netters, Salam, Terlihatlah dari cerita Mas Awang, pencarian data gravitasi global (Vening Meinesz), sudah sejak 1925-1935 an, dan Teori Lempeng tektonik baru rame pada separo 70 th berikutnya (1960-1970). Apa Salam Theory ini perbaikan 70 th setelah itu (1995-2005) ? Berikut menganalisa dua kasus lempeng. Juga, ini menambahi komentar Mas Wawan GAK, yang ternyata data Gaya Berat itu masih perlu banyak koreksi untuk memilah cekungan. Berapa panjang "long wave length" nya mas Wawan ? Kasus Cekungan: 1. Apakah suatu bagian lempeng bisa mendorong lempeng yang lain? Mengapa jarang di sebutkan: Suatu lempeng menarik lempeng lain, tapi suatu lempeng mendorong lempeng lain saja ? 2. Berapa panjang “filter long wave length” untuk mendapatkan “Peta anomali Bouger suatu Cekungan” ? "Gothak-gathuk", inti cara kreasi interpretasi ini, akan menghubungkan teori Lempeng dengan MST (Masmar Salam Theory). Dengan cara amat sederhanya saja, MST telah menjawab relatif dekat dengan prediksi cekungan yang dengan macam-macam gabungan "gathukan" data. 1. Lithosphere bukan benda yang “solid”, lithospher terkompres-tertarik oleh gelombang Msmar kompresi-extensi lapisan asthenosphere. Lithosphere terpecah-pecah menurut patahan yang selebar pereode Gelombang Masmar(x). Lithosphere tak bisa saling mendorong, tetapi pergerakan datarnya lebih hanya karena mengikuti tekanan dan tarikan Gelombang Masmar lateral lapisan Asthenosphere berpereode 7x10^m meter, dimana m=-21 hingga 6. Karena hanya mengikuti gelombang Masmar Asthenosphere, Lempeng tak saling tarikmenarik bagian lain. Gelombang Masmar asthenosphere, tergantung gelombang Masmar dari pusat Bumi. Terakhir ini tergantung dari Gelombang masmar Tatasurya. Dst, hinga semua tergantung dari Gelombang MS Jagadraya, yang hanya sebuah, satu fungsi saja peneyebabnya. 2. Panjang filter “long wave length” minimum 2.5 kali panjang target.. Uraian: Masmar Salam Theory (MST) =Y(R,t) = M(R).S(t) +I. Dimana I = deviasi error, yang juga berarti Insya Alloh. Gelombang Masmar, M(R) = K+ (A^m)xSin (Rx2x22/(7x 7x10^m)) meter, dimana m = -21 hingga 28. Geombang Salam, S(t) = (A^n)xSin (2 x 22x(t – thetha)/7x10^n) satuan annum, dimana n = 0 sampai 10. R= jarak, t=waktu (annum), Thetha = 18.617.394.351 BC ( Maryanto, 2009). Ini ada perbaikan thetha dari semula th 2003, 2007. Titik pusat alam O(0,0), adalah pusat bola Alam sepanjang masa, dan sebagai awal alam ketika Big Bang, dimana x=0, serta waktu t=0, untuk Y(x,t) tadi. Juga O(0,0) adalah pusat Alam di setiap waktu. Ini juga di sebut O(0,t). (Lengkaplah kini, bahwa semua 7 macam huruf dari kata m-a-r-y-a-n-t-o atao huruf besarnya, sudah di pakai sebagai parameter Teori Salam). Atom yang maksimum berkulit 7, dan setiap kulit maximumnya 10 ruang antara yang di batasi oleh 9 pasang elektron spin keatas dan spin kebawah, mengalami perubahan massa atas berkurangnya massa oleh peristiwa fusi dan fisi nuklir. Ini menjadikan pengurangannya akan bertingkat 7, serta dalam 10 tingkat. Menjadikan alam bergerak dengan Gelombang Masmar dan Gelombang Salam. Gelombang ini menyebabkan Bumi mengalamai kembang-kempis, dengan gerak Gelombang MS. Ruang antara, bisa di sebut patahan, untuk segala ukuran, termasuk bola ukuran atom, sepanjang lempeng tektonik, bola tatasurya, galaksi, alam. Kesepuluh patahan membuat masing-masing "Syukur Flower Structur" (atau Struktur Koesoema SYUKUR, yang akronim dari "Structural plate or mass Yielded by Unrest convection flows as Key in Unifying plate or mass Reference". Bumi, berdiameter D =1.274 x 10^7 meter ( atau 2 x 3670 km), adalah 7 lapis dengan lapisannya , jarak dari muka bumi (km) : 1. Lempeng laut 7, 2. Lithosfer 70, 3. Astenosphere 210, 4. Mantel Luar 700, 5. Mantel Dalam 2800, 6. Inti Luar 5100, 7. Inti Dalam 6370. Bumi, yang 99 % jari-jarinya relatif liat atau cair. Lithosphere, bagian paling pinggir dan pejal pada kulit bumi, setebal 70 km itu adalah 1 % saja dari seluruh jari-jari Bumi 6370 km. Lithosphere mengambang di atas cairan dengan densitas lebih besar dari pada densitas lithosphere. Lithosphere mengambang, setidaknya, di atas cairan asthenosphere. Pergerakan Gelombang Masmar dari pusat Bumi, Gelombang Masmar (R,t), menyembabkan adanya gelombang lateral Masmar (x,t) di bawah lithosphere (ya si asthenosphere). Lithosphere tak bisa apa-apa, dan bergerak menurut gerakan lateral asthenosphere. Gelombang ini adalah dengan panjang gelombang (dalam meter) = 7 x 10^n, dimana n=-21 hingga n=7. Artinya, ada gelombang pereode 7000 km, 700 km, 70 km, 7 km, 700 m, 70 m, 7m, 0.7 m, ...., 7 x 10^(-21) meter. Lithosphere bukan benda padat tanpa terpecah-pecah. Lithosphere terpecah-pecah menurut patahan yang selebar pereode Gelombang Masmar(x) itu. Jarak-lebar : basin (cekungan) = 700 km, sub basin dan gunung-gunung 70 km, antar antiklin kecil 7 km, antiklin lebih kecil lagi 700 m, dst. 2. Panjang filter “long wave length” minimum 2.5 kali panjang target. Bila target cekungan 700 km, maka minimum panjang filter “long wave length” adalah 2.5 x 700 km = 1750 km. Bila target sub-cekungan 70 km, maka panjang filter = 175 km. Dst. Bagaimana Mas Wawan GAK (tapi iya), Mas Hery, Mas Awang, dll? Wass, Mas Mar. ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia [email protected] Sedikit pencerahan tentang jumlah cekungan Badan Geologi (BG), khususnya dari sisi data gayaberat: Setelah mengikuti dua sesi pertemuan dg BG (Pertemuan pendahuluan di Bandung dan di ESDM jkt), kesalahan mendasar adalah : 1. identifikasi cekungan dari anomali Bouguer (gayaberat) untuk di darat dan anomali Free-Air untuk di laut. Karena kedua anomali (Bouguer dan Free-air) mempunyai character sangat berbeda sehubungan dengan sumber anomaly nya. Sehingga yg terbaik, anomali Free-Air di laut harus ditranslate dulu ke anomali Bouguer, baru digabung dg anomali Bouguer di darat, sehingga kita mempunyai satu acuan dalam interpretasi. Walaupun proses ini tdk mudah dan membutuhkan waktu. Ini belum dilakukan teman2 BG. 2. Anomali rendah (negatif) dari suatu anomaly Bouguer dapat berhubungan dengan beberapa kemungkinan sumber, dan yang dominan adalah termal proses (long wave length anomaly) dan cekungan (short wave length). Sehingga utk memastikan bahwa kita hanya berhubungan dg short wave length, maka identifikasi yg terbaik melalui anomali residual. Ini belum dilakukan oleh teman2 BG. 3. Anomali rendah (negatif) dari anomali Free-air sangat besar kemungkinan berhubungan dengan laut dalam (mirip dengan batimetri) karena kontras densitas antara air laut dan sea bed jauh lebih besar dibandingkan dengan kontras densitas antara sedimen pengisi cekungan yg berada dibawah sea-bed. Sehingga besar kemungkinan cekungan tsb berumur tersier. Ini belum dilakukan teman2 BG. 4. Sebelum identifikasi cekungan, seharusnya dari peta gayaberat Bouguer dapat diidentifikasi dahulu struktur2 yg sesuai dengan tektonik setting dari daerah bersangkutan, setelah itu baru identifikasi cekungan, sehingga hasil identifikasi cekungan sesuai dg tektonik setting dan ada kemungkinan mendapatkan bukti-bukti baru kondisi geodinamika daerah tsb. Ini belum dilakukan oleh teman2 BG. 5. Penetuan batas cekungan yang lajim dilakukan dari anomali gayaberat adalah melalui peta derivative (first or second derivative) anomaly. Sehingga kuantifikasi dari batas cekungan tsb lebih unik. Ini belum dilakukan oleh teman2 BG. Masih banyak point2 lain yg perlu dilakukan, paling tdk ini hal mendasar yg harus diperhatikan pada saat mendefinisikan cekungan dari data gayaberat (secara lengkap ada di Desertasi DR. Eko Widianto). Point2 diatas sudah saya sampaikan baik secara pribadi (ke para pimpinannya) maupun langsung dalam forum, mudah2an menjadikan catatan dan ditindaklanjuti sebelum publikasi Atlas cekungan tsb yg rencananya akan dilakukan sekitar Juli 2009. Dengan segala keterbatasan yg ada, paling tidak langkah sangat awal dari teman2 BG ini merupakan langkah maju yg perlu diapresiasi, dan kebetulan ide ini datang dari usulan saya yang disampaikan pada lounching gayaberat sebelumnya dimana saya diminta sebagai salah satu presenter. Salam, Wawan GA Kadir ________________________________ From: Hery Harjono [email protected] Benar sekali Pak Awang. Saya jadi ingat kalau Prof. Zen cerita Vening Meinesz....tentu dengan gaya Pak Zen yang teatrikal. Bagus sekali topik-topik diskusi di forum HAGI ini. Bagus juga ada Pak Awang, mas Rovicky, dik Maryanto dll. Salam, Hery ________________________________ From: Awang Satyana <[email protected]> Mas Maryanto, Felix Andries Vening Meinesz saat melakukan survey gayaberat di Lautan Hindia sebelah selatan Indonesia berkali-kali pada tahun 1923, 1926, 1929-1930 tidak menggunakan kapal riset Willebrord Snellius, tetapi menggunakan kapal selam bernama Hr Ms. K II - Hr Ms. K XIII. Penelitian Vening Meinesz ini mendapatkan sokongan penuh dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Jadi, bayangkan pada seawal tahun 1920-1930-an telah ada para periset asing (Belanda) yang menyelami Lautan Hindia berbulan-bulan s.d. bertahun-tahun demi ilmu pengetahuan. Total 16,000 mil laut ditempuh kapal selam Vening Meinesz dalam pengukurannya itu. Itulah pengukuran gayaberat pertama di dunia yang mengungkapkan keberadaan palung. Suatu sokongan penuh untuk teori plate tectonics. Bersama Arthur Holmes, geologist besar Inggris, Vening Meinesz adalah saintis pertama yang mengajukan keberadaan arus konveksi sebagai penyebab utama tektonik litosfer (Vening Meinesz, 1947 : Convection currents in the Earth - Proc. Kon. Ned. Akad. v. Wetensch. 50,3,p.237-245). Memang pada tahun yang sama (1929-1930) di perairan Indonesia Timur saat itu ada kapal riset Snellius yang juga melakukan penelitian oseanografi bidang fisika, kimia, dan geologi marin, tetapi tidak gayaberat. salam, awang --- On Fri, 5/22/09, Maryanto <[email protected]> wrote: > From: Maryanto <[email protected]> > Subject: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128 Buah > To: [email protected], [email protected] > Cc: [email protected], "Forum HAGI" <[email protected]>, "Eksplorasi > BPMIGAS" <[email protected]> > Date: Friday, May 22, 2009, 5:51 AM > Salam, > > Asyikk, kita memang menuju perbaikan analisa cekungan > Indonesia. Ini sesuai prediksi saya (2004), kita menuju > Indonesia sebagai "paling banyak di Exlor minyaknya, siklus > 70 th kedepan, 2004-2074". > > Dua topik A. Berapa jumlah cekungan di Indonesia ? > B. Apakah tidak akan terjadi Indonesia akan pusat explorasi > dunia 2004-2074 ? > A. Jumlah Cekungan, hitungan saya : 60 buah, atau 120 buah, > atau sekitar antara itu: 60-120 buah. > Beberapa versi jumlah: 60 (IAGI, 1985), 86 (BPMIGAS > -LAPI ITB), 128 (BPMIGAS 2008). > - Hitungan saya, dengan MST = Masmar Salam Theory. > Gelombang Masmar "Mass Asigned Size in Meter Along Rolling > in "salam wave". Ini gelombang Siklus jarak 7 x 10^m meter > untuk m =-21 hingga 28, serta 7 x 10^n annum untuk n = 0 > sampai 10. Jarak antar Cekungan adalah 700 km, Inversi > (komprsi, orogenesa) setiap cekungan adalah 70 Ma "Million > annum". > - Jumlah cekungan Indonesia = panjang Indonesia 10.400 > km/700 km x lebar 1900 km/700 km = , menghasilkan > bulatannya 8 x 3 = 24 buah. Jumlah itu, separo (12 buah) > di Paparan Sunda, dan separo (12 buah) di Paparan Sohul. > - Inversi (kompresi, orogenesa) setiap 70 Ma "Million > annum" memisahkan cekungan. Semakin baru siklus 70 Ma-nya, > maka "food prit" pembentukan cekungan semakin kelihatan. > Cekungan berdasar sedimennya. Paparan Sunda, hanya sedimen > Cenozoic, jadi terlihat utamanya hanya 2 buah cekungan > masing-masing jarak 700 km tadi. (Kata Cenozoic lebih tepat > kini di banding Tersier, karena kata Tersier sudah hilang > pada GTS "Geology Time Scale" terbaru. Juga Cenozic adalah > siklus 70 Ma terakhir, sedang Tersier bukan siklus 70 Ma). > Paparan Sohul dengan sedimen bisa hingga Cambrium. Sedimen > lebih hanya di bagi menjadi Cenozoic dan PreCenozoic. > Kompresi 14 Maa "Million annum ago" itu menghasilkan dua > setiap 700 km panjang Medeteran-Circumpasific. Misal NSB > "North Sumatra Basin" dengan West Aceh Basin, CSB "Central > Sumatra Basin"- NiasSibolga Basin, SSB-Bengkulu, NWJ North > West java - South West Java Basin, dst. Singga cekungan > Paparan Sunda = 2 x 12 = 24 buah. > > Pada paparan Sohul, terbagi dengan dua cara: > a. 8 paket sedimen siklus 70 Ma sejak Kambrium hingga > kini : 1.Cambrium, 2 OrdovicianSilur, 3 Devon, 4 > Carboniferous, 5 PermianTriassic, 6 Jurassic, 7 Cretaceous, > dan 8 Cenozoic). Sehingga cekungan di Indonesia menjadi (2x > 12) + (8x12) = 120 cekungan. Ini mirip 128 hitugan terbaru, > 128 buah (BPMIGAS 2008). > b. Dihitung 3 paket sedimen saja : Cenozoic dan > preCenozoic. Atau setiap 700 km, terbagi menjadi 3 > paket cekungan. Atau cekungan Paparan Sohul = 12 > x 3 cekungan = 36 cekungan. Alhasil cekungan Inondesia, > Papran Sunda dan Paparan Sohul = 24 + 36 = 60 Cekungan. Ini > tepat seperti hitungan 60 buah oleh IAGI, 1985. > > Kemudian, cekungan Indonesia akan di peroleh antara 60 - > 120 buah tadi. Berbagai hitungan, "gathuk-gathuk" dengan > parameter lain, akan membuat hasilnya bervariasi > dari itu. > > Peta dari gaya gravitasi, atau sebenarnya 4 energi utama > (guna: gravitasi, unified eletromagnetic, nuclear strong, > and atomic nuclear weak), akan paling gampang untuk memilah > memilih variasi jumlah cekungan. Ahli gravitasi, teman > "terlalu asik theis S1", mas Wawan Gunawan, juga > perlihatkan: Peta itu akan lebih baik bila berdasar "Peta > Gravitasi Sisa". Pelopor pemetaan gravitasi, yang juga > membuat alatnya adalah Vening Meinisz, yang profesor > Utrecth-TU Delf itu, gelogist dan geophysicist Londo itu, > dengan kapalnya mengukur global gravitasi semua laut dunia, > termasuk laut di Indonesia, sekitar th 1929-1930. Yang > melewati Sulawesi ketika lahirnya Prof John Katili, 9 Juni > 1929, kapal Program Senelius I (Satu). Iya kapal itu mas > Awang? > > Daftar SLEMAN "Stratigraphy Lexicon in Elevating Mines > available Numenclature" (Maryanto, 2005), telah membahas > daftar cekungan beserta sedimen dan umur-umurnya seluruh > Indonesia itu, aktualnya 18 cekungan. > > B. Indonesia akan paling banyak di explor tambang > (minyaknya utamanya) 2004-2074. > Kita Menyongsong berkah Indonesia paling banyak > explorasi minyak th 2004-2074. > - Penemuan minyak tahunan, juga penemuan > ladangminyak besar (giant oil field) th 1900-2000 (data Oil > and Gas Journal, 1995), mempunyai kurva sinusoidal pereode > 70 th. Keduanya adalah minimum pada 1934, maximum 1969, > minimum 2004, dan di prediksikan keduanya akan maximum th > 2039, lalu minimum th 2074, dengan standar deviasi eror 10 > %. Kurva penemuan minyak ini di sebut Kurva Berkah "Broad > Estimation Resources on Knowledge of the Annual Hydrocarbon > discovery". > - Pusat Siklun Bumi (Earth Planetary Cyclone), adalah 1a. > AAN "Anticline Arabian Nubian", 1b. Rahmat > "Ringgold-Anatom-Hebrides-Malaita-Apia-Tonga", 2a. Bob > "Banda Ocean Basin center", 2b. Herman > "Honduras-Elsavador-Ridge-Mewxico-Antiles-Nicaragua center", > 3a. Hani "Horisons Antartic Nodule Island", 3b. Wartono > "Wide Artic Region Tectono Ocean North Orogenesis". Enam > pusat itu di kontrol oleh satu pusat ke 7 Zen "Zonal Earth > Nuclei" Pusat bumi. Minyak yang telah di dapat untuk ke 6 > pusat cylone global itu, dalam BBOE: 1. Aan 1500, 2. Rahmat > 0, 3. Herman 500, 4. Bob 50, 5. Hani 10, Wartono 100. > Kondisi tektonik Bob adalah analog dengan Rahmat. Artinya > minyak yang ada di Bob, dimana Indonesia mayoritas areanya, > akan mempunyai peluang di dapatkan minyak P10= 30 BBOE, P50 > 100 BBOE, dan P90 400 BBOE. > - Explorasi kedepan, akan banyak di daerah Bob. Indonesia > akan paling banyak di explorasi minyaknya, untuk th > 2004-2074. Telah semakin banyak data seismik di Indonesia > Timur. Ini pusat tektonik Bob (Banda Ocean Basin, dimana > Laut Banda sebagai pusatnya, meluas hingga SE > Asia-Australia, Papua). Daftar SLEMAN, juga untuk membahas > siklus kecil 7 th, 70 th, 700 th, dst. > > Apakah begitu Mas Awang, dan yang lain ? > > Wass, > Mas Mar. >

