Kalau saya amati gonjang - ganjing - nya urusan (jumlah) cekungan
Indonesia selama ini, ada beberapa hal yang mengemuka, yang mudah-mudahan
dengan saya tuliskan disini, dapat menjadi pemikiran / perhatian /
inspirasi dan dorongan moral bagi pihak-pihak yang terlibat.

1. Secara normatif, klasik, dan eufimistik Awang menyebutkan masalah
'koordinasi' di antara berbagai pihak yang membuat silang-siurnya klaim
studi jumlah cekungan di Indonesia tersebut. Saya melihatnya lebih ke
masalah ego sektoral yang bottom-line-nya adalah bujet, dana, alias
keuangan proyek dari masing-masing pihak yang mengerjakan studi-studi
tersebut. Driver utama dari adanya studi (dan klaim) revisi
cekungan-cekungan Indonesia itu adalah berbagai kritik terkait dg
kegagalan percepatan penambahan cadangan migas versus produksi, yg dalam
hal ini merupakan tanggung jawab sektor ESDM-BPMigas, sehingga menjadi
sangat wajar ketika Badan Geologi, Lemigas, dan BPMigas berlomba-lomba
untuk memasukkan rencana dan realisasi proyek studi revisi cekungan
tersebut kedalam mata anggaran mereka (dengan berbagai cara). Bukannya
IAGI, HAGI, atau bahkan LIPI, BPPT, Bakosurtanal, atau ITB, UGM, Trisakti,
dan sejenisnya yang justru merupakan gudangnya orang-orang riset yang
concern dan mengusahakan proyek-proyek tersebut. Ya, tentu saja, ...
karena memang yang disebut sebut terakhir itu selain miskin legitimasi
juga miskin network dan dana untuk membuat hal2 terkait studi tersebut
(belum lagi kalau kita masukkan faktor miskin motivasi,.. hehehehe..).
Padahal semestinya lembaga-lembaga semacam IAGI dan HAGI, seperti juga di
tahun2 80-an, dapat menjadi semacam buffer dan/atau semacam trading house
yang mewakili kepentingan saintifik-professional yang lebih luas untuk
memfasilitasi peleburan ego-ego sektoral antara pemegang bujet2 proyek
revisi cekungan Indonesia ini. Sayang sekali pada waktu gerakan "bujeter"
dari proyek2 revisi tersebut dimulai di 2007 peran fasilitasi tersebut
tidak secara penuh dimainkan oleh IAGI/HAGI. Mungkin saja IAGI, yang waktu
itu dikomandani oleh Kang Luthfi, sempat dibonceng-i namanya sebagi
co-"penyelenggara" dari acara workshop-workshop-an yang mengundang
berbagai kalangan (termasuk Badan Geologi dan Lemigas) untuk membahas
hasil sementara dari proyek revisi cekungan-nya BPMigas, .... tapi tetep
aja ternyata nama IAGI juga tidak disebutkan oleh Awang dalam uraian
laporan pandangan matanya yang panjang lebar tersebut. Bahkan IAGI jugalah
yang memfasilitasi peluncuran / public-release dari 86 cekungannya BPMitas
pada acara PIT IAGI di Bandung Agustus 2008, yang seolah-olah dengan
demikian maka 86 Cekungan tersebut menjadi versi IAGI (bukan sekedar versi
BPMigas-LAPI ITB). Tapi ternyata sampai sekarangpun kita tidak bisa
mendapatkan dokumen-dokumen studi revisi cekungan Indonesia dari acara
IAGI tersebut secara publik (apalagi koq menanyakan dokumennya Badan
Geologi seperti yang RDP tanyakan tersebut,... wah Vick,.. tangeh
lamun...). Dalam kesempatan interaksi workshop-workshop-an 2008 di Sabuga
ITB, saya sempat melontarkan himbauan keras ke IAGI (atau BPMigas-LAPI,..
entahlah,.. pokoknya yang waktu itu menyelenggarakan acaralah).. bahwa
pihak-pihak periset cekungan IAGI-LAPIITB-BPMigas (dan juga dr Univ/PT
lainnya yang direkrut LAPIITB-BPMigas untuk legitimasi saintifik inter
university-nya) mustinya harus NGOMONG dan duduk bersama dengan LEMIGAS
dan PPGL dan BG yang saat itu juga mengerjakan riset cekungan ini. Tapi
nampaknya himbauan keras itu juga tidak terindahkan. Mungkin, ya karena
itu tadi: masing-masing mempunyai ego sektoral sendiri sendiri, dan ada
sejumlah dana proyek yang terlibat di dalamnya yang akan sangat sulit
mengalokasikannya apabila musti pake kerjasama-kerjasama-an segala. Dan
selain itu, lembaga yang harusnya lebih netral dan bisa jadi fasilitator
(IAGI/HAGI) ternyata sudah memilih untuk merapat ke salah satu pihak yang
melakukan riset. Maka, lengkaplah sudah gonjang-ganjing revisi cekungan
Indonesia,...dengan dikeluarkannya angka 128 kemaren itu oleh BG dan
dilegitimasi oleh Menteri ESDM. Sippppp. Welcome to the confusing
scientific-beaurocratic jungle of Indoensian Basins.

2. Awang menghimbau supaya tandatangan Menteri ESDM  di Peta Cekungan
Sedimen Badan Geologi janga dianggap sebagai legalisasi. Semangat himbaun
tersebut lebih mewakili semangat kaum saintis yang cenderung selalu
mengambangkan jawaban dan membuka hasil akhir pada kemungkinan2
falsifikasi,.. bukan mewakili semangat penyelenggara birokrasi yang
membutuhkan kepastian hukum / pedoman dan sejenisnya untuk membuat
program-program (dan anggaran2) selanjutnya. Himbauan itu perlu diresapi
dilevel b awah sadar kaum birokrat yang kebetulan jadi saintis periset di
lembaga2 di bawah ESDM, tapi akan sulit dilaksanakan oleh birokrat2 asli
yang butuh kepastian program. Maka disinilah letak strategis dari lembaga
independen professional semacam IAGI/HAGI. Mustinya IAGI/HAGI lah yang
menghimbau, bukan justru BPMigas yang kebetulan juga mengklaim telah
mengeluarkan revisi cekungan juga. In any case, siapapun yang
mengeluarkan, himbauan Awang tersebut sangat-sangat perlu kita resapi,
dalami, dan laksanakan. Bukan hanya di level bawah sadar. Bukan di level
konsumsi berita (seperti diceritakan juga oleh Awang bahwa
BG-Lemigas-BPMigas berjanji akan koordinasi dan ketemu lebih lanjut). Tapi
di level praktisi dan saintis-moralis seperti pribadi Awang, Pak Koesoema,
bang Lambok, Elan, Rovicky, dan kawan-kawan lainnya... semangat itu harus
dijalankan.

3. Ayo IAGI/HAGI ...... bubuhkan tandatangan sendiri ke peta revisi
cekungan Indonesia


Salam

ADB
IAGI-0800

----- Original Message -----
From: "Awang Satyana" <[email protected]>
To: <[email protected]>; "Forum HAGI" <[email protected]>; "Geo Unpad"
<[email protected]>; "Eksplorasi BPMIGAS"
<[email protected]>
Sent: Tuesday, May 19, 2009 4:30 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128
Buah


>
> Saya baru kembali dari undangan sebagai salah satu pembicara di
Lokakarya Badan Geologi di Gedung Sekjen Departemen ESDM tentang
Cekungan Sedimen Indonesia. Lokakarya ini tujuan utamanya adalah ingin
mengumumkan hasil pekerjaan Badan Geologi selama hampir enam bulan
terakhir tentang delineasi cekungan-cekungan sedimen di Indonesia
berdasarkan data gayaberat.
>
> Mengapa Badan Geologi membuat peta cekungan sedimen sendiri, bukankah
Lemigas (2008) dan BPMIGAS (2008) baru saja mengeluarkan dan mengumumkan
peta cekungannya ? Karena, Badan Geologi telah menyelesaikan pemetaan
geologi regional dan gayaberat regional seluruh Indonesia. Data ini
sayang bila dibiarkan saja; kemudian diaplikasikanlah untuk kepentingan
pemetaan cekungan sedimen.
>
> Mengapa Lemigas-BPMIGAS-Badan Geologi tidak saling bekerja sama membuat
peta cekungan sedimen dengan dukungan data yang kuat dan bervariasi dari
berbagai instansi ? Di sini mungkin ada masalah koordinasi. Menurut
seorang teman dari LAPI-ITB yang bekerja sama dengan BPMIGAS saat
memetakan cekungan, LAPI-ITB telah berkoordinasi dengan Lemigas tentang
pemetaan cekungan yang sedang dilakukan BPMIGAS, juga BPMIGAS-LAPI ITB
telah menggunakan data gayaberat tahun 2000 dari P3G (sekarang PSG, di
bawah Badan Geologi). Kalau sudah koordinasi, kok hasilnya berbeda
antara Lemigas, BPMIGAS, dan Badan Geologi, dan masing2 mengeluarkan
versinya sendiri ? Lemigas keluar dengan 63 cekungan, BPMIGAS keluar
dengan 86 cekungan, dan kini Badan Geologi keluar dengan 128 cekungan
sedimen.
>
> Meskipun tadi Pak Menteri ESDM diminta membubuhkan tanda tangan  pada
peta 128 cekungan sedimen hasil Badan Geologi, dan Pak Purnomo dalam
sambutannya mengatakan bahwa para pejabat di lingkungan ESDM mesti
mengganti kata-kata 60 cekungan menjadi 128 cekungan saat menyampaikan
sambutan, mestinya itu jangan ditafsirkan menjadi semacam legalisasi
atas peta cekungan sedimen Badan Geologi. Mengapa ? Sebab, pemetaan
cekungan sedimen Badan Geologi baru langkah awal. Pekerjaan selanjutnya
adalah berhubungan dengan PND untuk memeriksa data migas di setiap
cekungan seperti ketebalan sedimen dll. Juga, peta cekungan yang
berdasarkan data gayaberat ini masih banyak mendapatkan kritik dan
saran.
>
> Lalu, dalam minggu-minggu ke depan ada pula rencana BPMIGAS-Badan
Geologi-Lemigas akan duduk bersama tentang pemetaan cekungan ini. Pak
Sukhyar, Kepala Badan Geologi, tadi ngobrol dengan saya dan mengatakan,
memang ini semacam ekspose pertama, yang mungkin mengagetkan dengan 128
cekungan baru; supaya mendapat perhatian dari instansi terkait dan
kalangan industri.
>
> Saya ringkaskan sedikit jalannya Lokakarya tadi. Ada lima pembicara :
(1) Pak Imam Sobari (Badan Geologi), (2) Pak Syaiful Bachri (Badan
Geologi), (3) Pak Nazhar Buyung (Badan Geologi), (4) Pak R.P.
Koesoemadinata (Prof Em. ITB), (5) Awang Satyana (BPMIGAS).
>
> Pak Sobari mempresentasikan hal berjudul "Delineasi Cekungan Sedimen di
Indonesia Berdasarkan Anomali Gaya Berat". Data anomali Bouguer di darat
dan free-air di laut digunakan sebagai data dasar delineasi cekungan.
Ciri cekungan berdasarkan data gayaberat : pola kontur tertutup, menurun
ke arah pusat, terdapat perbedaan rapat massa antara sedimen Tersier,
pra-Tersier, basement kerak atas dan basement kerak bawah. Dengan cara
ini ditemukan dan didefinisi ulang menjadi total 128 cekungan.
>
> Pak Syaiful mempresentasikan hal berjudul, "Penyusunan atlas Cekungan
Sedimen Indonesia Berdasarkan Data Gaya Berat dan Geologi. Peta geologi
permukaan seluruh Indonesia, terutama tinggian2 basement/meta-sedimen
dipakai sebagai batas cekungan. Atlas atas 128 cekungan akan dibuat
menggunakan berbagai data geologi regional, gayaberat, stratigrafi,
remote sensing. Juga pencarian data ke instansi lain akan dilakukan
untuk menyusun atlas ini, misalnya BPMIGAS, Lemigas, PND. Jumlah
cekungan 128 (darat 51, laut 77, Tersier 85, pra-Tersier 6,
Tersier-pra-Tersier 37).
>
> Pak Nazhar mempresentasikan hal berjudul, "Hubungan antara Zone-Zone
Gaya Berat dengan Struktur Geologi Dominan di Indonesia. Trend-trend
anomali Bouguer/free air di Indonesia dibagi-bagi, kisarannya antara
-150 mGal s.d. +320 mGal. Trend yang menunjukkan cekungan sedimen berada
pada 0-+ 60 mGal, sedangkan cekungan yang produktif dan potensial ada
pada kisaran +20 s.d. +40 mGal. Gejala-gejala tektonik regional umumnya
berhubungan dengan anomali negatif antara -150 s.d 0 mGal.
>
> Pak Koesoema membahas hal tentang "Konsep Cekungan". Dibahas secara back
to basic apakah yang dimaksud dengan cekungan itu. Hati-hati membedakan
cekungan fisiografik, cekungan struktural, cekungan sedimen, cekungan
minyak. Pak Koesoema mendefinisikan cekungan sedimen sebagai : bagian
kerak Bumi tempat lapisan sedimen diendapkan lebih tebal secara
signifikan dibandingkan sekelilingnya". Dibahas juga bagaimana
kebingungan yang terjadi dalam delineasi cekungan sebab akan ditentukan
oleh berapa cut-off kontur isopach yang dipakai. Ditampilkan beberapa
kasus delineasi cekungan sedimen di Indonesia yang berbeda-beda.
Terakhir dibahas klasifikasi cekungan berdasarkan tektonik.
>
> Awang membahas hal berjudul, "Pemanfaatan Informasi Cekungan Indonesia
dalam Lingkup Bidang Energi". Di awal presentasi dibahas variasi
klasifikasi cekungan sedimen Indonesia yang pernah terjadi, baik dari
Koesoemadinata dan Pulunggono (1971) untuk Indonesia Barat, Hamilton
(1974) yang tak menunjukkan batas cekungan tetapi hanya kontur isopach,
Fletcher-Soeparjadi (1976) klasifikasi 28 cekungan, IAGI (1980) : 40
cekungan, IAGI (1985) 60 cekungan, Pertamina-Beicip (1992) : 66
cekungan, Lemigas (2008) : 63 cekungan dan BPMIGAS (2008) : 86 cekungan.
Kemudian dibahas status eksplorasi-produksi migas cekungan-cekungan di
Indonesia. Menekankan bahwa produksi migas menurun terus dalam lima
tahun terakhir dan cadangan migas Indonesia tak pernah naik signifikan.
Intinya karena cekungan-cekungan yang dikerjakan yang itu-itu saja (16
cekungan produksi). Terakhir disampaikan jenis-jenis informasi apa dari
cekungan yang dibutuhkan kalangan industri migas untuk
> eksplorasi dan produksi.
>
> Sesi Tanya-Jawab yang sempat saya catat :
>
> Tohab Simandjuntak (mantan peneliti utama P3G) : tak ada yang namanya
cekungan pra-Tersier itu sebab semua batuan pra-Tersier di Indonesia
adalah alokton.
>
> Setiabudi-EMP : bagaimana pengusahaan CBM/GMB (gas metana batubara) di
Indonesia sebab  beberapa cekungan migas pun menjadi cekungan-cekungan
CBM.
>
> Nachrowi-PPT Migas : dalaman Kendeng yang anomali negatifnya tinggi,
mengapa jalur kaya minyak padahal jalur anomali negatif umumnya seperti
palung.
>
> Wawan Gunawan-ITB : harusnya bukan anomali Bouguer yang dipakai untuk
pemetaan ini, tetapi anomali sisa; juga angka rapat massa mestinya tak
satu angka untuk setiap jenis batuan, tetapi bervariasi.
>
> Sigit Prabowo-Marathon : bagaimana status data 44 cekungan yang
non-produktif (klasifikasi 60 cekungan).
>
> Terakhir, Pak Koesoemadinata diminta memberikan komentar tentang
pemetaan cekungan ini. Menurut Pak Koesoema, boleh-boleh saja setiap
institusi mengeluarkan cekungan menurut versinya masing-masing, itu
lebih untuk kepentingan strategis misalnya mengundang investor; tetapi
yang namanya mendelineasi cekungan itu bukan hal mudah sebab sangat
relatif bergantung kepada metode yang dipakai. Biar saja data gayaberat
yang lengkap ini dibuka ke publik (user) dan biar saja mereka yang
mendelinesinya. Perusahaan2 minyak besar punya research center-nya
sendiri yang mengeluarkan pemetaan basin menurut pendapatnya sendiri
-tak akan terpengaruh oleh pemetaan cekungan-cekungan yang dilakukan
akhir2 ini.
>
> Pada awal presentasi, Pak Koesoema berpendapat kok sekarang menjadi
trend memetakan cekungan-cekungan itu, dan terjadi proliferasi,
bertambah banyak, seperti pemekaran wilayah kabupaten saja....
>
> Demikian sedikit laporan pengamatan saya.
>
> Untuk Pak Rovicky, sayang sekali peta 128 cekungan sedimen Badan Geologi
(128) hanya ada cetakan hitam putihnya di kertas yang dibagikan. Poster
besarnya ada di tempel di ruangan, sayang juga tak ada digitalnya di
bahan presentasi yang saya copy, belum boleh dipublikasi barangkali....?
Saya sedang mengusahakannya meminta kepada Panitia Lokakarya.
>
> salam,
> awang
>
>
>
> --- On Tue, 5/19/09, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:
>
>> From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
>> Subject: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128
Buah
>> To: "Forum HAGI" <[email protected]>, "IAGI" <[email protected]>
>> Date: Tuesday, May 19, 2009, 1:32 PM
>> Dimana bisa mendapatan informasi ini
>> ?
>>
>> RDP
>> ==============================
>> 19/05/2009 09:35 WIB
>> Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128 Buah
>>
>> detikFinance
>>
>> Jakarta- Jumlah cekungan di Indonesia bertambah dua kali
>> lipat.
>> Jika di tahun 2006 hanya sebanyak 60 buah cekungan geologi
>> saat ini diketahui
>> jumlahnya sudah mencapai 128 buah.
>>
>> "Saya selalu sampaikan kalau jumlah cekungan di Indonesia
>> sekitar 60 buah,
>> tapi mulai pagi ini angka magic itu sudah berubah," kata
>> Menteri ESDM
>> Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannya pada Lokakarya
>> Cekungan Sendimen
>> Indonesia,
>> di Gedung ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta,
>> Selasa (19/5/2009).
>>
>> Purnomo menjelaskan berdasarkan hasil penelitian Badan
>> Geologi Departemen
>> dilaporkan, saat ini jumlah cekungan sendimen di Indonesia
>> sudah
>> bertambah menjadi
>> 128 buah.
>>
>> "Jadi nanti para Dirjen ataupun menteri yang baru jangan
>> lupa kalau
>> sekarang jumlah cekungan kita bukan 60 lagi tapi sudah 128
>> buah,"
>> jelasnya.
>>
>> Menurut Purnomo, pihaknya nanti akan membuat atlas cekungan
>> sendimen yang bisa
>> digunakan untuk membantu kegiatan ekplorasi produksi dan
>> kegiatan perminyakan
>> lainnya. "Ini akan bantu untuk temukan cadangan-cadangan
>> migas yang
>> baru," ungkapnya.
>>
>> Sementara itu, Kepala Badan Geologi, R Sukyar menyatakan
>> penemuan tersebut
>> dapat menjadi target eksplorasi bagi para pelaku usaha di
>> bidang energi.
>>
>> "Bagi pengembang ini akan menjadi informasi baru yang akan
>> menjadi
>> target-target ekplorasi di masa yang datang,"ungkap
>> Sukyar.
>>
>> Sebelumnya data ditjen migas mencatat jumlah cekungan
>> hidrokarbon di Indonesia
>> sampai akhir tahun 2006 berjumlah 60 cekungan, dengan
>> perincian: 16 cekungan
>> sudah berproduksi: 8 cekungan terbukti mengandung
>> hidrokarbon tetapi belum
>> berproduksi: 14 cekungan sudah dibor tapi belum menemukan
>> hidrokarbon: dan
>> sisanya 22 cekungan masih belum dilakukan pemboran
>> eksplorasi.
>> --



--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke