Dulu waktu SIAM MOECO melakukan 3D acquisition di Central Plain of
Thailand tanggal 26 Dec 2004, aftershocks nya propagate sampai ke 3D
area mereka.

Menurut mereka sekitar 7 shot records dipengaruhi oleh earthquake yang
direkam mulai jam 9 pagi sampe jam 5 sore pada tanggal 26 Dec 2004.

Salah satu karakteristik aftershock adalah gelombang frekuensinya yang
rendah. 

Mungkin buat rekan2 yang berkesempatan hadir di seminar AOGS tahun 2007
di Bangkok sudah mengetahui presentasi ini oleh Yasutomo Fujii.

 

-d-

 

-----Original Message-----
From: Paulus Tangke Allo [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, 02 October, 2009 3:09 PM
To: [email protected]
Subject: Fwd: Fw: [iagi-net-l] Gempa Sumatra - Setelah Padang kini
Jambi/Bengkulu

 

---------- Forwarded message ----------

From: Snow White <[email protected]>

To: [email protected]

Sent: Fri, 2 October, 2009 3:42:45 PM

Subject: Re: [iagi-net-l] Gempa Sumatra - Setelah Padang kini
Jambi/Bengkulu

 

Bapak/Ibu yang saya hormati,

 

Kemarin saya mengikuti internal seminar di campus. Ada yang menarik

perhatian saya (mungkin juga informasi ini telah lama beredar, mohon

maaf kalo crossposting).

 

Gambar di bawah ini (terlampir) memperlihatkan pengukuran noise

signals di laut antartica dan sekitarnya. Data di kumpulkan

berdasarkan 2 stasiun lokasi, dari 3 triangle hydrophone di dasar laut

yang berlokasi di antara benua australia dan antartika (milik

Australia), dan yang satu lagi terletak di Indian Ocean (milik US).

Terlihat bahwa ada aktifitas kecil sebelum terjadinya gempa dan

tsunami di Aceh dan sekitarnya, yang di tunjukkan oleh spike "noise"

waktu terjadi gempa dan setelah itu mereda tetapi tetap menunjukkan

adanya aktivitas dibandingkan sebelum terjadi gempa dan tsunami (note:

daerah yang relative flat di sebelah kiri dari grafik menunjukkan

australia continent, di mana aktifitas seismik sangat minim atau

hampir tidak ada).

 

Hal ini juga di terangkan dan di pertanyakan oleh Lecture yang

memberikan seminar, apakah sudah ada yang mengamati "noise" setelah

gempa dan tsunami di Aceh karena ada kemungkinan berhubungan dg gempa2

yang terjadi akhir2 ini (saya yakin para ahli2 gempa di Indonesia

sudah mengamatinya, dg berbagai cara dan metoda). Mungkinkah bisa di

prediksi periode-nya dari pengamatan "noise"?

 

Sekiranya informasi ini dapat berguna dan menjadi salah satu

alternative untuk mitigasi bencana gempa dan tsunami di Indonesia.

Semoga.

 

Terima kasih.

 

Salam,

Putri

Kirim email ke