Dear all;
"Pertamina fokus dulu apa yang dia punya sekarang. Kalau eksplorasi itu
butuh dana yang tinggi. Jadi gunakan teknologi-teknologi baru di wilayah
kerja yang dimilikinya," ujar Evita.***
+ Rasanya si Ibu berkata begitu bukan tanpa udang di balik bakwan.
UU Migas dan PP turunannya memungkinkan Pertamina untuk meminta WK yang
diterminasi untuk dilanjutkan pengusahaannya oleh Pertamina.
Lewat koridor itu Pertamina masuk ke Natuna D-Alpha yang berpuluh tahun
diterlantarkan oleh KKKS lain sementara regulator diam saja.
Si Ibu mungkin lupa, bahwa pengalaman Pertamina sudah lebih setengah
abad dalam menggeluti industry Migas dalam negeri.
Kemampuan Pertamina dalam mengelola ladang-ladang minyak di WK nya yang
pada umumnya sudah memasuki fase renta tetap saja mampu menaikkan
produksinya. Dalam 3 tahun terakhir trend produksi pertamina terus
meningkat sementara KKKS lain mengikuti penurunan alami.
KKKS lain tidak mau menambah investasi untuk meningkatkan produksi jika
Pemerintah tidak memberikan aneka kemudahan yang selama ini sudah banyak
dinikmati mereka. Bu Dirjen tentu mahfum atas agresivitas Pertamina
dalam menjalankan: (1) Strategi organic, Yaitu upaya peningkatan
kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan migas existing, terutama
fokus untuk Region Jawa dan Sumatera Bagian Selatan. Disamping itu
dilakukan juga upaya peningkatan produksi dengan pola kemitraan, melalui
skema Technical Asisten Contract (TAC) dan Kerja Sama Operasi (KSO),
serta penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di ladang-ladang
tua, (2) Strategi anorganik ditempuh lewat peningkatan Participating
Interest (PI) di wilayah kerja Joint Operation Body-Production Sharing
Contract (JOB-PSC) dan PSC yang dalam waktu dekat akan diterminasi.
Dalam scenario ini dilakukan juga langkah akuisisi baik pada level asset
maupun korporasi. Lebih Rp 10 triliun Pertamina menyediakan anggaran
dalam 2010 ini untuk menunjang scenario anorganik ini.
Di samping itu, peningkatan kompetensi dan kepakaran para ahli GGR dan
disiplin terkait lainnya Pertamina telah mengembangkan peran Fungsi EPTC
(EP Technology Center) sebagai penyedia layanan dan pemberi solusi
teknologi upstream industry Migas untuk kelancaran operasi Pertamina
baik di dalam maupun di manca Negara.
Nah, agresivitas Pertamina tersebut dilegitimasi oleh regulasi yang ada,
sangat boleh jadi menggerahkan KKKS yang WK-nya akan determinasi.
Ditambah dengan nafas nasionalisme para anggota legislative untuk
membesarkan Pertamina supaya tidak menjadi tamu di rumah sendiri,
memurakan langkah para actor lain untuk memainkan "lobby-lobby" tingkat
tinggi ke pemegang otoritas agar gerak maju Pertamina dibonsai dan
dikebiri.
Di tengah keberhasilan Pertamina menemukan cadangan migas baru di daerah
Indramayu dan aspirasi masuk ke Blok Mahakam seperti ditulis oleh media
massa di awal pekan ini, maka ucapan Bu Dirjen dapat dibaca sebagai
ungkapan isi hati beliau yang notabene kontra produktif bagi langkah
memperbesar asset BUMN migas milik seluruh anak negeri.
Dari kebijakan transformasi yang sedang dijalankan (dapat kita ikuti
dari berbagai publikasi yang ada) untuk menjadi NOC kelas dunia, rasanya
Pertamina tidak minta dikasihani. Dalam era kompetisi yang hyperdinamis
ini setiap kebijakan yang tidak senafas dengan praktek good governance
akan diembargo pasar. Harapan kita adalah agar seluruh stakeholders
bermain dalam koridor legalitas regulasi yang berlaku. Dalam perspektif
ini, maka selaku pemegang mineral right dan pengawas pengelolaan mining
right seharusnya pemerintah melaksanakan seluruh amanat undang undang
(dalam hal ini UU 22/2001) dan peraturan-peraturan pelaksanaannya secara
konsekuen, tanpa membuat pernyataan yang menggiring wacana (framing)
paradox dengan regulasi yang ada.***
- Tinggalkan "KAMI"-"KAMU", Kembangkan Komunikasi "KITA".
Selaku penggiat (lebih 3 dekade) di industry Migas, saya melihat ada
kekeliruan kebijakan yang diterapkan pemerintah (cq BP MIGAS dan Dirjen
Migas) dalam upaya meningkatkan produksi migas Indonesia. Pemerintah
masih melakukan cara-cara lama dalam melecut KKKS untuk meningkatkan
produksi, sementara kenyataan di lapangan lewat euphoria otonomi daerah
dan transparansi mengharuskan semua actor dan stakeholders industry
migas ikut terlibat sesuai kapasitasnya. Di sinilah, seharusnya
kebijakan hubungan tripartite dijalankan lewat komunikasi oraganisasi
dan kelembagaan yang egaliter dan transparan. Hubungan segitiga antara
Pemerintah (regulator) dengan KKKS (operator) dan Pemerintah Daerah
selaku "tuan rumah". Berapa banyak rencana eksekusi program pengeboran
tertunda karena Pemda selaku salah satu stakeholders tidak
dikomunikasikan secara dini lewat kesetaraan yang menghapus barier
"kami" dan "kamu". Komunikasi "kita" berbasis tugas pokok sesuai fungsi
masing-masing seharusnya dikembangkan secara lebih holisitk, bukan
sekedar courtesy call (tambah golf/tenis dan lunch bersama) atau kirim
surat saja. Karena hingga kini model komunikasi pusat dan daerah ala
courtesy call masih dimainkan oleh pemegang otoritas sector migas maka
daerah kerap menjadi "penghambaat" lajunya operator dalam mengeksekusi
program-programnya.
Disinilah kunci masalah, bahwa partisipasi aktif semua stakeholders
belum digali optimal dengan visi dan persepsi yang sama untuk
meningkatkan produksi migas Indonesia.
Karena tidak ada komunikasi yang setara dan holistic maka daerah hanya
"minta jatah bersih" saja tanpa berupaya apa-apa untuk mengakselerasikan
kelancaran operasi migas di wilayahnya.
Sudah saatnya, komunikasi "kami" dan "kamu" ditinggalkan oleh pemegang
otoritas migas Indonesia lewat kelahiran semangat baru: komunikasi kerja
dengan basis "kita" (regulator, operator, pemda) agar upaya peningkatan
produksi migas Indonesia dapat menyentuh target APBN.
Tabik;
RnB
-----Original Message-----
From: Sigit [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, April 21, 2010 10:02 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Belum Saatnya Pertamina Eksplorasi Sumur Baru
(???) - LATERAL EXPLORATION
Rekan2,
Ikut ngramein ah...
Tanpa mengetahui detail konteks pembicaraan Ibu Evita, apa yang
diucapkan Ibu Evita dapat diinterpretasikan dari sisi lain:
Saya melihat itu hanya ungkapan bentuk rasa kekecewaan atas kinerja
Pertamina dan tekanan dari pihak pemerintah untuk mencapai target
produksi nasional. Hal ini mungkin yang membuat beliau kebablasan dalam
mengomentari sebuah event.
Tapi kalau diambil positive-nya, mungkin bisa kita ambil manfaatnya
sebagai wacana mawas diri apakah yang sudah kita lakukan betul2 sudah
maksimal dalam rangka meng-exploitasi minyak yang ada di sebuah
lapangan. Saya melihat memang ada kecenderungan kita2 sebagai
geoscientist/engineer meng-under estimate kompleksitas reservoir/geologi
yang ada dari sebuah lapangan. Yang membuat recoverable minyak-nya
menjadi tidak optimum.
Beberapa contoh seperti lapangan minyak Duri di Sumatra. Sebuah antiklin
sederhana dengan fault sytem yang tidak terlalu komplek, dengan jumlah
sumur yang sudah ribuan dengan interval yang sangat dekat, dan sudah di
EOR secara massive, tapi masih saja ada minyak yang tidak ter-swept.
Tidakkah ini memberi pelajaran ke kita bahwa sebenarnya reservoir yang
kita hadapi lebih komplek dari yang kita pikirkan (read: model-kan).
Saya dengar Chevron ingin memperpanjang kontrak lapangan ini walaupun
sudah di EOR cukup lama.
Chevron Thailand bahkan mendidik junior2 Geoscientist (jumlahnya
puluhan..) untuk meningkatkan keahliannya di geomodeling agar mereka
bisa lebih memahami kompleksitas reservoirs geologi di asset field
mereka dengan lebih baik. Dan Junior-2 ini ditargetkan dan
"di-empowered" untuk bisa meningkatkan produksi dengan intensive infill
wells program berdasarkan hasil geo-modeling mereka. Dan hasilnya sangat
positive, saya lupa angka penambahan produksi. Seingat saya berkisar
total sekitar 40,000 barrel/day.
Beberapa minggu lalu, sebuah basement high di Vietnam di drill lagi dan
ngocor sekitar 1000 barel/day dari sebuah fracture. Padahal 4 tahun yang
lalu, di basement-high yg sama (400 meter dari lokasi sekarang) sudah di
drill sampai basement tapi gak ada minyaknya karena penjelasan saat itu
mengatakan tidak punya effective cap-rock di atasnya walaupun beberapa
nice fractures dijumpai. Dengan hanya sekedar merubah fault model, dan
memodelkan kemungkinan adanya trapping system yg berbeda, akhirnya
mereka berani drill lagi. Apalah istilahnya.."Thinking Out Of The Box"
dll...
Dari sedikit contoh diatas, ternyata masih banyak yang kita tidah tau
atas reservoir yang kita kerjain tiap hari disebabkan level
kompleksitasnya yang tinggi dan kita sering under-estimate
ke-kompleksitas-an tersebut. (Ada orang bilang: I don't even know my
wife, even thogh I sleep with her everyday)....Saya yakin rekan2 banyak
contoh kasus yang lain...Banyak konsultan saya yang sering cerita
pengalaman ke saya bagaimana mereka berani merubah model interpretasi
yang lama ditempat kerja mereka yang baru. Terkadang model yang sudah
dipercaya berpuluh-puluh tahun, dengan model yang baru. Dan saya bangga
terhadap keberanian dan antusiasme mereka.
Tanpa mengurangi jerih payah Pertamina selama ini, mungkin yang Ibu
Evita tekankan, tidakkah seharusnya kita mengedepankan "LATERAL
EXPLORATION" (istilah: mencari poket2 minyak dari reservoir yang sudah
ada minyaknya, (dari pada "VERTICAL EXPLORATION" (istilah: mencari
minyak dilahan baru yang penuh resiko). Bukan berarti Lateral
Exploration tidak ada resiko dan bukan berarti menghentikan usaha
Explorasi Vertikal. Tapi paling tidak resikonya lebih kecil, dengan
petroleum system yang sudah terbukti. Hanya perlu kacamata baru dan
usaha yang lebih, sehingga lapangan yang kita kerjakan menjadi lebih
menarik dan masih potensial.
Dulu orang tua kita selalu bilang: " Le thole...nek mangan kudu sing
resik, mengko rejekine dijukuk wong liyo" (Baca: Nak nak..kalau makan
harus yang bersih, biar rejekinya gak diambil orang).
Hanya sebuah interpretasi dari yang Ibu Evita ucapkan.
Salam dan sukses selalu,
Sigit
Managing Geoscience Entrepreneurship
EP International
Malaysia
-----Original Message-----
From: Taufik Manan [mailto:[email protected]]
Sent: Wed 4/21/2010 9:07 AM
To: [email protected]
Cc: Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
Subject: Re: [iagi-net-l] Belum Saatnya Pertamina Eksplorasi Sumur Baru
(???)
Sahabat seprofesi yang saya hormati,
Menarik statemen dari Ibu Evita dan bila dikaitkan dengan pernyataan
Beliau
dari forum IAGI - JSC hari Rabu, 8 April 2010 yll (mudah2 an ada notulen
dari notulisnya Pak Batara dan Rovicky), memang banyak kondisi yang
harus
diperhatikan untuk meningkatkan produksi migas Indonesia. Beberapa
faktor
seperti data, dana, infra struktur sampai investasi, khususnya di
Indonesia
Timur menjadi tantangan untuk menjawab masalah ini.
Namun menurut saya, memang indutsri migas itu serba high risk, high cost
dan
high technology, tapi sepatutnya eksplorasi tetap menjadi salah satu
faktor
penting untuk meningkatkan produksi migas, selain faktor pengembangan.
Bila
mau merubah / meningkatkan produksi di masa depan adalah tetap konsisten
dan
bahkan memperbaiki target eksplorasi dengan mencari daerah baru atau
terobosan dengan teknologi yang tepat guna (tidak harus baru namun
efektif
manfaatnya). Banyak "lesson learn" yang dapat diambil dari manapun
sebagai
pelajaran untuk perbaikan di masa depan. Beberapa rekan kita yang
berkarya
di negara lain, tentunya akan mau sharing ide untuk memajukan industri
migas
nasional.
Khusus untuk pengembangan dari lapangan yang sudah / akan berproduksi
(development field), saya mencoba berbagi pengalaman yang didapat ketika
ditugaskan di PCSB untuk divisi pengembangan pada bagian resources
maturation. Intinya untuk mengembangkan lapangan yang sudah ada, selain
teknologi yang umum dipakai seperti EOR dll, perlu ada kajian dan
terobosan
baru untuk memaksimalkan produksi. Beberapa lapangan kecil (istilahnya
Small
Field) yang dikategorikan berdasarkan jumlah resources yang kecil namun
masih bisa diproduksi dengan cara menekan biaya operasional atau
pengembangannya digabungkan dengan lapangan produksi yang terdekat.
Mungkin
masalah yang timbul adalah beda kepemilikan antara Pertamina, KKKS dll
namun
dengan penyelesaian yang saling menguntungkan kedua belah pihak dengan
BPMIGAS sebagai fasilitator, masalah itu seharusnya bisa diselesaikan
dengan
baik. Kuncinya adalah mau mencoba teknologi atau terobosan baru sebagai
"pilot project".
Kesimpulannya menurut saya, Indonesia masih bisa meningkatkan produksi
baik
melalui kegiatan eksplorasi maupun pengembangan. Semua hal yang ada
menjadi
tantangan untuk diselesaikan secara komprehensif dengan keuntungan bagi
semua pihak.
Semoga berjaya Indonesia dan demikian sekedar sharing ide dari saya
untuk
meningkatkan produksi migas Indonesia. Maaf bila ada yang kurang
berkenan
karena saya juga insan yang khilaf.
Wassalam
TAM
2010/4/21 yanto R.Sumantri <[email protected]>
>
>
> Rekan rekan
>
> Menarik statement Ibu Evita ini.
> Kita harus
> melihatnya secara lebih hati hati .
> Kalau Dirjen mengatakan hal ini
> dalam haubungman dengan tempat/event dia berbicara maka benar kalau
dia
> mengatakan "agar Pertamina melakukan usaha maksimal dalam
> memproduksikan lapangan lapangan yang dimilikinya , al dengan
teknologi
> yang lebih maju". Nah disini dia harus STOP , karena statemen
> seterusnya saya kira tidak berkaitan langsung dengan event dia
berbicara
> yaitu "meningkatkan produksi migas Indonesia saat ini".
>
> Mengenai eksplorasi , beliau mungkin lupa (karea event yang baru
> diikutinya itu) , bahwa Pertamina EP harus tumbuh dan tumbuhnya
Pertamina
> EP hanya dapat dijamin apabila ditemukan cadangan baru dimana saja
yang
> mungkin.
>
> Sayang sekali Ibu Dirjen kurang mendukung strategi
> Pertamina EP yang sangat progresif dalam melakukan eksplorasinya .
> Semoga ada yang mengingatkan.
>
> Si Abah
>
>
> >
> Saya pikir logis dan memang seharusnya ini merupakan bagian dari
> >
> strategi besar Pertamina. Memaksimalkan eksplorasi di wilayah yang
> > telah dimiliki sejak berpuluh tahun lalu. Sama seperti KPS lain
> yang
> > seharusnya juga memaksimalkan wilayah mereka sekarang.
> Tentu bukan
> > berarti hanya memilih A atau B, kan bisa dibuat
> jalan bareng toh.
> >
> > Sudahlah, ndak usah
> didramatisir.
> >
> > Salam
> > mnw93
> >
> > 2010/4/20 Amir Al Amin <[email protected]>:
> >> >
> >> "Pertamina fokus dulu apa yang dia
> punya sekarang. Kalau eksplorasi itu
> >> butuh dana yang tinggi.
> Jadi gunakan teknologi-teknologi baru di wilayah
> >> kerja yang
> dimilikinya," ujar Evita.
> >
> >
> > --
> > - when one teaches, two learn -
> > http://www.geotutor.tk
> > http://www.linkedin.com/in/minarwan
> >
> >
>
>
------------------------------------------------------------------------
--------
> > PP-IAGI 2008-2011:
> > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT,
> [email protected]
> > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL,
> [email protected]
> > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5
> departemen, banyak biro...
> >
>
>
------------------------------------------------------------------------
--------
> > Ayo siapkan diri....!!!!!
> > Hadirilah PIT ke-39 IAGI,
> Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember
> > 2010
> >
>
>
------------------------------------------------------------------------
-----
> > To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website:
> http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123
> 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net
> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
> information
> > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI
> or others. In no event
> > shall IAGI or its members be liable for
> any, including but not limited to
> > direct or indirect damages, or
> damages of any kind whatsoever, resulting
> > from loss of use, data
> or profits, arising out of or in connection with
> > the use of any
> information posted on IAGI mailing list.
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
>
>
> --
> _______________________________________________
> Nganyerikeun hate
> batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada
> ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.
>
--
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.
--
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.
*****
This message may contain confidential and/or privileged information. If you are
not the addressee or authorized to receive this for the addressee, you must not
use, copy, disclose or take any action based on this message or any information
herein. If you have received this communication in error, please notify us
immediately by responding to this email and then delete it from your system. PT
Pertamina (Persero) is neither liable for the proper and complete transmission
of the information contained in this communication nor for any delay in its
receipt.
*****
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------