Sigit,
 
1. Di situlahn letak teka-teki/enigma/misterinya. Faktanya adalah bahwa abu 
volkanik letusan gunungapi Eyjafjallajokull kemarin itu memang mengindikasi 
magma yang intermediat-asam, bahkan lebih asam daripada banyak gunungapi2 di 
Jawa setelah saya bandingkan dengan katalog gunungapi Indonesia Kusumadinata 
(1979). Beberapa peneliti percaya bahwa itu hasil diferensiasi magma dengan 
bantuan meteoric water, yang lain percaya bahwa ada sliver kontinen granitik ex 
rifting awal yang terperangkap (sulit membayangkannya). Mantle convection 
mestinya tak punya pengaruh besar ke komposisi gunung ini. Itu lebih mungkin 
karena ada sesuatu di permukaan atau di tubuh kerak Eslandia, bukan di upper 
mantle-nya.
 
2. Cekungan2 yang Sigit sebutkan semuanya marginal basin, bukan tipe oceanic 
sea floor spreading antar benua; jadi mid-oceanic ridge marginal basin secara 
dimensi akan lain dengan mid-Atlantic, mid-Pacific dan mid-Indian ridge, 
sekalipun sama-sama spreading ridge. Kalau kita sudah mengerti mekanisme 
pembentukan magma intermediat-asam di Eslandia itu, tentu kita bisa membahas 
penerapannya di spreading-ridge yang lain.
 
3. Saya tak/belum melihat kaitan langsung ke petroleum system dalam kasus ini, 
barangkali kepada gejala geotermal dan mineralisasi epitermal bisa berkaitan.
 
salam,
Awang

--- Pada Rab, 21/4/10, sigit prabowo <[email protected]> menulis:


Dari: sigit prabowo <[email protected]>
Judul: Re: [iagi-net-l] Enigma Magma Eslandia
Kepada: [email protected], "awang satyana" <[email protected]>
Tanggal: Rabu, 21 April, 2010, 10:15 AM


Pak Awang YTH.,
 
Saya tertarik dengan ulasan pak Awang tentang hal ini, walapun masih merupakan 
enigma, saya ingin menanyakan tentang beberapa hal pak :
 
1. Bagaimanakah sebenarnya mekanisme sebuah pulau volkanik yang berkomposisi 
magma asam-intermediate granite-rhyolite-andesite, duduk di atas punggung 
tengah samudera yang berkomposisi basalt-tholeiitic, apakah ada perubahan dalam 
pergerakan mantle dibawah nya, differensiasi magma, gaya konveksi, dsb...?
 
2. Bila kita kembali ke arah SE Asia, apakah hal2 seperti yang terjadi di 
Eslandia tersebut juga bisa terjadi di wilayah2 spreading seperti di Andaman 
Sea, South China Sea, Sulu Sea, Celebes Sea, Banda Sea, dsb...?
 
3. Bagaimanakah keterkaitan nya (bila ada...) dengan petroleum system dan HC 
prospectivity nya, dengan ditemukan nya magma asam-intermediate di MORB 
tersebut...?
 
Mohon pencerahan nya pak...
 
Terimakasih
 
Best Regards
Sigit Ari 
 

--- On Tue, 4/20/10, Awang Satyana <[email protected]> wrote:


From: Awang Satyana <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Enigma Magma Eslandia
To: "Geo Unpad" <[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS" 
<[email protected]>
Cc: "IAGI" <[email protected]>, "Forum HAGI" <[email protected]>
Date: Tuesday, April 20, 2010, 12:09 PM


Rabu 14 April 2010 seminggu yang lalu sebuah gunungapi yang ditutupi gletsyer 
di area bernama Eyjafjallajokull, Pulau Eslandia, Atlantik Utara meletus hebat. 
Gletsyer meleleh, masuk ke sungai di sekitarnya membuat banjir setinggi tiga 
meter. Sebanyak 800 penduduk di sekitarnya mengungsi dalam ketakutan. Sementara 
itu, abu volkanik yang dilaporkan setajam pecahan kaca dilemparkan ke atmosfer 
ke sekelilingnya membuat ratusan jadwal penerbangan dari/ke Eropa Utara, 
Amerika Utara, Kanada dibatalkan membuat ribuan calon penumpang yang sempat 
pergi ke bandara2 terlantar. Beberapa kawan Indonesia yang akan kembali ke 
Tanah Air seusai menghadiri pertemuan AAPG 12-14 April 2010 sempat terlantar 
juga, misalnya yang transit di bandara New York.
Dalam dunia petrotektonik (penafsiran tektonik berdasarkan ciri petrologi) atau 
volkanologi, magma/gunungapi Eslandia merupakan enigma (teka-teki, misteri) 
tersendiri. 
Eslandia adalah sebuah pulau yang muncul dari jalur pematang-tengah-samudera 
Atlantik Utara (mid-Atlantic ridge). Seperti kita tahu, 
pematang-tengah-samudera atau mid-oceanic ridge (MOR) adalah tempat berpisahnya 
dua lempeng oleh proses pemekaran dasar samudera (sea-floor spreading). 
Eslandia berposisi di tengah jalur pematang samudera yang memisahkan Lempeng 
Amerika Utara dan Lempeng Eurasia. Dari tempat perpisahan ini, magma dari 
mantel naik ke permukaan dalam seri komposisi ultrabasa-basa (seri ofiolit) dan 
membanjiri/menutupi dasar samudera dengan basal. 
Paper klasik dari James Gilluly (1971), juga  Engel dan Engel (1964), Engel et 
al. (1965), dan Nichols (1965) mengatakan bahwa magma sepanjang oceanic ridges 
aktif adalah tholeiitic basalt (basal samudera). Survei geomarin dengan cara 
mengeruk sampel di tengah samudera membenarkan hal ini. Meskipun demikian, ada 
beberapa yang menyimpang dari itu, tetapi yang paling menyimpang adalah apa 
yang terjadi di Eslandia. Gilluly (1971) dan (Mitchell-Thome, 1970) bahkan 
mengatakan bahwa dari pematang samudera di seluruh dunia yang panjangnya 40.000 
mil itu, satu-satunya tempat yang paling menyimpang dari segi magmatiknya 
adalah Eslandia sebab menurut mereka di sinilah satu-satunya tempat di tengah 
pematang samudera terdapat granit dan riolit dalam jumlah besar. Sigurdssen 
(1968) menemukan banyak xenoliths granit dari banyak lubang kepundan sejumlah 
gunungapi di Eslandia. Letusan gunungapi di bawah gletsyer Eyjafjallajokull 
yang melemparkan abu volkanik barangkali
mengindikasi magma asam ini sebab letusan eksplosif yang menghasilkan abu 
volkanik berasosiasi dengan magma asam-intermediat seperti gunung2 di Jawa. 
Tetapi, bagaimana sebuah pulau volkanik di jalur MOR yang terkenal punya magma 
basa dapat bersifat asam-intermediat ? Apakah telah terjadi diferensiasi 
magmatic ? Apakah basement Eslandia merupakan kontinen yang terperangkap ? 
Berbagai teori telah dikemukakan sejak awal tahun 1970-an. Melihat 
publikasi-pubiklasi terbaru tentang ini (Jonasson, 2005; Kelley dan Barton, 
2008), rupanya asal magma yang nonbasa di Eslandia ini masih menjadi bahan 
perdebatan. Gilluly (1971) dan Deffeyes (1970) menolak pendapat bahwa sialic 
magma Eslandia sebagai hasil diferensiasi dari magma basa sebab tak ditemukan 
magma intermediate dalam jumlah yang cukup. Mereka menganggap bahwa kerak 
sialic telah terperangkap di Eslandia dan mengkontaminasi magma basalnya. 
Bagaimana proses pemerangkapannya, tak diterangkan lebih jauh. Sementara itu, 
Walker (1963, 1966) dan Thorarinssen (1967) berpendapat bahwa basement Eslandia 
adalah granitic.
Jonasson (2005) masih menganggap bahwa magma Eslandia adalah basal, magma 
asamnya hanya sedikit saja, yang hanya terkonsentrasi di gunung2api yang 
disebutnya sebagai central volcanoes. Batuan asam (silicic) ini menurutnya 
terjadi sebagai lava, kubah lava, lapisan tefra, welded tuffs, ignimbrite yang 
dihasilkan oleh erupsi bersifat eksplosif (seperti letusan 14 April 2010) atau 
letusan efusif. Jonasson (2005) telah mengumpulkan 90 sampel dari banyak active 
central volcanoes di Eslandia yang telah mengerupsikan batuan silicic lalu 
dianalisis major dan trace elements-nya.  Secara petrokimia, batuan ini bisa 
digolongkan sebagi dacites, trachytes, low-alkali rhyolites dan alkalic 
rhyolites. Analisis isotope secara sistematik ditafsirkan Jonasson (2005) 
menunjukkan bahwa batuan asam ini berasal dari batuan basaltic lebih tua dari 
gunungapi yang sama yang lalu menjadi batuan asam oleh proses diferensiasi yang 
melibatkan meteoric water. Sumber magma asam ini
adalah kompleks intrusi di bawah central volcanoes, bukan dari long-lived magma 
chamber.
Kelley dan Barton (2008) mengkonsentrasikan penelitiannya pada sampel2 yang 
disebutnya basaltic glass yaitu batuan volkanik yang dibentuk di dapur magma 
lalu magma bergerak sangat cepat ke permukaan dan mendingin sangat cepat di 
permukaan membentuk tampilan seperti kaca. Sebanyak 500 basaltic glass dari 28 
gunungapi di Eslandia telah dianalisisnya untuk mengukur tekanan dan temperatur 
pembentukan basaltic glass ini. Kelley dan Barton pun melaporkan bahwa di 
setiap gunungapi di Eslandia terdapat complex groupings of magma chambers. 
Magma secara konstan mengalir melalui dapur magma ini dan diinjeksikan ke 
retakan-retakan di kerak Bumi mengakibatnya meningkatnya aktivitas volkanik. 
Aktivitas yang meningkat ini dalam periode lebih dari 1000 tahun akan membentuk 
basaltic glass.
Analisis petrokimia senyawa oksida pada abu volkanik yang dilemparkan gunungapi 
Eyjafjallajokull (Oskarsson, 15 April 2010) menunjukkan kandungan SiO2 
57,44-58,21 wt% (lebih asam daripada abu volkanik Merapi dan Semeru menurut 
Kusumadinata, 1979); Al2O3 14,92-15,84 %; Na2O 4,96-5,50%, K2O 1,71-1,74 %; 
TiO2 1,54-1,73 %, dan beberapa senyawa oksida lainnya. Kandungan SiO2 tersebut 
menunjukkan magma menengah (intermediate), kandungan TiO2-nya menunjukkan bahwa 
asal magmanya bukan basal tholeiitik (>2,5 %) maupun basal benua (< 1 %). Dalam 
klasifikasi petrokimia oksida menurut Carmichael (1974), magma letusan tersebut 
berkomposisi di antara andesit-dasit-riolit. 
Demikian, memang petrokimia magmatic/volkanik Eslandia menyimpang daripada 
sewajarnya sebuah pulau volkanik yang duduk di punggung tengah samudera yang 
didominasi basal tholeiitik. Tentang penyebabnya, barangkali masih merupakan 
enigma.
Salam,
Awang
Beberapa referensi utama tentang hal ini :
Gilluly, 1971, Plate tectonics and magmatic evolution, GSA Bull, 82, 2384-2396.
Engel and Engel, 1964, Composition of basalts from the mid-Atlantic ridge, 
Science, 144, 1330-1333.
Engel et al, 1965, Chemical characteristics of oceanic basalts and the upper 
mantle, GSA Bull, 76, 719-734.
Nichols, 1965, Basalts from the deep ocean floor, Mineralogy Magazine, 34, 
371-388.
Sigurdssen, 1968, Petrology of acid xenoliths from Surtsey, Geology Magazine, 
105, 440-453.
Walker, 1966, Acid volcanic rocks in Iceland, Bull. Volcanology, 29, 375-406
Thorarinsson, 1967, Some problems of volcanism in Iceland, Geol. Rundschau, 57, 
1-20.
Jonasson, 2005, Silicic volcanism in Iceland: Composition and distribution 
within the active volcanic zones, www.sciencedirect.com.
Petrologi gunungapi secara umum baik untuk dipelajari dari :

Muzil Alzwar dkk,1988, Pengantar Dasar Ilmu Gunungapi, Penerbit Nova, Bandung.
Doddy Setia Graha, 1987, Batuan dan Mineral, Penerbit Nova, Bandung




      

Kirim email ke