Setelah membaca ulasan demi ulasan yg dimulai dg Harau yg bukan saja menyajikan alam yg indah kemudiikuti dg pertanyaan yg menggeltik tentang geologinya, akhirnya saya bertanya-tanya : apakah "parawisata" di kita ini hanya alam dan pusat-2 mainan saja? Menarik sekali tulisan prof Koesoemadinata yg baru mengunjungi Grand Canyon dll, mereka memang punya banyak Nasional Park al.Yellowstone, Grand Titon dll, dimana disamping menikmati pemandangan dan satwa yg berkeliaran, juga "geologi" dri bebatuan yang tersingkap baik di tepi-2 jalan. Mereka bisa membacanya dlm guide book yg disusun dg menarik dan mudah dicerna. Contoh: mereka berkeliling duduk disekitar "old faith full" geyser yang sewaktu-waktu menyemburkan uap dan air. Para pengunjung yg sangat penasaran mengena kejadiannya, kemudian dijelaskan secara geologis. Saya pernah mengusulkan "Luh Ulo geology nasional park" dan berhasil menjadi "Museum Geologi Karangsambung", dimana masyarakat bisa berwisata sambil melihat batuan-2 "aneh" disektarnya. Tapi ternyata Museum yang diresmikan oleh SBY di cilacap itu tidak ada gaungnya dan malah tambah rusak. Yang masih utuh adalah "papan penunjuk jalannya" di Kebumen.
Pertanyaan saya : apakah tidak waktunya departemen parawisata juga mempunyai geolog-2 yang membantu mereka mencari dan membuat rencana-2 wilayah parawisata yg secara alam dan geologi menarik. Masyarakat Indonesia akan lebih mencintai wilayah indah ini: "Tidak dicinta, tidak disayang" , "tidak disayang akan dirusak". Asikin sukendar Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

