Padahal dari tahun 1932 Harloff telah membuat buku saku tentang Luk Ulo 
tersebut yang dipakai guide book saat ada konferensi ilmu pengetahuan alam di 
Bandung masa itu. Salah satu copy-nya ada di perpustakaan saya. Masa kita 
sekarang, 80 tahun kemudian, tak juga bisa membuat buku semacam itu? Tentu saja 
bisa, dengan konsep2 baru, lagipula telah berapa banyak doktor Indonesia dari 
penelitian di Luk Ulo itu (Pak Kendar sendiri, Ibu Emmy, Pak Agus Handoyo, Pak 
Prasetyadi, ...). Mestinya kini dana bukan masalah lagi.
 
Sama halnya dengan buku "The Geology of Indonesia" (van Bemmelen, 1949), tak 
ada yang lebih lengkap dari itu yang telah menulisnya, baik dari ahli2 asing 
maupun ahli2 geologi Indonesia. Buku2 Hamilton (1979), Katili dan Tjia (1980) 
-kumpulan paper, Hutchison (1989), Hall dan Blundell (1996) -kumpulan paper, 
dan Atlas Geologi Indonesia (P3G, 2002) -peta2 regional Indonesia; meskipun 
memuat konsep2 modern dalam geologi dan tektonik; kalau ditanya kelengkapannya, 
masihlah lebih lengkap karya van Bemmelen (1949). 
 
Tentu saja kita kini mempunyai data yang jauh lebih banyak dari tahun 1940 
-saat van Bemmelen mulai menyusun karyanya. Tenaga ahli ? Wah, sangat banyak, 
jauh lebih dari cukup. Dana? Tentu saja ada, menggunakan APBN pun bisa saja 
dimintakan oleh Badan Geologi. Tetapi kok setelah 60 tahun, tak pernah juga 
kita bisa membuat buku semacam yang ditulis van Bemmelen (1949) itu. Prof. 
Adjat Sudradjat (Geo-Unpad) entah bercanda entah serius pernah mengatakan 
alasannya dalam suatu kesempatan ngobrol, "terlalu banyak yang pintar saat ini, 
jadi itu buku tak jadi-jadi ditulis" (?...). Dulu van Bemmelen memang 
didatangkan ke sini khusus untuk mengompilasi semua hasil penelitian Belanda 
dari tahun 1850 sampai sekitar 1940, maka jadilah.
 
Dulu, entah dalam periode pengurusan IAGI yang diketuai siapa, pernah ada 
komisi pembaharuan buku van Bemmelen (1949). Realisasinya hanya beberapa kali 
rapat lalu selesai dan komisi pun bubar dengan sendirinya -tentu saja tanpa 
hasil, dan tak diteruskan oleh kepengurusan IAGI berikutnya.  
 
Masih bagus rekan Herman Darman dan Hasan Sidi berjibaku mengumpulkan beberapa 
rekan-rekan geologi yang dinilai menguasai wilayah2 tertentu di Indonesia, 
diminta menulis, dan kemudian tulisannya disunting oleh Herman dan Hasan, maka 
jadilah Outline of the Geology of Indonesia (IAGI, 2000) -lumayan -meskipun 
masih terlalu menonjol petroleum geology-nya (maklum Herman dan Hasan orang2 
perminyakan dan juga sebagian besar kontributornya adalah orang2 perminyakan 
pula).
 
salam,
Awang
 
--- Pada Jum, 2/7/10, [email protected] <[email protected]> 
menulis:


Dari: [email protected] <[email protected]>
Judul: Re: [iagi-net-l] Parawisata dan geologi
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 2 Juli, 2010, 2:26 PM


Lagi-2 masalahnya masalah dana. Masalah ada kaitannya dg prioritas. Dan mungkin 
pejabat yg mengatur anggaran menganggap geowisata tidak penting. Lebih baik 
membangun pasar dsb yg ternyata banyak yg terlantar.
Saya dulu ingin sekali menyusun "buku saku" yg dpt digunakan oleh siapa saja yg 
tertarik mengunjunga wilayah Luh-Ulo dg "melange nya" yg terkenal, gk jadi-2. 
Pertanyannya siapa yg membiayai.
Kalau di luar negri, buku saku seperti banyak dijual di kios-2, tinggal pilih 
mau jalan-2 kemana "tanpa guide".
Jadi dg buku saku seperti geologists-2 dalam dan luar negri, bisa bepergian 
menikmati-menghayati alam yang menarik seperti "karst G.Kidul", "waduk gajah 
mungkur " termasuk yg baru "gunung lumpur Sidoardjo tadi".
Mereka bisa naik mobil sendiri, naik motor atau sepeda dan berhenti distiap 
tempat yg digambarkan dalm buku tersebut.
Malamnya dia bisa baca route besoknya, apa yg akan dilihat dsb

Kita belum punya, dan tidak ada salahnya dipromosikan 

Asikin Sukendar 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Hendratno Agus <[email protected]>
Date: Thu, 1 Jul 2010 23:54:04 
To: <[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Parawisata dan geologi
All, tidak ada museum geologi di Cilacap. Yang diulas prof. Sukendar Asikin itu 
bahwa pencanangan Karangsambung sebagai Cagar Geologi Nasional dengan Kepres 
itu dilakukan SBY pas peresmian berbagai proyek di Indonesia, yang 
ceremonialnya di Cilacap. 

Pak Awang, majalah wisata JalanJalan (edisi english dan indonesia) bulan Juni 
lalu, mengulas ekspedisi dan keunikan Satonda ntb (yang ulasannya tsb mereview 
dari website koran Mataram yang pernah meliput trip bpmigas-ugm-pemda ntb ke 
Satonda; tapi yang dikutip malah keliru, karena "ada peluang potensi migas di 
pulau satonda...", blaik...). Ada baiknya, ulasan pak Awang itu diedit ulang 
dan dikirim ke Majalah Garuda. 

Seperti yang diulas Prof.Sukendar Asikin (SA), bahwa ada beberapa aktivis IAGI 
(seperti : mas Hanang Samodra, mas Yunus, juga mas Budi Brahmantyo) yang telah 
memberikan masukan ke Kementrian Pariwisata dan Kebudaya untuk mengembangkan 
kebijakan nasional tentang diversifikasi obyek keaneka-ragaman geologi sebagai 
daya tarik wisata. Bagi saya, yang sangat menarik dan strategis adalah 
kehadiran Mas Budi Brahmantyo (yang geologist dari ITB juga aktivis IAGI) 
mendapat mandat sebagai Kepala Pusat Penelitian Pariwisata (P2Par ITB.., tidak 
berubah kan namanya mas Budi??)..., hehehe..., kita tunggu pressure beliau ini 
ke urusan policy nasional. Siapa tahu, sentilan Prof.SA ini nanti mendorong 
secara high pressure dan high temperature aktivis IAGI untuk bicara dan action 
terkait dengan : geologi dan pariwisata. Prof. SA, secara spot-spot, 
kecil-kecil (mungkin tidak populer..) dan tidak terkoordinasi, beberapa kawan 
aktivis IAGI sudah memulai promosi itu. Saat ini
aktivis Pengda IAGI DIY.., mencoba support ke Pemda Gunungkidul yang telah 
mencanangkan Gunung Nglanggran (lokasi tipe formasi Nglanggran di Peg.Selatan 
Gunungkidul telah dideklarasikan sebagai Obyek Geowisata oleh Dinas Pariwisata 
Gunungkidul, yang kebetulan Kabid Promosi Wisatanya adalah Mas Birowo Adhi yang 
pendidikannya adalah Teknik Geologi). Artinya, sudah ada sedikit geologist yang 
bekerja di bidang kepariwisataan. 

Cerita lain : awal minggu ini, laboratorium kami di Geologi UGM kedatangan 
beberapa mhsw-mhswi dan 1 dosen dari departement geologi sebuah Universitas di 
Ceko yang melakukan perjalanan trip geowisata awa-Bali. Ketika main ke lab., 
mereka bercerita ingin juga ke Wonosari - Pacitan dan ke lumpur Sidoarjo. Yang 
mereka tanya : adakah peta perjalanan ke lokasi-lokasi obyek geologi yang 
menarik dan sepanjang perjalanan itu ada informasi geologi sepanjang jalan 
dalam bentuk peta? Jelas di Indonesia tidak ada /belum ada yang mentradisikan 
bahwa peta perjalanan wisata disertai informasi geologi sepanjang jalan, 
apalagi obyek wisata alam dengan deskripsi geologi. Memang di beberapa negara 
Eropa, hal tsb ada. Akhirnya sy hanya memberikan1 leaflet dari Dinas Pariwisata 
Pacitan (hanya 1) yang kebetulan Pemda Pacitan sekarang sedang kampanye usulan 
Geopark Pacitan Barat ke Departemen Pariwisata-Kebudayaan dan Unesco (dalam 
bentuk leaflet) dan Leaflet Potensi Karst
Pawonsari (Pacitan, Wonogiri, Wonosari). Waaahhhh...., mereka sangat senang 
luar biasa. Kemudian tanya lagi : informasi geologi pulau Jawa secara singkat 
adakah? Lalu saya berikan buku terbitan IAGI (yang di edit : Herman Darman dan 
F Hasan Sidi) "An outline of The Geology of Indonesia"....wochh senangnya bukan 
main. Karena saya cuman punya 1, akhirnya hanya dibaca-baca dan kusarankan buka 
web-nya IAGI untuk beli buku itu atau baca juga di web-nya wikipidia tentang 
buku tsb dalam bentuk file HTML (yang edit oleh Herman Darman).

Saat ini sudah ada upaya untuk menginventarisasi tentang geowisata di Pacitan 
termasuk, geowisata sungai grindulu..., artinya lokasi-lokasi singkapan geologi 
/ fenomena geologi yang bisa di-deskripsi dengan bahasa pariwisata dan fotonya 
menarik. Saya sedang mencoba memulai hal itu dari yang kecil-kecil, kadang 
untuk keperluan fieldtrip mhs kami saja.

salam, gus hend





________________________________
From: Turidho (TURIDHO) <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, July 2, 2010 8:06:50 AM
Subject: RE: [iagi-net-l] Parawisata dan geologi

Wah, ada ya museum geologi di Cilacap? Kok kami, yang nota bene dari
komunitas geologist, tidak pernah tahu. Memang nampaknya tidak ada
gaungnya. Beberapa tahun lalu juga ada rencana mendirikan museum geologi
di Bukit Tinggi, tapi sampai sekarang tidak tahu nasib "rencana" itu. 
Jadi mengenai object wisata geologi sepertinya sudah banyak yang
diniatkan, dan ada pula yang sudah diwujudkan, tapi nyatanya "langkah
selanjutnya", baik pelaksanaannya untuk yang masih berupa niatan, maupun
promosi & pemanfaatannya untuk yang sudah terwujud, perlu menjadi focus.
Sama seperti niatan dari IAGI pengda Riau untuk melakukan konservasi
terhadap semua lokasi tipe dari Formasi2 khususnya yang ada di Riau. 
Kita perlu sinergi untuk mewujudkan itu semua,
-ido-


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, July 02, 2010 7:30 AM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Parawisata dan geologi

Setelah membaca ulasan demi ulasan yg dimulai dg Harau yg bukan saja
menyajikan alam yg indah kemudiikuti dg pertanyaan yg menggeltik tentang
geologinya, akhirnya saya bertanya-tanya : apakah "parawisata" di kita
ini hanya alam dan pusat-2 mainan saja?
Menarik sekali tulisan prof Koesoemadinata yg baru mengunjungi Grand
Canyon dll, mereka memang punya banyak Nasional Park al.Yellowstone,
Grand Titon dll, dimana disamping menikmati pemandangan dan satwa yg
berkeliaran, juga "geologi" dri bebatuan yang tersingkap baik di tepi-2
jalan. Mereka bisa membacanya dlm guide book yg disusun dg menarik dan
mudah dicerna. Contoh: mereka berkeliling duduk disekitar "old faith
full" geyser yang sewaktu-waktu menyemburkan uap dan air. Para
pengunjung yg sangat penasaran mengena kejadiannya, kemudian dijelaskan
secara geologis.
Saya pernah mengusulkan "Luh Ulo geology nasional park" dan berhasil
menjadi "Museum Geologi Karangsambung", dimana masyarakat bisa berwisata
sambil melihat batuan-2 "aneh" disektarnya.
Tapi ternyata Museum yang diresmikan oleh SBY di cilacap itu tidak ada
gaungnya dan malah tambah rusak. Yang masih utuh adalah "papan penunjuk
jalannya" di Kebumen.

Pertanyaan saya : apakah tidak waktunya departemen parawisata juga
mempunyai geolog-2 yang membantu mereka mencari dan membuat rencana-2
wilayah parawisata yg secara alam dan geologi menarik.

Masyarakat Indonesia akan lebih mencintai wilayah indah ini: "Tidak
dicinta, tidak disayang" , "tidak disayang akan dirusak".

Asikin sukendar
Sent from my BlackBerry(r) smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id 
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------


      


Kirim email ke