Empat tahun bergelut didunia CBM, merasakan bagaimana tidak mudah mengimplementasikan kegiatan CBM ini di tataran praktis, saat ini sudah 20 PSC CBM yang di TT, namun cuma segelintir saja yang benar-benar serius menjalankan tahap eksplorasinya (data lengkap mungkin dapat disampaikan BPMIgas melalui Pak Awang).
Lapangan Rambutan (KKS Migas Medco ) bekerjasama dengan Lemigas sebagai area studi dengan 4 sumur test telah menghasilkan gas dari lapisan batubara ini, tapi hingga saat ini belumlah disebut layak untuk dikembangkan secara komersial. Berdasar keekonomian memang pengembangan Gas CBM ini Marginal dibandingkan Gas Konvesional dengan rata2 IRR 15-25% dan POT > 10 tahun (Hasil valuasi yang kami lakukan untuk beberapa area diSumatera dan Kalimantan dengan beberapa skenario berbeda mengikuti terms dan Condition yang ditetapkan Pemerintah). Untuk Market/Pemanfaatan memang telah pula dibahas diberbagi kesempatan Joint Evaluasi bersma Tim CBM Pemerintah (Ditjen Migas dan BP MIGAS) yang melibatkan Perguruan Tinggi (ITB, UGM, UPN, UNPAD, TRISAKTI) juga di berbagi kesempatan seminar IndoCBM, IATMI, IAGI dll. tapi sekali lagi tentu itu baru berupa kajian, termasuk untuk IPP, LNG, CNG, DME dsbnya Untuk terms&conditon CBM usulan ke Pemerintah, disaat kami bersama Tim (Lemigas, Medco, Pertamina, PGN) kemudian mendapt masukan dari berbagai Pihak perguruan Tinggi dan KPS lain telah pula memberikan kajian masukan sebelum dikeluarkan Permen ESDM 33-2006, dengan 2 masukan Model PSC dan Tax-Royalti dimana sekarang bertaaabh pula dengan wacana GROSS PSC. sejarah telah membuktikan model PSC ini yang tetap digunakan oleh Pemerintah. Apakah dengan model ini industri CBM ini akan 'running well' di Indonesia kita lihat saja. Setidaknya di Australia, Amerika sebagai produsen utama CBM Komersiall saat ini menggunakan Model Tax & Royalti, India dulunya memakai model PSC saat ini ikut Regim Tax & Royalti, China dan Vietnam yaang memaki model campuran.begitu juga Kanada dengan Tax & Royaltinya Setidaknya, di Quesland State Australia telah menggunakan 20% dari kebutuhan Energinya dari CBM. Bahkan Petronas telah membeli proyek LNG Santos dari CBM lebih dari 1 Milyar dolar 2 tahun lalu. Amerika sebagai Pionir yang dimotori BP, telah menggunakan 10% dari CBM untuk kebutuhan Energi Nasional mereka. Dua Negara itu telah membuktikan CBM KOmersial untuk diproduksikan, Kasus CBM di INdonesia saat ini sama dengan Kasus Geothermal 20 tahun lalu, yang masih dianaktirikan, terbukti sekarang menjadi jargon 'Green Energi'. CBM, mudah-mudahan akan menemukan jati dirinya juga. Tantangan terbesar insan per CBM an saat ini adalah bagaimana agar Gas dari CBM itu dapat diproduksikan dan dimanfaatkan segera secara ekonomis, semoga Dedi Yusmen ________________________________ From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> To: [email protected] Sent: Fri, 16 July, 2010 13:39:05 Subject: Re: Bls: [Fwd: Re: Bls: [iagi-net-l] Berbicara Mengenai CBM] 2010/7/16 oki musakti <[email protected]>: > Dua/tiga tahun yang lalu Don Voelte, bos besar Woodside (waktu ditanya kenapa >tidak mengikuti jejak Santos, Petronas dan Shell ) mempertanyakan keekonomian >CBM. > Dia bilang projek CBM seperti di Queensland akan banyak memerlukan statiun >transmisi/pompakarena tekanan gas yang keluar sangat rendah (saya gak punya >angka) hingga tidak bisa mengalir natural ke LNG plant. Banyaknya stasiun >pompa >jelas menambah beban biaya yang kudu di recover Dengan fakta yang diungkap Oki diatas (low pressure gas) itulah saya berpikiran kenapa proyek CBM tidak dibuat seperti kontrak geothermal. Full Project dari hulu (eksplorasi) hingga hilir (produksi LISTRIK). Listrik didistribusikan tidak dengan tenaga (energi) yang besar. Cukup dengan travo dan akan sedikit energi yang hilang selama distribusi (kecuali listriknya dicuri tentunya). Jadi saya rasa lebih pas kalau CBM dibuat kontrak full project dari hulu ke hilir. Dengan demikian perusahaan akan menghasilkan listrik bukan gas lagi. Dimana secara fisika jelas tidak ada tegana yang hilang, juga akan lebih berkonsentrasi terhadap kebutuhan energi dalam negeri. Btw, saya cenderung memilih piping gas dan cenderung menentang LNG, karena pada dasarnya tehnologi LNG adalah metode khusus dalam menyedot energi suatu negara supaya bisa di transfer ke negeri lain. RDP -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

