menurut saya paparan yg sangat bagus , apa tak ada niatkah dari Pak Awang
untuk mengumpulkan ulasan-ulasan seperti ini dan sebelumnya untuk di
bukukan, juga untuk  Pak Miko dengan tulisan-tulisannya, yang tentunya terus
diupdate dengan tulisan2 yg dihasilkan kemudian hari.

2010/9/6 Awang Satyana <[email protected]>

> Pak Bagus dan rekan2,
>
> Ethnogenesis (etnogenesis) adalah proses kejadian suatu kelompok etnik
> (suku) asli (indigenous ethnic group). Proses ini dipelajari dalam beberapa
> cabang ilmu tertentu, yaitu ethnic ecology atau ethnic geography. Bagaimana
> kelompok etnik ini berinteraksi dengan habitatnya, apakah ada ikatan khusus
> antara kelompok etnik dengan daratan yang mereka tempati yang akan membantu
> membentuk identitasnya sendiri; adalah beberapa pertanyaan yang ingin
> dijawab dalam ethnic ecology atau ethnic geography. Kadang-kadang, cabang
> ilmu ekologi yang mempelajari hal ini disebut sebagai cultural ecology.
>
> Lalu, apakah ilmu geologi terkait dengan etnogenesis ? Ya, tataan (setting)
> geologi mempengaruhi etnogenesis, tetapi bukan hanya geologi, klimatologi
> pun besar pengaruhnya. Kaitan yang mungkin antara orang dan lingkungan
> fisiknya (a.l. geologi) seringkali terlihat dalam pembentukan pola
> wilayah-wilayah kebudayaan etnik, migrasi etnik dan ketahanan atau daya
> keberlanjutan (persistence or survival) etnik.
>
> Leo Nikolayevich Gumilev (1912-1992), seorang tokoh pemikir etnogenesis dan
> pernah menulis buku terkenal dalam bidang ini, “Ethnogenesis and the
> Biosphere” (1975) mengatakan bahwa kelompok-kelompok etnis dibentuk oleh
> kondisi-kondisi geografi fisik (termasuk geologi) tertentu di atas permukaan
> bumi. Gumilev mengeluarkan istilah “ecotones” yaitu batas-batas tajam antara
> wilayah ekologi (ecoregions) –geologi terlibat dalam pembentukan ecoregions-
> yang mendorong terbentuknya kelompok budaya yang baru. Di batas-batas antara
> pegunungan dan dataran, antara hutan dan prairi, menurut Gumilev orang akan
> memerlukan strategi adaptif untuk dapat menggunakan dua ecoregion yang
> berbatasan di ecotone. Maka, adaptasi budaya itu memainkan peranan dalam
> etnogenesis. Misalnya, mengapa orang-orang Rusia berbeda dari orang-orang
> Slavik lainnya? Budaya induknya adalah budaya Slavik, kapan, mengapa dan ke
> arah mana perbedaan itu mulai terjadi ? Gumilev mengusulkan
>  bahwa orang-orang Rusia berkembang di ecotone hutan-padang rumput di
> sebelah utara Laut Hitam di Eurasia.
>
> Etnogenesis berhubungan erat dengan tempat asal dan penyebaran ras umat
> manusia. Masalah tempat asal dan penyebaran (migrasi) seluruhnya adalah
> masalah geologi sebab manusia berasal dan bermigrasi melalui tataan daratan
> dan lautan yang dibentuk geologi.
>
> Dari mana asal umat manusia ? Beberapa agama besar (Kristen, Islam, Yahudi)
> mengatakannya berasal dari Taman Eden/Taman Firdaus di wilayah Mesopotamia
> (sebagian Irak sekarang). Tetapi para ahli antropologi fisik menunjuk Asia
> Tengah. Kawasan ini pernah mengalami pengangkatan (uplift) secara bertahap.
> Bersamaan dengan pengangkatan itu, terjadilah gelombang-gelombang migrasi
> manusia dan hewan secara bertahap pula ke wilayah-wilayah yang lebih rendah.
> Ada pendapat pula bahwa asal manusia itu tidaklah satu (monogenesis) tetapi
> ada beberapa tempat pusat penyebaran (poligenesis). Ini sama saja dengan
> pertarungan dua teori dalam paleoantropologi bahwa hominid, misalnya Homo
> erectus, dan manusia (Homo sapien) berasal dari satu tempat (Afrika)
> kemudian menyebar ke seluruh dunia (teori “out of Africa”) atau asal hominid
> dan manusia itu banyak, di berbagai tempat (teori “multiregional). Hanya,
> kesepakatan di antara para ahli ini adalah bahwa asal manusia itu
>  di Asia atau Afrika; dan bukan dari Eropa, Amerika atau Australia.
>
> Peranan geologi dalam etnogenesis banyak berpengaruh dalam migrasi manusia.
> Setelah bermigrasi dan menempati tempat baru terjadilah proses pembentukan
> ras atau suku baru yang karakteristiknya dipengaruhi lingkungan fisik
> (geografi, geologi, klimatologi) wilayah yang ditempatinya. Dengan demikian,
> secara tidak langsung atau langsung geologi memainkan peranan dalam
> pembentukan ras.
>
> Bangsa-bangsa yang menjadi pelaku dalam drama sejarah awal manusia, yaitu
> Mesopotamia, tergolong umat manusia yang warna kulitnya terang yaitu yang
> dinamakan bangsa Kaukasoid. Dua jenis lainnya yang termasuk Homo sapien
> adalah bangsa Negroid dan Mongoloid, tetapi mereka tak menghuni Timur
> Tengah. Berdasarkan ciri-ciri bahasanya, di Timur Tengah atau tepatnya di
> jalur lengkungan Bulan Sabit Subur (Mesir, Palestina, Mesopotamia) terdapat
> bangsa Hamit dan Semit. Bangsa Hamit menyebar ke utara dan timurlaut Sahara
> di Afrika. Bangsa Semit bergerak ke Jazirah Arab dan sekitarnya. Semntara
> itu, di sepanjang pinggiran utara dan timur Bulan Sabit Subur, terdapat
> bangsa Indo-Eropa yang berasal dari wilayah Georgia di lereng-lereng
> pegunungan Kaukasus (Rusia selatan sekarang). Dari situ, pada sekitar tahun
> 4000 SM mereka menyebar ke Eropa dan Iran.
>
> Dua ras (Semit dan Kaukasoid) bertemu di satu ecoregion atau ecotone akan
> bersaing. Persaingan ini jugalah yang kemudian akan memigrasikan ras-ras
> manusia lebih lanjut. Migrasi karena persaingan ini telah menghasilkan
> bangsa Indo-Eropa cabang timur mendiami Iran. Bangsa Hettit yang menduduki
> jazirah Anatolia (Turki Asia). Di Lembah Nil pada sekitar tahun 2000 SM
> kemudian terjadi persaingan antara bangsa Hamit dan Semit. Perebutan
> ecoregion yang subur seringkali menjadi asal sengketa. Subur atau gersangnya
> ecoregion dipengaruhi oleh kondisi geologi (geomorfologi) dan klimatologi.
>
> Antara tahun 30.000-15.000 SM bangsa-bangsa Mongoloid telah telah berusaha
> bermigrasi ke benua Amerika. Tentu mereka tak mengetahui bahwa ada benua
> Amerika di sana, mereka hanya bermigrasi mengikuti jalur-jalur daratan yang
> dibentuk geologi. Pada zaman tersebut Bumi kita sedang mengalami zaman es
> yang hebat. Permukaan air laut sangat rendah karena sebagian volumenya
> tertarik ke kedua kutub Bumi menjadi lapisan-lapisan es. Selat Bering pada
> masa itu, yang kini memisahkan Eurasia dan Amerika, adalah sebuah jembatan
> daratan yang mungkin tertutup salju. Jembatan daratan ini diseberangi bangsa
> Mongoloid dari Asia ke Amerika. Para migran setelah memasuki Amerika melalui
> jembatan daratan yang dibentuk geologi itu, kemudian bergerak lebih lanjut
> di Amerika. Ada yang membelok ke timur menuju sekitar Hudson Bay di wilayah
> Canada sekarang dan mereka menjadi bangsa Eskimo. Ada yang meneruskan
> perjalanan ke selatan melalui lereng-lereng Rocky Mountains dan Pegunungan
>  Andes, dan ada yang menyebar ke wilayah-wilayah dataran di sebelah
> timurnya sampai ke Pegunungan Appalachia,  jadilah mereka bangsa-bangsa
> Indian di Amerika Utara (misalnya suku Mojave, Dakota, Apache, Cherokee),
> Amerika Tengah (Maya), dan Amerika Selatan (Inca). Semua bangsa Eskimo dan
> suku-suku Indian itu adalah ras Mongoloid.
>
> Kemajuan baru dalam ilmu genetika (biologi molekuler) telah membantu peta
> migrasi manusia melalui lingkungan daratan dan lautan yang dibentuk geologi.
> Inilah beberapa kesimpulan terbaru (Shreeve, 2006: The Greatest Journey,
> National Geographic, March 2006, 60-73).
>
> 1. African Cradle. Kebanyakan para ahli paleoantropologi dan genetika
> sepakat bahwa manusia modern (Homo sapien) muncul sekitar 200.000 tahun yl
> di Afrika. Fosil manusia modern paling awal ditemukan di Omo Kibish, Etiopia
> (sekarang tempat ini terdaftar sebagai PBB world’s heritage). Fosil tertua
> di luar Afrika ditemukan di Israel, tetapi kelompok ini nampaknya tidak
> bermigrasi keluar dan punah pada sekitar 90.000 tahun yl.
>
> 2. Out of Africa. Data genetik menunjukkan bahwa sekelompok kecil manusia
> modern meninggalkan Afrika untuk selamanya antara 70.000-50.000 tahun yl dan
> akhirnya mengganti semua spesies manusia sebelumnya seperti Neandertals.
> Semua bangsa manusia non-Afrika sekarang ini adalah keturunan para migran
> pertama ini, yang telah bermigrasi ke sebelah utara Laut Merah atau
> menyeberangi celah sempitnya di sebelah selatan.
>
> 3. The first Australians. Penemuan dua tempat situs purba – artefak dari
> Malakunanja (Australia utara) dan fosil-fosil dari Danau Mungo (Australia
> Selatan) mengindikasi bahwa manusia modern telah mengikuti rute pantai
> sepanjang Asia bagian selatan dan mencapai Australia sekitar 50.000 tahun
> yang lalu. Keturunannya, para Aborigin Australia, secara genetik tetap
> terisolasi di benua ini sampai sekarang. Genetika mereka berbeda dari semua
> penduduk Australia yang bermigrasi dari Eropa.
>
> 4. Early Europeans. Para ahli paleoantropologi telah lama memperkirakan
> bahwa penghunian Eropa mengikuti rute dari Afrika utara. Tetapi data genetik
> menunjukkan bahwa DNA penduduk Eropa barat sekarang mirip dengan penduduk
> India. Maka diperkirakan telah terjadi migrasi di dalam Asia sendiri pada
> sekitar 40.000-30.000 tahun yang lalu.
>
> 5. Populating Asia. Pada sekitar 40.000 tahun yang lalu, manusia terdorong
> ke Asia Tengah dan tiba di padang rumput sebelah utara Himalaya. Pada saat
> yang bersamaan mereka bermigrasi ke Asia Tenggara dan Cina, lalu akhirnya
> mencapai Jepang dan Siberia. Data genetik menunjukkan bahwa manusa di Asia
> sebelah utara akhirnya bermigrasi ke Amerika.
>
> 6. Into the New World. Kapan migrasi manusia pertama terjadi ke Amerika
> merupakan debat panas di antara para ahli paleoantropologi. Bukti genetik
> menunjukkan peristiwa itu terjadi antara 20.000-15.000 tahun yang lalu
> ketika muka laut rendah dan jembatan daratan menghubungkan antara Siberia ke
> Alaska. Lapisan es mungkin saat itu menutupi interior Amerika Utara,
> sehingga para migran Mongoloid ini berjalan sepanjang pantai barat yang juga
> ditempati pegunungan Rocky Mountains-Andes. Para migran ini mencapai ujung
> selatan Amerika pada 14.800 tahun yang lalu di mana fosil dan artefaknya di
> Mount Verde, Chile ditemukan.
>
> Wilayah luas paling akhir di dunia yang dimasuki manusia adalah gugusan
> pulau-pulau di Oceania, Samudera Pasifik (Mikronesia, Melanesia, Poliynesia)
> (Olson, 2003: Mapping Human History – Mariner Book, New York).  Sebelum
> wilayah ini berpenghuni, manusia telah mendiami Oseania Dekat yang meliputi
> Australia, Papua New Guinea, dan Kepulauan Bismarck. Bukti arkeologi
> menunjukkan bahwa manusia pertama-tama sampai di gugusan kepulauan Melanesia
> (Fiji) pada sekitar 3000 tahun yang lalu. Mereka terus berlayar sampai ke
> titik paling timur yang dapat mereka jangkau yaitu Pulau Paskah yang mulai
> dihuni pada sekitar 300 M, titik terjauh paling selatan yang bisa mereka
> jangkau yaitu Selandia Baru terjadi pada sekitar 800 M. Half-type
> mitokondria (sel genetik perempuan) dan kromosom Y (sel genetik laki-laki)
> menunjukkan bahwa penduduk Polinesia berasal dari penduduk Asia Tenggara dan
> Taiwan, juga tercampur dengan orang-orang dari Melanesia (Stoneking dkk.,
> 2000:
>  Melanesian origin of Polynesian Y chromosome – Current Biology 10,
> 1237-46).
>
> Berdasarkan penemuan artefak dan paleolingistik, Peter Belwood (2006: The
> Early Movements of Austronesia-speaking peoples in the Indonesian Region –
> proceedings of the international symposium Austronesian Diaspora, 61-82)
> menunjukkan bagaimana etnogenesis bangsa-bangsa yang mendiami kawasan
> Madagaskar-Pulau Paskah dan dari Taiwan-Selandia Baru terjadi. Menurutnya,
> semuanya berasal dari sumber Taiwan pada 3000 SM yang bermigrasi ke selatan
> dan barat (Indonesia 1500-500 SM), ke tenggara (Filipina-Melanesia (1300-800
> SM) dan ke timur (Mikronesia 2000-1500 SM). Penghunian Polinesia terjadi
> sebagai migrasi lanjut dari Melanesia. Penghunian ini selesai setelah Pulau
> Paskah terhuni pada 900 M, dan ke utara menuju Hawai pada 900 M. Penghunian
> terakhir di kawasan Pasifik adalah Selandia Baru pada 1200 M.
>
> Penelitian modern berdasarkan genetika, arkeologi dan linguistik
> menunjukkan bawa bangsa Polinesia berasal dari Asia Tenggara dan Melanesia.
> Perbedaan pendapat terjadi pada waktu detail penghunian. Hal ini berbeda
> dengan hipotesis yang pernah diajukan oleh Thor Heyerdahl, penjelajah
> Norwegia, dalam bukunya yang terkenal “Kon-Tiki Ekspedisjonen” – 1948,
> Gyldendal Norsk Forlag) yang mengatakan bahwa bangsa Polinesia bukan berasal
> dari sebelah barat atau baratdayanya, tetapi berasal dari sebelah timurnya,
> tepatnya berasal dari Peru, Amerika Selatan.
>
> Thor mempelajari legenda Peru tentang raja-matahari Virakocha, yang
> merupakan pemimpin orang-orang berkulit putih di Peru yang telah punah.
> Virakocha adalah Kon-Tiki atau Illa-Tiki. Kon-Tiki adalah pendeta tertinggi
> dan raja-matahari para orang kulit putih Peru yang telah meninggalkan
> puing-puing bangunannya di tepi Danau Titicaca, danau tertinggi di dunia
> yang terletak di Pegunungan Andes oleh suatu peperangan. Legenda menyatakan
> bahwa Kon-Tiki diserang oleh seorang pemimpin lain bernama Cari yang datang
> dari lembah Coquimbo. Dalam suatu pertempuran di pulau di Danau Titicaca,
> banyak orang kulit putih Peru tewas, tetapi Kon-Tiki bersama orang2
> terdekatnya berhasil melarikan diri dan menyeberangi Samudera Pasifik lalu
> menghilang ke sebelah barat.  Thor menemukan bahwa penduduk pulau-pulau di
> sebelah barat Amerika Selatan (Polinesia) menyembah dewa utama mereka
> bernama Tiki, anak matahari, yang dipercaya semua penduduk Polinesia sebagai
> pembentuk ras
>  mereka. Kejadian ini dihitung Thor terjadi pada 1100 M.
>
> Maka untuk membuktikan hipotesisnya itu, Thor bersama lima temannya
> berlayar menggunakan rakit yang dibuat dari sembilan batang kayu balsa yang
> diambilnya dari Danau Titicaca di Pegunungan Andes. Ekspedisi berani ini
> dinamainya Ekspedisi Kon-Tiki, sebagaimana nama rakitnya. Thor berlayar dari
> Calloo, di dekat Lima, Peru menuju kepulauan Tuamotu dekat Tahiti
> (Polinesia) pada 28 April-7 Agustus 1947 menempuh perjalanan laut sepanjang
> 8000 km dan berhasil mencapainya dengan selamat memanfaatkan arus Humboldt
> dari timur ke barat. Apakah keberhasilan ini menunjukkan bahwa hipotesis
> Thor Heyerdahl benar?
>
> Solusi masalah etnogenesis harus didekati dari berbagai aspek: arkeologi,
> antropologi, linguistik, genetika, klimatologi dan geologi. Naik turunnya
> muka laut selama kala Holosen yang diteliti geologi dan ditampilkan dalam
> peta2 detail paleogeografi dari waktu ke waktu dapat membantu solusi
> masalah2 etnogenesis.
>
> Dalam Y kromosom sel darah kita, para lelaki, juga semua lelaki di dunia,
> terdapat biomarker genetik bernama M168. Ini adalah biomarker hasil mutasi
> yang pertama timbul 50.000 tahun yang lalu pada sekelompok lelaki Afrika
> manusia modern yang meninggalkan Afrika dan menurunkannya ke semua lelaki di
> seluruh dunia. Tidak percaya? Silakan memeriksakan diri di Lembaga Eijkman
> di Jakarta, lembaga genetika molekuler yang juga terlibat dalam pemetaan
> seluruh ras manusia di Indonesia dalam rangka membantu proyek pemetaan ras
> seluruh manusia di dunia. Dengan teknik-teknik genetika yang rumit, pemetaan
> ini dapat ditarik mundur sampai beberapa ratus ribu tahun ke belakang,
> sehingga peta migrasi manusia dan sejarahnya dapat diketahui. Geologi,
> sebuah ilmu historis, jelas dapat berperan dalam hal ini sebab migrasi
> manusia modern atau hominid (manusia purba) berjalan di atas daratan dan
> lautan yang dibentuk proses-proses geologi.
>
> Salam,
> Awang
>
> --- Pada Jum, 3/9/10, bagus yosodiharjo <[email protected]>
> menulis:
>
>
> Dari: bagus yosodiharjo <[email protected]>
> Judul: [Forum-HAGI] Hubungan Ethnogenesis dengan Geologi
> Kepada: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[email protected]>
> Tanggal: Jumat, 3 September, 2010, 12:27 AM
>
>
>
>
>
>
> Bapak Awang memang menakjubkan sebagaimana ilmuwan2 muslim di zaman
> kejayaan Islam tempo dulu, yang tidak hanya menguasai satu cabang ilmu, tapi
> beberapa cabang ilmu, seperti Abu Raihan Muhammad Al-Biruni (abad 8 M) yang
> ahli dalam bidang Fisika, Geologi, Antropologi, Bahasa, dan Taksonomi. Atau
> Ibnu Sina /Averous) yang ahli dalam bidang Kedokteran, Kimia, Matematika,
> dan Filsafat. Spesialis sekaligus Generalis. Bapak awang saya mohon
> dijelaskan hubungan antara Ethnogenesis dengan Geologi, trimaksih.
>
> --- Pada Sel, 24/8/10, Awang Satyana <[email protected]> menulis:
>
>
> Dari: Awang Satyana <[email protected]>
> Judul: [Forum-HAGI] Dari Barito ke Madagaskar: Ethnogenesis Malagasi
> Kepada: "IAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad" <
> [email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS" <
> [email protected]>, "Forum HAGI" <[email protected]>
> Tanggal: Selasa, 24 Agustus, 2010, 7:55 AM
>
>
> Madagaskar, pulau keempat terbesar di dunia, terisolasi di sebelah tenggara
> Afrika sejak ia terpisah dari Afrika 165 juta tahun yang lalu. Isolasi ini
> menyebabkan keunikan keragaman hayati yang menakjubkan dengan 90 % flora dan
> faunanya  bersifat endemik, artinya hanya terdapat di Madagaskar dan tidak
> di tempat lain. Sumberdaya alamnya melimpah dengan kayu-kayu besar, mineral
> dan permata. Sepertiga dari seluruh safir yang diperdagangkan di seluruh
> dunia, berasal dari Madagaskar. Madagaskar punya “hutan” menara batu yang
> menjulang yang dapat membuat pengunjung yang paling sering berpetualang
> sekalipun takjub melihatnya. Demikian, sedikit nukilan tentang Madagaskar
> yang dimuat di edisi terbaru National Geographic Indonesia bulan September
> 2010.
>
> Tetapi, sebuah negara berkembang atau belum berkembang yang kaya akan
> sumberdaya alam, sayangnya tak serta-merta penduduknya sejahtera, malah
> lebih sering rakyatnya justru miskin. Para ilmuwan sosial menyebut fenonema
> ini “kutukan sumberdaya” (resource course), yang tesisnya pertama kali
> dikemukakan oleh R. Auty (1993). Di Madagaskar, kasus ini terjadi dan sangat
> khas problem negara berkembang: tekanan jumlah penduduk, kekacauan politik
> di dalam negeri, penyelundupan, dan penjarahan. Rakyat menjarah kayu,
> dilindungi aparat pengawas yang disuap, dibeli oleh cukong-cukong dari
> negara lain. Orang-orang di pemerintah pun melakukan praktik-praktik
> memperkaya diri. Akibatnya adalah tekanan terhadap lingkungan. Sedikit demi
> sedikit namun pasti Madagaskar kian terluka.
>
> Dua paragraf di atas  tersebut akan mengantar ulasan di bawah ini yang
> menceritakan tesis terbaru tentang asal bangsa Malagasi, kelompok suku utama
> dan terbesar di Madagaskar, yang kita kenal menggunakan bahasa berumpun
> Austronesia seperti juga bahasa Indonesia. Seorang penjarah kayu sonokeling
> berkata, “Aleo maty rahampitso toy izay maty androany” – (lebih baik mati
> besok daripada mati sekarang). Ia kelaparan, maka menjarah; perhatikan bahwa
> bahasa yang digunakannya mirip-mirip lantunan bahasa Indonesia.
>
> Peter Belwood, ahli prasejarah terkenal dari Australia yang banyak meneliti
> penyebaran bangsa-bangsa berumpun bahasa Austronesia (bukunya yang terkenal,
> Prehistory of Indo-Malayan Archipelago telah diterjemahkan berjudul
> “Prasejarah Kepulauan  Indo-Malaysia oleh Gramedia tahun 2000), menulis
> bahwa antara sekitar 3000 SM-1000 AD terjadi penyebaran bangsa-bangsa
> berbahasa Austronesia di bagian timur dunia, yang meliputi areal yang luas
> dari Madagaskar di barat, Taiwan di utara, Pulau Paskah di timur dan
> Selandia Baru di selatan. Dari mana sumber utama bangsa-bangsa ini dan
> bagaimana cara penyebarannya adalah masalah2 yang selalu hangat dibicarakan
> di antara para ahli arkeologi, linguistik dan genetika. Geologi pun dapat
> berkontribusi dalam diskusi ini.
>
> Indonesia adalah bagian terbesar bangsa penutur bahasa2 Austronesia. Batas
> barat rumpun bahasa Austronesia adalah Madagaskar. Sering kita baca dan
> dengar bahwa nenek moyang  penduduk Madagaskar adalah orang-orang Indonesia
> yang dulu merantau ke Madagaskar. Benarkah, bilamana mereka berangkat dan
> bagaimana mereka sampai di sana ? Sebuah buku kumpulan makalah tentang
> penyebaran Austronesia belum lama ini (2006) diterbitkan LIPI dan
> International Center for Prehistoric and Austronesian Studies serta Unesco
> berjudul, “Austronesian Diaspora and the Ethnogenesis of People in
> Indonesian Archipelago”. Buku disunting oleh Truman Simanjuntak dkk dari
> Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional).  Buku ini dijual juga
> di toko buku umum yang besar, tetapi mungkin sekarang sudah susah ditemukan,
> meskipun belum tentu peminatnya banyak - karena sudah empat tahun berselang,
> saya membelinya November 2006. Ada 29 makalah yang membahas perihal
> Austronesia,
> termasuk dua makalah tentang lingkungan geologi. Pembahasan utama dibagi
> menjadi aspek arkeologi, linguistik dan genetika.
>
> Kembali ke Madagaskar, ada satu makalah yang menarik di dalam buku ini
> tulisan Alexander Adelaar (Melbourne Institute of Asian Languages and
> Societies, The University of Melbourne) berjudul, “The Indonesian Migrations
> to Madagascar: Making Sense of the Multidisciplinary Evidence”. Adelaar
> (2006) bertesis bahwa bahasa yang digunakan suku Malagasi di Madagaskar
> adalah bahasa Barito, Kalimantan tenggara. Bahasa Malagasi berhubungan
> dengan bahasa2 yang digunakan Maanyan, Dusun Witu, Paku, Samihim dan
> Lawangan. Tesis ini pertama kali dikemukakan oleh Dahl (1951: Malgache et
> Maanyan, Une Comparaison linguistique, Egede Instituttet, Oslo). Penelitian
> Adelaar membenarkan tesis Dahl (1951). Adelaar juga menyatakan bahwa bahasa
> Malagasi banyak mempunyai kata pinjaman dari bahasa Melayu, Jawa dan
> Sulawesi Selatan. Beberapa contoh:
>
> Bahasa Malagasi                      Bahasa Melayu/Indonesia/Jawa/Sulsel
> varatra                               barat
> varatraza                     baratdaya
> tsimilotru            timurlaut
> ranto                rantau
> tanjona                tanjung
> fasika                pasir
> vatoharanana            batukarang
> horita                gurita
> fano                penyu
> vuavitsi                     buah betis
> mulutra                     mulut
> hihi                gigi
> tratra                dada
> tanana                tangan
> afi                api
> ala                alas (hutan, bahasa Jawa)
> rama                rama (ayah)
> rahadyan                     raden
> leha                lekka (pergi, dialek Sinjay, Bugis)
> matua                 matua (tua, Makasar, Bugis)
> huta                kota (mengunyah, Maanyan)
>
> Dan masih banyak lagi, yang membuktikan bahwa bahasa yang dipakai suku
> Malagasi di Madagaskar berasal dari bahasa-bahasa suku di Indonesia.
>
> Makalah lain yang tak kalah menarik adalah dari para ahli genetika Matthew
> Hurles dkk. (2005) yang dimuat dalam American Journal of Human Genetics (76:
> 894-901) berjudul, “The dual origin of the Malagasy in island Southeast Asia
> and East Africa: evidence from maternal and paternal lineages”. Dengan
> menggunakan Y-chromosom dari garis keturunan ayah (paternal lineage) dan DNA
> mitokondria dari garis keturunan ibu (maternal lineage); gene pool penduduk
> Malagasi modern dapat ditentukan, sekaligus asal geografinya. Hasil penemuan
> Hurles dkk. (2005) adalah seperti di bawah ini.
>
> 1. Penduduk Malagasi punya asal campuran Afrika Timur dan Asia Tenggara.
> 2. Penduduk Malagasi tak menunjukkan keragaman genetika yang menurun
> seperti dialami oleh penduduk di pulau-pulau kecil yang baru dihuni
> (misalnya pulau-pulau di Pasifik baratdaya –mikronesia). Ini menunjukkan
> sejarah migrasi yang langsung, bukan bertahap, atau kalau pun bertahap,
> setiap migrasi membawa keturunan yang berbeda).
>
> 3. Keragaman gen dari keturunan ibu Asia lebih tinggi daripada ibu Afrika,
> menunjukkan bahwa migrasi dari Indonesia lebih besar daripada migrasi dari
> Afrika.
>
> 4. Di antara sepuluh populasi nenek moyang yang mungkin dari seluruh bangsa
> berbahasa Austronesia, populasi dari Kalimantan (Banjarmasin) punya
> distribusi Y kromosom yang paling mirip dengan yang dipunyai penduduk
> Malagasi.
>
> Kapan penduduk Indonesia dari Kalimantan mengembara ke Madagaskar ? Peta
> terbaru dari Peter Belwood (2005: First Farmers: The Origins of Agricultural
> Societies, Blackwell, Oxford)) menaruhnya bahwa mereka pergi ke Madagaskar
> pada sekitar tahun 500 M. Bangsa Melayu, yang saat itu terkenal sebagai
> bangsa maritim yang telah melanglang buana ke India dan Srilangka diduga
> banyak berperan dalam penghunian Madagaskar.
>
> Sementara itu, perdebatan sengit masih terjadi tentang asal bangsa-bangsa
> Austronesia sendiri. Satu kubu mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal
> dari Formosa, Taiwan melalui Filipina lalu menyebar ke selatan, ke
> Indonesia, lalu ke barat (Madagaskar), ke timur menuju gugusan kepulauan
> polinesia dan mikronesia, lalu ke selatan menuju Selandia Baru). Kubu ini
> ditokohi oleh Peter Belwood, ahli prasejarah Asia Tenggara. Kubu lain
> mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal dari daerah Wallacea di
> Indonesia sendiri yang lalu menyebar ke mana-mana karena transgresi Kuarter.
> Kubu ini ditokohi oleh Stephen Oppenheimer, ahli genetika.
>
> Demikian, perkembangan terbaru pengetahuan dalam bidang migrasi
> bangsa-bangsa berbahasa Austronesia. Geologi dapat memberikan kontribusi
> dalam pemikiran penghunian suatu pulau atau migrasi bangsa-bangsa dengan
> cara meneliti lingkungan migrasinya (paleoklimatologi, paleogeografi). Bila
> kita ingin memahami asal suatu bangsa (ethnogenesis), empat aspek harus
> dibahas: geologi, arkeologi, linguistik, genetika.
>
> Salam,
> Awang
>
>
>
>
> ______________________________________________
> The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
> [email protected] | www.hagi.or.id
> ---*** for administrative query please send your email to
> [email protected]
>
>
>
>
>
> -----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan-----
>
>
> ______________________________________________
> The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
> [email protected] | www.hagi.or.id
> ---*** for administrative query please send your email to
> [email protected]
>
>
>
>
>
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> Ayo siapkan diri....!!!!!
> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
>
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net 
> <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/%0AIAGI-net>Archive 2:
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


-- 
Sent from my Computer®

Kirim email ke