menurut saya paparan yg sangat bagus , apa tak ada niatkah dari Pak Awang untuk mengumpulkan ulasan-ulasan seperti ini dan sebelumnya untuk di bukukan, juga untuk Pak Miko dengan tulisan-tulisannya, yang tentunya terus diupdate dengan tulisan2 yg dihasilkan kemudian hari.
2010/9/6 Awang Satyana <[email protected]> > Pak Bagus dan rekan2, > > Ethnogenesis (etnogenesis) adalah proses kejadian suatu kelompok etnik > (suku) asli (indigenous ethnic group). Proses ini dipelajari dalam beberapa > cabang ilmu tertentu, yaitu ethnic ecology atau ethnic geography. Bagaimana > kelompok etnik ini berinteraksi dengan habitatnya, apakah ada ikatan khusus > antara kelompok etnik dengan daratan yang mereka tempati yang akan membantu > membentuk identitasnya sendiri; adalah beberapa pertanyaan yang ingin > dijawab dalam ethnic ecology atau ethnic geography. Kadang-kadang, cabang > ilmu ekologi yang mempelajari hal ini disebut sebagai cultural ecology. > > Lalu, apakah ilmu geologi terkait dengan etnogenesis ? Ya, tataan (setting) > geologi mempengaruhi etnogenesis, tetapi bukan hanya geologi, klimatologi > pun besar pengaruhnya. Kaitan yang mungkin antara orang dan lingkungan > fisiknya (a.l. geologi) seringkali terlihat dalam pembentukan pola > wilayah-wilayah kebudayaan etnik, migrasi etnik dan ketahanan atau daya > keberlanjutan (persistence or survival) etnik. > > Leo Nikolayevich Gumilev (1912-1992), seorang tokoh pemikir etnogenesis dan > pernah menulis buku terkenal dalam bidang ini, “Ethnogenesis and the > Biosphere” (1975) mengatakan bahwa kelompok-kelompok etnis dibentuk oleh > kondisi-kondisi geografi fisik (termasuk geologi) tertentu di atas permukaan > bumi. Gumilev mengeluarkan istilah “ecotones” yaitu batas-batas tajam antara > wilayah ekologi (ecoregions) –geologi terlibat dalam pembentukan ecoregions- > yang mendorong terbentuknya kelompok budaya yang baru. Di batas-batas antara > pegunungan dan dataran, antara hutan dan prairi, menurut Gumilev orang akan > memerlukan strategi adaptif untuk dapat menggunakan dua ecoregion yang > berbatasan di ecotone. Maka, adaptasi budaya itu memainkan peranan dalam > etnogenesis. Misalnya, mengapa orang-orang Rusia berbeda dari orang-orang > Slavik lainnya? Budaya induknya adalah budaya Slavik, kapan, mengapa dan ke > arah mana perbedaan itu mulai terjadi ? Gumilev mengusulkan > bahwa orang-orang Rusia berkembang di ecotone hutan-padang rumput di > sebelah utara Laut Hitam di Eurasia. > > Etnogenesis berhubungan erat dengan tempat asal dan penyebaran ras umat > manusia. Masalah tempat asal dan penyebaran (migrasi) seluruhnya adalah > masalah geologi sebab manusia berasal dan bermigrasi melalui tataan daratan > dan lautan yang dibentuk geologi. > > Dari mana asal umat manusia ? Beberapa agama besar (Kristen, Islam, Yahudi) > mengatakannya berasal dari Taman Eden/Taman Firdaus di wilayah Mesopotamia > (sebagian Irak sekarang). Tetapi para ahli antropologi fisik menunjuk Asia > Tengah. Kawasan ini pernah mengalami pengangkatan (uplift) secara bertahap. > Bersamaan dengan pengangkatan itu, terjadilah gelombang-gelombang migrasi > manusia dan hewan secara bertahap pula ke wilayah-wilayah yang lebih rendah. > Ada pendapat pula bahwa asal manusia itu tidaklah satu (monogenesis) tetapi > ada beberapa tempat pusat penyebaran (poligenesis). Ini sama saja dengan > pertarungan dua teori dalam paleoantropologi bahwa hominid, misalnya Homo > erectus, dan manusia (Homo sapien) berasal dari satu tempat (Afrika) > kemudian menyebar ke seluruh dunia (teori “out of Africa”) atau asal hominid > dan manusia itu banyak, di berbagai tempat (teori “multiregional). Hanya, > kesepakatan di antara para ahli ini adalah bahwa asal manusia itu > di Asia atau Afrika; dan bukan dari Eropa, Amerika atau Australia. > > Peranan geologi dalam etnogenesis banyak berpengaruh dalam migrasi manusia. > Setelah bermigrasi dan menempati tempat baru terjadilah proses pembentukan > ras atau suku baru yang karakteristiknya dipengaruhi lingkungan fisik > (geografi, geologi, klimatologi) wilayah yang ditempatinya. Dengan demikian, > secara tidak langsung atau langsung geologi memainkan peranan dalam > pembentukan ras. > > Bangsa-bangsa yang menjadi pelaku dalam drama sejarah awal manusia, yaitu > Mesopotamia, tergolong umat manusia yang warna kulitnya terang yaitu yang > dinamakan bangsa Kaukasoid. Dua jenis lainnya yang termasuk Homo sapien > adalah bangsa Negroid dan Mongoloid, tetapi mereka tak menghuni Timur > Tengah. Berdasarkan ciri-ciri bahasanya, di Timur Tengah atau tepatnya di > jalur lengkungan Bulan Sabit Subur (Mesir, Palestina, Mesopotamia) terdapat > bangsa Hamit dan Semit. Bangsa Hamit menyebar ke utara dan timurlaut Sahara > di Afrika. Bangsa Semit bergerak ke Jazirah Arab dan sekitarnya. Semntara > itu, di sepanjang pinggiran utara dan timur Bulan Sabit Subur, terdapat > bangsa Indo-Eropa yang berasal dari wilayah Georgia di lereng-lereng > pegunungan Kaukasus (Rusia selatan sekarang). Dari situ, pada sekitar tahun > 4000 SM mereka menyebar ke Eropa dan Iran. > > Dua ras (Semit dan Kaukasoid) bertemu di satu ecoregion atau ecotone akan > bersaing. Persaingan ini jugalah yang kemudian akan memigrasikan ras-ras > manusia lebih lanjut. Migrasi karena persaingan ini telah menghasilkan > bangsa Indo-Eropa cabang timur mendiami Iran. Bangsa Hettit yang menduduki > jazirah Anatolia (Turki Asia). Di Lembah Nil pada sekitar tahun 2000 SM > kemudian terjadi persaingan antara bangsa Hamit dan Semit. Perebutan > ecoregion yang subur seringkali menjadi asal sengketa. Subur atau gersangnya > ecoregion dipengaruhi oleh kondisi geologi (geomorfologi) dan klimatologi. > > Antara tahun 30.000-15.000 SM bangsa-bangsa Mongoloid telah telah berusaha > bermigrasi ke benua Amerika. Tentu mereka tak mengetahui bahwa ada benua > Amerika di sana, mereka hanya bermigrasi mengikuti jalur-jalur daratan yang > dibentuk geologi. Pada zaman tersebut Bumi kita sedang mengalami zaman es > yang hebat. Permukaan air laut sangat rendah karena sebagian volumenya > tertarik ke kedua kutub Bumi menjadi lapisan-lapisan es. Selat Bering pada > masa itu, yang kini memisahkan Eurasia dan Amerika, adalah sebuah jembatan > daratan yang mungkin tertutup salju. Jembatan daratan ini diseberangi bangsa > Mongoloid dari Asia ke Amerika. Para migran setelah memasuki Amerika melalui > jembatan daratan yang dibentuk geologi itu, kemudian bergerak lebih lanjut > di Amerika. Ada yang membelok ke timur menuju sekitar Hudson Bay di wilayah > Canada sekarang dan mereka menjadi bangsa Eskimo. Ada yang meneruskan > perjalanan ke selatan melalui lereng-lereng Rocky Mountains dan Pegunungan > Andes, dan ada yang menyebar ke wilayah-wilayah dataran di sebelah > timurnya sampai ke Pegunungan Appalachia, jadilah mereka bangsa-bangsa > Indian di Amerika Utara (misalnya suku Mojave, Dakota, Apache, Cherokee), > Amerika Tengah (Maya), dan Amerika Selatan (Inca). Semua bangsa Eskimo dan > suku-suku Indian itu adalah ras Mongoloid. > > Kemajuan baru dalam ilmu genetika (biologi molekuler) telah membantu peta > migrasi manusia melalui lingkungan daratan dan lautan yang dibentuk geologi. > Inilah beberapa kesimpulan terbaru (Shreeve, 2006: The Greatest Journey, > National Geographic, March 2006, 60-73). > > 1. African Cradle. Kebanyakan para ahli paleoantropologi dan genetika > sepakat bahwa manusia modern (Homo sapien) muncul sekitar 200.000 tahun yl > di Afrika. Fosil manusia modern paling awal ditemukan di Omo Kibish, Etiopia > (sekarang tempat ini terdaftar sebagai PBB world’s heritage). Fosil tertua > di luar Afrika ditemukan di Israel, tetapi kelompok ini nampaknya tidak > bermigrasi keluar dan punah pada sekitar 90.000 tahun yl. > > 2. Out of Africa. Data genetik menunjukkan bahwa sekelompok kecil manusia > modern meninggalkan Afrika untuk selamanya antara 70.000-50.000 tahun yl dan > akhirnya mengganti semua spesies manusia sebelumnya seperti Neandertals. > Semua bangsa manusia non-Afrika sekarang ini adalah keturunan para migran > pertama ini, yang telah bermigrasi ke sebelah utara Laut Merah atau > menyeberangi celah sempitnya di sebelah selatan. > > 3. The first Australians. Penemuan dua tempat situs purba – artefak dari > Malakunanja (Australia utara) dan fosil-fosil dari Danau Mungo (Australia > Selatan) mengindikasi bahwa manusia modern telah mengikuti rute pantai > sepanjang Asia bagian selatan dan mencapai Australia sekitar 50.000 tahun > yang lalu. Keturunannya, para Aborigin Australia, secara genetik tetap > terisolasi di benua ini sampai sekarang. Genetika mereka berbeda dari semua > penduduk Australia yang bermigrasi dari Eropa. > > 4. Early Europeans. Para ahli paleoantropologi telah lama memperkirakan > bahwa penghunian Eropa mengikuti rute dari Afrika utara. Tetapi data genetik > menunjukkan bahwa DNA penduduk Eropa barat sekarang mirip dengan penduduk > India. Maka diperkirakan telah terjadi migrasi di dalam Asia sendiri pada > sekitar 40.000-30.000 tahun yang lalu. > > 5. Populating Asia. Pada sekitar 40.000 tahun yang lalu, manusia terdorong > ke Asia Tengah dan tiba di padang rumput sebelah utara Himalaya. Pada saat > yang bersamaan mereka bermigrasi ke Asia Tenggara dan Cina, lalu akhirnya > mencapai Jepang dan Siberia. Data genetik menunjukkan bahwa manusa di Asia > sebelah utara akhirnya bermigrasi ke Amerika. > > 6. Into the New World. Kapan migrasi manusia pertama terjadi ke Amerika > merupakan debat panas di antara para ahli paleoantropologi. Bukti genetik > menunjukkan peristiwa itu terjadi antara 20.000-15.000 tahun yang lalu > ketika muka laut rendah dan jembatan daratan menghubungkan antara Siberia ke > Alaska. Lapisan es mungkin saat itu menutupi interior Amerika Utara, > sehingga para migran Mongoloid ini berjalan sepanjang pantai barat yang juga > ditempati pegunungan Rocky Mountains-Andes. Para migran ini mencapai ujung > selatan Amerika pada 14.800 tahun yang lalu di mana fosil dan artefaknya di > Mount Verde, Chile ditemukan. > > Wilayah luas paling akhir di dunia yang dimasuki manusia adalah gugusan > pulau-pulau di Oceania, Samudera Pasifik (Mikronesia, Melanesia, Poliynesia) > (Olson, 2003: Mapping Human History – Mariner Book, New York). Sebelum > wilayah ini berpenghuni, manusia telah mendiami Oseania Dekat yang meliputi > Australia, Papua New Guinea, dan Kepulauan Bismarck. Bukti arkeologi > menunjukkan bahwa manusia pertama-tama sampai di gugusan kepulauan Melanesia > (Fiji) pada sekitar 3000 tahun yang lalu. Mereka terus berlayar sampai ke > titik paling timur yang dapat mereka jangkau yaitu Pulau Paskah yang mulai > dihuni pada sekitar 300 M, titik terjauh paling selatan yang bisa mereka > jangkau yaitu Selandia Baru terjadi pada sekitar 800 M. Half-type > mitokondria (sel genetik perempuan) dan kromosom Y (sel genetik laki-laki) > menunjukkan bahwa penduduk Polinesia berasal dari penduduk Asia Tenggara dan > Taiwan, juga tercampur dengan orang-orang dari Melanesia (Stoneking dkk., > 2000: > Melanesian origin of Polynesian Y chromosome – Current Biology 10, > 1237-46). > > Berdasarkan penemuan artefak dan paleolingistik, Peter Belwood (2006: The > Early Movements of Austronesia-speaking peoples in the Indonesian Region – > proceedings of the international symposium Austronesian Diaspora, 61-82) > menunjukkan bagaimana etnogenesis bangsa-bangsa yang mendiami kawasan > Madagaskar-Pulau Paskah dan dari Taiwan-Selandia Baru terjadi. Menurutnya, > semuanya berasal dari sumber Taiwan pada 3000 SM yang bermigrasi ke selatan > dan barat (Indonesia 1500-500 SM), ke tenggara (Filipina-Melanesia (1300-800 > SM) dan ke timur (Mikronesia 2000-1500 SM). Penghunian Polinesia terjadi > sebagai migrasi lanjut dari Melanesia. Penghunian ini selesai setelah Pulau > Paskah terhuni pada 900 M, dan ke utara menuju Hawai pada 900 M. Penghunian > terakhir di kawasan Pasifik adalah Selandia Baru pada 1200 M. > > Penelitian modern berdasarkan genetika, arkeologi dan linguistik > menunjukkan bawa bangsa Polinesia berasal dari Asia Tenggara dan Melanesia. > Perbedaan pendapat terjadi pada waktu detail penghunian. Hal ini berbeda > dengan hipotesis yang pernah diajukan oleh Thor Heyerdahl, penjelajah > Norwegia, dalam bukunya yang terkenal “Kon-Tiki Ekspedisjonen” – 1948, > Gyldendal Norsk Forlag) yang mengatakan bahwa bangsa Polinesia bukan berasal > dari sebelah barat atau baratdayanya, tetapi berasal dari sebelah timurnya, > tepatnya berasal dari Peru, Amerika Selatan. > > Thor mempelajari legenda Peru tentang raja-matahari Virakocha, yang > merupakan pemimpin orang-orang berkulit putih di Peru yang telah punah. > Virakocha adalah Kon-Tiki atau Illa-Tiki. Kon-Tiki adalah pendeta tertinggi > dan raja-matahari para orang kulit putih Peru yang telah meninggalkan > puing-puing bangunannya di tepi Danau Titicaca, danau tertinggi di dunia > yang terletak di Pegunungan Andes oleh suatu peperangan. Legenda menyatakan > bahwa Kon-Tiki diserang oleh seorang pemimpin lain bernama Cari yang datang > dari lembah Coquimbo. Dalam suatu pertempuran di pulau di Danau Titicaca, > banyak orang kulit putih Peru tewas, tetapi Kon-Tiki bersama orang2 > terdekatnya berhasil melarikan diri dan menyeberangi Samudera Pasifik lalu > menghilang ke sebelah barat. Thor menemukan bahwa penduduk pulau-pulau di > sebelah barat Amerika Selatan (Polinesia) menyembah dewa utama mereka > bernama Tiki, anak matahari, yang dipercaya semua penduduk Polinesia sebagai > pembentuk ras > mereka. Kejadian ini dihitung Thor terjadi pada 1100 M. > > Maka untuk membuktikan hipotesisnya itu, Thor bersama lima temannya > berlayar menggunakan rakit yang dibuat dari sembilan batang kayu balsa yang > diambilnya dari Danau Titicaca di Pegunungan Andes. Ekspedisi berani ini > dinamainya Ekspedisi Kon-Tiki, sebagaimana nama rakitnya. Thor berlayar dari > Calloo, di dekat Lima, Peru menuju kepulauan Tuamotu dekat Tahiti > (Polinesia) pada 28 April-7 Agustus 1947 menempuh perjalanan laut sepanjang > 8000 km dan berhasil mencapainya dengan selamat memanfaatkan arus Humboldt > dari timur ke barat. Apakah keberhasilan ini menunjukkan bahwa hipotesis > Thor Heyerdahl benar? > > Solusi masalah etnogenesis harus didekati dari berbagai aspek: arkeologi, > antropologi, linguistik, genetika, klimatologi dan geologi. Naik turunnya > muka laut selama kala Holosen yang diteliti geologi dan ditampilkan dalam > peta2 detail paleogeografi dari waktu ke waktu dapat membantu solusi > masalah2 etnogenesis. > > Dalam Y kromosom sel darah kita, para lelaki, juga semua lelaki di dunia, > terdapat biomarker genetik bernama M168. Ini adalah biomarker hasil mutasi > yang pertama timbul 50.000 tahun yang lalu pada sekelompok lelaki Afrika > manusia modern yang meninggalkan Afrika dan menurunkannya ke semua lelaki di > seluruh dunia. Tidak percaya? Silakan memeriksakan diri di Lembaga Eijkman > di Jakarta, lembaga genetika molekuler yang juga terlibat dalam pemetaan > seluruh ras manusia di Indonesia dalam rangka membantu proyek pemetaan ras > seluruh manusia di dunia. Dengan teknik-teknik genetika yang rumit, pemetaan > ini dapat ditarik mundur sampai beberapa ratus ribu tahun ke belakang, > sehingga peta migrasi manusia dan sejarahnya dapat diketahui. Geologi, > sebuah ilmu historis, jelas dapat berperan dalam hal ini sebab migrasi > manusia modern atau hominid (manusia purba) berjalan di atas daratan dan > lautan yang dibentuk proses-proses geologi. > > Salam, > Awang > > --- Pada Jum, 3/9/10, bagus yosodiharjo <[email protected]> > menulis: > > > Dari: bagus yosodiharjo <[email protected]> > Judul: [Forum-HAGI] Hubungan Ethnogenesis dengan Geologi > Kepada: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[email protected]> > Tanggal: Jumat, 3 September, 2010, 12:27 AM > > > > > > > Bapak Awang memang menakjubkan sebagaimana ilmuwan2 muslim di zaman > kejayaan Islam tempo dulu, yang tidak hanya menguasai satu cabang ilmu, tapi > beberapa cabang ilmu, seperti Abu Raihan Muhammad Al-Biruni (abad 8 M) yang > ahli dalam bidang Fisika, Geologi, Antropologi, Bahasa, dan Taksonomi. Atau > Ibnu Sina /Averous) yang ahli dalam bidang Kedokteran, Kimia, Matematika, > dan Filsafat. Spesialis sekaligus Generalis. Bapak awang saya mohon > dijelaskan hubungan antara Ethnogenesis dengan Geologi, trimaksih. > > --- Pada Sel, 24/8/10, Awang Satyana <[email protected]> menulis: > > > Dari: Awang Satyana <[email protected]> > Judul: [Forum-HAGI] Dari Barito ke Madagaskar: Ethnogenesis Malagasi > Kepada: "IAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad" < > [email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS" < > [email protected]>, "Forum HAGI" <[email protected]> > Tanggal: Selasa, 24 Agustus, 2010, 7:55 AM > > > Madagaskar, pulau keempat terbesar di dunia, terisolasi di sebelah tenggara > Afrika sejak ia terpisah dari Afrika 165 juta tahun yang lalu. Isolasi ini > menyebabkan keunikan keragaman hayati yang menakjubkan dengan 90 % flora dan > faunanya bersifat endemik, artinya hanya terdapat di Madagaskar dan tidak > di tempat lain. Sumberdaya alamnya melimpah dengan kayu-kayu besar, mineral > dan permata. Sepertiga dari seluruh safir yang diperdagangkan di seluruh > dunia, berasal dari Madagaskar. Madagaskar punya “hutan” menara batu yang > menjulang yang dapat membuat pengunjung yang paling sering berpetualang > sekalipun takjub melihatnya. Demikian, sedikit nukilan tentang Madagaskar > yang dimuat di edisi terbaru National Geographic Indonesia bulan September > 2010. > > Tetapi, sebuah negara berkembang atau belum berkembang yang kaya akan > sumberdaya alam, sayangnya tak serta-merta penduduknya sejahtera, malah > lebih sering rakyatnya justru miskin. Para ilmuwan sosial menyebut fenonema > ini “kutukan sumberdaya” (resource course), yang tesisnya pertama kali > dikemukakan oleh R. Auty (1993). Di Madagaskar, kasus ini terjadi dan sangat > khas problem negara berkembang: tekanan jumlah penduduk, kekacauan politik > di dalam negeri, penyelundupan, dan penjarahan. Rakyat menjarah kayu, > dilindungi aparat pengawas yang disuap, dibeli oleh cukong-cukong dari > negara lain. Orang-orang di pemerintah pun melakukan praktik-praktik > memperkaya diri. Akibatnya adalah tekanan terhadap lingkungan. Sedikit demi > sedikit namun pasti Madagaskar kian terluka. > > Dua paragraf di atas tersebut akan mengantar ulasan di bawah ini yang > menceritakan tesis terbaru tentang asal bangsa Malagasi, kelompok suku utama > dan terbesar di Madagaskar, yang kita kenal menggunakan bahasa berumpun > Austronesia seperti juga bahasa Indonesia. Seorang penjarah kayu sonokeling > berkata, “Aleo maty rahampitso toy izay maty androany” – (lebih baik mati > besok daripada mati sekarang). Ia kelaparan, maka menjarah; perhatikan bahwa > bahasa yang digunakannya mirip-mirip lantunan bahasa Indonesia. > > Peter Belwood, ahli prasejarah terkenal dari Australia yang banyak meneliti > penyebaran bangsa-bangsa berumpun bahasa Austronesia (bukunya yang terkenal, > Prehistory of Indo-Malayan Archipelago telah diterjemahkan berjudul > “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia oleh Gramedia tahun 2000), menulis > bahwa antara sekitar 3000 SM-1000 AD terjadi penyebaran bangsa-bangsa > berbahasa Austronesia di bagian timur dunia, yang meliputi areal yang luas > dari Madagaskar di barat, Taiwan di utara, Pulau Paskah di timur dan > Selandia Baru di selatan. Dari mana sumber utama bangsa-bangsa ini dan > bagaimana cara penyebarannya adalah masalah2 yang selalu hangat dibicarakan > di antara para ahli arkeologi, linguistik dan genetika. Geologi pun dapat > berkontribusi dalam diskusi ini. > > Indonesia adalah bagian terbesar bangsa penutur bahasa2 Austronesia. Batas > barat rumpun bahasa Austronesia adalah Madagaskar. Sering kita baca dan > dengar bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar adalah orang-orang Indonesia > yang dulu merantau ke Madagaskar. Benarkah, bilamana mereka berangkat dan > bagaimana mereka sampai di sana ? Sebuah buku kumpulan makalah tentang > penyebaran Austronesia belum lama ini (2006) diterbitkan LIPI dan > International Center for Prehistoric and Austronesian Studies serta Unesco > berjudul, “Austronesian Diaspora and the Ethnogenesis of People in > Indonesian Archipelago”. Buku disunting oleh Truman Simanjuntak dkk dari > Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional). Buku ini dijual juga > di toko buku umum yang besar, tetapi mungkin sekarang sudah susah ditemukan, > meskipun belum tentu peminatnya banyak - karena sudah empat tahun berselang, > saya membelinya November 2006. Ada 29 makalah yang membahas perihal > Austronesia, > termasuk dua makalah tentang lingkungan geologi. Pembahasan utama dibagi > menjadi aspek arkeologi, linguistik dan genetika. > > Kembali ke Madagaskar, ada satu makalah yang menarik di dalam buku ini > tulisan Alexander Adelaar (Melbourne Institute of Asian Languages and > Societies, The University of Melbourne) berjudul, “The Indonesian Migrations > to Madagascar: Making Sense of the Multidisciplinary Evidence”. Adelaar > (2006) bertesis bahwa bahasa yang digunakan suku Malagasi di Madagaskar > adalah bahasa Barito, Kalimantan tenggara. Bahasa Malagasi berhubungan > dengan bahasa2 yang digunakan Maanyan, Dusun Witu, Paku, Samihim dan > Lawangan. Tesis ini pertama kali dikemukakan oleh Dahl (1951: Malgache et > Maanyan, Une Comparaison linguistique, Egede Instituttet, Oslo). Penelitian > Adelaar membenarkan tesis Dahl (1951). Adelaar juga menyatakan bahwa bahasa > Malagasi banyak mempunyai kata pinjaman dari bahasa Melayu, Jawa dan > Sulawesi Selatan. Beberapa contoh: > > Bahasa Malagasi Bahasa Melayu/Indonesia/Jawa/Sulsel > varatra barat > varatraza baratdaya > tsimilotru timurlaut > ranto rantau > tanjona tanjung > fasika pasir > vatoharanana batukarang > horita gurita > fano penyu > vuavitsi buah betis > mulutra mulut > hihi gigi > tratra dada > tanana tangan > afi api > ala alas (hutan, bahasa Jawa) > rama rama (ayah) > rahadyan raden > leha lekka (pergi, dialek Sinjay, Bugis) > matua matua (tua, Makasar, Bugis) > huta kota (mengunyah, Maanyan) > > Dan masih banyak lagi, yang membuktikan bahwa bahasa yang dipakai suku > Malagasi di Madagaskar berasal dari bahasa-bahasa suku di Indonesia. > > Makalah lain yang tak kalah menarik adalah dari para ahli genetika Matthew > Hurles dkk. (2005) yang dimuat dalam American Journal of Human Genetics (76: > 894-901) berjudul, “The dual origin of the Malagasy in island Southeast Asia > and East Africa: evidence from maternal and paternal lineages”. Dengan > menggunakan Y-chromosom dari garis keturunan ayah (paternal lineage) dan DNA > mitokondria dari garis keturunan ibu (maternal lineage); gene pool penduduk > Malagasi modern dapat ditentukan, sekaligus asal geografinya. Hasil penemuan > Hurles dkk. (2005) adalah seperti di bawah ini. > > 1. Penduduk Malagasi punya asal campuran Afrika Timur dan Asia Tenggara. > 2. Penduduk Malagasi tak menunjukkan keragaman genetika yang menurun > seperti dialami oleh penduduk di pulau-pulau kecil yang baru dihuni > (misalnya pulau-pulau di Pasifik baratdaya –mikronesia). Ini menunjukkan > sejarah migrasi yang langsung, bukan bertahap, atau kalau pun bertahap, > setiap migrasi membawa keturunan yang berbeda). > > 3. Keragaman gen dari keturunan ibu Asia lebih tinggi daripada ibu Afrika, > menunjukkan bahwa migrasi dari Indonesia lebih besar daripada migrasi dari > Afrika. > > 4. Di antara sepuluh populasi nenek moyang yang mungkin dari seluruh bangsa > berbahasa Austronesia, populasi dari Kalimantan (Banjarmasin) punya > distribusi Y kromosom yang paling mirip dengan yang dipunyai penduduk > Malagasi. > > Kapan penduduk Indonesia dari Kalimantan mengembara ke Madagaskar ? Peta > terbaru dari Peter Belwood (2005: First Farmers: The Origins of Agricultural > Societies, Blackwell, Oxford)) menaruhnya bahwa mereka pergi ke Madagaskar > pada sekitar tahun 500 M. Bangsa Melayu, yang saat itu terkenal sebagai > bangsa maritim yang telah melanglang buana ke India dan Srilangka diduga > banyak berperan dalam penghunian Madagaskar. > > Sementara itu, perdebatan sengit masih terjadi tentang asal bangsa-bangsa > Austronesia sendiri. Satu kubu mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal > dari Formosa, Taiwan melalui Filipina lalu menyebar ke selatan, ke > Indonesia, lalu ke barat (Madagaskar), ke timur menuju gugusan kepulauan > polinesia dan mikronesia, lalu ke selatan menuju Selandia Baru). Kubu ini > ditokohi oleh Peter Belwood, ahli prasejarah Asia Tenggara. Kubu lain > mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal dari daerah Wallacea di > Indonesia sendiri yang lalu menyebar ke mana-mana karena transgresi Kuarter. > Kubu ini ditokohi oleh Stephen Oppenheimer, ahli genetika. > > Demikian, perkembangan terbaru pengetahuan dalam bidang migrasi > bangsa-bangsa berbahasa Austronesia. Geologi dapat memberikan kontribusi > dalam pemikiran penghunian suatu pulau atau migrasi bangsa-bangsa dengan > cara meneliti lingkungan migrasinya (paleoklimatologi, paleogeografi). Bila > kita ingin memahami asal suatu bangsa (ethnogenesis), empat aspek harus > dibahas: geologi, arkeologi, linguistik, genetika. > > Salam, > Awang > > > > > ______________________________________________ > The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list. > [email protected] | www.hagi.or.id > ---*** for administrative query please send your email to > [email protected] > > > > > > -----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan----- > > > ______________________________________________ > The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list. > [email protected] | www.hagi.or.id > ---*** for administrative query please send your email to > [email protected] > > > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2008-2011: > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > > -------------------------------------------------------------------------------- > Ayo siapkan diri....!!!!! > Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 > > ----------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net > <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/%0AIAGI-net>Archive 2: > http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted > on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall > IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct > or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss > of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any > information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > -- Sent from my Computer®

