Terima kasih atas apresiasi Pak Taufik. Niat membukukan tulisan2 ilmiah populer 
pendek saya di berbagai milis sudah lama saya punyai. Beberapa rekan bahkan 
pernah menawarkan membantu dengan sukarela, juga beberapa rekan telah 
membuatkan blog khusus berisi tulisan2 saya. Tulisan2 di milis itu ingin saya 
rapihkan lagi dan lengkapi dengan berbagai gambar.

Sementara ini, karena berbagai kesibukan, saya hanya baru bisa menulis yang 
ingin saya tulis dan berusaha mengumpulkannya. Banyak yang masih harus 
dilakukan untuk mewujudkannya menjadi sebuah buku. Barangkali tidak sebuah buku 
sebab tulisan2 tersebut sudah ada sekitar 400 judul sejak saya menjadi anggota 
milis IAGI tahun 1999 dan aktif menulis. Bila satu judul saya tulis 2 halaman 
saja, atau 4 halaman termasuk gambar-gambar; maka buku itu tebalnya akan 
sekitar 1600 halaman, jadi harus dibagi menjadi 5 buku barangkali.

Terima kasih kepada semua rekan yang memasukkan tulisan2 saya itu kepada 
blog-blog pribadi atau blog umum. Yang terpenting adalah membuat tulisan2 itu 
tersebar seluas mungkin, agar kita semua bisa belajar banyak.

Saya akan tetap menulis. Sayang bila buku2 yang saya baca atau 
pengalaman/perjalanan yang saya alami dan saya pikir akan bermanfaat untuk 
orang banyak, hanya saya ketahui/nikmati sendiri.

salam,
Awang

--- Pada Sen, 6/9/10, OK Taufik <[email protected]> menulis:

> Dari: OK Taufik <[email protected]>
> Judul: Re: [iagi-net-l] Bls: [Forum-HAGI] Hubungan Ethnogenesis dengan Geologi
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Senin, 6 September, 2010, 7:46 AM
> menurut saya paparan yg sangat bagus
> , apa tak ada niatkah dari Pak Awang
> untuk mengumpulkan ulasan-ulasan seperti ini dan sebelumnya
> untuk di
> bukukan, juga untuk  Pak Miko dengan
> tulisan-tulisannya, yang tentunya terus
> diupdate dengan tulisan2 yg dihasilkan kemudian hari.
> 
> 2010/9/6 Awang Satyana <[email protected]>
> 
> > Pak Bagus dan rekan2,
> >
> > Ethnogenesis (etnogenesis) adalah proses kejadian
> suatu kelompok etnik
> > (suku) asli (indigenous ethnic group). Proses ini
> dipelajari dalam beberapa
> > cabang ilmu tertentu, yaitu ethnic ecology atau ethnic
> geography. Bagaimana
> > kelompok etnik ini berinteraksi dengan habitatnya,
> apakah ada ikatan khusus
> > antara kelompok etnik dengan daratan yang mereka
> tempati yang akan membantu
> > membentuk identitasnya sendiri; adalah beberapa
> pertanyaan yang ingin
> > dijawab dalam ethnic ecology atau ethnic geography.
> Kadang-kadang, cabang
> > ilmu ekologi yang mempelajari hal ini disebut sebagai
> cultural ecology.
> >
> > Lalu, apakah ilmu geologi terkait dengan etnogenesis ?
> Ya, tataan (setting)
> > geologi mempengaruhi etnogenesis, tetapi bukan hanya
> geologi, klimatologi
> > pun besar pengaruhnya. Kaitan yang mungkin antara
> orang dan lingkungan
> > fisiknya (a.l. geologi) seringkali terlihat dalam
> pembentukan pola
> > wilayah-wilayah kebudayaan etnik, migrasi etnik dan
> ketahanan atau daya
> > keberlanjutan (persistence or survival) etnik.
> >
> > Leo Nikolayevich Gumilev (1912-1992), seorang tokoh
> pemikir etnogenesis dan
> > pernah menulis buku terkenal dalam bidang ini,
> “Ethnogenesis and the
> > Biosphere” (1975) mengatakan bahwa kelompok-kelompok
> etnis dibentuk oleh
> > kondisi-kondisi geografi fisik (termasuk geologi)
> tertentu di atas permukaan
> > bumi. Gumilev mengeluarkan istilah “ecotones”
> yaitu batas-batas tajam antara
> > wilayah ekologi (ecoregions) –geologi terlibat dalam
> pembentukan ecoregions-
> > yang mendorong terbentuknya kelompok budaya yang baru.
> Di batas-batas antara
> > pegunungan dan dataran, antara hutan dan prairi,
> menurut Gumilev orang akan
> > memerlukan strategi adaptif untuk dapat menggunakan
> dua ecoregion yang
> > berbatasan di ecotone. Maka, adaptasi budaya itu
> memainkan peranan dalam
> > etnogenesis. Misalnya, mengapa orang-orang Rusia
> berbeda dari orang-orang
> > Slavik lainnya? Budaya induknya adalah budaya Slavik,
> kapan, mengapa dan ke
> > arah mana perbedaan itu mulai terjadi ? Gumilev
> mengusulkan
> >  bahwa orang-orang Rusia berkembang di ecotone
> hutan-padang rumput di
> > sebelah utara Laut Hitam di Eurasia.
> >
> > Etnogenesis berhubungan erat dengan tempat asal dan
> penyebaran ras umat
> > manusia. Masalah tempat asal dan penyebaran (migrasi)
> seluruhnya adalah
> > masalah geologi sebab manusia berasal dan bermigrasi
> melalui tataan daratan
> > dan lautan yang dibentuk geologi.
> >
> > Dari mana asal umat manusia ? Beberapa agama besar
> (Kristen, Islam, Yahudi)
> > mengatakannya berasal dari Taman Eden/Taman Firdaus di
> wilayah Mesopotamia
> > (sebagian Irak sekarang). Tetapi para ahli antropologi
> fisik menunjuk Asia
> > Tengah. Kawasan ini pernah mengalami pengangkatan
> (uplift) secara bertahap.
> > Bersamaan dengan pengangkatan itu, terjadilah
> gelombang-gelombang migrasi
> > manusia dan hewan secara bertahap pula ke
> wilayah-wilayah yang lebih rendah.
> > Ada pendapat pula bahwa asal manusia itu tidaklah satu
> (monogenesis) tetapi
> > ada beberapa tempat pusat penyebaran (poligenesis).
> Ini sama saja dengan
> > pertarungan dua teori dalam paleoantropologi bahwa
> hominid, misalnya Homo
> > erectus, dan manusia (Homo sapien) berasal dari satu
> tempat (Afrika)
> > kemudian menyebar ke seluruh dunia (teori “out of
> Africa”) atau asal hominid
> > dan manusia itu banyak, di berbagai tempat (teori
> “multiregional). Hanya,
> > kesepakatan di antara para ahli ini adalah bahwa asal
> manusia itu
> >  di Asia atau Afrika; dan bukan dari Eropa,
> Amerika atau Australia.
> >
> > Peranan geologi dalam etnogenesis banyak berpengaruh
> dalam migrasi manusia.
> > Setelah bermigrasi dan menempati tempat baru
> terjadilah proses pembentukan
> > ras atau suku baru yang karakteristiknya dipengaruhi
> lingkungan fisik
> > (geografi, geologi, klimatologi) wilayah yang
> ditempatinya. Dengan demikian,
> > secara tidak langsung atau langsung geologi memainkan
> peranan dalam
> > pembentukan ras.
> >
> > Bangsa-bangsa yang menjadi pelaku dalam drama sejarah
> awal manusia, yaitu
> > Mesopotamia, tergolong umat manusia yang warna
> kulitnya terang yaitu yang
> > dinamakan bangsa Kaukasoid. Dua jenis lainnya yang
> termasuk Homo sapien
> > adalah bangsa Negroid dan Mongoloid, tetapi mereka tak
> menghuni Timur
> > Tengah. Berdasarkan ciri-ciri bahasanya, di Timur
> Tengah atau tepatnya di
> > jalur lengkungan Bulan Sabit Subur (Mesir, Palestina,
> Mesopotamia) terdapat
> > bangsa Hamit dan Semit. Bangsa Hamit menyebar ke utara
> dan timurlaut Sahara
> > di Afrika. Bangsa Semit bergerak ke Jazirah Arab dan
> sekitarnya. Semntara
> > itu, di sepanjang pinggiran utara dan timur Bulan
> Sabit Subur, terdapat
> > bangsa Indo-Eropa yang berasal dari wilayah Georgia di
> lereng-lereng
> > pegunungan Kaukasus (Rusia selatan sekarang). Dari
> situ, pada sekitar tahun
> > 4000 SM mereka menyebar ke Eropa dan Iran.
> >
> > Dua ras (Semit dan Kaukasoid) bertemu di satu
> ecoregion atau ecotone akan
> > bersaing. Persaingan ini jugalah yang kemudian akan
> memigrasikan ras-ras
> > manusia lebih lanjut. Migrasi karena persaingan ini
> telah menghasilkan
> > bangsa Indo-Eropa cabang timur mendiami Iran. Bangsa
> Hettit yang menduduki
> > jazirah Anatolia (Turki Asia). Di Lembah Nil pada
> sekitar tahun 2000 SM
> > kemudian terjadi persaingan antara bangsa Hamit dan
> Semit. Perebutan
> > ecoregion yang subur seringkali menjadi asal sengketa.
> Subur atau gersangnya
> > ecoregion dipengaruhi oleh kondisi geologi
> (geomorfologi) dan klimatologi.
> >
> > Antara tahun 30.000-15.000 SM bangsa-bangsa Mongoloid
> telah telah berusaha
> > bermigrasi ke benua Amerika. Tentu mereka tak
> mengetahui bahwa ada benua
> > Amerika di sana, mereka hanya bermigrasi mengikuti
> jalur-jalur daratan yang
> > dibentuk geologi. Pada zaman tersebut Bumi kita sedang
> mengalami zaman es
> > yang hebat. Permukaan air laut sangat rendah karena
> sebagian volumenya
> > tertarik ke kedua kutub Bumi menjadi lapisan-lapisan
> es. Selat Bering pada
> > masa itu, yang kini memisahkan Eurasia dan Amerika,
> adalah sebuah jembatan
> > daratan yang mungkin tertutup salju. Jembatan daratan
> ini diseberangi bangsa
> > Mongoloid dari Asia ke Amerika. Para migran setelah
> memasuki Amerika melalui
> > jembatan daratan yang dibentuk geologi itu, kemudian
> bergerak lebih lanjut
> > di Amerika. Ada yang membelok ke timur menuju sekitar
> Hudson Bay di wilayah
> > Canada sekarang dan mereka menjadi bangsa Eskimo. Ada
> yang meneruskan
> > perjalanan ke selatan melalui lereng-lereng Rocky
> Mountains dan Pegunungan
> >  Andes, dan ada yang menyebar ke wilayah-wilayah
> dataran di sebelah
> > timurnya sampai ke Pegunungan Appalachia, 
> jadilah mereka bangsa-bangsa
> > Indian di Amerika Utara (misalnya suku Mojave, Dakota,
> Apache, Cherokee),
> > Amerika Tengah (Maya), dan Amerika Selatan (Inca).
> Semua bangsa Eskimo dan
> > suku-suku Indian itu adalah ras Mongoloid.
> >
> > Kemajuan baru dalam ilmu genetika (biologi molekuler)
> telah membantu peta
> > migrasi manusia melalui lingkungan daratan dan lautan
> yang dibentuk geologi.
> > Inilah beberapa kesimpulan terbaru (Shreeve, 2006: The
> Greatest Journey,
> > National Geographic, March 2006, 60-73).
> >
> > 1. African Cradle. Kebanyakan para ahli
> paleoantropologi dan genetika
> > sepakat bahwa manusia modern (Homo sapien) muncul
> sekitar 200.000 tahun yl
> > di Afrika. Fosil manusia modern paling awal ditemukan
> di Omo Kibish, Etiopia
> > (sekarang tempat ini terdaftar sebagai PBB world’s
> heritage). Fosil tertua
> > di luar Afrika ditemukan di Israel, tetapi kelompok
> ini nampaknya tidak
> > bermigrasi keluar dan punah pada sekitar 90.000 tahun
> yl.
> >
> > 2. Out of Africa. Data genetik menunjukkan bahwa
> sekelompok kecil manusia
> > modern meninggalkan Afrika untuk selamanya antara
> 70.000-50.000 tahun yl dan
> > akhirnya mengganti semua spesies manusia sebelumnya
> seperti Neandertals.
> > Semua bangsa manusia non-Afrika sekarang ini adalah
> keturunan para migran
> > pertama ini, yang telah bermigrasi ke sebelah utara
> Laut Merah atau
> > menyeberangi celah sempitnya di sebelah selatan.
> >
> > 3. The first Australians. Penemuan dua tempat situs
> purba – artefak dari
> > Malakunanja (Australia utara) dan fosil-fosil dari
> Danau Mungo (Australia
> > Selatan) mengindikasi bahwa manusia modern telah
> mengikuti rute pantai
> > sepanjang Asia bagian selatan dan mencapai Australia
> sekitar 50.000 tahun
> > yang lalu. Keturunannya, para Aborigin Australia,
> secara genetik tetap
> > terisolasi di benua ini sampai sekarang. Genetika
> mereka berbeda dari semua
> > penduduk Australia yang bermigrasi dari Eropa.
> >
> > 4. Early Europeans. Para ahli paleoantropologi telah
> lama memperkirakan
> > bahwa penghunian Eropa mengikuti rute dari Afrika
> utara. Tetapi data genetik
> > menunjukkan bahwa DNA penduduk Eropa barat sekarang
> mirip dengan penduduk
> > India. Maka diperkirakan telah terjadi migrasi di
> dalam Asia sendiri pada
> > sekitar 40.000-30.000 tahun yang lalu.
> >
> > 5. Populating Asia. Pada sekitar 40.000 tahun yang
> lalu, manusia terdorong
> > ke Asia Tengah dan tiba di padang rumput sebelah utara
> Himalaya. Pada saat
> > yang bersamaan mereka bermigrasi ke Asia Tenggara dan
> Cina, lalu akhirnya
> > mencapai Jepang dan Siberia. Data genetik menunjukkan
> bahwa manusa di Asia
> > sebelah utara akhirnya bermigrasi ke Amerika.
> >
> > 6. Into the New World. Kapan migrasi manusia pertama
> terjadi ke Amerika
> > merupakan debat panas di antara para ahli
> paleoantropologi. Bukti genetik
> > menunjukkan peristiwa itu terjadi antara 20.000-15.000
> tahun yang lalu
> > ketika muka laut rendah dan jembatan daratan
> menghubungkan antara Siberia ke
> > Alaska. Lapisan es mungkin saat itu menutupi interior
> Amerika Utara,
> > sehingga para migran Mongoloid ini berjalan sepanjang
> pantai barat yang juga
> > ditempati pegunungan Rocky Mountains-Andes. Para
> migran ini mencapai ujung
> > selatan Amerika pada 14.800 tahun yang lalu di mana
> fosil dan artefaknya di
> > Mount Verde, Chile ditemukan.
> >
> > Wilayah luas paling akhir di dunia yang dimasuki
> manusia adalah gugusan
> > pulau-pulau di Oceania, Samudera Pasifik (Mikronesia,
> Melanesia, Poliynesia)
> > (Olson, 2003: Mapping Human History – Mariner Book,
> New York).  Sebelum
> > wilayah ini berpenghuni, manusia telah mendiami
> Oseania Dekat yang meliputi
> > Australia, Papua New Guinea, dan Kepulauan Bismarck.
> Bukti arkeologi
> > menunjukkan bahwa manusia pertama-tama sampai di
> gugusan kepulauan Melanesia
> > (Fiji) pada sekitar 3000 tahun yang lalu. Mereka terus
> berlayar sampai ke
> > titik paling timur yang dapat mereka jangkau yaitu
> Pulau Paskah yang mulai
> > dihuni pada sekitar 300 M, titik terjauh paling
> selatan yang bisa mereka
> > jangkau yaitu Selandia Baru terjadi pada sekitar 800
> M. Half-type
> > mitokondria (sel genetik perempuan) dan kromosom Y
> (sel genetik laki-laki)
> > menunjukkan bahwa penduduk Polinesia berasal dari
> penduduk Asia Tenggara dan
> > Taiwan, juga tercampur dengan orang-orang dari
> Melanesia (Stoneking dkk.,
> > 2000:
> >  Melanesian origin of Polynesian Y chromosome –
> Current Biology 10,
> > 1237-46).
> >
> > Berdasarkan penemuan artefak dan paleolingistik, Peter
> Belwood (2006: The
> > Early Movements of Austronesia-speaking peoples in the
> Indonesian Region –
> > proceedings of the international symposium
> Austronesian Diaspora, 61-82)
> > menunjukkan bagaimana etnogenesis bangsa-bangsa yang
> mendiami kawasan
> > Madagaskar-Pulau Paskah dan dari Taiwan-Selandia Baru
> terjadi. Menurutnya,
> > semuanya berasal dari sumber Taiwan pada 3000 SM yang
> bermigrasi ke selatan
> > dan barat (Indonesia 1500-500 SM), ke tenggara
> (Filipina-Melanesia (1300-800
> > SM) dan ke timur (Mikronesia 2000-1500 SM). Penghunian
> Polinesia terjadi
> > sebagai migrasi lanjut dari Melanesia. Penghunian ini
> selesai setelah Pulau
> > Paskah terhuni pada 900 M, dan ke utara menuju Hawai
> pada 900 M. Penghunian
> > terakhir di kawasan Pasifik adalah Selandia Baru pada
> 1200 M.
> >
> > Penelitian modern berdasarkan genetika, arkeologi dan
> linguistik
> > menunjukkan bawa bangsa Polinesia berasal dari Asia
> Tenggara dan Melanesia.
> > Perbedaan pendapat terjadi pada waktu detail
> penghunian. Hal ini berbeda
> > dengan hipotesis yang pernah diajukan oleh Thor
> Heyerdahl, penjelajah
> > Norwegia, dalam bukunya yang terkenal “Kon-Tiki
> Ekspedisjonen” – 1948,
> > Gyldendal Norsk Forlag) yang mengatakan bahwa bangsa
> Polinesia bukan berasal
> > dari sebelah barat atau baratdayanya, tetapi berasal
> dari sebelah timurnya,
> > tepatnya berasal dari Peru, Amerika Selatan.
> >
> > Thor mempelajari legenda Peru tentang raja-matahari
> Virakocha, yang
> > merupakan pemimpin orang-orang berkulit putih di Peru
> yang telah punah.
> > Virakocha adalah Kon-Tiki atau Illa-Tiki. Kon-Tiki
> adalah pendeta tertinggi
> > dan raja-matahari para orang kulit putih Peru yang
> telah meninggalkan
> > puing-puing bangunannya di tepi Danau Titicaca, danau
> tertinggi di dunia
> > yang terletak di Pegunungan Andes oleh suatu
> peperangan. Legenda menyatakan
> > bahwa Kon-Tiki diserang oleh seorang pemimpin lain
> bernama Cari yang datang
> > dari lembah Coquimbo. Dalam suatu pertempuran di pulau
> di Danau Titicaca,
> > banyak orang kulit putih Peru tewas, tetapi Kon-Tiki
> bersama orang2
> > terdekatnya berhasil melarikan diri dan menyeberangi
> Samudera Pasifik lalu
> > menghilang ke sebelah barat.  Thor menemukan
> bahwa penduduk pulau-pulau di
> > sebelah barat Amerika Selatan (Polinesia) menyembah
> dewa utama mereka
> > bernama Tiki, anak matahari, yang dipercaya semua
> penduduk Polinesia sebagai
> > pembentuk ras
> >  mereka. Kejadian ini dihitung Thor terjadi pada
> 1100 M.
> >
> > Maka untuk membuktikan hipotesisnya itu, Thor bersama
> lima temannya
> > berlayar menggunakan rakit yang dibuat dari sembilan
> batang kayu balsa yang
> > diambilnya dari Danau Titicaca di Pegunungan Andes.
> Ekspedisi berani ini
> > dinamainya Ekspedisi Kon-Tiki, sebagaimana nama
> rakitnya. Thor berlayar dari
> > Calloo, di dekat Lima, Peru menuju kepulauan Tuamotu
> dekat Tahiti
> > (Polinesia) pada 28 April-7 Agustus 1947 menempuh
> perjalanan laut sepanjang
> > 8000 km dan berhasil mencapainya dengan selamat
> memanfaatkan arus Humboldt
> > dari timur ke barat. Apakah keberhasilan ini
> menunjukkan bahwa hipotesis
> > Thor Heyerdahl benar?
> >
> > Solusi masalah etnogenesis harus didekati dari
> berbagai aspek: arkeologi,
> > antropologi, linguistik, genetika, klimatologi dan
> geologi. Naik turunnya
> > muka laut selama kala Holosen yang diteliti geologi
> dan ditampilkan dalam
> > peta2 detail paleogeografi dari waktu ke waktu dapat
> membantu solusi
> > masalah2 etnogenesis.
> >
> > Dalam Y kromosom sel darah kita, para lelaki, juga
> semua lelaki di dunia,
> > terdapat biomarker genetik bernama M168. Ini adalah
> biomarker hasil mutasi
> > yang pertama timbul 50.000 tahun yang lalu pada
> sekelompok lelaki Afrika
> > manusia modern yang meninggalkan Afrika dan
> menurunkannya ke semua lelaki di
> > seluruh dunia. Tidak percaya? Silakan memeriksakan
> diri di Lembaga Eijkman
> > di Jakarta, lembaga genetika molekuler yang juga
> terlibat dalam pemetaan
> > seluruh ras manusia di Indonesia dalam rangka membantu
> proyek pemetaan ras
> > seluruh manusia di dunia. Dengan teknik-teknik
> genetika yang rumit, pemetaan
> > ini dapat ditarik mundur sampai beberapa ratus ribu
> tahun ke belakang,
> > sehingga peta migrasi manusia dan sejarahnya dapat
> diketahui. Geologi,
> > sebuah ilmu historis, jelas dapat berperan dalam hal
> ini sebab migrasi
> > manusia modern atau hominid (manusia purba) berjalan
> di atas daratan dan
> > lautan yang dibentuk proses-proses geologi.
> >
> > Salam,
> > Awang
> >
> > --- Pada Jum, 3/9/10, bagus yosodiharjo <[email protected]>
> > menulis:
> >
> >
> > Dari: bagus yosodiharjo <[email protected]>
> > Judul: [Forum-HAGI] Hubungan Ethnogenesis dengan
> Geologi
> > Kepada: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia"
> <[email protected]>
> > Tanggal: Jumat, 3 September, 2010, 12:27 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Bapak Awang memang menakjubkan sebagaimana ilmuwan2
> muslim di zaman
> > kejayaan Islam tempo dulu, yang tidak hanya menguasai
> satu cabang ilmu, tapi
> > beberapa cabang ilmu, seperti Abu Raihan Muhammad
> Al-Biruni (abad 8 M) yang
> > ahli dalam bidang Fisika, Geologi, Antropologi,
> Bahasa, dan Taksonomi. Atau
> > Ibnu Sina /Averous) yang ahli dalam bidang Kedokteran,
> Kimia, Matematika,
> > dan Filsafat. Spesialis sekaligus Generalis. Bapak
> awang saya mohon
> > dijelaskan hubungan antara Ethnogenesis dengan
> Geologi, trimaksih.
> >
> > --- Pada Sel, 24/8/10, Awang Satyana <[email protected]>
> menulis:
> >
> >
> > Dari: Awang Satyana <[email protected]>
> > Judul: [Forum-HAGI] Dari Barito ke Madagaskar:
> Ethnogenesis Malagasi
> > Kepada: "IAGI" <[email protected]>,
> "Geo Unpad" <
> > [email protected]>,
> "Eksplorasi BPMIGAS" <
> > [email protected]>,
> "Forum HAGI" <[email protected]>
> > Tanggal: Selasa, 24 Agustus, 2010, 7:55 AM
> >
> >
> > Madagaskar, pulau keempat terbesar di dunia,
> terisolasi di sebelah tenggara
> > Afrika sejak ia terpisah dari Afrika 165 juta tahun
> yang lalu. Isolasi ini
> > menyebabkan keunikan keragaman hayati yang menakjubkan
> dengan 90 % flora dan
> > faunanya  bersifat endemik, artinya hanya
> terdapat di Madagaskar dan tidak
> > di tempat lain. Sumberdaya alamnya melimpah dengan
> kayu-kayu besar, mineral
> > dan permata. Sepertiga dari seluruh safir yang
> diperdagangkan di seluruh
> > dunia, berasal dari Madagaskar. Madagaskar punya
> “hutan” menara batu yang
> > menjulang yang dapat membuat pengunjung yang paling
> sering berpetualang
> > sekalipun takjub melihatnya. Demikian, sedikit nukilan
> tentang Madagaskar
> > yang dimuat di edisi terbaru National Geographic
> Indonesia bulan September
> > 2010.
> >
> > Tetapi, sebuah negara berkembang atau belum berkembang
> yang kaya akan
> > sumberdaya alam, sayangnya tak serta-merta penduduknya
> sejahtera, malah
> > lebih sering rakyatnya justru miskin. Para ilmuwan
> sosial menyebut fenonema
> > ini “kutukan sumberdaya” (resource course), yang
> tesisnya pertama kali
> > dikemukakan oleh R. Auty (1993). Di Madagaskar, kasus
> ini terjadi dan sangat
> > khas problem negara berkembang: tekanan jumlah
> penduduk, kekacauan politik
> > di dalam negeri, penyelundupan, dan penjarahan. Rakyat
> menjarah kayu,
> > dilindungi aparat pengawas yang disuap, dibeli oleh
> cukong-cukong dari
> > negara lain. Orang-orang di pemerintah pun melakukan
> praktik-praktik
> > memperkaya diri. Akibatnya adalah tekanan terhadap
> lingkungan. Sedikit demi
> > sedikit namun pasti Madagaskar kian terluka.
> >
> > Dua paragraf di atas  tersebut akan mengantar
> ulasan di bawah ini yang
> > menceritakan tesis terbaru tentang asal bangsa
> Malagasi, kelompok suku utama
> > dan terbesar di Madagaskar, yang kita kenal
> menggunakan bahasa berumpun
> > Austronesia seperti juga bahasa Indonesia. Seorang
> penjarah kayu sonokeling
> > berkata, “Aleo maty rahampitso toy izay maty
> androany” – (lebih baik mati
> > besok daripada mati sekarang). Ia kelaparan, maka
> menjarah; perhatikan bahwa
> > bahasa yang digunakannya mirip-mirip lantunan bahasa
> Indonesia.
> >
> > Peter Belwood, ahli prasejarah terkenal dari Australia
> yang banyak meneliti
> > penyebaran bangsa-bangsa berumpun bahasa Austronesia
> (bukunya yang terkenal,
> > Prehistory of Indo-Malayan Archipelago telah
> diterjemahkan berjudul
> > “Prasejarah Kepulauan  Indo-Malaysia oleh
> Gramedia tahun 2000), menulis
> > bahwa antara sekitar 3000 SM-1000 AD terjadi
> penyebaran bangsa-bangsa
> > berbahasa Austronesia di bagian timur dunia, yang
> meliputi areal yang luas
> > dari Madagaskar di barat, Taiwan di utara, Pulau
> Paskah di timur dan
> > Selandia Baru di selatan. Dari mana sumber utama
> bangsa-bangsa ini dan
> > bagaimana cara penyebarannya adalah masalah2 yang
> selalu hangat dibicarakan
> > di antara para ahli arkeologi, linguistik dan
> genetika. Geologi pun dapat
> > berkontribusi dalam diskusi ini.
> >
> > Indonesia adalah bagian terbesar bangsa penutur
> bahasa2 Austronesia. Batas
> > barat rumpun bahasa Austronesia adalah Madagaskar.
> Sering kita baca dan
> > dengar bahwa nenek moyang  penduduk Madagaskar
> adalah orang-orang Indonesia
> > yang dulu merantau ke Madagaskar. Benarkah, bilamana
> mereka berangkat dan
> > bagaimana mereka sampai di sana ? Sebuah buku kumpulan
> makalah tentang
> > penyebaran Austronesia belum lama ini (2006)
> diterbitkan LIPI dan
> > International Center for Prehistoric and Austronesian
> Studies serta Unesco
> > berjudul, “Austronesian Diaspora and the
> Ethnogenesis of People in
> > Indonesian Archipelago”. Buku disunting oleh Truman
> Simanjuntak dkk dari
> > Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi
> Nasional).  Buku ini dijual juga
> > di toko buku umum yang besar, tetapi mungkin sekarang
> sudah susah ditemukan,
> > meskipun belum tentu peminatnya banyak - karena sudah
> empat tahun berselang,
> > saya membelinya November 2006. Ada 29 makalah yang
> membahas perihal
> > Austronesia,
> > termasuk dua makalah tentang lingkungan geologi.
> Pembahasan utama dibagi
> > menjadi aspek arkeologi, linguistik dan genetika.
> >
> > Kembali ke Madagaskar, ada satu makalah yang menarik
> di dalam buku ini
> > tulisan Alexander Adelaar (Melbourne Institute of
> Asian Languages and
> > Societies, The University of Melbourne) berjudul,
> “The Indonesian Migrations
> > to Madagascar: Making Sense of the Multidisciplinary
> Evidence”. Adelaar
> > (2006) bertesis bahwa bahasa yang digunakan suku
> Malagasi di Madagaskar
> > adalah bahasa Barito, Kalimantan tenggara. Bahasa
> Malagasi berhubungan
> > dengan bahasa2 yang digunakan Maanyan, Dusun Witu,
> Paku, Samihim dan
> > Lawangan. Tesis ini pertama kali dikemukakan oleh Dahl
> (1951: Malgache et
> > Maanyan, Une Comparaison linguistique, Egede
> Instituttet, Oslo). Penelitian
> > Adelaar membenarkan tesis Dahl (1951). Adelaar juga
> menyatakan bahwa bahasa
> > Malagasi banyak mempunyai kata pinjaman dari bahasa
> Melayu, Jawa dan
> > Sulawesi Selatan. Beberapa contoh:
> >
> > Bahasa Malagasi         
>             Bahasa
> Melayu/Indonesia/Jawa/Sulsel
> > varatra           
>                
>    barat
> > varatraza           
>          baratdaya
> > tsimilotru           
> timurlaut
> > ranto             
>   rantau
> > tanjona           
>     tanjung
> > fasika             
>   pasir
> > vatoharanana           
> batukarang
> > horita             
>   gurita
> > fano             
>   penyu
> > vuavitsi           
>          buah betis
> > mulutra           
>          mulut
> > hihi             
>   gigi
> > tratra             
>   dada
> > tanana             
>   tangan
> > afi             
>   api
> > ala             
>   alas (hutan, bahasa Jawa)
> > rama             
>   rama (ayah)
> > rahadyan           
>          raden
> > leha             
>   lekka (pergi, dialek Sinjay, Bugis)
> > matua             
>    matua (tua, Makasar, Bugis)
> > huta             
>   kota (mengunyah, Maanyan)
> >
> > Dan masih banyak lagi, yang membuktikan bahwa bahasa
> yang dipakai suku
> > Malagasi di Madagaskar berasal dari bahasa-bahasa suku
> di Indonesia.
> >
> > Makalah lain yang tak kalah menarik adalah dari para
> ahli genetika Matthew
> > Hurles dkk. (2005) yang dimuat dalam American Journal
> of Human Genetics (76:
> > 894-901) berjudul, “The dual origin of the Malagasy
> in island Southeast Asia
> > and East Africa: evidence from maternal and paternal
> lineages”. Dengan
> > menggunakan Y-chromosom dari garis keturunan ayah
> (paternal lineage) dan DNA
> > mitokondria dari garis keturunan ibu (maternal
> lineage); gene pool penduduk
> > Malagasi modern dapat ditentukan, sekaligus asal
> geografinya. Hasil penemuan
> > Hurles dkk. (2005) adalah seperti di bawah ini.
> >
> > 1. Penduduk Malagasi punya asal campuran Afrika Timur
> dan Asia Tenggara.
> > 2. Penduduk Malagasi tak menunjukkan keragaman
> genetika yang menurun
> > seperti dialami oleh penduduk di pulau-pulau kecil
> yang baru dihuni
> > (misalnya pulau-pulau di Pasifik baratdaya
> –mikronesia). Ini menunjukkan
> > sejarah migrasi yang langsung, bukan bertahap, atau
> kalau pun bertahap,
> > setiap migrasi membawa keturunan yang berbeda).
> >
> > 3. Keragaman gen dari keturunan ibu Asia lebih tinggi
> daripada ibu Afrika,
> > menunjukkan bahwa migrasi dari Indonesia lebih besar
> daripada migrasi dari
> > Afrika.
> >
> > 4. Di antara sepuluh populasi nenek moyang yang
> mungkin dari seluruh bangsa
> > berbahasa Austronesia, populasi dari Kalimantan
> (Banjarmasin) punya
> > distribusi Y kromosom yang paling mirip dengan yang
> dipunyai penduduk
> > Malagasi.
> >
> > Kapan penduduk Indonesia dari Kalimantan mengembara ke
> Madagaskar ? Peta
> > terbaru dari Peter Belwood (2005: First Farmers: The
> Origins of Agricultural
> > Societies, Blackwell, Oxford)) menaruhnya bahwa mereka
> pergi ke Madagaskar
> > pada sekitar tahun 500 M. Bangsa Melayu, yang saat itu
> terkenal sebagai
> > bangsa maritim yang telah melanglang buana ke India
> dan Srilangka diduga
> > banyak berperan dalam penghunian Madagaskar.
> >
> > Sementara itu, perdebatan sengit masih terjadi tentang
> asal bangsa-bangsa
> > Austronesia sendiri. Satu kubu mengatakan bahwa bangsa
> Austronesia berasal
> > dari Formosa, Taiwan melalui Filipina lalu menyebar ke
> selatan, ke
> > Indonesia, lalu ke barat (Madagaskar), ke timur menuju
> gugusan kepulauan
> > polinesia dan mikronesia, lalu ke selatan menuju
> Selandia Baru). Kubu ini
> > ditokohi oleh Peter Belwood, ahli prasejarah Asia
> Tenggara. Kubu lain
> > mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal dari
> daerah Wallacea di
> > Indonesia sendiri yang lalu menyebar ke mana-mana
> karena transgresi Kuarter.
> > Kubu ini ditokohi oleh Stephen Oppenheimer, ahli
> genetika.
> >
> > Demikian, perkembangan terbaru pengetahuan dalam
> bidang migrasi
> > bangsa-bangsa berbahasa Austronesia. Geologi dapat
> memberikan kontribusi
> > dalam pemikiran penghunian suatu pulau atau migrasi
> bangsa-bangsa dengan
> > cara meneliti lingkungan migrasinya (paleoklimatologi,
> paleogeografi). Bila
> > kita ingin memahami asal suatu bangsa (ethnogenesis),
> empat aspek harus
> > dibahas: geologi, arkeologi, linguistik, genetika.
> >
> > Salam,
> > Awang
> >
> >
> >
> >
> > ______________________________________________
> > The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing
> list.
> > [email protected]
> | www.hagi.or.id
> > ---*** for administrative query please send your email
> to
> > [email protected]
> >
> >
> >
> >
> >
> > -----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan-----
> >
> >
> > ______________________________________________
> > The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing
> list.
> > [email protected]
> | www.hagi.or.id
> > ---*** for administrative query please send your email
> to
> > [email protected]
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> --------------------------------------------------------------------------------
> > PP-IAGI 2008-2011:
> > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak
> biro...
> >
> >
> --------------------------------------------------------------------------------
> > Ayo siapkan diri....!!!!!
> > Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25
> November 2010
> >
> >
> -----------------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net 
> > <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/%0AIAGI-net>Archive
> 2:
> > http://groups.yahoo.com/group/iagi
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard
> to information posted
> > on its mailing lists, whether posted by IAGI or
> others. In no event shall
> > IAGI or its members be liable for any, including but
> not limited to direct
> > or indirect damages, or damages of any kind
> whatsoever, resulting from loss
> > of use, data or profits, arising out of or in
> connection with the use of any
> > information posted on IAGI mailing list.
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
> 
> 
> -- 
> Sent from my Computer®
> 



--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke