Pak Bagus dan rekan2, Ethnogenesis (etnogenesis) adalah proses kejadian suatu kelompok etnik (suku) asli (indigenous ethnic group). Proses ini dipelajari dalam beberapa cabang ilmu tertentu, yaitu ethnic ecology atau ethnic geography. Bagaimana kelompok etnik ini berinteraksi dengan habitatnya, apakah ada ikatan khusus antara kelompok etnik dengan daratan yang mereka tempati yang akan membantu membentuk identitasnya sendiri; adalah beberapa pertanyaan yang ingin dijawab dalam ethnic ecology atau ethnic geography. Kadang-kadang, cabang ilmu ekologi yang mempelajari hal ini disebut sebagai cultural ecology. Lalu, apakah ilmu geologi terkait dengan etnogenesis ? Ya, tataan (setting) geologi mempengaruhi etnogenesis, tetapi bukan hanya geologi, klimatologi pun besar pengaruhnya. Kaitan yang mungkin antara orang dan lingkungan fisiknya (a.l. geologi) seringkali terlihat dalam pembentukan pola wilayah-wilayah kebudayaan etnik, migrasi etnik dan ketahanan atau daya keberlanjutan (persistence or survival) etnik. Leo Nikolayevich Gumilev (1912-1992), seorang tokoh pemikir etnogenesis dan pernah menulis buku terkenal dalam bidang ini, “Ethnogenesis and the Biosphere” (1975) mengatakan bahwa kelompok-kelompok etnis dibentuk oleh kondisi-kondisi geografi fisik (termasuk geologi) tertentu di atas permukaan bumi. Gumilev mengeluarkan istilah “ecotones” yaitu batas-batas tajam antara wilayah ekologi (ecoregions) –geologi terlibat dalam pembentukan ecoregions- yang mendorong terbentuknya kelompok budaya yang baru. Di batas-batas antara pegunungan dan dataran, antara hutan dan prairi, menurut Gumilev orang akan memerlukan strategi adaptif untuk dapat menggunakan dua ecoregion yang berbatasan di ecotone. Maka, adaptasi budaya itu memainkan peranan dalam etnogenesis. Misalnya, mengapa orang-orang Rusia berbeda dari orang-orang Slavik lainnya? Budaya induknya adalah budaya Slavik, kapan, mengapa dan ke arah mana perbedaan itu mulai terjadi ? Gumilev mengusulkan bahwa orang-orang Rusia berkembang di ecotone hutan-padang rumput di sebelah utara Laut Hitam di Eurasia. Etnogenesis berhubungan erat dengan tempat asal dan penyebaran ras umat manusia. Masalah tempat asal dan penyebaran (migrasi) seluruhnya adalah masalah geologi sebab manusia berasal dan bermigrasi melalui tataan daratan dan lautan yang dibentuk geologi. Dari mana asal umat manusia ? Beberapa agama besar (Kristen, Islam, Yahudi) mengatakannya berasal dari Taman Eden/Taman Firdaus di wilayah Mesopotamia (sebagian Irak sekarang). Tetapi para ahli antropologi fisik menunjuk Asia Tengah. Kawasan ini pernah mengalami pengangkatan (uplift) secara bertahap. Bersamaan dengan pengangkatan itu, terjadilah gelombang-gelombang migrasi manusia dan hewan secara bertahap pula ke wilayah-wilayah yang lebih rendah. Ada pendapat pula bahwa asal manusia itu tidaklah satu (monogenesis) tetapi ada beberapa tempat pusat penyebaran (poligenesis). Ini sama saja dengan pertarungan dua teori dalam paleoantropologi bahwa hominid, misalnya Homo erectus, dan manusia (Homo sapien) berasal dari satu tempat (Afrika) kemudian menyebar ke seluruh dunia (teori “out of Africa”) atau asal hominid dan manusia itu banyak, di berbagai tempat (teori “multiregional). Hanya, kesepakatan di antara para ahli ini adalah bahwa asal manusia itu di Asia atau Afrika; dan bukan dari Eropa, Amerika atau Australia. Peranan geologi dalam etnogenesis banyak berpengaruh dalam migrasi manusia. Setelah bermigrasi dan menempati tempat baru terjadilah proses pembentukan ras atau suku baru yang karakteristiknya dipengaruhi lingkungan fisik (geografi, geologi, klimatologi) wilayah yang ditempatinya. Dengan demikian, secara tidak langsung atau langsung geologi memainkan peranan dalam pembentukan ras. Bangsa-bangsa yang menjadi pelaku dalam drama sejarah awal manusia, yaitu Mesopotamia, tergolong umat manusia yang warna kulitnya terang yaitu yang dinamakan bangsa Kaukasoid. Dua jenis lainnya yang termasuk Homo sapien adalah bangsa Negroid dan Mongoloid, tetapi mereka tak menghuni Timur Tengah. Berdasarkan ciri-ciri bahasanya, di Timur Tengah atau tepatnya di jalur lengkungan Bulan Sabit Subur (Mesir, Palestina, Mesopotamia) terdapat bangsa Hamit dan Semit. Bangsa Hamit menyebar ke utara dan timurlaut Sahara di Afrika. Bangsa Semit bergerak ke Jazirah Arab dan sekitarnya. Semntara itu, di sepanjang pinggiran utara dan timur Bulan Sabit Subur, terdapat bangsa Indo-Eropa yang berasal dari wilayah Georgia di lereng-lereng pegunungan Kaukasus (Rusia selatan sekarang). Dari situ, pada sekitar tahun 4000 SM mereka menyebar ke Eropa dan Iran. Dua ras (Semit dan Kaukasoid) bertemu di satu ecoregion atau ecotone akan bersaing. Persaingan ini jugalah yang kemudian akan memigrasikan ras-ras manusia lebih lanjut. Migrasi karena persaingan ini telah menghasilkan bangsa Indo-Eropa cabang timur mendiami Iran. Bangsa Hettit yang menduduki jazirah Anatolia (Turki Asia). Di Lembah Nil pada sekitar tahun 2000 SM kemudian terjadi persaingan antara bangsa Hamit dan Semit. Perebutan ecoregion yang subur seringkali menjadi asal sengketa. Subur atau gersangnya ecoregion dipengaruhi oleh kondisi geologi (geomorfologi) dan klimatologi. Antara tahun 30.000-15.000 SM bangsa-bangsa Mongoloid telah telah berusaha bermigrasi ke benua Amerika. Tentu mereka tak mengetahui bahwa ada benua Amerika di sana, mereka hanya bermigrasi mengikuti jalur-jalur daratan yang dibentuk geologi. Pada zaman tersebut Bumi kita sedang mengalami zaman es yang hebat. Permukaan air laut sangat rendah karena sebagian volumenya tertarik ke kedua kutub Bumi menjadi lapisan-lapisan es. Selat Bering pada masa itu, yang kini memisahkan Eurasia dan Amerika, adalah sebuah jembatan daratan yang mungkin tertutup salju. Jembatan daratan ini diseberangi bangsa Mongoloid dari Asia ke Amerika. Para migran setelah memasuki Amerika melalui jembatan daratan yang dibentuk geologi itu, kemudian bergerak lebih lanjut di Amerika. Ada yang membelok ke timur menuju sekitar Hudson Bay di wilayah Canada sekarang dan mereka menjadi bangsa Eskimo. Ada yang meneruskan perjalanan ke selatan melalui lereng-lereng Rocky Mountains dan Pegunungan Andes, dan ada yang menyebar ke wilayah-wilayah dataran di sebelah timurnya sampai ke Pegunungan Appalachia, jadilah mereka bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara (misalnya suku Mojave, Dakota, Apache, Cherokee), Amerika Tengah (Maya), dan Amerika Selatan (Inca). Semua bangsa Eskimo dan suku-suku Indian itu adalah ras Mongoloid. Kemajuan baru dalam ilmu genetika (biologi molekuler) telah membantu peta migrasi manusia melalui lingkungan daratan dan lautan yang dibentuk geologi. Inilah beberapa kesimpulan terbaru (Shreeve, 2006: The Greatest Journey, National Geographic, March 2006, 60-73). 1. African Cradle. Kebanyakan para ahli paleoantropologi dan genetika sepakat bahwa manusia modern (Homo sapien) muncul sekitar 200.000 tahun yl di Afrika. Fosil manusia modern paling awal ditemukan di Omo Kibish, Etiopia (sekarang tempat ini terdaftar sebagai PBB world’s heritage). Fosil tertua di luar Afrika ditemukan di Israel, tetapi kelompok ini nampaknya tidak bermigrasi keluar dan punah pada sekitar 90.000 tahun yl. 2. Out of Africa. Data genetik menunjukkan bahwa sekelompok kecil manusia modern meninggalkan Afrika untuk selamanya antara 70.000-50.000 tahun yl dan akhirnya mengganti semua spesies manusia sebelumnya seperti Neandertals. Semua bangsa manusia non-Afrika sekarang ini adalah keturunan para migran pertama ini, yang telah bermigrasi ke sebelah utara Laut Merah atau menyeberangi celah sempitnya di sebelah selatan. 3. The first Australians. Penemuan dua tempat situs purba – artefak dari Malakunanja (Australia utara) dan fosil-fosil dari Danau Mungo (Australia Selatan) mengindikasi bahwa manusia modern telah mengikuti rute pantai sepanjang Asia bagian selatan dan mencapai Australia sekitar 50.000 tahun yang lalu. Keturunannya, para Aborigin Australia, secara genetik tetap terisolasi di benua ini sampai sekarang. Genetika mereka berbeda dari semua penduduk Australia yang bermigrasi dari Eropa. 4. Early Europeans. Para ahli paleoantropologi telah lama memperkirakan bahwa penghunian Eropa mengikuti rute dari Afrika utara. Tetapi data genetik menunjukkan bahwa DNA penduduk Eropa barat sekarang mirip dengan penduduk India. Maka diperkirakan telah terjadi migrasi di dalam Asia sendiri pada sekitar 40.000-30.000 tahun yang lalu. 5. Populating Asia. Pada sekitar 40.000 tahun yang lalu, manusia terdorong ke Asia Tengah dan tiba di padang rumput sebelah utara Himalaya. Pada saat yang bersamaan mereka bermigrasi ke Asia Tenggara dan Cina, lalu akhirnya mencapai Jepang dan Siberia. Data genetik menunjukkan bahwa manusa di Asia sebelah utara akhirnya bermigrasi ke Amerika. 6. Into the New World. Kapan migrasi manusia pertama terjadi ke Amerika merupakan debat panas di antara para ahli paleoantropologi. Bukti genetik menunjukkan peristiwa itu terjadi antara 20.000-15.000 tahun yang lalu ketika muka laut rendah dan jembatan daratan menghubungkan antara Siberia ke Alaska. Lapisan es mungkin saat itu menutupi interior Amerika Utara, sehingga para migran Mongoloid ini berjalan sepanjang pantai barat yang juga ditempati pegunungan Rocky Mountains-Andes. Para migran ini mencapai ujung selatan Amerika pada 14.800 tahun yang lalu di mana fosil dan artefaknya di Mount Verde, Chile ditemukan. Wilayah luas paling akhir di dunia yang dimasuki manusia adalah gugusan pulau-pulau di Oceania, Samudera Pasifik (Mikronesia, Melanesia, Poliynesia) (Olson, 2003: Mapping Human History – Mariner Book, New York). Sebelum wilayah ini berpenghuni, manusia telah mendiami Oseania Dekat yang meliputi Australia, Papua New Guinea, dan Kepulauan Bismarck. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia pertama-tama sampai di gugusan kepulauan Melanesia (Fiji) pada sekitar 3000 tahun yang lalu. Mereka terus berlayar sampai ke titik paling timur yang dapat mereka jangkau yaitu Pulau Paskah yang mulai dihuni pada sekitar 300 M, titik terjauh paling selatan yang bisa mereka jangkau yaitu Selandia Baru terjadi pada sekitar 800 M. Half-type mitokondria (sel genetik perempuan) dan kromosom Y (sel genetik laki-laki) menunjukkan bahwa penduduk Polinesia berasal dari penduduk Asia Tenggara dan Taiwan, juga tercampur dengan orang-orang dari Melanesia (Stoneking dkk., 2000: Melanesian origin of Polynesian Y chromosome – Current Biology 10, 1237-46). Berdasarkan penemuan artefak dan paleolingistik, Peter Belwood (2006: The Early Movements of Austronesia-speaking peoples in the Indonesian Region – proceedings of the international symposium Austronesian Diaspora, 61-82) menunjukkan bagaimana etnogenesis bangsa-bangsa yang mendiami kawasan Madagaskar-Pulau Paskah dan dari Taiwan-Selandia Baru terjadi. Menurutnya, semuanya berasal dari sumber Taiwan pada 3000 SM yang bermigrasi ke selatan dan barat (Indonesia 1500-500 SM), ke tenggara (Filipina-Melanesia (1300-800 SM) dan ke timur (Mikronesia 2000-1500 SM). Penghunian Polinesia terjadi sebagai migrasi lanjut dari Melanesia. Penghunian ini selesai setelah Pulau Paskah terhuni pada 900 M, dan ke utara menuju Hawai pada 900 M. Penghunian terakhir di kawasan Pasifik adalah Selandia Baru pada 1200 M. Penelitian modern berdasarkan genetika, arkeologi dan linguistik menunjukkan bawa bangsa Polinesia berasal dari Asia Tenggara dan Melanesia. Perbedaan pendapat terjadi pada waktu detail penghunian. Hal ini berbeda dengan hipotesis yang pernah diajukan oleh Thor Heyerdahl, penjelajah Norwegia, dalam bukunya yang terkenal “Kon-Tiki Ekspedisjonen” – 1948, Gyldendal Norsk Forlag) yang mengatakan bahwa bangsa Polinesia bukan berasal dari sebelah barat atau baratdayanya, tetapi berasal dari sebelah timurnya, tepatnya berasal dari Peru, Amerika Selatan. Thor mempelajari legenda Peru tentang raja-matahari Virakocha, yang merupakan pemimpin orang-orang berkulit putih di Peru yang telah punah. Virakocha adalah Kon-Tiki atau Illa-Tiki. Kon-Tiki adalah pendeta tertinggi dan raja-matahari para orang kulit putih Peru yang telah meninggalkan puing-puing bangunannya di tepi Danau Titicaca, danau tertinggi di dunia yang terletak di Pegunungan Andes oleh suatu peperangan. Legenda menyatakan bahwa Kon-Tiki diserang oleh seorang pemimpin lain bernama Cari yang datang dari lembah Coquimbo. Dalam suatu pertempuran di pulau di Danau Titicaca, banyak orang kulit putih Peru tewas, tetapi Kon-Tiki bersama orang2 terdekatnya berhasil melarikan diri dan menyeberangi Samudera Pasifik lalu menghilang ke sebelah barat. Thor menemukan bahwa penduduk pulau-pulau di sebelah barat Amerika Selatan (Polinesia) menyembah dewa utama mereka bernama Tiki, anak matahari, yang dipercaya semua penduduk Polinesia sebagai pembentuk ras mereka. Kejadian ini dihitung Thor terjadi pada 1100 M. Maka untuk membuktikan hipotesisnya itu, Thor bersama lima temannya berlayar menggunakan rakit yang dibuat dari sembilan batang kayu balsa yang diambilnya dari Danau Titicaca di Pegunungan Andes. Ekspedisi berani ini dinamainya Ekspedisi Kon-Tiki, sebagaimana nama rakitnya. Thor berlayar dari Calloo, di dekat Lima, Peru menuju kepulauan Tuamotu dekat Tahiti (Polinesia) pada 28 April-7 Agustus 1947 menempuh perjalanan laut sepanjang 8000 km dan berhasil mencapainya dengan selamat memanfaatkan arus Humboldt dari timur ke barat. Apakah keberhasilan ini menunjukkan bahwa hipotesis Thor Heyerdahl benar? Solusi masalah etnogenesis harus didekati dari berbagai aspek: arkeologi, antropologi, linguistik, genetika, klimatologi dan geologi. Naik turunnya muka laut selama kala Holosen yang diteliti geologi dan ditampilkan dalam peta2 detail paleogeografi dari waktu ke waktu dapat membantu solusi masalah2 etnogenesis. Dalam Y kromosom sel darah kita, para lelaki, juga semua lelaki di dunia, terdapat biomarker genetik bernama M168. Ini adalah biomarker hasil mutasi yang pertama timbul 50.000 tahun yang lalu pada sekelompok lelaki Afrika manusia modern yang meninggalkan Afrika dan menurunkannya ke semua lelaki di seluruh dunia. Tidak percaya? Silakan memeriksakan diri di Lembaga Eijkman di Jakarta, lembaga genetika molekuler yang juga terlibat dalam pemetaan seluruh ras manusia di Indonesia dalam rangka membantu proyek pemetaan ras seluruh manusia di dunia. Dengan teknik-teknik genetika yang rumit, pemetaan ini dapat ditarik mundur sampai beberapa ratus ribu tahun ke belakang, sehingga peta migrasi manusia dan sejarahnya dapat diketahui. Geologi, sebuah ilmu historis, jelas dapat berperan dalam hal ini sebab migrasi manusia modern atau hominid (manusia purba) berjalan di atas daratan dan lautan yang dibentuk proses-proses geologi. Salam, Awang
--- Pada Jum, 3/9/10, bagus yosodiharjo <[email protected]> menulis: Dari: bagus yosodiharjo <[email protected]> Judul: [Forum-HAGI] Hubungan Ethnogenesis dengan Geologi Kepada: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[email protected]> Tanggal: Jumat, 3 September, 2010, 12:27 AM Bapak Awang memang menakjubkan sebagaimana ilmuwan2 muslim di zaman kejayaan Islam tempo dulu, yang tidak hanya menguasai satu cabang ilmu, tapi beberapa cabang ilmu, seperti Abu Raihan Muhammad Al-Biruni (abad 8 M) yang ahli dalam bidang Fisika, Geologi, Antropologi, Bahasa, dan Taksonomi. Atau Ibnu Sina /Averous) yang ahli dalam bidang Kedokteran, Kimia, Matematika, dan Filsafat. Spesialis sekaligus Generalis. Bapak awang saya mohon dijelaskan hubungan antara Ethnogenesis dengan Geologi, trimaksih. --- Pada Sel, 24/8/10, Awang Satyana <[email protected]> menulis: Dari: Awang Satyana <[email protected]> Judul: [Forum-HAGI] Dari Barito ke Madagaskar: Ethnogenesis Malagasi Kepada: "IAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad" <[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>, "Forum HAGI" <[email protected]> Tanggal: Selasa, 24 Agustus, 2010, 7:55 AM Madagaskar, pulau keempat terbesar di dunia, terisolasi di sebelah tenggara Afrika sejak ia terpisah dari Afrika 165 juta tahun yang lalu. Isolasi ini menyebabkan keunikan keragaman hayati yang menakjubkan dengan 90 % flora dan faunanya bersifat endemik, artinya hanya terdapat di Madagaskar dan tidak di tempat lain. Sumberdaya alamnya melimpah dengan kayu-kayu besar, mineral dan permata. Sepertiga dari seluruh safir yang diperdagangkan di seluruh dunia, berasal dari Madagaskar. Madagaskar punya “hutan” menara batu yang menjulang yang dapat membuat pengunjung yang paling sering berpetualang sekalipun takjub melihatnya. Demikian, sedikit nukilan tentang Madagaskar yang dimuat di edisi terbaru National Geographic Indonesia bulan September 2010. Tetapi, sebuah negara berkembang atau belum berkembang yang kaya akan sumberdaya alam, sayangnya tak serta-merta penduduknya sejahtera, malah lebih sering rakyatnya justru miskin. Para ilmuwan sosial menyebut fenonema ini “kutukan sumberdaya” (resource course), yang tesisnya pertama kali dikemukakan oleh R. Auty (1993). Di Madagaskar, kasus ini terjadi dan sangat khas problem negara berkembang: tekanan jumlah penduduk, kekacauan politik di dalam negeri, penyelundupan, dan penjarahan. Rakyat menjarah kayu, dilindungi aparat pengawas yang disuap, dibeli oleh cukong-cukong dari negara lain. Orang-orang di pemerintah pun melakukan praktik-praktik memperkaya diri. Akibatnya adalah tekanan terhadap lingkungan. Sedikit demi sedikit namun pasti Madagaskar kian terluka. Dua paragraf di atas tersebut akan mengantar ulasan di bawah ini yang menceritakan tesis terbaru tentang asal bangsa Malagasi, kelompok suku utama dan terbesar di Madagaskar, yang kita kenal menggunakan bahasa berumpun Austronesia seperti juga bahasa Indonesia. Seorang penjarah kayu sonokeling berkata, “Aleo maty rahampitso toy izay maty androany” – (lebih baik mati besok daripada mati sekarang). Ia kelaparan, maka menjarah; perhatikan bahwa bahasa yang digunakannya mirip-mirip lantunan bahasa Indonesia. Peter Belwood, ahli prasejarah terkenal dari Australia yang banyak meneliti penyebaran bangsa-bangsa berumpun bahasa Austronesia (bukunya yang terkenal, Prehistory of Indo-Malayan Archipelago telah diterjemahkan berjudul “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia oleh Gramedia tahun 2000), menulis bahwa antara sekitar 3000 SM-1000 AD terjadi penyebaran bangsa-bangsa berbahasa Austronesia di bagian timur dunia, yang meliputi areal yang luas dari Madagaskar di barat, Taiwan di utara, Pulau Paskah di timur dan Selandia Baru di selatan. Dari mana sumber utama bangsa-bangsa ini dan bagaimana cara penyebarannya adalah masalah2 yang selalu hangat dibicarakan di antara para ahli arkeologi, linguistik dan genetika. Geologi pun dapat berkontribusi dalam diskusi ini. Indonesia adalah bagian terbesar bangsa penutur bahasa2 Austronesia. Batas barat rumpun bahasa Austronesia adalah Madagaskar. Sering kita baca dan dengar bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar adalah orang-orang Indonesia yang dulu merantau ke Madagaskar. Benarkah, bilamana mereka berangkat dan bagaimana mereka sampai di sana ? Sebuah buku kumpulan makalah tentang penyebaran Austronesia belum lama ini (2006) diterbitkan LIPI dan International Center for Prehistoric and Austronesian Studies serta Unesco berjudul, “Austronesian Diaspora and the Ethnogenesis of People in Indonesian Archipelago”. Buku disunting oleh Truman Simanjuntak dkk dari Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional). Buku ini dijual juga di toko buku umum yang besar, tetapi mungkin sekarang sudah susah ditemukan, meskipun belum tentu peminatnya banyak - karena sudah empat tahun berselang, saya membelinya November 2006. Ada 29 makalah yang membahas perihal Austronesia, termasuk dua makalah tentang lingkungan geologi. Pembahasan utama dibagi menjadi aspek arkeologi, linguistik dan genetika. Kembali ke Madagaskar, ada satu makalah yang menarik di dalam buku ini tulisan Alexander Adelaar (Melbourne Institute of Asian Languages and Societies, The University of Melbourne) berjudul, “The Indonesian Migrations to Madagascar: Making Sense of the Multidisciplinary Evidence”. Adelaar (2006) bertesis bahwa bahasa yang digunakan suku Malagasi di Madagaskar adalah bahasa Barito, Kalimantan tenggara. Bahasa Malagasi berhubungan dengan bahasa2 yang digunakan Maanyan, Dusun Witu, Paku, Samihim dan Lawangan. Tesis ini pertama kali dikemukakan oleh Dahl (1951: Malgache et Maanyan, Une Comparaison linguistique, Egede Instituttet, Oslo). Penelitian Adelaar membenarkan tesis Dahl (1951). Adelaar juga menyatakan bahwa bahasa Malagasi banyak mempunyai kata pinjaman dari bahasa Melayu, Jawa dan Sulawesi Selatan. Beberapa contoh: Bahasa Malagasi Bahasa Melayu/Indonesia/Jawa/Sulsel varatra barat varatraza baratdaya tsimilotru timurlaut ranto rantau tanjona tanjung fasika pasir vatoharanana batukarang horita gurita fano penyu vuavitsi buah betis mulutra mulut hihi gigi tratra dada tanana tangan afi api ala alas (hutan, bahasa Jawa) rama rama (ayah) rahadyan raden leha lekka (pergi, dialek Sinjay, Bugis) matua matua (tua, Makasar, Bugis) huta kota (mengunyah, Maanyan) Dan masih banyak lagi, yang membuktikan bahwa bahasa yang dipakai suku Malagasi di Madagaskar berasal dari bahasa-bahasa suku di Indonesia. Makalah lain yang tak kalah menarik adalah dari para ahli genetika Matthew Hurles dkk. (2005) yang dimuat dalam American Journal of Human Genetics (76: 894-901) berjudul, “The dual origin of the Malagasy in island Southeast Asia and East Africa: evidence from maternal and paternal lineages”. Dengan menggunakan Y-chromosom dari garis keturunan ayah (paternal lineage) dan DNA mitokondria dari garis keturunan ibu (maternal lineage); gene pool penduduk Malagasi modern dapat ditentukan, sekaligus asal geografinya. Hasil penemuan Hurles dkk. (2005) adalah seperti di bawah ini. 1. Penduduk Malagasi punya asal campuran Afrika Timur dan Asia Tenggara. 2. Penduduk Malagasi tak menunjukkan keragaman genetika yang menurun seperti dialami oleh penduduk di pulau-pulau kecil yang baru dihuni (misalnya pulau-pulau di Pasifik baratdaya –mikronesia). Ini menunjukkan sejarah migrasi yang langsung, bukan bertahap, atau kalau pun bertahap, setiap migrasi membawa keturunan yang berbeda). 3. Keragaman gen dari keturunan ibu Asia lebih tinggi daripada ibu Afrika, menunjukkan bahwa migrasi dari Indonesia lebih besar daripada migrasi dari Afrika. 4. Di antara sepuluh populasi nenek moyang yang mungkin dari seluruh bangsa berbahasa Austronesia, populasi dari Kalimantan (Banjarmasin) punya distribusi Y kromosom yang paling mirip dengan yang dipunyai penduduk Malagasi. Kapan penduduk Indonesia dari Kalimantan mengembara ke Madagaskar ? Peta terbaru dari Peter Belwood (2005: First Farmers: The Origins of Agricultural Societies, Blackwell, Oxford)) menaruhnya bahwa mereka pergi ke Madagaskar pada sekitar tahun 500 M. Bangsa Melayu, yang saat itu terkenal sebagai bangsa maritim yang telah melanglang buana ke India dan Srilangka diduga banyak berperan dalam penghunian Madagaskar. Sementara itu, perdebatan sengit masih terjadi tentang asal bangsa-bangsa Austronesia sendiri. Satu kubu mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal dari Formosa, Taiwan melalui Filipina lalu menyebar ke selatan, ke Indonesia, lalu ke barat (Madagaskar), ke timur menuju gugusan kepulauan polinesia dan mikronesia, lalu ke selatan menuju Selandia Baru). Kubu ini ditokohi oleh Peter Belwood, ahli prasejarah Asia Tenggara. Kubu lain mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal dari daerah Wallacea di Indonesia sendiri yang lalu menyebar ke mana-mana karena transgresi Kuarter. Kubu ini ditokohi oleh Stephen Oppenheimer, ahli genetika. Demikian, perkembangan terbaru pengetahuan dalam bidang migrasi bangsa-bangsa berbahasa Austronesia. Geologi dapat memberikan kontribusi dalam pemikiran penghunian suatu pulau atau migrasi bangsa-bangsa dengan cara meneliti lingkungan migrasinya (paleoklimatologi, paleogeografi). Bila kita ingin memahami asal suatu bangsa (ethnogenesis), empat aspek harus dibahas: geologi, arkeologi, linguistik, genetika. Salam, Awang ______________________________________________ The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list. [email protected] | www.hagi.or.id ---*** for administrative query please send your email to [email protected] -----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan----- ______________________________________________ The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list. [email protected] | www.hagi.or.id ---*** for administrative query please send your email to [email protected] -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

