Weh ... "peperangan" masih berjalan ya .... rdp ------ LUMPUR LAPINDO Kick-off dari Ilmuwan Rusia
Sergey Kadurin menyebutkan tiga gempa sebagai pemicu semburan lumpur di Sidoarjo. Ancaman lain dari dua saluran gunung lumpur. Lambok M. Hutasoit melangkah keluar dari ruang Garden Terrace, Hotel Four Seasons, Jakarta. Sajian makan siang tidak ia sentuh setelah acara paparan hasil penelitian tim ilmuwan Rusia tentang lumpur Lapindo usai. Padahal tamu undangan dan wartawan langsung mengerubuti meja makan di hotel bintang lima tersebut. "Saya katakan kepada tim dari Rusia bahwa ada versi lain dari penyebab menyemburnya lumpur di Sidoarjo," kata Dr Lambok, Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung. Dia mengundang mereka berkunjung ke ITB untuk berdiskusi dengan pakar yang memiliki pandangan berbeda. Kemarin pagi memang berlangsung acara paparan tim peneliti Rusia, yang dipimpin Dr Sergey V. Kadurin. Pembicara lain dalam diskusi itu adalah Hardi Prasetyo, Wakil Ketua Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, dan Awang Harun Satyana, pejabat di BP Migas. Pengundang acara ini adalah Ogilvy Public Relations Worldwide, yang dikontrak OOO Rineftgaz, perusahaan konsultan minyak dan gas Rusia. Lambok memang jengah. Maklum, ilmuwan dalam negeri yang diundang pada hajatan itu adalah yang selama ini pro dengan versi bencana alam atau gempa. Sebut saja Sofyan Hadi, Edi Sunardi, dan Agus Guntoro. Sementara itu, pakar yang berpandangan bahwa semburan tersebut karena kelalaian pengeboran oleh Lapindo Brantas tidak tampak. "Selama ini saya netral dan kini diundang dalam kapasitas sebagai dosen ITB," ujar Lambok, yang juga menjabat Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia. Dalam siaran pers, penyelenggara membuat judul provokatif, "Ilmuwan Rusia: Pengeboran Bukan Penyebab Lumpur Sidoarjo". Sergey Kadurin, pengajar senior Universitas Odessa di Ukraina, memaparkan temuan dan analisis tim yang anggotanya terdiri atas Russian Institute of Electro Physics itu. Dalam membuat analisis, mereka mendasari pada data seismik dari periode sebelum luapan lumpur pertama kali terjadi, 29 Mei 2006. Mereka menggunakan data seismik dua dimensi untuk mengidentifikasi struktur lumpur. Membuat lapisan seismik tiga dimensi untuk menelusuri jejak formasi struktur lumpur dan gambaran tiga dimensi bawah tanah gunung lumpur. Semburan lumpur terjadi, kata Kadurin, akibat kembali aktifnya struktur gunung lumpur yang terbentuk 150-200 ribu tahun yang lalu. Aktivitas ini terus berlanjut hingga kini, yang dipicu oleh kegiatan seismik. Satu hal yang baru dari temuan tim Rusia adalah faktor penyebab dua gempa yang terjadi sebelum 29 Mei 2006. Pertama, gempa 9 Juli 2005 dengan kekuatan 4,4 pada skala Richter. Lokasi gempa tepat di bawah zona semburan lumpur Lapindo. Kedua, gempa yang terjadi 16 hari sebelumnya dengan episentrum sekitar 450 kilometer dari Sidoarjo dengan kekuatan 5,5 pada skala Richter. Selama ini yang banyak disebut ilmuwan Indonesia adalah gempa di Yogyakarta yang terjadi dua hari sebelumnya. Menurut Kadurin, gempa yang terjadi 10 bulan sebelumnya merupakan salah satu peristiwa geologi yang membantu pembukaan saluran lumpur. Pergerakan patahan Watukosek yang terjadi terus-menerus telah membantu proses ini lebih lanjut. "Gempa bumi yang terjadi dua hari sebelum semburan lumpur bisa menjadi sebuah kick-off yang terakhir," katanya. Kadurin tidak percaya kalau semburan lumpur panas terjadi karena kesalahan pengeboran oleh Lapindo Brantas. Fakta yang tidak terbantahkan, ujarnya, saluran lumpur telah ada jauh sebelum Lapindo mengadakan pengeboran di sumur Banjar Panji, Sidoarjo. Bahkan, ia menambahkan, terdapat dua saluran utama dengan tiga titik letusan potensial yang dapat diobservasi melalui tampilan 3D dari sub-terrain. Menurut Awang Harun, sumur Banjar Panji milik Lapindo bukan pemicu semburan, melainkan korban. Berdasarkan analisis itu, ilmuwan Rusia khawatir seluruh area di sekitar lumpur berada dalam bahaya tingkat tinggi berupa semburan lumpur panas yang baru. Terutama, kata Kadurin, dari satu bagian di sebelah barat daya ke bagian lainnya di sebelah timur laut dari lokasi lumpur Lapindo. Hardi Prasetyo mengakui ancaman semburan lumpur di Jawa sangat nyata. "Kasus di Sidoarjo ini membuka kesadaran kita akan seriusnya ancaman semburan lumpur." Sejak 2009, katanya, pemerintah mengambil alih sepenuhnya kasus lumpur Sidoarjo. UNTUNG WIDYANTO http://korantempo.com/korantempo/koran/2010/10/01/Ilmu_dan_Teknologi/krn.20101001.213293.id.html -- Beritakan kabar bagus sesering mungkin !! Berita buruknya serahkan pada orang lain untuk menyebarkannya.

