Terimakasih buat pencerahannya Pak
sangat berguna sekali.
salam,

Roy Elikson Sidabutar

Pada 16 Juni 2011 12:50, Shofiyuddin <[email protected]> menulis:

> kalo kita bicara fractured basement, saya berasumsi basement yang tight.
> Kalo ada fracture di basement, sulit sekali anda akan dapat corenya yang
> berarti anda dapat core di zona tight.
> Di fractured reservoir, ada pepatah terbalik dalam hal petrophysics:
> Kalo anda dapat data yang jelek, maka data itu adalah data terbaik yang
> anda punya karena mengindikasikan fracture
> Kalo anda dapat dapat bagus, maka bisa dipastikan gak ada fracture atau
> paling tidak minimal sekali.
>
>
> Sekali lagi, bicara SCAL, kita bicara batuan dulu.
> Basement yang saya tahu cukup produktif menjadi reservoir adalah jenis
> betuan beku asam sampai intermediet (dari klas granit - granodiorit), jarang
> sekali saya menemukan yang level basa. basement yang juga sebagai reservoir
> adalah jenis metamop seperti quartzite dan silicified phillite.
>
> batuan asam sampe intermediet ini banyak sekali mengandung mineral mineral
> dari asam (kuarsa sampai feldspar yang Na dan K) dan juga mineral mineral
> feromagnesian seperti keluarga ampibole dimana konsentrasi lebih sedikit
> dibandingkan dengan mineral yang asam.
> Mineral mineral yang berbeda tersebut mempunyai variasi berat jenis yang
> berbeda, sehingga penentuan porosity berdasarkan log densitas menjadi sangat
> tidak menentu alias akan mempunyai variasi yang tinggi. NMR yang
> diidentifikasi bebas dari jenis matrix masih belum bisa lepas dari pengaruh
> beberapa jenis mineral yang hydrous seperti klorit yang tentunya mengandung
> air.
>
> Pada umumnya, porositas di batuan beku kecil sekali, mungkin 1-2% saja.
> Anda bisa bayangkan bagaimana batuan yang tersusun oleh kristal hasil
> pendinginan magma ini mempunyai porositas dimana kristal satu dengan yang
> lain saling mengisi?
> Tidak seperti batuan sediment yang terbentuk dari proses sedimentasi yang
> akan menyisakan rongga rongga diantara butirannya.
>
> Kalo kita belajar kestabilan mineral, maka mineral mineral selain kwarsa
> mempunya derajat kestabilan yang kurang. Salah satu gejala yang umum darie
> fek  ketidakstabilan mineral ini adalah dijumpainya feldspar yang banyak
> terkena korosi dan kemudian terlaterasi menjadi mineral mineral lempung.
> Proses korosi ini menghasilkan microporosity di feldpar yang kemudian diduga
> banyak orang berkontribusi terhadap total porosity batuan.
>
> Nah gas Helium ini bisa mencapai ukuran porosity itu. kalo memungkin bisa
> injek mercury mencapai 100,000 psi untuk mengetahui pore throat sizenya.
> Ingat bahwa kesalahan pengukuran sebesar 1 pu mengindikasikan kesalahan dari
> 50 sampe 100%. hm ..... khan porositynya cuma 1-2% aja?
>
> Nah kembali ke pertanyaan semula, apakah a, m dan n bisa dipakai untuk
> fractured basement?
>
> m tergantung porosity. Kalo porosity nya confident, secara teoritis m bisa
> dipakai.
> n? .... sangat tergantung dari Rt (resistivity dari partially saturated
> sample). Teknology seperti apa yang bisa men-desaturated batuan beku untuk
> dapat Swirr dengan porositas yang sangat rendah?
>
> ah dulu ah
>
> eh iya, belum ngomongin a, m dan n itu sendiri ya? maaf untuk yang gak
> familiar.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> 2011/6/16 Roy Elikson Sidabutar <[email protected]>
>
>> Mantap sekali pencerahannya.
>> Mau bertanya donk kepada para ahlinya,
>> kalau pada basement fracture reservoir atau sejenisnya, apakah pengukuran
>> dari SCAL ini bisa diaplikasikan langsung ke perhitungan
>> petrophysicnya??atau apakah harus dilakukan koreksi-koreksi lain lagi
>> sebelum diaplikasin?? atau mungkin dari hasil pengukuran SCAL tidak bisa
>> dipergunakan specialy for basement fracture reservoir??
>> Mohon pencerahannya..
>>
>> Trimakasih dan salam a,m n
>>
>> Roy Elikson Sidabutar
>>
>> Pada 16 Juni 2011 08:42, Shofiyuddin <[email protected]> menulis:
>>
>> Vita, kayaknya mau pindah profesi nih?
>>>
>>> Sekedar nambahin sedikit aja eksplanasi dari mas Yudiyoko.
>>>
>>> Hal pertama yang perlu diingat adalah bahwa electrical properties (a, m,
>>> n) TIDAK DIUKUR melainkan merupakan produk turunan hasil best curve fit yang
>>> berupa gradient (untuk m dan n) dan intercept untuk a dari parameter
>>> parameter yang diukur (porosity, resistivitas air formasi Rw, resistivititas
>>> formasi baik yang fully saturated Ro dan partially saturated Rt) seperti
>>> yang mas Yudiyoko sebutin di bawah.
>>> jadi, a, m dan n sangat tergantung dari keakuratan pengukuran parameter
>>> yang diukur tadi.
>>>
>>> Kembali ke laptop.
>>> Bagaimana sensitifitas a, m dan n terhadap dua kondisi pengukuran yang
>>> berbeda, yaitu ambient (biasanya di level 800 psi) dan NOB yang besarnya
>>> tergantung formasi.
>>>
>>> Mari kita tinjau satu satu dari parameter yang diukur:
>>>
>>> Porosity (ambient vs NOB):
>>> Faktor utama yang sensitif adalah
>>> 1. tingkat kompresibiltas batuan yang sangat tergantung dari komposisi
>>> batuan sendiri. Batu dengan banyak kandungan mineral clay/shale akan jauh
>>> lebih mudah terkena kompresi dibandingkan dengan batu yang lebih pure
>>> semisal shaley sand dan quartzose. Saya gak ahli klastik, tapi saya yakin
>>> cukup banyak pengaruhnya.
>>> 2. Jenis clay yang terkadung dalam batuan. Clay yang masih mengandung
>>> banyak air (grup smectite/montmorillonite) akan lebih mudah terkompresi
>>> dibanding dengan clay yang tidak mengandung banyak air seperti illite.
>>> 3. Untuk Limestone dengan komposisi yang muddy (mudstone, wackestone)
>>> lebih mudah terkompresi dibandingkan dengan yang graindstone, packstone,
>>> framestone dan boundstone.
>>>
>>> Porosity (pengukuran)
>>>
>>> 1. Pengeringan sample. Clay mineral sangat sensitif terhadap temperature.
>>> Salah salah menerapkan besarnya suhu bisa mengakibatkan perubahan struktur
>>> mineral clay yang akan berimpak terhadap hasil pengukuran porosity terutama
>>> untuk clay dengan stuktur air didalamnya. Salah satu yang biasa dipakai
>>> adalah humidity drying yang besarnya kira kira 65 derajat celcius. Pada suhu
>>> ini diperkirakan struktur clay mineral tidak berubah dan tidak akan
>>> menghilangkan air yang terikat (clay bound water).  Untuk limestone, saya
>>> menggunakan suhu di sekitar angka 90-95 derajat Celcius karena sudah dicoba
>>> di angka 115 dan sample cracking.
>>> 2. Saat ini yang sering dipakai adalah injeksi gas Helium. Beberapa
>>> "orang" mencoba mengukur porositas dengan mercury. yang terakhir ini bisa
>>> saja, tapi ongkosnya lebih mahal dimana sample sudah tidak bisa digunakan
>>> lagi dan harus dibuang. Dan yang kedua, interpretasi terhadap porosity harus
>>> hati hati karena ada effect "comformance" dimana mercury akan cenderung
>>> mengisi bagian bagian luar sample yang tidak rata tapi seakan akan mengisi
>>> pore.
>>> 3. Dengan NMR. Bisa untuk mendapatkan porositas efektif dan porositas
>>> dari air yang tidak bisa terambil (Swirr). Metode pengukurannya sendiri
>>> valid banget karena alat ini sangat sensitif terhadap ion ion hidrogen yang
>>> ada di lubang pori. Tapi kita harus sedikit waspada terhadap pengukuran
>>> Swirr nya karena kondisi Swirr didapatkan dengan cara diputar dengan
>>> menggunakan centrifuge yang mana pembacaan nya sangat bergantung mata kita.
>>> Tapi untuk total porositasnya gak ada masalah.
>>>
>>> Jadi kalo kita sudah konfiden dengan data prositasnya, m bisa dihitung
>>> dengan rumus yang mas Yudi berikan.
>>>
>>> Monggo.
>>>
>>> udah dulu ah, ada order datang.
>>> nanti kita ngomong ngomong apa faktor faktor yang sangat berpengaruh
>>> terhadap a, m dan n.
>>> Kedepan nanti kita bicara pengukuran Rt (resistivitas dari partially
>>> saturated sample) yang akan menentukan perhitungan "n"
>>>
>>> lanjut laen kali.
>>>
>>>
>>>
>>> On Wed, Jun 15, 2011 at 6:25 PM, Yudiyoko Ega Sugiharto <
>>> [email protected]> wrote:
>>>
>>>> Bu Parvita,
>>>>
>>>> Koreksi overburden seharusnya dilakukan. Kalau kata sumber yg bisa
>>>> dipercaya sih "Overburden correction can reduce the porosity from 0.5-1.0
>>>> p.u. (ratio: 0.90-0.97):.
>>>> jadi setelah koreksi, porositas-nya bisa 0.9-0.97 kali dari awalnya.
>>>>
>>>> Archie Formula:
>>>> (Sw^n)= FF(Rw/Rt)
>>>> Jika Sw= 100% maka Ro=Rt
>>>> Formation Factor=a/(porositas^m)=Ro/Rw
>>>> Resistivity Index=RI=1/(Sw^n)=Rt/R0
>>>>
>>>> Dari rumus di-atas sudah jelas bahwa porositas cukup menentukan dalam
>>>> Electrical Measurement CCAL.
>>>>
>>>> Dari sumber yang bisa dipercaya: nilai *m* setelah koreksi overburden=
>>>> nilai *m* ambient+0.05 sampai nilai *m* ambient+0.1 (ratio 1.05-1.1).
>>>> jadi setelah dikoreksi akan didapatkan nilai m yang lebih besar.
>>>>
>>>> Sumber kesalahan dari kalkulasi porositas CCAL: pencucian,
>>>> pengeringan,pengukuran reservoir stress, jenis texture,
>>>> Representavity/homogeneity. Pengeringan pada suju 80 degC seringkali
>>>> menyebabkan mineral lempung rusak (shale collapse) sehingga menambah nilai
>>>> porositas. Disarankan di suhu 60 degC saja, nggak usah panas2.
>>>>
>>>>
>>>> Ketidakpastian nilai m:
>>>> - Error porositas versus error m
>>>> - m overburden versus m ambient (nilai m meningkat sebanding dengan
>>>> porositas)
>>>> - Plugs anisotropy (bedding, fissures, conductive minerals, dll)
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> Ketidakpastian nilai m:
>>>> -Plugs harus di_de-saturated
>>>> - Jangan pakai plugs apabila Sw mini > 40-50%.
>>>> - Error pada porositas --> error pada Sw --> eror pada nilai n
>>>> - Hysteresis on RI ; Sheath effect on Pc and RI yang akan menghasilkan
>>>> artificial porositas hingga 2 kali lipat (Swanson, 1985)
>>>>
>>>>
>>>> Berikut ada rujukan tambahan:
>>>> ----
>>>> FORMATION RESISTIVITY MEASUREMENTS
>>>> (Core Lab, 2007, Application of Core Analysis In Reservoir Description &
>>>> Characterisation)
>>>>
>>>> Methods
>>>> Resistance is measured and converted to resistivity of the 100% or
>>>> partially brine-saturated sample. Tests normally made at ambient 
>>>> temperature
>>>> and net overburden pressure can be simulated.
>>>> ---
>>>> Effect of Overburden Pressure on Resistivity
>>>> (Buku: Torsæter & Abtahi, 2003, RESERVOIR ENGINEERING LABORATORY WORK
>>>> BOOK, Norwegian University of Science and Technology)
>>>> Confinement or overburden pressure may cause a significant increase in
>>>> resistivity. This
>>>> usually occurs in rocks that are not well cemented and in lower porosity
>>>> rocks. Archie, as
>>>> mentioned before, reported results of correlating laboratory
>>>> measurements of formation
>>>> factor with porosity in the form
>>>> F m _6.11_ _
>>>> _ _
>>>> Wyllie investigated the influence of particle size and cementation
>>>> factor on the formation
>>>> factor of a variety of materials. He concluded that the cemented
>>>> aggregates exhibit a
>>>> greater change in formation factor with a change in porosity than the
>>>> unconsolidated
>>>> aggregates. Then, the general form of the relation between formation
>>>> factor and porosity
>>>> should be
>>>> F a m _6.12_ _
>>>> _ _
>>>> where m is a constant depending on cementation and a a constant
>>>> controlled by the
>>>> porosity of the unconsolidated matrix prior to cementation.
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> Salam,
>>>> YES
>>>>
>>>>
>>>> Sent from my BlackBery® wireline handheld
>>>> Sinyal Bagus Indonesia, Nyambung Teruuusss...!
>>>>
>>>>
>>>> --- On *Wed, 6/15/11, Parvita Siregar <
>>>> [email protected]>* wrote:
>>>>
>>>>
>>>> From: Parvita Siregar <[email protected]>
>>>>
>>>> Subject: [iagi-net-l] Formation resistivity factor (a, m, n)
>>>> To: "[email protected]" <[email protected]>
>>>> Date: Wednesday, June 15, 2011, 1:40 AM
>>>>
>>>>
>>>>  Teman2,
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> Di dalam SCAL, ada perhitungan formation resistivity factor a, m dan n
>>>> yang digunakan dalam petrophysics nantinya.  Di dalam pengukurannya,
>>>> ada yang diukur dalam lingkungan ambient, ada yang di lingkungan overburden
>>>> (formation pressure).  Apakah biasanya teman2 melakukan kedua-duanya
>>>> dalam analisa atau hanya melakukan yang overburden?  Biasanya berapa
>>>> banyak selisihnya, apakah sensitif?
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> Terimakasih banyak,
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> *Parvita H. Siregar*
>>>>
>>>> Chief Geologist
>>>>
>>>> Salamander Energy Indonesia
>>>>
>>>> Suite 1502, Indonesia Stock Exchange Bld.
>>>>
>>>> 15th Fl, Tower 2
>>>>
>>>> Jln. Jend. Sudirman Kav. 52-53
>>>>
>>>> Jakarta 12190, Indonesia
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> Tel: +62 21 5291 2900
>>>>
>>>> fax: +62 21 3000 4020
>>>>
>>>> mailto: 
>>>> [email protected]<http://mc/[email protected]>
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> P *Please consider the environment before you print***
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> *Disclamer:  This email (including any attachments to it) is
>>>> confidential and is sent for the personal attention of the intended
>>>> recipient only and may contain information that is priviledged, 
>>>> confidential
>>>> or exempt from disclosure.  If you have received this email in error, 
>>>> please
>>>> advise us immediately and delete it.  You are notified that using,
>>>> disclosing, copying, distributing or taking any action in reliance on the
>>>> contents of this information is strictly prohibited.*
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>
>>>
>>
>>
>> --
>> Regards,
>>
>> Roy Elikson Sidabutar
>>
>
>


-- 
Regards,

Roy Elikson Sidabutar

Kirim email ke