Pernah ikut mengerjakan naturally fracture (tight limestone) gas reservoir.
Semua characterization dari fracture didapat dengan image log, kombinasi dari 
core, FMI dan UBI hingga bisa memberikan indikasi apakah fracture masih terbuka 
atau sudah tertutup. Seismik yang dikalibrasi dengan analysis image log (dan 
core) kebetulan didaerah ini sedikit banyak bisa memberikan indikasi semi 
kuantitatif dimana daerah-daerah yang fracture-prone dan yang tidak.
Schlumberger (dan saya yakin yang lainnya juga) punya 'rumus' untuk mengubah 
data-data fracture dari image log seperti aperture, length dan density menjadi 
porosity.
Dari segi volumetric, ternyata kehadiran fracture tidak banyak menambah 
Hydrocarbon in Place di lapangan ini. Praktis semua HIP tersimpan di matrix 
porosity yang kebanyakan juga cuma 2-3 pu (memang ada juga yang sampai 20 an pu 
di tempat-tempat dimana dolomite recrystalization terjadi). Cuma tentu 
ceritanya lain kalau kita bicara soal permeability dan well productivity dimana 
fracture berperan suangat penting....
Just my 2 dirhams (0.02 riyals)

--- On Sat, 18/6/11, kartiko samodro <[email protected]> wrote:

From: kartiko samodro <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Mengukur parameter petrophysic di fracture basement.
To: [email protected]
Received: Saturday, 18 June, 2011, 3:57 PM

Bicara tentang fracture basement, saya masih belum bisa membayangkan bagaimana 
kita mengambil parameter petrophysic yang digunakan untuk pengukuran cadangan. 
 
Yang pernah saya baca biasanya ada 3 type basement yang bisa menjadi reservoir 
: 
1. Fracture basement reservoir yang pertambahan porosity dan permeabilitynya 
banyak dikontrol oleh fracture , biasanya banyak di daerah yang telah 
terstrukturkan 
2. Unconformity basement yang biasanya karena proses unconformity tersebut maka 
terjadi pertambahan porosity dan permeability karena proses weathering dan 
erosion
3. Gabungan keduanya 
 
Nah sekarang bagaimana pengukuran petrophysicnya ?
 
Untuk yang fracture basement , saya baca kita bisa gabungkan antara standar dan 
image log 
Di daerah yang terlihat fracture kita bisa perkiraan porositynya dari susunan 
dan banyaknya fracture yang terlihat dari image log (obmi), sementara di daerah 
yang tidak terlihat fracturenya bisa kita lakukan estimasi dengan standar log 
(dens, neu, son)

 
Tapi yang jadi pertanyaan apakah kita harus melakukan banyak akusisi  image log 
tersebut untuk menentukan fracture network dan porosity batuan kita ? atau 
sebenarnya ada cara lain ? 
dari seismic misalnya ? apakah perlu dilakukan akusisi seismic khusus (multi 
azimuth seismic ?) untuk mengetahui jumlah dan network dari fracturenya  atau 
cukup dari standar seismic saja ? karena sepertinya image seismic di batuan 
beku akan blur.

 
Untuk yang karena weathered basement, apakah cukup dengan standar log atau 
perlu tool khusus seperti ecs sehingga bisa membantu untuk menentukan type 
mineraloginya ?
Dan apakah seismic bisa membantu menemukan lokasi lokasi di mana area dengan 
banyak weathered zone ?
 
Dan bagaimana menentukan bahwa suatu batuan tersebut mengandung hc ? karena 
batuan beku yang berhidrokarbon tapi dengan porositas yang kecil, pembacaan 
resistivitynya  tidak akan banyak berbeda dengan batuan beku yang tidak berpori.

 
Mungkin ada yang bisa share pengalaman,  bagaimana  melakukan estimasi 
petrophysic yang digunakan saat perhitungan cadangan di fracture basement, apa 
saja kendalanya dan bagaimana mengatasinya?
 
Terima  kasih sharingnya 
 
 
2011/6/16 Shofiyuddin <[email protected]>

kalo kita bicara fractured basement, saya berasumsi basement yang tight. 
Kalo ada fracture di basement, sulit sekali anda akan dapat corenya yang 
berarti anda dapat core di zona tight.
Di fractured reservoir, ada pepatah terbalik dalam hal petrophysics:
Kalo anda dapat data yang jelek, maka data itu adalah data terbaik yang anda 
punya karena mengindikasikan fracture
Kalo anda dapat dapat bagus, maka bisa dipastikan gak ada fracture atau paling 
tidak minimal sekali.




Sekali lagi, bicara SCAL, kita bicara batuan dulu.
Basement yang saya tahu cukup produktif menjadi reservoir adalah jenis betuan 
beku asam sampai intermediet (dari klas granit - granodiorit), jarang sekali 
saya menemukan yang level basa. basement yang juga sebagai reservoir adalah 
jenis metamop seperti quartzite dan silicified phillite.



batuan asam sampe intermediet ini banyak sekali mengandung mineral mineral dari 
asam (kuarsa sampai feldspar yang Na dan K) dan juga mineral mineral 
feromagnesian seperti keluarga ampibole dimana konsentrasi lebih sedikit 
dibandingkan dengan mineral yang asam. 

Mineral mineral yang berbeda tersebut mempunyai variasi berat jenis yang 
berbeda, sehingga penentuan porosity berdasarkan log densitas menjadi sangat 
tidak menentu alias akan mempunyai variasi yang tinggi. NMR yang diidentifikasi 
bebas dari jenis matrix masih belum bisa lepas dari pengaruh beberapa jenis 
mineral yang hydrous seperti klorit yang tentunya mengandung air. 



Pada umumnya, porositas di batuan beku kecil sekali, mungkin 1-2% saja. Anda 
bisa bayangkan bagaimana batuan yang tersusun oleh kristal hasil pendinginan 
magma ini mempunyai porositas dimana kristal satu dengan yang lain saling 
mengisi?

Tidak seperti batuan sediment yang terbentuk dari proses sedimentasi yang akan 
menyisakan rongga rongga diantara butirannya.


Kalo kita belajar kestabilan mineral, maka mineral mineral selain kwarsa 
mempunya derajat kestabilan yang kurang. Salah satu gejala yang umum darie fek  
ketidakstabilan mineral ini adalah dijumpainya feldspar yang banyak terkena 
korosi dan kemudian terlaterasi menjadi mineral mineral lempung. Proses korosi 
ini menghasilkan microporosity di feldpar yang kemudian diduga banyak orang 
berkontribusi terhadap total porosity batuan. 



Nah gas Helium ini bisa mencapai ukuran porosity itu. kalo memungkin bisa injek 
mercury mencapai 100,000 psi untuk mengetahui pore throat sizenya. Ingat bahwa 
kesalahan pengukuran sebesar 1 pu mengindikasikan kesalahan dari 50 sampe 100%. 
hm ..... khan porositynya cuma 1-2% aja? 



Nah kembali ke pertanyaan semula, apakah a, m dan n bisa dipakai untuk 
fractured basement? 


m tergantung porosity. Kalo porosity nya confident, secara teoritis m bisa 
dipakai. 
n? .... sangat tergantung dari Rt (resistivity dari partially saturated 
sample). Teknology seperti apa yang bisa men-desaturated batuan beku untuk 
dapat Swirr dengan porositas yang sangat rendah? 


ah dulu ah


eh iya, belum ngomongin a, m dan n itu sendiri ya? maaf untuk yang gak 
familiar. 



















 


2011/6/16 Roy Elikson Sidabutar <[email protected]>

Mantap sekali pencerahannya.
Mau bertanya donk kepada para ahlinya,
kalau pada basement fracture reservoir atau sejenisnya, apakah pengukuran dari 
SCAL ini bisa diaplikasikan langsung ke perhitungan petrophysicnya??atau apakah 
harus dilakukan koreksi-koreksi lain lagi sebelum diaplikasin?? atau mungkin 
dari hasil pengukuran SCAL tidak bisa dipergunakan specialy for basement 
fracture reservoir??

Mohon pencerahannya..

Trimakasih dan salam a,m n

Roy Elikson Sidabutar


Pada 16 Juni 2011 08:42, Shofiyuddin <[email protected]> menulis: 





Vita, kayaknya mau pindah profesi nih? 

Sekedar nambahin sedikit aja eksplanasi dari mas Yudiyoko. 


Hal pertama yang perlu diingat adalah bahwa electrical properties (a, m, n) 
TIDAK DIUKUR melainkan merupakan produk turunan hasil best curve fit yang 
berupa gradient (untuk m dan n) dan intercept untuk a dari parameter parameter 
yang diukur (porosity, resistivitas air formasi Rw, resistivititas formasi baik 
yang fully saturated Ro dan partially saturated Rt) seperti yang mas Yudiyoko 
sebutin di bawah.

jadi, a, m dan n sangat tergantung dari keakuratan pengukuran parameter yang 
diukur tadi.


Kembali ke laptop.
Bagaimana sensitifitas a, m dan n terhadap dua kondisi pengukuran yang berbeda, 
yaitu ambient (biasanya di level 800 psi) dan NOB yang besarnya tergantung 
formasi. 


Mari kita tinjau satu satu dari parameter yang diukur:


Porosity (ambient vs NOB): 
Faktor utama yang sensitif adalah 
1. tingkat kompresibiltas batuan yang sangat tergantung dari komposisi batuan 
sendiri. Batu dengan banyak kandungan mineral clay/shale akan jauh lebih mudah 
terkena kompresi dibandingkan dengan batu yang lebih pure semisal shaley sand 
dan quartzose. Saya gak ahli klastik, tapi saya yakin cukup banyak pengaruhnya. 

2. Jenis clay yang terkadung dalam batuan. Clay yang masih mengandung banyak 
air (grup smectite/montmorillonite) akan lebih mudah terkompresi dibanding 
dengan clay yang tidak mengandung banyak air seperti illite.

3. Untuk Limestone dengan komposisi yang muddy (mudstone, wackestone) lebih 
mudah terkompresi dibandingkan dengan yang graindstone, packstone, framestone 
dan boundstone.


Porosity (pengukuran)


1. Pengeringan sample. Clay mineral sangat sensitif terhadap temperature. Salah 
salah menerapkan besarnya suhu bisa mengakibatkan perubahan struktur mineral 
clay yang akan berimpak terhadap hasil pengukuran porosity terutama untuk clay 
dengan stuktur air didalamnya. Salah satu yang biasa dipakai adalah humidity 
drying yang besarnya kira kira 65 derajat celcius. Pada suhu ini diperkirakan 
struktur clay mineral tidak berubah dan tidak akan menghilangkan air yang 
terikat (clay bound water).  Untuk limestone, saya menggunakan suhu di sekitar 
angka 90-95 derajat Celcius karena sudah dicoba di angka 115 dan sample 
cracking. 

2. Saat ini yang sering dipakai adalah injeksi gas Helium. Beberapa "orang" 
mencoba mengukur porositas dengan mercury. yang terakhir ini bisa saja, tapi 
ongkosnya lebih mahal dimana sample sudah tidak bisa digunakan lagi dan harus 
dibuang. Dan yang kedua, interpretasi terhadap porosity harus hati hati karena 
ada effect "comformance" dimana mercury akan cenderung mengisi bagian bagian 
luar sample yang tidak rata tapi seakan akan mengisi pore.

3. Dengan NMR. Bisa untuk mendapatkan porositas efektif dan porositas dari air 
yang tidak bisa terambil (Swirr). Metode pengukurannya sendiri valid banget 
karena alat ini sangat sensitif terhadap ion ion hidrogen yang ada di lubang 
pori. Tapi kita harus sedikit waspada terhadap pengukuran Swirr nya karena 
kondisi Swirr didapatkan dengan cara diputar dengan menggunakan centrifuge yang 
mana pembacaan nya sangat bergantung mata kita. Tapi untuk total porositasnya 
gak ada masalah.



Jadi kalo kita sudah konfiden dengan data prositasnya, m bisa dihitung dengan 
rumus yang mas Yudi berikan.


Monggo. 


udah dulu ah, ada order datang. 
nanti kita ngomong ngomong apa faktor faktor yang sangat berpengaruh terhadap 
a, m dan n. 
Kedepan nanti kita bicara pengukuran Rt (resistivitas dari partially saturated 
sample) yang akan menentukan perhitungan "n" 


lanjut laen kali.








On Wed, Jun 15, 2011 at 6:25 PM, Yudiyoko Ega Sugiharto 
<[email protected]> wrote:






Bu Parvita,


Koreksi overburden seharusnya dilakukan. Kalau kata sumber yg bisa dipercaya 
sih "Overburden correction can reduce the porosity from 0.5-1.0 p.u. (ratio: 
0.90-0.97):.
jadi setelah koreksi, porositas-nya bisa 0.9-0.97 kali dari awalnya.


Archie Formula:
(Sw^n)= FF(Rw/Rt)
Jika Sw= 100% maka Ro=Rt
Formation Factor=a/(porositas^m)=Ro/Rw
Resistivity Index=RI=1/(Sw^n)=Rt/R0


Dari rumus di-atas sudah jelas bahwa porositas cukup menentukan dalam 
Electrical Measurement CCAL.


Dari sumber yang bisa dipercaya: nilai m setelah koreksi overburden= nilai m 
ambient+0.05 sampai nilai m ambient+0.1 (ratio 1.05-1.1). jadi setelah 
dikoreksi akan didapatkan nilai m yang lebih besar.



Sumber kesalahan dari kalkulasi porositas CCAL: pencucian, 
pengeringan,pengukuran reservoir stress, jenis texture, 
Representavity/homogeneity. Pengeringan pada suju 80 degC seringkali 
menyebabkan mineral lempung rusak (shale collapse) sehingga menambah nilai 
porositas. Disarankan di suhu 60 degC saja, nggak usah panas2.





Ketidakpastian nilai m:
- Error porositas versus error m
- m overburden versus m ambient (nilai m meningkat sebanding dengan porositas)
- Plugs anisotropy (bedding, fissures, conductive minerals, dll) 






Ketidakpastian nilai m:
-Plugs harus di_de-saturated
- Jangan pakai plugs apabila Sw mini > 40-50%.
- Error pada porositas --> error pada Sw --> eror pada nilai n
- Hysteresis on RI ; Sheath effect on Pc and RI yang akan menghasilkan 
artificial porositas hingga 2 kali lipat (Swanson, 1985)




Berikut ada rujukan tambahan:
----
FORMATION RESISTIVITY MEASUREMENTS
(Core Lab, 2007, Application of Core Analysis In Reservoir Description & 
Characterisation)


Methods
Resistance is measured and converted to resistivity of the 100% or partially 
brine-saturated sample. Tests normally made at ambient temperature and net 
overburden pressure can be simulated.
---
Effect of Overburden Pressure on Resistivity
(Buku: Torsæter & Abtahi, 2003, RESERVOIR ENGINEERING LABORATORY WORK BOOK, 
Norwegian University of Science and Technology)
Confinement or overburden pressure may cause a significant increase in 
resistivity. This
usually occurs in rocks that are not well cemented and in lower porosity rocks. 
Archie, as
mentioned before, reported results of correlating laboratory measurements of 
formation
factor with porosity in the form
F m _6.11_ _
_ _
Wyllie investigated the influence of particle size and cementation factor on 
the formation
factor of a variety of materials. He concluded that the cemented aggregates 
exhibit a
greater change in formation factor with a change in porosity than the 
unconsolidated
aggregates. Then, the general form of the relation between formation factor and 
porosity
should be
F a m _6.12_ _
_ _
where m is a constant depending on cementation and a a constant controlled by 
the
porosity of the unconsolidated matrix prior to cementation. 






Salam,
YES


Sent from my BlackBery® wireline handheld 
Sinyal Bagus Indonesia, Nyambung Teruuusss...!

--- On Wed, 6/15/11, Parvita Siregar <[email protected]> 
wrote:



From: Parvita Siregar <[email protected]> 

Subject: [iagi-net-l] Formation resistivity factor (a, m, n)

To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Wednesday, June 15, 2011, 1:40 AM 







Teman2, 
 
Di dalam SCAL, ada perhitungan formation resistivity factor a, m dan n yang 
digunakan dalam petrophysics nantinya.  Di dalam pengukurannya, ada yang diukur 
dalam lingkungan ambient, ada yang di lingkungan overburden (formation 
pressure).  Apakah biasanya teman2 melakukan kedua-duanya dalam analisa atau 
hanya melakukan yang overburden?  Biasanya berapa banyak selisihnya, apakah 
sensitif? 

 
Terimakasih banyak,
 
Parvita H. Siregar
Chief Geologist 
Salamander Energy Indonesia
Suite 1502, Indonesia Stock Exchange Bld.
15th Fl, Tower 2
Jln. Jend. Sudirman Kav. 52-53
Jakarta 12190, Indonesia
 
Tel: +62 21 5291 2900
fax: +62 21 3000 4020
mailto: [email protected]

 
P Please consider the environment before you print

 
Disclamer:  This email (including any attachments to it) is confidential and is 
sent for the personal attention of the intended recipient only and may contain 
information that is priviledged, confidential or exempt from disclosure.  If 
you have received this email in error, please advise us immediately and delete 
it.  You are notified that using, disclosing, copying, distributing or taking 
any action in reliance on the contents of this information is strictly 
prohibited.

 




-- 
Regards,

Roy Elikson Sidabutar



Kirim email ke