Terimakasih pak reki. noted, kata kuncinya fracture networkes. Dalam kegiatan mapping detail, sejauh dan sebanyak apa kita harus ukur fracture, order ketiga dalam skala 1:2500,apakah ini penting? Apakah data ini signifikan? Pengalaman saya sebelumnya, mengukur fracture 2 kecil,di satu sisi sangat membatu menentukan trend fault, disisi lain kadang membingungkan, ketika trend diperoleh di diagram roset, tidak sejalan dengan arah major fault yang diperoleh dari citra atau peta topografi, foto lapangan.
Terimakasih atas pencerahannya, saya sampaika juga pengalaman diatas pengalaman mencari cebakan mineral ekonomis (emas- low sulphidation- vein system), barangkali juga ada sedikit perbedaan konsep ketika melakukan mapping explotasi oil dan gas..sekali lagi terimakasih. Hormat saya, Dimi Sent from my iPad On Jun 22, 2011, at 11:39, reki indrawan <[email protected]> wrote: > Mas Ferdi > > Untuk memetakan/memodelkan fracture basement reservoir yang sangat perlu > diperhatikan adalah pemahaman tentang structural setting (compressional, > extensional, shear) baik skala regional maupun lokal lapangan. Ini nantinya > membantu pemahaman terhadap arah2 open fracture yang ada (QC/calibrasi > fracture picked dari image log). Biasanya fracture intensity akan sangat > berasosiasi dengan interpetasi fault dari seismic (fault damage zone) jadi > tidak murni random. > > Selain itu untuk bisa mengetahui zona weathering biasanya adalah pada daerah2 > paleohigh pada masanya. Sedangkan untuk mengetahui zona alterasi bisa dilihat > dari zona-zona kontak/intrusi (granite, diorite dll) yang akan memberikan > pengaruh hydrothermal yang akan menyebabkan adanya alterasi, dissolution dari > mineral2 feldspar menjadi mineral2 lempungan hasil alterasi seperti sericite > yang nantinya akan berasosiasi terhadap terbentuknya porositas. Data2 gravity > magnetic akan sangat membantu untuk penentuan paleohigh dan asosiasinya > terhadap intrusi batuan beku. > > Untuk penentuan lokasi sumur pengeboran, biasanya teknik yang dilakukan > dengan slanted/highly deviated to horizontal well. Tentu saja pemahaman > terhadap arah/orientasi fracture akan sangat menentukan penentuan azimuth > dari sumur yang akan kita bor (well azimuth perpendicular terhadap arah > dominan open fracture). Interpretasi fault dari seismic tentu akan sangat > membantu di dalam proses well planning (fault damage zone), tentu saja > setelah ada kalibrasi dengan interpretasi image dan core dari sumur2 > sebelumnya. Kalau kita punya data interference test dari sumur2 sebelumnya > juga bisa membantu untuk well planning, kata kuncinya adalah fracture > networks (konektifitas) yang sangat dikontrol oleh arah/orientasi dari open > fracture yang ada. > > Salam, > Reki >

