Mas Ferdi Untuk memetakan/memodelkan fracture basement reservoir yang sangat perlu diperhatikan adalah pemahaman tentang structural setting (compressional, extensional, shear) baik skala regional maupun lokal lapangan. Ini nantinya membantu pemahaman terhadap arah2 open fracture yang ada (QC/calibrasi fracture picked dari image log). Biasanya fracture intensity akan sangat berasosiasi dengan interpetasi fault dari seismic (fault damage zone) jadi tidak murni random.
Selain itu untuk bisa mengetahui zona weathering biasanya adalah pada daerah2 paleohigh pada masanya. Sedangkan untuk mengetahui zona alterasi bisa dilihat dari zona-zona kontak/intrusi (granite, diorite dll) yang akan memberikan pengaruh hydrothermal yang akan menyebabkan adanya alterasi, dissolution dari mineral2 feldspar menjadi mineral2 lempungan hasil alterasi seperti sericite yang nantinya akan berasosiasi terhadap terbentuknya porositas. Data2 gravity magnetic akan sangat membantu untuk penentuan paleohigh dan asosiasinya terhadap intrusi batuan beku. Untuk penentuan lokasi sumur pengeboran, biasanya teknik yang dilakukan dengan slanted/highly deviated to horizontal well. Tentu saja pemahaman terhadap arah/orientasi fracture akan sangat menentukan penentuan azimuth dari sumur yang akan kita bor (well azimuth perpendicular terhadap arah dominan open fracture). Interpretasi fault dari seismic tentu akan sangat membantu di dalam proses well planning (fault damage zone), tentu saja setelah ada kalibrasi dengan interpretasi image dan core dari sumur2 sebelumnya. Kalau kita punya data interference test dari sumur2 sebelumnya juga bisa membantu untuk well planning, kata kuncinya adalah fracture networks (konektifitas) yang sangat dikontrol oleh arah/orientasi dari open fracture yang ada. Salam, Reki

