Pak Awang,...
 
Terimakasih untuk pencerahannya.
 
(sedikit koreksi, maksud saya N9-N13 bukan N10-N13).
 
Sejauh pengamatan saya dilapangan (sepanjang Kali Ngalang dan Kali Widoro), 
Formasi Sambipitu mememiliki beberapa cycle endapan tubidit, karakter ini 
semakin menipis keatas. Saya hanya kuatir, fosil yang mengindikasikan umur 
N4-N5 tersebut merupakan reworked fossil dari longsoran arus turbit, karena 
dibeberapa sampel yang saya ambil di Kali Ngalang dan Widoro menunjukkan 
kehadiran Globigerinoides nana, dan Globigernoides primordius, (umur relatif 
N4-N5) hadir bersama Praeorbulina transitoria (umur relatif N9) dan fosil-fosil 
yang memiliki range umur relatif N9-N13 (Miosen Tengah). Sedangkan di bagian 
bawah Formasi Oyo saya ambil sampel memiliki kandungan fosil Globigerenita 
naparimaensis, Orbulina universa, Orbulina bilobata dan Globigerinoides 
immaturus sehinga jika ditarik umur relatif menunjukkan umur N14-N15 (Miosen 
Tengah Atas - Miosen Akhir Bawah). 
Saya juga agak bingung dengan umur Formasi Sambipitu, karena beberapa peneliti 
menyebutkan formasi ini memiliki umur N9-N10 (Surono dkk, 1992) sedangkan dalam 
Sumarso & Ismoyowati (1975) menyebutkan zona N4-N5 merupakan umur Formasi 
Kebobutak.
 
Pertanyaan saya: Jika diklasifikasikan secara unit genetik tektonostratigrafi, 
Formasi Sambipitu ini masih termasuk Primary Volcanisme (Part of OAF 
Oligo-Miocene) atau termasuk setelah peristiwa "paket" Volcanisme OAF/ reworked 
volcanic (Post-OAF) pak?
 
Mohon pencerahannya lagi.
 
Terimakasih.
 
Salam:
Vian Bonny
"geologist wanna be"
 
 
 
 
From: Awang Harun Satyana <[email protected]>
To: "'[email protected]'" <[email protected]>
Cc: 'Vian Bonny' <[email protected]>
Sent: Tuesday, August 2, 2011 3:01 PM
Subject: [iagi-net-l] Kisruh Umur Sambipitu - Oyo? (was: Kompleks Gunungapi 
Bawahlaut.....)


Vian,
 
Muda sekali umur Sambipitu kalau N10-N13, juga Oyo; masuk ke umur Wonosari. 
Coba kita telusuri lagi Formasi Sambipitu ini.
 
Bothé (1929) adalah yang pertama memetakan Sambipitu dan Wonosari Beds. Lima 
tahun kemudian (Bothé, 1934) memetakan unit lain di antaranya, yaitu yang 
disebutnya  Ojå Beds (Oyo dalam literatur2 saat ini). Bothé (1929) memetakan 
Sambipitu Beds sebagai soft (low relief), green to greenish brown mudstones and 
volcanigenic sandstones di atas breksi Nglanggran Beds. Sambipitu mengandung 
traces of microfossils; yang merupakan penanda pertama  marine fossils di atas 
Kebo Beds. Wonosari Limestone tentu lebih banyak mengandung fosil dan jauh 
lebih sedikit kandungan tufnya, juga Wonosari bersifat reefal facies, menutupi 
areal yang luas di Pegunungan Selatan dan kita tahu formasi inilah yang 
membentuk karst topography di Pegunungan Selatan (Gunung Sewu).
 
Sekarang tentang umur, yang ingin saya diskusikan lebih jauh. Ada hal sangat 
penting untuk masalah ini yang tak boleh dilupakan oleh semua peneliti geologi 
Pegunungan Selatan, yaitu kehadiran angular unconformity di ujung Old Andesite 
sebelum masuk ke formasi2 di atasnya (Sambipitu, Oyo, Wonosari). Bothé (1929) 
sudah memetakan angular unconformity ini berdasarakan dips dan overlapping 
field relationships. Unconformity ini menunjukkan pengangkatan Jiwo Hill dan 
deformasi older strata di wilayah ini.
 
Penelitian Bothé’s yang cermat ini, dalam pandangan saya, sayang sekali suka 
tak diperhatikan oleh kebanyakan peneliti selanjutnya, yang mengabaikan 
pentingnya  terminasi Old-Andesite oleh angular unconformity dan iniasiasi 
sekuen baru sedimentasi. Tetapi publikasi dari  Kadar (1986) sangat baik 
melakukan pentarikhan atas unconformity ini. Pak Darwin Kadar melakukan 
plotting lokasi-lokasi sampel dan full faunal listing sambil mengikuti skema 
litostratigrafi  dari para pemeta lapangan yang memasukkan Oyo area (dan 
unconformity event), juga dengan satuan Sambipitu. Beberapa sampel yang 
ditelitinya masuk ke dalam tipe Sambipitu Beds sensu stricto Bothé, dan 
mengandung Globorotalia kugleri dan  G. pseudokugleri. Kedua spesies ini 
extinct pada 21.5 and 21.6 mybp - bila kita korelasikan dengan geomagnetic 
polarity time scale (Berggren et al., 1995). Datum pertama itu ekivalen dengan 
top of zone N4. Di dalam Oyo Beds sendiri, yang diendapkan di atas
 Bothé’s angular unconformity, kandungan fosil dari Pak Kadar mengindikasi N6 
(Globigerinatella insueta) dan  N8, N9 evolutionary sequence Praeorbulina - 
Orbulina. Dari sini, maka jelas bahwa umur Sambipitu itu pada batas N4/N5, dan 
Oyo bisa sampai N8.
 
Nah, kisruh umur Sambipitu di daerah Ngalang itu harus diwaspadai disebabkan 
sampling batuan pada debris-flow beds yang memang menyerupai Sambipitu beds 
yang mengandung sporadic larger foraminifera seperti Cycloclypeus annulatus 
yang menunjukkan umur di atas bagian bawah Upper Tf. Di wilayah ini, makin ke 
atas deep marine faunas sedimen berkarakter turbidit beralih menjadi mixed 
planktonic dan larger foram limestone yang umurnya bisa N11-12 (di kisaran umur 
yang Vian temukan), sebelum planktonic component-nya berkurang dan digantikan 
oleh carbonate debris yang mengandung koral.
 
Pola struktur sedimentasi debris-flow di satuan yang dianggap Sambipitu di 
wilayah Ngalang itu harus dicermati sebab Sambipitu tidak pernah masuk kedalam  
Miosen Tengah. Stratigrafi dan umur yang ‘primer’ (bukan ‘sekunder’ seperti 
hasil debris flow) yang terbaik untuk stratigrafi Sambipitu-Oyo bisa dilakukan 
di section Kali Widoro-Oyo.
 
Salam,
Awang
 
From:vian bonny [mailto:] 
Sent: 02 Agustus 2011 1:08
To: [email protected]
Cc: 'Awang Satyana'
Subject: Re: [iagi-net-l] Kompleks Gunungapi Bawahlaut "Old Andesites" Tanjung 
Aan, Lombok
 



Pak Awang,..
 
Ikut diskusi: seingat saya (dari previuos studies) dan dari studi yang pernah 
saya lakukan di daerah Ngalang (Sambipitu) dan sekitarnya pada tahun 2010, umur 
Formasi Sambipitu adalah N10-N13 (Miosen Tengah). Memiliki sekuen trangresif, 
dari perselingan batupasir dan batulanau dengan sisipan breksi konglomeratik 
(bagian bawah) berubah menjadi perselingan batulanau dan batulempung dengan 
sisipan batupasir dan batugamping (bagian atas), kemudian dilanjutkan dengan 
pengendapan Formasi Oyo (N14) yang dominan batugamping klastik. Batupasir 
Formasi Sambipitu pada bagian bawah didominasi oleh feldspartic-lithicarenite 
yang banyak mengandung pecahan batuan beku andesit yang merupakan reworked dari 
formasi dibawahnya (Ngglanggran?) dan beberapa pecahan fosil. Lithostratigrafi 
Formasi Sambipitu dipakai untuk stratigrafi daerah Pegunungan Selatan, 
sedangkan di Kulonprogo ekuivalen dengan Formasi Sentolo. Interpretasi saya, 
Formasi Sambipitu adalah menandai
 "matinya" OAF (Post-OAF).
 
Salam:
Vian Bonny
"geologist wanna be"
 
 
 
 
From:Awang Harun Satyana <[email protected]>
To: "'[email protected]'" <[email protected]>
Cc: 'Awang Satyana' <[email protected]>
Sent: Monday, August 1, 2011 1:35 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Kompleks Gunungapi Bawahlaut "Old Andesites" Tanjung 
Aan, Lombok
Abah,
 
Di Kulonprogo (Nanggulan) Formasi batugamping Jonggrangan (N7-N12, Miosen 
Awal-Miosen Tengah; Lunt, 2004 -unpublished) betul duduk di atas Old Andesite 
Miosen Awal N4-N5; jadi ada hiatus; tetapi deeper facies Jonggrangan 
(shale-mudstone) duduk tanpa hiatus di atas Formasi Sentolo (N5-N7) yang 
sebagian ditafsirkan orang bagian paling atas Old Andesite. Betul juga bahwa 
sumur Borelis dan Alveolina (Bolliger & Ruiter, 1975, Proceedings IPA) 
menargetkan batugamping yang duduk di atas Old Andesite. Sumur Alveolina-1 
(Java Shell) menemukan karbonat Middle Miocene yang ekivalen Jonggrangan, 
tetapi sebagiknya tak menyebutnya sebagai Jonggrangan, melainkan Wonosari. 
Sedangkan sumur berikutnya, Borelis-1 tak menemukan gamping tersebut, sekuen 
Middle Mioene-nya hilang. 
 
Formasi Sambipitu N4/N5 (Miosen Awal), kelihatannya bagian transgresif dari old 
andesites di Pegunungan Jiwo & Pegunungan Kidul, didominasi shale dan tuf 
turbidit, secara umur ekivalen dengan apa yang terkenal sebagai First Breccia 
Tuff/ Waturanda (Harloff, 1935) di Karang Sambung. Batuannya lebih kurang 
mirip, bila Sambipitu dan formasi bawahnya, yaitu breksi Nglanggran dibawa 
sekaligus dan dikorelasikan ke Waturanda Karang Sambung yang didominasi tuff, 
shale dan breccia.
 
Secara lokal, Old Andesite volcanism telah terjadi pada Eosen, misalnya sisipan 
lapisan tuf di Formasi Bayah (Eosen Tengah) dan Cicarucup (Eosen Akhir), juga 
di beberapa tempat di Pegunungan Selatan Jawa, tetapi secara dominan, Old 
Andesite volcanism terjadi pada Aquitanian (Oligo-Miosen), terutama Miosen Awal 
(N4-N5). Ini sejalan dengan plot umur radiometri dari Soeria-Atmadja et al. 
(1994) yang menunjukkan dominasi umur2 Oligo-Miosen/Miosen Awal dibandingkan 
Eosen. Jelas, bahwa Jawa punya busur volkanik definitif pertama adalah pada 
Aquitanian, yang memanjang dari Sumatra bagian selatan – Sumbawa. Tak ada busur 
volkanik Eosen sejauh ini yang definitif di Jawa.
 
Salam,
Awang
 
From:Yanto R.Sumantri [mailto:[email protected]] 
Sent: 01 Agustus 2011 1:01
To: iagi-net
Subject: Re: [iagi-net-l] Kompleks Gunungapi Bawahlaut "Old Andesites" Tanjung 
Aan, Lombok
 
Pak Awang

Saya pernah melakukan pemetaan di Blok Kulon Progo .
Seingat saya batu gamping Formasi Jonggrangan itu alasnya adalah OAF ,
hal yang sama juga di sumur Shell Alveolina dan Borelis di laut Hindia.
Apa begitu ?

Kalau Formasi Sambiputi yang tersingkap di Kulon Progo itu korelasi dengan 
daerah Karang Sambung apa ya ?

si Abah.

On Mon, August 1, 2011 11:37 am, Awang Satyana wrote:
> Pak Agus,
> 
> Terima kasih atas koreksinya, mungkin penamaan Formasi 'Old Andesites'
> (OAF) di Kulon Progo sudah waktunya disesuaikan dengan yang berlaku
> menurut SSI (Sandi Stratigrafi Indonesia) yang telah diperbaharui
> (misalnya SSI revisi 1996). Juga beberapa hirarki stratigrafi Old
> Andesites ini di sepanjang Pegunungan Selatan masih belum taat asas
> (konsisten) dengan yang tertuang di SSI seperti penamaan Kelompok,
> Formasi, Anggota. Barangkali juga perlu meninjaunya lagi menggunakan
> konsep volkanostratigrafi karena Old Andesites dominan diendapkan sebagai
> endapan piroklastik dan epiklastik dari volkaniklastik.
> 
> Tentang 'fosil2' berbentuk pasir2 bulat2 di pantai Kuta dan Tanjung Aan
> yang seperti merica itu memang banyak geologist yang menduganya sebagai
> Orbulina sp., tetapi seorang peneliti mikropaleontologi dari LIPI pernah
> menuliskan bahwa itu bukan Orbulina tetapi fosil-fosil dari spesies
> Schlumbergerella floresiana (Adisaputra, 1991). Mencari info lebih detail
> tentang fosil ini saya belum dapat karena referensi tersebut tak tercantum
> di makalah yang saya baca.
> 
> salam,
> Awang
> 
> --- Pada Sab, 30/7/11, Agus <[email protected]> menulis:
> 
>> Dari: Agus <[email protected]>
>> Judul: Re: [iagi-net-l] Kompleks Gunungapi Bawahlaut "Old Andesites"
>> Tanjung Aan, Lombok
>> Kepada: "<[email protected]>" <[email protected]>
>> Tanggal: Sabtu, 30 Juli, 2011, 9:01 AM
>> Ulasan singkat yg menarik, mungkin
>> sedikit koreksi pak awang. Old andesites yg muncul di
>> kulonprogo, nama formasinya tetap OAF / Old Andesites
>> Formation, sementara di Pegunungan Selatan Yogya Jawatengah,
>> kelompok OligoMiosen tsb sering disebut sbg Kebo Butak Beds
>> atau Formasi Kebo Butak. Sementara pada OAF di Jatim
>> Selatan, sering disebut Formasi Besole, Mandalika. Jalur
>> volkanik OligoMiosen di bagian selatan jawa ini yg sdh cukup
>> banyak dipelajari kawan kawan geologist terkait dg alterasi
>> hidrotermal.
>>
>> Terkait daya tarik geowisata volkanik oligo-miosen di jatim
>> selatan yg rekomended adalah jalur grindulu, mulai dari kota
>> pacitan sampai tegalombo - slahung di ponorogo. Ke arah
>> timur, jalur landskap volkanik oligo miosen yg sgt menarik
>> ada di pinggiran pantai selatan mulai dari trenggalek -
>> tulungagung terutama yg membentuk volcanic cliffed coast.
>>
>> Pak Awang, butiran pasir merica yg ada di Pantai Kutai
>> Lombok Selatan, bukankah itu dari pasir orbulina, spesies
>> foram kecil yg teronggok di tepian pantai Kuta sbg akibat
>> penampian dari arus dasar yg merupakan ciri oceanografik
>> dari samudera indonesia. Pasir merica foram kecil / orbulina
>> tsb memang sgt uniq dan fenomenal untuk dijadikan souvenir
>> yg sdh terolah dan dikreasi dg beberapa kelompok gastropoda
>> maupun moluska yg dikeringkan dari pantai tsb.
>>
>> Salam,
>> gus hend.89
>>
>> Sent from my iPad
>>
>> On 26 Jul 2011, at 07:50, Awang Satyana <[email protected]>
>> wrote:
>>
>> Gunungapi bisa terjadi di dua lingkungan: darat dan laut.
>> Gunungapi daratan, sebut  saja terrestrial volcanoes
>> sudah biasa kita lihat misalnya gunung2 api Kuarter di
>> Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara (jalur Kerinci-Merapi-Rinjani).
>> Kita dengan cukup mudah bisa mengenal morfologinya,
>> mempelajarinya dengan detail pun tinggal kita daki
>> gunungnya. Bagaimana dengan gunungapi bawahlaut (submarine
>> volcanoes) ? Contohnya yang Kuarter pun mungkin susah kita
>> ------------cut
> 
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
> --------------------------------------------------------------------------------
> Ayo siapkan diri....!!!!!
> Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
> September 2011
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> 
> For topics not directly related to Geology, users are advised to post the
> email to: [email protected]
> 
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event
> shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to
> direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting
> from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with
> the use of any information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> 


-- 
_______________________________________________
Nganyerikeun hate batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma 
hirupna pada ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.

Kirim email ke