Pak Koesoema Yth,

Bagi saya (dan bbrp teman) yg banyak di lapangan, melihat PSC dan CR itu agak 
rumit dan jelimet, walaupun sebenarnya PSC itu spiritnya sangat bagus, buktinya 
diadopsi bbrp negara tetangga. 
Mungkin "fungsi pengawasan" yang perlu ditingkatkan. Kami mempunyai kesan bahwa 
bbrp investor (oil co.) seolah-olah kurang "berhemat" (efisien) karena merasa 
bahwa pengeluarannya akan masuk CR.
Menurut seorang teman (Petroleum eng.) bahwa negara tetangga yg mengadopsi PSC 
kita perlu menerapkan "revenue over cost", artinya bahwa mereka para investor 
diberi "formula" , yaitu tadi revenue/cost. Ini ada hubungannya dengan "split" 
keuntungan; kalau angka revenue/costnya bagus, mungkin splitnya tidak 85%-15% 
tetapi bisa 80%-20%, tetapi kalau angkanya jeblok, bisa-2 hanya 90%-10%. Dengan 
demikian para investor akan melakukan self-efficiency atau penghematan.

Seorang teman yang lain, yang pernah mendapat penugasan "seberang lautan" 
(overseas assignment) ke negara tetangga (yg mengadopsi PSC kita) punya 
pengalaman lain. Walaupun perusahaan tempat dia bekerja masih dalam tarap 
eksplorasi (artinya belum ada CR) tetapi "BPMIGAS"-nya negara tersebut secara 
rutin akan melakukan audit yg ketat. Saya katakan ketat karena hanya biaya dua 
ratus USD untuk proses data seismik saja mereka tanyakan dengan detail. 
Misalnya kegunaannya untuk apa, barangnya di mana dll. dan bahkan ketika ada 
biaya untuk ikut IPA di Jakarta, ini pun juga sempat dipersoalkan karena mereka 
merasa tidak perlu untuk membiayai konvensi, namun ketika dijelaskan bahwa 
teman ini ikut kursus (penting) di Jkt yang waktunya beriringan dengan konvensi 
IPA, alasan ini bisa diterima.
Setelah mereka selesai mengaudit, maka giliran berikutnya audit oleh 
Pricewaterhouse (mungkin sbg second opinion?).
Katanya, mereka perlu audit sekarang, sebab kelak kalau perusahaan sudah 
berhasil, ada pengembangan dan POD, mereka sudah tidak perlu mengaudit lagi. 
Wah, ini ide yang bagus!

Selama ini saya sering mendengar kabar keberhasilan teman-2 di perusahaan lain 
bahwa mereka berhasil discovery, sementara itu saya bekerja di perusahaan yang 
cukup sukses, karena dalam waktu kurang dari 2-3 tahun berhasil menemukan +/- 
10 "new oil fields". Artinya bahwa para geosaintis kita sangat profesional dan 
mumpuni, namun kelihatannya kok kontribusi ke perekonomian nasional kurang 
begitu nampak ya?. Mungkin para akhli kita baik yang duduk di lembaga-2 
pemerintah maupun di perguruan tinggi perlu membicarakannya.

Sekian dulu, salah hormat.
Sugeng
 
  ----- Original Message ----- 
  From: [email protected] 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, September 26, 2011 9:57 AM
  Subject: Re: [iagi-net-l] Re: [Geologi UGM] Cost Recovery = Investasi ?


  Paling gampang sih hilangkan saja cost recovery itu, tapi split dinaikkan 
sesuai dg kesepakatan pemerintah dan PSC, akan banyak membebaskan geologist 
dari pekerjaan administrasi, dan ikut berexplorasi. Juga akan memangkas 
birokrasi. Semua untung lah. RPK
  Powered by Telkomsel BlackBerry®


------------------------------------------------------------------------------

  From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> 
  Date: Mon, 26 Sep 2011 09:50:50 +0700
  To: <[email protected]>
  ReplyTo: <[email protected]> 
  Subject: Re: [iagi-net-l] Re: [Geologi UGM] Cost Recovery = Investasi ?


  2011/9/26 kartiko samodro <[email protected]>

    Mas Vicky
    Apa lalu sebaiknya cost recovery hanya akan diberlakukan berdasarkan 
persentase kenaikan jumlah produksi ?
    Sementara semua usaha / biaya yang dikeluarkan tanpa kenaikan jumlah 
produksi dianggap sebagai resiko dari kontraktor migas ? 

  Kalau di Malesa, CR diperhitungkan terhadap cost dikenal dengan ROC (Recovery 
over Cost). JAdi jumlah yang boleh di cost recovery akan ditentukan pada biaya. 
Malah mungkin lebih tepat kalau dibuat Split over cost, artinya split akan 
lebih bagus untuk operator apabila costnya rendah. Dalam hal ini maka operator 
akan sangat berkepentingan dalam mengoptimasi biaya supaya perolehan 
keuntungannya optimum. 
  Tetapi tentunya arrangement2 baru seperti ini untuk PSC yang akan datang, 
sedangkan PSC yang sudah berjalan tetap terikat pada kontrak yg sedang 
berjalan. 

  Ketika anda introduce "kenaikan" produksi, tentunya harus ada persetujuan 
base-line. Ini mengundang diskusi sangat lama.

  btw, aku masih bertanya-tanyi ttg Hatta Radjasa yang punya paradigma rada 
nyentrik spt disini : Hatta: Kemacetan Simbol Kemajuan Perekonomian 
  
http://economy.okezone.com/read/2011/08/07/20/489079/hatta-kemacetan-simbol-kemajuan-perekonomian


  RDP



------------------------------------------------------------------------------

  “Save a Tree” – Please consider the environment before printing this email.



“Save a Tree” – Please consider the environment before printing this email.

Kirim email ke