Ini ide yang menarik ! Ayo... temen2 eksplorasi BPMIGAS (Tyo, Asep, Nizar, Ujay, Cipi, Johnson, Shinta, dkk), urun pendapat, kan ada tuh data/tabel/grafik mengenai lamanya waktu dari lapangan2 migas se Indonesia, sejak mulai ditemukan (discovery) sampai dengan diproduksikan (first oil/gas). Memang untuk akhir2 ini lama waktu produksi itu lebih cepat, namun temuannya juga kecil2 saja, belum ada yang segede Duri atau Minas. Untuk gas yang besar mungkin ada Tangguh dan Abadi (Masela). Ada juga data temuan2 yang belum dikembangkan/belum diproduksikan, dengan berbagai alasan. Belum ada peraturan untuk POP di WK Eksplorasi (musti POD dulu), namun sudah ada insentif untuk lapangan marjinal dan untuk temuan “baru”. Ada juga data ratio expenditure di WK Produksi, dimana dalam waktu 10 tahun terakhir ini Exploration Expenditure bahkan lebih kecil dari Administration Expenditure, dan rata-rata 5-7 % dari keseluruhan expenditure (tahun depan kita ingin meningkatkan lagi menjadi 9-15 %). Tentu ini terkait juga dengan prospect & lead di WK tersebut (resources management).
Untuk saat ini, selain meminta KKKS melakukan kegiatan eksplorasi di WK-WK produksi, dan juga meningkatkan pelaksanaan komitmen eskplorasi pada WK-WK Eksplorasi, kita bisa melakukan mekanisme relinquishment atau pengembalian sebagian wilayah kerja, di WK produksi, pada area yang tidak juga dikembangkan atau tidak dilakukan kegiatan eksplorasi, sehingga area itu bisa diberikan oleh Pemerintah kepada perusahaan lain, dengan sejumlah komitmen pasti (survey seismik dan pengeboran). Ini adalah jenis relinquishment “suka rela” – bukan relinquishment yang ada pada kontrak -, atau Pemerintah dapat meminta area tersebut (kalo gak salah ada PP-nya tuh... tapi aku lupa nomer berapa). Apabila kontrak hendak diperpanjang (setelah melewati masa 30 tahun) - dimana ada sejumlah besar KKKS akan habis masa kontraknya di tahun2 mendatang (karena itu produksi kita menurun terus... wong semua lapangan2 di dalam PSC tersebut memang sudah tua) – maka kita bisa membatasi area KKKS tersebut pada kontrak yad, hanya untuk lapangan2 yang sudah ada/existing – jadi bener2 “production sharing”- , kecuali KKKS tersebut melaksanakan Komitmen pasti kegiatan eksplorasi, yang apabila tidak ditemukan hidrokarbon yang komersial untuk dikembangkan (dalam waktu tertentu) maka area tersebut harus dikembalikan lagi kepada pemerintah. Exploration Sharing Contract ? Menarik untuk dikaji ! Salam, Nuning From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] Sent: 06 Oktober 2011 10:55 To: IAGI; Indoenergy; [email protected] Subject: [iagi-net-l] Bukan sekedar muter keran - Perlu "Exploration Sharing Contract" Bukan sekedar muter keran. Gambar terlampir ini merupakan salah satu slide yang saya presentasikan kemarin diacara Panelis Discussion di Makassar. Slide menunjukkan bahwa jeda waktu (time lag) sejak diketemukan hingga mencapai puncak produksi migas itu berkisar 15-30 tahun !! (tercepat saat ini masih 5 tahun, dan untuk lapangan raksasa (Duri) memerlukan 50 tahun !) Jadi keputusan strategis itu ndak bisa dipakai untuk mendongkrak popularitas politis. Yang diperlukan saat ini adalah seorang negarawan sejati untuk memikirkan strategi masa depan negeri !! Saat ini untuk satu lapangan saja detilnya mungkin rata-rata sejak discovery hingga first oil 5-10 tahun, namun kebanyakan bahkan lebih dari 10 tahun. Untuk yang super cepat mengikuti prosedur POP (Put on Production) diamana dahulu sering disebut "prolong test", statusnya mirip ngetest produksi (DST) tetapi prinsipnya sebenarnya sudah memproduksikan. Menurut pengamatan selintas POP ini secara nasional mungkin dampak produksinya kecil (cmiiw). Walaupun memberikan nilai keekonomian lebih baik pada kontraktor sebagai insentif. Minyak Kita lihat dahulu untuk minyak (oil). Gambar terlampir ini menunjukkan lebih kepada dampak sebuah kebijakan strategis kedalam aggregat produksi untuk keseluruhan Indonesia. Memang tidak bisa dianggap hanya dampak kebijakan thok yang berpengaruh, harga minyak serta iklim investasi juga mempengaruhinya. Yang dapat dilihat disini antara lain adalah produksi yang langsung anjlok 30 tahun setelah PSC dicanangkan. Kalau melihat bahwa backgrond produksi dibaliknya ada Minas dan Duri yang merupakan andalan utama selama ini. Ini tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan besar akan di 'drive' oleh lapangan besar ini. Dan tentunya kita tahun bahwa satu periode produksi adalah 30 tahun. Tentusaja setiap investor akan mengoptimasi produksinya untuk masa 30 tahun ini. Wajar saja. Dan inilah yang saya maksudkan sebagai konsekuensi logis dari PSC adalah merosotnya produksi setelah habis satu masa PSC. Gas memiliki latar belakang sedikit berbeda, namun kalau dilihat dari lagtime sejak penemuan (discovery) hingga produksi juga memerlukan waktu yang sama (sama lamanya). Tentunya gas merupakan andalan masa depan. Hanya saja perlu difikirkan supaya pelajaran dari kisah anjloknya produksi minyak tidak berulang (yang mengagetkan) pada produksi gas nantinya. Perlu dibuat pemikiran lain supaya ada usaha eksplorasi menggantikan gas yang diproduksi dikenal dengan istilah penyeimbangan R/P (RtP - Reserves to production). EKSPLORASI Secara sederhana kita tahu bahwa saat ini yang diperlukan adalah meningkatkan kegiatan eksplorasi untuk mengganti migas yang diproduksi, sehingga industri migas tetap dan mampu berkesinambungan. Saat ini kontrak pengusahaan migas yang ada saat ini memang disebut sebagai PSC (PRODUCTION sharing contract) saat ini kita tahu bahwa eksplorasinya yg kurang berhasil, karena itu barangkali perlu EXPLORATION Sharing contract (ESC) ! Bagaimana kalau dibuat kontrak pengusahaan eksplorasi (ESC), bila lapangan yg diketemukan saat eksplorasi tsb tidak diproduksikan maka akan dibeli oleh negara seharga (sebagai contoh saja) 10% dari harga wajar saat itu. Artnya perusahaan yg melakukan eksplorasi tidak benar-benar rugi 100% bila eksplorasinya gagal mencapai nilai keekonomian. Karena bagaimanapun sumberdaya yang diketemukan suatu saat dapat dimanfaatkan oleh negara (suatu saat nanti). Dan pembelian cadangan "kecil" (marginal) ini suatu saat akan dimanfaatkan oleh negara (host country). Lets discuss and brain storm here ! Salam RDP -- "Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !" -- This email was Anti Virus checked by Administrator. http://www.bpmigas.go.id

