Om Vick
 
Betul sekali, perlu pembelajaran bagi semua stake holder  yang terlibat dalam 
industry MIGAS ini tentang jeda waktu antara penemuan dan produksi yang 
sekarang ini. Kesempatan bagus untuk melakukan hal ini sebagai ketua IAGI 
terpilih!
 
".....Bagaimana kalau dibuat kontrak pengusahaan eksplorasi (ESC), bila 
lapangan yg diketemukan saat eksplorasi tsb tidak diproduksikan maka akan 
dibeli oleh negara seharga (sebagai contoh saja) 10% dari harga wajar saat 
itu......"
 
Saya mencoba menelaah pemikiran diatas, berikut beberapa pendapat saya:
- Alasan suatu lapangan tidak di produksikan sudah tentu alasan ke ekonomian 
(di daerah yang tidak dispute)
- Bagaimana pemerintah suatu saat akan bisa memanfaatkannya sementara 
pemerintah bukanlah perusahaan minyak jadi sampai kapanpun tidak akan bisa 
langsung mengelolanya (kecuali menggunakan kepanjangan tangan NOC atau 
perusahaan minyak lain yang ditunjuk pemerintah)
- Penemuan tersebut terikat kontrak PSC yang ada, jadi tidak bisa di beli 
pemerintah
- Tidak perlu pemerintah membeli penemuan lapangan  tersebut walaupun dengan 
harga minimal karena pada akhir kontrak jika lapangan tersebut belum di 
produksi pasti harus di kembalikan ke pemerintah (contoh Natuna D Alpha)
- Mungkin yang diperlukan adalah terobosan terobosan baru dari pemerintah yang 
bisa mentrigger  penemuan-penemuan yang masih belum di produksi sehingga bisa 
diproduksi?
 
Berikut  beberapa penemuan yang sampai sekarang belum di produksi:
Merah Besar: Ditemukan November 1996
West Seno: Ditemukan Agustus 1998 produksi 5 agustus 2003
Bangka: : Ditemukan april 1999
Ranggas: Ditemukan tahun 2000
Sadewa:  Ditemukan tahun 2002
Gehem:  Ditemukan tahun 2003
Gendalo:  Ditemukan Jan 2000
Maha:  Ditemukan May 2002
Gandang:  Ditemukan Dec 1999
Abadi:  Ditemukan tahun 2000
Natuna D Apha  Ditemukan tahun 1973
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

--- On Thu, 10/6/11, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:


From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Bukan sekedar muter keran - Perlu "Exploration Sharing 
Contract"
To: "IAGI" <[email protected]>, "Indoenergy" <[email protected]>, 
[email protected]
Date: Thursday, October 6, 2011, 10:54 AM



Bukan sekedar muter keran.
 
Gambar terlampir ini merupakan salah satu slide yang saya presentasikan kemarin 
diacara Panelis Discussion di Makassar. Slide menunjukkan bahwa jeda waktu 
(time lag) sejak diketemukan hingga mencapai puncak produksi migas itu berkisar 
15-30 tahun !! (tercepat saat ini masih 5 tahun, dan untuk lapangan raksasa 
(Duri) memerlukan 50 tahun !) Jadi keputusan strategis itu ndak bisa dipakai 
untuk mendongkrak popularitas politis. Yang diperlukan saat ini adalah seorang 
negarawan sejati untuk memikirkan strategi masa depan negeri !!

Saat ini untuk satu lapangan saja detilnya mungkin rata-rata sejak discovery 
hingga first oil 5-10 tahun, namun kebanyakan bahkan lebih dari 10 tahun. Untuk 
yang super cepat mengikuti prosedur POP (Put on Production) diamana dahulu 
sering disebut "prolong test", statusnya mirip ngetest produksi (DST) tetapi 
prinsipnya sebenarnya sudah memproduksikan. Menurut pengamatan selintas POP ini 
secara nasional mungkin dampak produksinya kecil (cmiiw). Walaupun memberikan 
nilai keekonomian lebih baik pada kontraktor sebagai insentif.
 
Minyak
Kita lihat dahulu untuk minyak (oil). Gambar terlampir ini menunjukkan lebih 
kepada dampak sebuah kebijakan strategis kedalam aggregat produksi untuk 
keseluruhan Indonesia. Memang tidak bisa dianggap hanya dampak kebijakan thok 
yang berpengaruh, harga minyak serta iklim investasi juga mempengaruhinya. Yang 
dapat dilihat disini antara lain adalah produksi yang langsung anjlok 30 tahun 
setelah PSC dicanangkan. Kalau melihat bahwa backgrond produksi dibaliknya ada 
Minas dan Duri yang merupakan andalan utama selama ini. Ini tidak bisa 
dipungkiri bahwa keputusan besar akan di 'drive' oleh lapangan besar ini. Dan 
tentunya kita tahun bahwa satu periode produksi adalah 30 tahun. Tentusaja 
setiap investor akan mengoptimasi produksinya untuk masa 30 tahun ini. Wajar 
saja. Dan inilah yang saya maksudkan sebagai konsekuensi logis dari PSC adalah 
merosotnya produksi setelah habis satu masa PSC.
 
Gas memiliki latar belakang sedikit berbeda, namun kalau dilihat dari lagtime 
sejak penemuan (discovery) hingga produksi juga memerlukan waktu yang sama 
(sama lamanya). Tentunya gas merupakan andalan masa depan. Hanya saja perlu 
difikirkan supaya pelajaran dari kisah anjloknya produksi minyak tidak berulang 
(yang mengagetkan) pada produksi gas nantinya. Perlu dibuat pemikiran lain 
supaya ada usaha eksplorasi menggantikan gas yang diproduksi dikenal dengan 
istilah penyeimbangan R/P (RtP - Reserves to production).
 
EKSPLORASI
Secara sederhana kita tahu bahwa saat ini yang diperlukan adalah meningkatkan 
kegiatan eksplorasi untuk mengganti migas yang diproduksi, sehingga industri 
migas tetap dan mampu berkesinambungan. Saat ini kontrak pengusahaan migas yang 
ada saat ini memang disebut sebagai PSC (PRODUCTION sharing contract) saat ini 
kita tahu bahwa eksplorasinya yg kurang berhasil, karena itu barangkali perlu 
EXPLORATION Sharing contract (ESC) !
 
Bagaimana kalau dibuat kontrak pengusahaan eksplorasi (ESC), bila lapangan yg 
diketemukan saat eksplorasi tsb tidak diproduksikan maka akan dibeli oleh 
negara seharga (sebagai contoh saja) 10% dari harga wajar saat itu. Artnya 
perusahaan yg melakukan eksplorasi tidak benar-benar rugi 100% bila 
eksplorasinya gagal mencapai nilai keekonomian. Karena bagaimanapun sumberdaya 
yang diketemukan suatu saat dapat dimanfaatkan oleh negara (suatu saat nanti). 
Dan pembelian cadangan "kecil" (marginal) ini suatu saat akan dimanfaatkan oleh 
negara (host country).
 
Lets discuss and brain storm here !
 
Salam
RDP

-- 
"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke