Pak Amin, Untuk batuan dolomit lebih mudah terfracturkan dibandingkan dengan lime stone (Sinclair 1990) untuk ketebalan dolomite di lubang pemboran 70m adalah kurang lebih 40 msec didalam seismic 2D lines dan ini masih didalam resolusi seismic.
Yang perlu dilakukan terhadap data sumur adalah melakukan reprocess ulang data FMI untuk mendapatkan distribusi dan arah fracture yang dominan dari dua sumur yang ada. Memproses data DSI yang ada untuk mendapatkan pemisahan gelombang shear VS fast dan Vs slow, perbedaan kecepatan antara dua gelombang ini menggambarkan intensitas rekahan, memprocess stonely untuk mendapatkan zona-zona fracture baik didalam dolomite ataupun limestone lainnya. Membandingkan Carbonate litology dengan cepat rapat gelombang dan ROP pemboran. Didalam tulisan saya sebelumnya adalah membahas azimuthal amplitude yang berkaitan dengan intensitas fracture dengan menggunakan 3D data. Ye Zheng 2006 didalam desertasi PHD nya membahas azimuthal interval velocity dikaitkan dengan fracture intensity, bahwa interval velocity yang didapatkan pada processing data seismic adalah lebih cepat jika arah lintasan seismic sejajar arah dari fracture dominan dan interval velocity pada arah tegak lurus rekahan akan menghasilkan interval velocity yang lebih rendah. Setelah mendapatkan arah rekahan dari log, maka perlu dipilih satu lintasan 2D yang sejajar dengan rekahan dan satu 2D lintasan yang tegak lurus rekahan; diprocess untuk mendapatkan stacking interval velocity untuk menunjukan adanya hubungan antara zona dolomite fracture dan interval velocity hasil dari seismic reprocesssing. Ambil dua 2D lintasan seismic yang berpotongan pada daerah target explorasi, kalau bisa pilih yang sejajar dan tegak lurus fracture, kemudian reprocess lintasan ini dan dapatkan stacking interval velocitynya untuk melihat apakah ada effect interval velocity anisotrophy atau tidak. Jika terdapat effect anisotrophy maka akan dapat memperkuat prospek explorasi tersebut. Pak Widodo, Saya ada kumpulan tulisan mengenai Geomechanic, AVO dan AVAZ kalau berminat silahkan mengcopy dirumah saya dan jangan lupa membawa external hardisk. Saya hanya akan memberikan tulisan yang bersifat publish paper saja yang tidak berkaitan dengan data-data perusahaan yang mempunyai kerahasiaan. Salam Anggoro Dradjat 2011/10/21 Amin Bunyamin <[email protected]> > Pak Anggoro, > > Terimakasih banyak atas share konsep dan aplikasi pengembangan play > carbonate/basement fracture. Informasinya sangat bermanfaat dan membantu > pekerjaan kami. > > Kebetulan sekali di daerah kami di offshore sumatera utara sedang > mengembangkan juga play tersebut walaupun masih dalam tahapan eksplorasi. > Walaupun demikian berdasarkan beberapa data (sumur dan seismic) yang ada di > daerah tersebut mengindikasikan adanya play tersebut. Setidaknya di dua > sumur yang dilaporkan menembus basement (pre-rift) mengindikasikan adanya > fracture di batuan dolomitic carbonate (>70m). Begitupun pada data seismik > kami melihat adanya penampakan discontinue similarity yg cukup jelas pada > batuan tersebut. Namun sayangnya di sebagian tempat yang petroleum systemnya > cukup bagus belum memiliki data seismik 2D yang cukup apalagi data 3D serta > data sumur yang terbatas sehingga yang bisa dilakukan adalah dengan > pendekatan analogi. > > Kami sangat senang apabila play modelnya dapat dishare juga disini. > Terimakasih. > > salam, > amin > 3323 > > ------------------------------ > *Dari:* "[email protected]" <[email protected]> > *Kepada:* [email protected] > *Dikirim:* Jumat, 21 Oktober 2011 7:03 > *Judul:* Re: [iagi-net-l] Lapangan Carbonate Fracture Reservoir > > Mas Anggoro,tertarik juga, tulisan2 tadi sifatnya tertutup/rahasia atau > terbuka/dpt diakses, gimana caranya?dimana? Untuk melengkapi "knowledge > database" kami ?! Salam. Agung > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: *Anggoro Dradjat <[email protected]> > *Date: *Thu, 20 Oct 2011 21:16:30 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: *<[email protected]> > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Lapangan Carbonate Fracture Reservoir > > Mbak Nuning, > > Trimakasih,alhamdullilah semoga kita semua dalam keadaan sehat. > > Secara prinsipal pengembangan lapangan carbonate fracture dan lapangan > basement fracture dapat dipelajari dan dikembangakan dengan konsep yang > serupa. > Di Indonesia untuk lapangan basement fracture reservoir dan karbonate > fracture, saya dapatkan dari tulisan-tulisan yang ada adalah: > > 1. Lapangan Beruk di Sumatra tengah. > 2. Lapangan Sei Teras di Sumatra selatan. > 3. Lapangan Tanjung di Kalimantan selatan. > 4. Lapangan Jatibarang di Jawa barat.. > 5. Lapangan Gunung Kemala di Sumatra selatan. > 6, Lapangan Gunung Kembang di Sumatra selatan. > 7. Lapangan Suban, Sumpal dan Dayung di Sumatra selatan > 8. Lapangan Oseil di pulau Seram. > > Mungkin ada yang lainnya,dan kalau boleh kita bisa share disini. > > Salam > Anggoro > > 2011/10/20 <[email protected]> > > ** > > Terima kasih banyak pak Anggoro Drajat (apa kabar ?). > Selain di Seram, di mana lagi ya lapangan yg carbonate fracture ? > > > Salam, > Nuning > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: *Anggoro Dradjat <[email protected]> > *Date: *Thu, 20 Oct 2011 14:45:49 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: *<[email protected]> > *Subject: *[iagi-net-l] Lapangan Carbonate Fracture Reservoir > > *Dear All,* > *Bersama ini saya kirimkan konsep pemikiran dan aplikasi yang kami lakukan > didalam mengevaluasi dan mengembangkan lapangan carbonate fracture > dilapangan minyak tempat kami bekerja, sepertinya sih konsep ini bisa juga > diapplikasikan pada lapangan-lapang Carbonate dan fracture basement yang > lain. Kalau-kalau ada yang lagi menangani lapangan basement fracture boleh > juga kita sharing untuk nambah skill dan pengetahuan yang satu ini. * > > > 1. *Tektonik**, perlu mempelajari stress, fase-fase dari tektonik kapan > tarikan kapan tekanan ini penting karena secara umum bisa dikatakan > carbonate fracture berkaitan dengan tarikan dan bentuknya structure > berkaitan tekanan. Mungkin ini analogi dengan jembatan beton, beton kuat > kalau ditekan akan tetapi lemah kalau ditarik oleh sebab itu jembatan harus > diperkuat dengan tulangan besi untuk menahan tarikan. Kata kuncinya adalah > gaya tarikan adalah mekanisme utama didalam pembentukan fracture. Fracture > basement dapat terbentuk pada struktur landai yang yang disebabkan oleh > adanya sesar geser karena setiap gaya geser akan dapat dipisahkan atas > komponen tarikan dan tekanan dimana komponen tarikannyalah penyebab utama > terbentuknya fracture. Pada lapangan carbonate fracture tempat kami bekerja > gaya tarikan menghasilkan rekahan diikuti dengan kemunculan dipermukaan dan > terbentuknya dissolusi, dolomitisasi, karsting kemudian gaya kompresi > mereaktifisasi fraktur lama dan sekaligus pembentukan struktur. * > > * * > > 1. *Lithology dan rock strength**, didalam batuan carbonate sering > terdapat berbagai batuan ubahannya misalnya:, dissolution dan dan dolomite. > Untuk bisa mendapatkan hubungan ini bisa dilakukan secara kawlitatif dan > kwantitatif. Hubungan kwalitatif bisa dilakukan dengan membuat display yang > menghubungkan antar litologi, gamma ray, sonic log dan ROP. Sonic log > secara > kwantitatif dapat dihubungkan dengan rock strength dengan menggunakan > persamaan dan dapat dikalibrasi dengan triaxial test dari core. Pada > pengembangan lapangan sering kali tidak dilakukan well loging oleh sebab > itu > sangatlah terbantu dengan adanya data ROP pemboran karena didapatkan secara > langsung antara hubungan rock streng dengan ROP dimana ROP yang tinggi > berhubungan dengan zona fracture. * > > > 1. *Log FMI dan log-log lain yang merupakan derivasi dari pengukuran > gelombang Shear** pada lubang sumur misalnya stoneley wave yang > merupakan gelombang S yang menjalar pada lubang bor akan didefraksikan oleh > fracture2 didalam batuan, selain itu intensitas farcture juga bisa > diprediksi melalui perbandingan shear wave splitting yaitu rasio VS fast > dan > VS slow. FMI log yang diprocess dapat memberikan arah dominant dari > fracture, sebab arah dari dominant fracture ini dapat dikaitkan dengan > respons fracture terhadap amplitude penjalan gelombang seismic primer yang > yang dipantulkan sejajar dengan bidang fracture.* > > * * > > 1. *Identifikasi apakah ada response AVO terhadap fracture.** Secara > sederhana dapat dikatakan Respon AVO (amplitude versus offset) sering kali > mudah teramati pada batuan sandstone karena koeffisien refleksi zero offset > bernilai negatif karena perubahan dari shale ke sandstone dan juga effek > non > zero offset menguat secara negative. Pada batuan Carbonate dan batuan > basement zero offset refleksi berharga positif karena perubahan dari shale > ke Carbonate. Effect AVO pada batuan ini tidak jelas dan selama kita dapat > mengamati adanya perubahan amplitude pada CMP gather data seismic, semisal > perobahan polaritas gelombang sepanjang NMO gather data maka dapat > dikatakan > adanya response fracture terhadap data seismic.* > > * * > > 1. *Pola fracture pada Carbonate dan shale. **Yang membedakan antara > batuan shale penutup reservoir dan carbonate adalah pada batuan shale lebih > bersifat ductile dan homogen sementara itu batuan carbonat bersifat > brittle, > fracture pada batuan shale bersifat random dan saling menutup sehingga > membentuk lapisan impermeable sementara pada batuan karbonat fracture yang > terbentuk lebih bersifat teratur memilki arah dan distribusi tertentu > sesuai > dengan perkembangan tektonik. Arah keteraturan dari fracture inilah yang > kita turunkan dengan menggunakan data seismic untuk dapat mengetahui > intensitas dari rekahan.* > > * * > * * > > 1. *Synthetic seismogram, AVO dan AVAZ, **Synthetic seismogram > merupakan zero offset response dari penjalaran gelombang seismic pada > lubang > bor, pada penjalaran pada lubang bor yang vertical ini akan menghasilkan > gelombang pantul yang juga vertical. Pada penjalaran gelombang yang > menyudut > selain dipantulkan gelombang P maka juga dipantulkan gelombang S, adanya > gelombang S dari data seismic inilah yang akan menghasilkan effect AVO oleh > sebab itu perusahhan minyak perlu merekam gelombang S pada lubang bor untuk > dapat mengkaitkan antara sifat elastic dari data sumur dan sifat elastic > yang diturunkan dari data seismic guna menentukan lokasi pemboran. Ketika > gelombang seismic dipantulkan sejajar fracture maka yang terjadi adalah > selain pemantulan gelombang P maka juga terjadi pemantualan dua macam > gelombang S (Shear wave Spliting) Adanya shear wave splitting inilah yang > akan digunakan untuk menghitung intensitas fracture.* > > > > > 1. Penggunaan AVAZ untuk membuat fracture intensity dengan menggunakan > data 3D seismic dan data sumur. Setelah didapatkan arah azimuth dari > fracture > utama dari FMI dari data sumur maka yang kita lakukan adalah kembali ke 3D > seismic data dengan membagi seismic CMP gather data kedalam zona-zona > azimuth dan melakukan prosess stacking data seismic berdasarkan azimuth > yang telah kita tentukan. Jika terdapat fracture maka data azimuthal stack > yang searah dengan fracture akan menunjukan adanya amplitude seismic yang > lebih kuat dibandingkan dengan data seismic yang berarah tegak lurus bidang > fracture. Data azimuthal stack ini secara bersama akan digunakan untuk > merekonstruksi besaran amplitude secara cuircular, jika seluruh azimuthal > data menghasilkan amplitude yang sama kuatnya pada semua arah maka > dikatakan > bahwa pada titik CMP gather pada titik tersebut adalah isotropic semua > arah, data yang isotropic pada semua arah azimuth ini dikatakan titik tidak > terfracturkan. Jika data azimuthal amplitude menunjukan adanya penguatan > maximum amplitude pada arah tertentu maka arah azimutnya merupakan arah > fracture utama dan maximum amplitude merupakan daerah dengan maximum > fracture intensity. > > > > 1. Kriteria Penentuan Lokasi Sumur, penentuan lokasi sumur adalah atas > dasar fracture intensity dan adanya zona sealing dari reservoir dari > aquiver, criteria lain adalah adanya zona pemisahan secara horizontal > untuk menghindari interfrensi antara sumur yg satu dengan yang lain; > criteria RE adalah berdasarkan simulasi dengan menggunakan masukan fracture > intensity didalam membuat geological modeling. Untuk daerah dengan banyak > dissolusi dengan banyak fracture berukuran besar maka design sumur vertikal > , sedangkan pada carbonate dengan fracture yang ukurannya lebih kecil kami > menggunakan sumur deviasi. > > > > > > > Anggoro S. Dradjat > > > > > >

