Wah, tentu saja itu belum termasuk sumur pengembangan.
Sumur delineasi itu kategorinya sumur eksplorasi (tapi bukan wild cat).
Koreksi nih, sumur delineasi adalah 41, bukan 401 (sorry, salah baca tabel).
Artinya ada 247 sumur eksplorasi (wild cat dan delineasi) yang disetujui dibor 
di tahun 2012 ini.
Sumur pengembangan yang termasuk dalam WP&B 2012 yang sudah disetujui adalah 
sekitar 905 dan workover sekitar 767.
Kebayang gak... pekerjaan segitu .... membutuhkan sekian rig (gak tau berapa 
persisnya).
Mestinya ada perusahaan yang bikin rig nasional ya.... gak cuman mobil esemka.

Tingkat deplesi/withdrawal rate dan kinerja cadangan dari suatu lapangan, juga 
prospek dan lead di suatu WK, dimonitor juga kok oleh kami (BPMIGAS) namun 
untuk mengusulkannya menjadi pengeboran (atau workover), tentu harus 
dilihat/dievaluasi lebih lanjut. Hasil produksi harus dibandingkan dengan biaya 
pengeborannya (dihitung lagi keekonomiannya), dll.
Yang jelas, target APNB tahun ini yang 950 ribu itu, dengan sekian sumur 
pengembangan, workover, sumur2 eksplorasi/delineasi yang dipercepat POP-nya, 
dll, tetap akan sulit dicapai.

Soal sumur tua, meskipun jumlah sumurnya cukup banyak, aku rasa jumlah 
produksinya (bila berhasil) pun enggak begitu banyak. Tolong kasih angka aja 
temen2 yang mengetahui soal ini. Untuk KKKS yang besar, masalah keekonomian dan 
juga Keamanan (K3S/HSE) adalah isu penting dalam mengurusi sumur2 tua ini. 
Karena itu mungkin baik juga bila sumur2 tua ini ditangani oleh perusahaan 
"kecil" dengan bantuan tenaga ahli dan bantuan pemerintah. Ini lebih untuk 
meningkatkan penerimaan daerah, namun untuk menambah produksi nasional dari 
sumur2 tua ?? .... kayaknya sih berat deh.

Meningkatkan produksi migas (di tahun mendatang)- seperti katanya mas Rovicky - 
 mau gak mau harus mengandalkan kegiatan eksplorasi (bila untuk tujuan mencapai 
target pemerintah 2014 sebesar 1,01 juta barel, maka kegiatan eksplorasi musti 
ditingkatkan di blok2 produksi dan WK eksplorasi yang dekat fasilitas produksi, 
termasuk untuk mencari obyektif yang lebih dalam seperti fractured basement), 
itu pun dengan catatan semua pengeboran eksplorasi terlaksana (biasanya hanya 
70% terlaksana, dengan berbagai sebab) dan dengan tingkat keberhasilan penemuan 
yang cukup tinggi (dan mempercepat persetujuan POD-POP-POFD-PED). Namun untuk 
meningkatkan cadangan nasional, musti melakukan eksplorasi di daerah Indonesia 
Timur dan wilayah2 lain yang belum tereksplorasi dengan baik.

Dari sisi budget, tahun 2012 ini agak lumayan, karena biaya eksplorasi pada 
WK-WK produksi di dalam WP&B 2012 yang sudah disetujui BPMIGAS itu adalah 10,16 
%, meningkat sedikit dibanding tahun lalu. Untuk info saja, dalam 10 tahun 
terakhir, biaya eksplorasi di WK produksi itu kurang dari 10% total budget, 
bahkan pernah mencapai angka 5% saja, kalah dibandingkan biaya G&A (tahun ini 
biaya G&A hanya 6,7%, masih menang biaya eksplorasi), jadi nih... sangat 
mungkin alasan menurunnya produksi migas negara kita akhir ini adalah 
disebabkan kita tidak atau sedikit sekali melakukan kegiatan eksplorasi dalam 
10 tahun terakhir ini.

Yuk... kita lakukan eksplorasi !



Salam,
Nuning








-----Original Message-----
From: Sigit [mailto:[email protected]]
Sent: 20 Januari 2012 2:52
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Fw: [IA-ITB] Ada Beberapa Cara untuk Mengurangi 
Subsidi Harga BBM

Mbak Nuning,

400 sumur deleniasi tsb apakah sudah termasuk sumur pengembangan? kalau tidak, 
Berapa jumlah sumur pengembangan yang disetujui oil BPMIGAS pada tahun yang 
sama?

Pernah ada study nggak jumlah sumur pengembangan tersebut mereprentasikan 
tingkat kompeksitas reservoir? atau seberapa tingkat kesuksesan sumur 
pengembangan tsb terutama dalam memper-pelan (slow down) deplesi lapangan. 
Belajar dari lapangan Duri, walaupun sudah beribu-ribu sumur, tapi masih saja 
ada by-passed oil.

Atau mungkin ada perusahaan yang sengaja tidak melakukan investasi untuk 
mempertahankan produksi karena suatu alasan. Saya dengar hal ini terjadi dengan 
perusahaan daerah yang minim modal dan teknologi, sehingga walaupun tingkat 
deplesi sampai 11-15% tapi dibiarkan saja..(mugkin saya salah). Atau kalaupun 
dilapangannya ada upside potentials, tidak segera dikembangkan.

Kalau melihat bahwa sekarang ada sekitar 13000 sumur tua (berdasarkan yg saya 
dengar waktu seminar di ITB Bandung), sepertinya perlu dipikirkan terobosan 
dalam hal kebijaksanaan ataupun technology untuk menggarap sumur2 tua tersebut. 
Sambil memajukan usaha explorasi.

Maksud saya, penambahan usaha explorasi memang perlu, tapi apakah kita sudah 
memaksimalkan usaha eksploitasi dari lapangan yang ada, termasuk mengembangkan 
un-conventional reservoir yang ada dibawahnya..misalnya fractured basement.

Salam dan selamat weekend.

Sigit





________________________________

From: Nugrahani [mailto:[email protected]]
Sent: Fri 1/20/2012 2:12 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Fw: [IA-ITB] Ada Beberapa Cara untuk Mengurangi 
Subsidi Harga BBM





Terima kasih atas sharing-nya, mas Rovicky.



Setuju,  Ditjen Migas perlu diberi porsi anggaran yang lebih banyak. Bagus 
banget bila dapat 10% dari total pemasukan migas, yang dikembalikan untuk 
kegiatan pencarian migas,  dan dapat digunakan oleh DitJen Migas misalnya untuk 
penyiapan Wilayah Kerja yang akan ditawarkan. Apabila data geologi dan 
geofisika di suatu Wilayah Kerja yang ditawarkan itu sudah bagus dan lengkap 
(dari sisi kualitas maupun kuantitas) maka diharapkan KKKS yang mendapatkan WK 
tersebut, dapat segera melakukan pengeboran sumur untuk membuktikan keberadaan 
hidrokarbon dan kemudian mengembangkannya secara komersial, dan pada gilirannya 
dapat menambah produksi migas negara kita.



Kita harus menemukan 700 juta barel setara minyak per tahun ?

Berat banget tuh !

Kira-kira..... untuk menemukan cadangan migas sekian itu diperlukan berapa 
ratus sumur eksplorasi per tahun, ya ??

Berapa rig yang kita perlukan per tahun ?

Berapa lapangan minyak yang sekelas Cepu, misalnya, harus ditemukan per tahun ?

Misalnya ditemukan lapangan gas sekelas Abadi (Inpex) dan Tangguh (BP) maka 
masa produksinya (onstream) akan lebih lama lagi apabila daerahnya jauh dari 
sarana produksi (karena umumnya di Indonesia Timur itu temuannya adalah gas) 
dan biaya investasinya sangat mahal.

Ada berapa ratus Wilayah Kerja (WK) lagi yang harus ditandatangani ?



Untuk info saja, tahun 2012 ini, berdasarkan usulan WP&B 2012 dari sekitar 235 
WK Migas aktif (WK tahap Eksplorasi dan WK tahap produksi/pengembangan, di luar 
WK CBM dan WK dalam proses terminasi), BPMIGAS menyetujui pengeboran lebih dari 
200 sumur wild cat dan lebih dari 400 sumur delineasi. Bila semua sumur dapat 
dibor semua (dan biasanya enggak bisa dibor semua dengan berbagai sebab), dan 
dari sejumlah itu bila 50% saja yang menemukan hidrokarbon yang ekonomis untuk 
dikembangkan (angka 50% ini pun rada enggak realistis), berapa juta barel yang 
dapat diproduksikan kemudian ? (catatan : proses PED, POD, POFD dan POP 
dipercepat persetujuannya).



Kita semua tau berbagai kendala yang menyebabkan tidak dapat dilaksanakannya 
pengeboran sumur (ini di luar sebab-sebab "subsurface"  dan masalah "internal" 
di KKKS) dimana hampir 30% kegagalan pelaksanaan pengeboran adalah karena 
masalah perizinan dan tumpang tindih lahan (ada beberapa persen lagi disebabkan 
kelangkaan rig).



Kemarin, tanggal 10 Januari 2012, telah diterbitkan Inpres No. 2 tahun 2012, 
tentang Peningkatan Produksi Minyak Bumi Nasional, dalam rangka mencapai target 
produksi minyak sebesar 1,01 juta barel per hari, pada tahun 2014. Inpres 
tersebut menginstruksikan kepada 11 Menteri, Kepala BPMIGAS, Kepala Badan 
Pertanahan Nasional, para Gubernur dan para Bupati/ Walikota, untuk mengambil 
langkah-langkah yang terkordinasi dan terintegrasi dalam mencapai target 
tersebut.  Ini aku kirim (attachment) Inpres-nya.



Mudah2an saja dengan Inpres ini maka kendala perizinan, dll itu dapat segera 
teratasi.





Salam,

Nuning























From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]]
Sent: 20 Januari 2012 8:12
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Fw: [IA-ITB] Ada Beberapa Cara untuk Mengurangi 
Subsidi Harga BBM



Terimakasih Mas Taufik, informasi yang bermanfaat sebagai info tentang cara 
pandang pak Wamen Widjajono dan sebagai bagian dari  sosialisasi kebijakan 
pemerintah.

Penurunan Produksi Bukan Kewajaran



Semua geologist yang bekerja dalam industri migas mengerti tentang 
karakteristik produksi minyak dan gas dalam satu lapangan. Untuk skala individu 
lapangan hal ini tidaklah aneh. Tetapi, menurunnya produksi di Indonesia 
sebetulnya jangan hanya dilihat sebagai sebuah kewajaran alamiah karena 
production depletion saja, tetapi mestinya juga dilihat secara menyeluruh 
mengapa produksi menurun dalam skala nasional. Saya melihatnya sebagai akibat 
kegagalan eksplorasi di Indonesia. Dengan memproduksi yang hampir sejuta migas 
sehari atau sekitar 2 juta setara minyak (utk minyak dan gas), maka Indonesia 
telah memproduksi migas sekitar 700 juta barrel setara mintak (700 juta Boe). 
Untuk mempertahankan produksi migas maka Indonesia harus menemukan 700 juta 
(setara minyak) dalam satu tahun. Kenyataannya Indonesia dalam 10 tahun 
terakhir ini hanya menemukan sekitar 50 juta barel ekivalen setahunnya. Artinya 
hanya menemukan seper empatbelas dari yang dibutuhkan. Artinya kalau ingin 
memenuhi apa yang sudah kita peroleh dengan kerja keras selama ini masih jauh 
dari kebutuhan.



Apakah ini artinya kita harus bekerja 14 kali lebih keras dari kerja keras yang 
sudah dilakukan sebelumnya ?







Dana Subsidi BBM Untuk Eksplorasi migas.



Kalau memang permasalahan BBM merupakan usaha pemenuhan kebutuhan energi dan 
dilihat sebagai sebuah persoalan yang akan dihadapi, maka sudah sewajarnya 
seandainya dana subsidi yang selama ini dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi 
dalam negeri dikembalikan sebagai dana untuk energi, dalam hal ini untuk 
mendukung kegiatan eksplorasi migas. Sehingga perhitungan APBN yang selama ini 
sudah berjalan tidak terlalu banyak diganggu dengan pengurangan ini sebagai 
Plow Back dalam kegiatan yang tetap sama, memenuhi kebutuhan energi dalam 
negeri.

Dalam tahun 2011 lalu belanja DJMIGAS hanya 0.07% dari APBN. Ini tentusaja 
jauuh dari belanja yang wajar bagi sebuah pengusahaan yang bertujuan 
mempertahankan produksi. Kewajaran biaya eksplorasi saat ini diperkirakan





Cost of finding menurut IEA



Gambar diatas memeprlihatkan biaya untuk menemukan migas menurut IEA. Kalau 
kita ambil rata-rata saat ini sekitar 10$/barel dengan harga minyak 100$/barel, 
maka biaya menemukan minyak adalah 10% dari perolehan. Kalau ingin hitungan 
sederhana, maka 10% perolehan dari subsektor migas diperlukan (dikembalikan) 
dalam eksplorasi migas selama ini untuk mempertahankan produksi.



Nah para eksplorasionist, silahkan berpikir dana subsidi ini sebaiknya 
dipergunakan untuk apa ? Survey seismic, detail aero gravity, seabed coring 
ataukah riset lain ?

 
image.png<https://mail.epintl.com/exchange/sigit/Drafts/RE:%20[iagi-net-l]%20Fw:%20[IA-ITB]%20Ada%20Beberapa%20Cara%20untuk%20Mengurangi%20Subsidi%20Harga%20BBM.EML/1_multipart/image001.png>



Salam eksplorasi



Rovicky DP


--
This email was Anti Virus checked by Administrator.
http://www.bpmigas.go.id

--
This message has been scanned for viruses and dangerous content by MailScanner 
<http://www.mailscanner.info/> , and is believed to be clean.

--
This message has been scanned for viruses and dangerous content by MailScanner, 
and is believed to be clean.


--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman 
abstrak 28 Februari 2012.
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke