Mohon maaf sedikit koreksi, spekulasi nomor satu seharusnya tertulis :
1. Hal itu tidak bisa dihindari karena kita tidak bisa meramalkan kapan akan 
ditemukanya lapangan minyak baru di Indonesia, apalagi specifikasi API dan 
kualitasnya.

trimakasih
Dwiyatno   



________________________________
 From: rumlan dwiyatno <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Monday, 20 February 2012 12:23 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina-Aramco Kerja Sama Bangun Kilang Tuban
 

Frank, 
Sisi ruginya hanya satu, yaitu jika refinery ini hanya bisa mengolah khusus 
minyak dari Arab Saudi saja .. What if nanti, ketemu lapangan minyak besar di 
laut jawa atau di onshore jawa atau daerah lain sana dengan API dan 
specifikasinya berbeda dengan minyak dari Arab Saudi, sementara specifikasi 
refinery ini hanya untuk minyak mentah dari Arab ?? Apakah kita akan meneruskan 
tradisi minyak mentah kita di ekspor, sementara kita mengimpor minyak mentah 
dari negeri lain? 

Dulu, saya dibilangin, ini semua disebabkan minyak mentah kita lebih bagus dan 
harganya lebih mahal, sementara minyak mentah negara lain harganya lebih murah 
dan kualitasnya cukup untuk kebutuhan dalam negeri. Dan saya percaya. 
Tapi,setelah sedikit mengerti tentang spesifikasi refinery yg di-design khusus 
untuk minyak mentah tertentu saja, saya baru ngeh jawabanya. Namun timbul 
pertanyaan lagi, lha kenapa tidak dibuat refinery yg bisa mengolah minyak dalam 
negeri, yg mana dengan demikian bisa mengurangi double dip biaya transportasi 
export/import minyak mentah ? 

Untuk pertanyaan yang ini, saya belum menemukan jawaban yg memuaskan. Ada dua 
spekulasi :
1. Hal itu tidak bisa dihindari karena kita bisa meramalkan kapan akan 
ditemukanya lapangan minyak baru di Indonesia, apalagi specifikasi API dan 
kualitasnya.  
2. Pemikiran agak su-udzon, bahwa itu semua disengaja, supaya bussines 
transportasi yg membawa minyak mentah Indonesia keluar negeri, dan pulangnya 
membawa minyak mentah dari negara lain untuk diolah di refinery2 dalam negeri 
tetap berjalan dengan baik. Bisa dibayangkan berapa besar keuntungan dari para 
pemilik tanker2 ini ya, kecuali kalau yang punya tanker itu Pertamina sendiri, 
dengan demikian 'kerugian' double dip transportasi ini bisa diminimalisasikan. 

Mohon pencerahanya, kalau ada yg mempunyai jawaban yg lebih tepat. Haturnuwun 
sebelumnya.

Namun demikian, saya salut dengan perkembangan Pertamina sekarang ini, semoga 
semakin gagah berani, maju dan professional demi kesejahteraan dan kehormatan 
bangsa.

Lebih kurangnya mohon maaf.
Salam


________________________________
 From: Franciscus B Sinartio <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Monday, 20 February 2012 4:37 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina-Aramco Kerja Sama Bangun Kilang Tuban
 

Membangun kilang di Indonesia akan lebih banyak efek positip nya dari pada efek 
negatip nya.
terserah minyak nya dari mana.  Kalau dari Indonesia berarti menambahkan nilai 
ekonomis minyak mentah sebelum di ekspor. kalau untuk konsumsi dalam negeri 
berarti mengalihkan biaya refinnery yang dilakukan di luarnegeri ke dalam 
negeri.
Kalau minyaknya dari luar negeri pun bagus juga, berarti membuat suatu industry 
yang akan menyerap tenaga kerja di Indonesia dan menambhakan penghasilan negara.

saya tidak bisa perpikir ada efek negatip dari kerjasama ini, kecuali kalau 
Saudi Aramco minta barteran dengan sesuatu yang lain, misalnya blok yang 
prolific di Indonesia.  Tapi sampai sekarang tidak ada tanda2 kearah itu kan?

selamat dan sukses terus untuk Pertamina


fbs



________________________________
 


________________________________

From:  Muhammad Razi <[email protected]> 
Date: Sun, 19 Feb 2012 11:06:03 +0400
To: <[email protected]>
ReplyTo:  <[email protected]> 
Subject: [iagi-net-l] Pertamina-Aramco Kerja Sama Bangun Kilang Tuban

Pertamina-Aramco Kerja Sama Bangun Kilang Tuban
Ekonomi - / Sabtu, 18 Februari 2012 21:30 WIB



Metrotvnews.com, Jakarta: Perseroan Terbatas (PT) Pertamina dan Saudi Aramco 
Asia Company Limited meneken nota kesepahaman kerja sama pembangunan proyek 
kilang minyak berkapasitas 300.000 barel per hari di Tuban, Jawa Timur. Nota 
kesepahaman (MoU) itu termasuk melakukan kajian bersama kelayakan secara 
ekonomi pembangunan proyek kilang minyak yang nantinya terintegrasi dengan 
petrokimia.

"Setelah penandatanganan ini, maka tim pelaksana proyek akan memasuki fase 
selanjutnya, yaitu kajian bersama termasuk di dalamnya riset pasar dan analisis 
keekonomian serta studi konfigurasi kilang," kata Juru Bicara Pertamina M. 
Harun dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (18/2).

Penandatanganan dilakukan di Bali pada Sabtu ini antara Direktur Perencanaan 
Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina, M. Afdal Bahaudin dan Vice President 
of Marketing, Supply, and Joint Venture Coordination Saudi Aramco, Dawood M. 
Dawood.

Saudi Aramco akan memasok sebagian besar kebutuhan minyak mentah Kilang Tuban 
berdasarkan kontrak jangka panjang. Kilang akan memproduksi produk petrokimia 
dan BBM berkualitas tinggi untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat di 
Indonesia dan juga kawasan Asia Tenggara.

"Kerja sama investasi dengan Saudi Aramco ini sangat berharga bagi Pertamina 
dan Indonesia dalam memperkuat pasokan BBM dan petrokimia untuk memenuhi 
permintaan domestik dan regional yang sangat besar," kata Afdal.

Ia menjelaskan proyek Kilang Tuban menjadi bagian dari rencana Pertamina untuk 
meningkatkan ketahanan energi Indonesia.

Sementara Dawood mengatakan penandatanganan MoU merupakan langkah penting 
pertama semakin mempererat hubungan dengan Pertamina yang sudah kuat. Juga 
sebagai strategi meningkatkan eksistensi bisnis hilir secara global.

"Kami berkomitmen untuk merancang investasi yang saling menguntungkan sehingga 
menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak, dan berkontribusi bagi pertumbuhan 
ekonomi dan pembangunan," ujarnya.

Saudi Aramco Asia Company Limited (SAAC) merupakan anak perusahaan Saudi 
Arabian Oil Company (Saudi Aramco). Bisnis SAAC ditujukan mendukung operasi 
bisnis Saudi Aramco di kawasan Asia. Saudi Aramco ini merupakan perusahaan yang 
dimiliki penuh Pemerintah Arab Saudi dengan kantor pusat di Dhahran, Arab Saudi.

Perusahaan mengelola cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, yakni sebesar 
260 miliar barel dan mengelola cadangan gas terbesar keempat di dunia.(Ant/BEY)

Kirim email ke