Saya setuju dengan pikiran/tulisan Pak Vicky. Pak Vicky dan Pak Paulus sudah memberikan yang baik untuk IAGI-net dalam hal merekamnya melalui modul arsip diskusi di IAGI-net yang sangat membantu penelusuran diskusi-diskusi yang telah berlalu. Pak Vicky dan Pak Paulus pun ringan tangan membantu kelancaran anggota baru masuk milis atau kalau ada problem teknis dengan milis. Untuk memoderasinya tentu tak mudah, lebih-lebih yang kita lakukan untuk IAGI-net semuanya adalah di tengah kesibukan kita. Kadang-kadang kalau ada diskusi yang panas dan menjurus menyerang pribadi-pribadi, seperti pernah terjadi beberapa kali, Pak Vicky dan Pak Paulus suka memperingatinya. Kalau sangat diperlukan dan tak bisa diperingati lagi, barangkali memblokade postingan-nya.
Suatu milis yang terbuka yang memuat tulisan-tulisan serius sampai sekedar celetukan beberapa kata dari ratusan anggotanya atau lebih tentu sukar dimoderasi, lebih-lebih karena tak ada waktu untuk melakukannya. Tetapi dari kita semua saya pikir sebenarnya dapat bijak menulis, juga bijak memilih mana-mana yang perlu dibaca secara serius dan menyimpannya, atau cukup langsung dihapus saja tanpa membuka apalagi membacanya. Pak Vicky dan Pak Paulus juga pernah memposting etiket berdiskusi melalui milis, itu baik untuk diingat-ingat lagi. Kebebasan berpendapat harus diutamakan, tetapi tetap disampaikan dengan cara yang santun dan bertanggung jawab. Saat berdebat, berdebatlah dengan elegan, tak perlu menyerang pribadi-pribadi karena itu tidak produktif dan negatif. Salam, Awang -anggota milis IAGI dari tahun 1999. From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] Sent: 26 Februari 2012 5:44 To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] Merekam diskusi atau mengontrol diskusi - ARTIKEL KORAN PR 2012/2/26 [email protected]<mailto:[email protected]> Note: mudah2an kawan2 admin milis ini (selain PTA, pak ketum RDP juga khan?) bisa lebih aktif juga memoderasi diskusi suatu thread shg lebih banyak manfaat yg bisa diambil drpd sekedar saling berbalas melontar pernyataan yg tdk essensial... Pak ADB dan juga kawan-kawan IAGI lainnya. Hiruk pikuk soal keberadaan piramida saat ini maupun hiruk pikuk soal Lusi dimasa lalu, merupakan sebuah peristiwa langka di dunia sains di Indonesia khususnya ilmu kebumian (kegeologian). Tidak banyak komunitas sains di Indonesia yang berhasil menguak, memeras otak keringan dan waktu, serta memuntahkan ilmu-ilmu dibenak para profesionalnya karena adanya suatu peristiwa. Geologi khususnya IAGI sudah memulai sejak lama dengan dialog terbuka dan terekam sejak awalnya. fyi, dokumentasi diskusi IAGI sudah terekam dan terbuka sejak 2002 di http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg00001.html Saat melakukan perekaman diskusi ini, saya dan Paulus Tangke Allo (PTA) selalu melaksanakan tugas sebagai administrator, kami bukanlah moderator. Sehingga yang kami lakukan adalah merekam semua peristiwa (diskusi) ini sebagai bekal dan warisan kepada generasi penerus IAGI nantinya. Ini juga karena kami merasa adanya kegagalan di IAGI dalam merekam peristiwa perjalanan sejarah IAGI. Menurut kami bukan hal penting memoderasi atau mengatur diskusi di mailist ini. Kami di dunia-maya IAGI melakukan tugas administrtatif mengatur lalu lintas email hanya demi safety dan security dalam artian menghindari virus serta menghindari kemacetan dan kemandegan diskusi. Saya dan Paulus sejak sepuluh tahun lalu mencoba memberikan services terbaik dalam komunikasi dan dokumentasi. Sayang memang beberapa dokumentasi di web yang lama tidak terselamatkan karena satu dan lain hal termasuk kena hack dsb. Namun satu hal yang selalu kami hindari adalah menyetop sebuah diskusi. Kalau diperlukan memang sudah semestinya ketua IAGI yang mempunyai kemampuan ini. Walaupun saya saat ini juga sebagai Ketua Umum IAGI, namun menyetop sebuah diskusi atau mengatur jalannya (isi diskusi) bukanlah hal mudah. Yang penting kedewasaan dan mendokumentasikan sebuah topik diskusi. Sulit mendefinisikan kedewasaan dalam lingkungan yang sudah memiliki kebebasan berbicara saat ini. Siapa saja berhak mendefinisikan kedewasaan. Namun kalau kita telaah lebih lanjut, sebenernya masing-masing anggota IAGI tahu dan mengerti akan batas dan rasa dalam menunjukkan kedewasaanya atau kekanak-kanakannya. Sehingga moderasi atau mengatur jalannya diskusi supaya mengarah ke satu titik menjadi tidak mudah. Namun yang lebih penting adalah mensarikan atau menulis ulang disksui ini menjadi sebuah cerita atau sebuah artikel supaya lebih mudah enak dibaca. Saya selalu gagal melakukannya. Dua tiga kali saya mencoba mensarikan ternyata diskusinya masih terus berkembang. Mendokumentasi sebuah topik diskusi ini merupakan tugas divisi dunia maya yang belum pernah kesampaian. Mendokumentasi khusus dalam blog untuk sebuah uraian yg pantas masuk dalam blog iagi (http://geologi.iagi.or.id<http://geologi.iagi.or.id/>) ini saja yang sudah dilakukan. Monggo rekan-rekan yang ingin membuat saripati diskusi dalam topik khusus IAGI-net sangat kami alu-alukan. Yang perlu dimengerti bagi pengguna IAGI-net dan dunia maya pada umumnya adalah kebebasan itu di sisi lainnya adalah tanggung jawab. Setiap kata dan kalimat yang kita tuliskan adalah merupakan tanggung jawab pribadi yang menuliskannya. Dengan demikian pepatah "mulutmu adalah harimaumu" sangatlah tepat walau sudah di era elektronik ini. Selamat meneruskan diskusi ini dengan "kedewasaan" yang bertanggung jawab. Salam RDP

